
Melihat ponsel Al yang terkunci dan memilki kunci yang tidak biasanya, Altha langsung melangkah kembali ke kamar.
Banyak pesan yang masuk, tapi Aliya sudah tidur. Altha tidak tega membangunkan, sehingga memutuskan untuk membiarkan Aliya beristirahat.
Rasa penasaran Altha cukup besar, menarik tangan Al untuk membuka ponsel menggunakan sidik jari.
Kening Altha berkerut, bahkan sidik jari Aliya juga salah membuat Aliya terbangun.
"Gunakan sidik jari Tika." Al mengambil ponselnya.
"Kenapa kamu menyelidiki soal kecelakaan Mama Papa?" Alt meminta Aliya menjelaskan apa yang dia lakukan.
Mata Aliya yang mengantuk langsung terbuka kembali, duduk menatap punggung Altha yang hanya duduk di pinggir ranjang.
Al langsung membuang selimut, duduk di samping suaminya yang wajahnya tidak bersahabat.
"Banyak sekali alasan kamu untuk marah Altha, tadi gara-gara Roby enak-enak kita gagal, sekarang karena apa lagi?" cara pandang Aliya sudah berubah sinis.
Altha tidak bisa mengatakan apapun, dia hanya meminta penjelasan Aliya soal Al yang menyelidiki orang tuanya.
Al terdiam sesaat, langsung menghidupkan handphonenya. Melihat laporan hasil kecelakaan orang tuanya.
Altha juga melihat detail, dia memang sangat berat menyelidiki kasus kedua orangtuanya.
Tangan Altha melingkar di pinggang Al, meletakan kepalanya di pundak. Aliya menutup ponselnya melihat lelaki di sampingnya.
Al mengusap wajah Altha yang terlihat sedih, menatap ponsel Aliya yang menunjukkan dua korban kecelakaan.
"Jelaskan Al, aku ingin mendengarnya."
Aliya menghela nafasnya, menjelaskan kejadian saat kecelakaan.
Kasus kecelakaan orangtua Altha sebenarnya sudah ditutupi, saat kejadian ibu Altha sudah dalam keadaan kritis.
Ayah Atha sangat panik saat tiba bersama seorang wanita, langsung membawa ke rumah sakit.
Saat pergi hujan lebat, dan hanya pergi berdua langsung ke rumah sakit. Saat di perjalanan mobil terjun ke jurang dan menurut laporan polisi karena tergelincir jalanan yang licin, karena kecepatan mobil sangat tinggi.
Keadaan kedua korban juga memperlihatkan, jenazah sudah sulit dikenali dan langsung dimakamkan tanpa ada penyelidikan lebih, dan juga kasus ditutup sebagai kasus kecelakaan.
Kedua korban meninggalkan satu putra yang mengalami shock berat, dan jatuh pingsan. Saat sadar tidak bicara dan hanya menangis.
__ADS_1
"Ayang tahu soal ini?"
"Iya, aku tahu. Berat Al menerimanya, karena aku tidak punya sandaran, tapi menangis juga tidak ada gunanya." Kepala Altha tertunduk, berusaha untuk menguatkan hatinya.
Aliya binggung cara menjelaskan jika ibu Altha dalam keadaan kritis karena ada sebabnya, dan seandainya Altha juga tahu jika Ayahnya yang menabrak Aliya.
"Ayo kita tidur saja Ayang, besok kita bahas lagi." Al menarik Altha untuk tidur.
Altha memejamkan matanya, tangannya mengusap punggung Aliya yang memeluknya erat.
"Al kamu ingin tahu tidak jika sebenarnya Mama diracun seseorang, dan kritis lalu kecelakaan dan tidak diselidiki lebih lanjut." Altha berbicara sangat pelan, tidak membuka sedikitpun matanya.
Aliya hanya diam saja membiarkan Altha menceritakan soal keluarganya, Alt juga menceritakan jika ayahnya memiliki sahabat dan sangat akur.
Hubungan mereka sangat baik juga selalu kumpul bersama, tapi ada satu teman Papanya yang datang tidak pernah bersama istri dan anaknya.
Saat Papanya meninggal, satu teman Papanya tidak pernah datang dan menghilang begitu saja.
Altha hidup sendirian di rumah mewahnya, sesekali Citra dan mamanya datang berkunjung dan mengantarkan makanan.
"Kamu tidak berniat menyelidik ulang?"
"Sudah aku coba, tapi ada yang menutupi kasusnya." Altha membuka matanya, meminta Aliya berhati-hati.
Altha tersenyum, bukan dia diam tetapi orang yang menutupi kasus bisa saja demi kebaikan, dan mungkin juga mencoba menutupi kejahatan.
"Seandainya kamu ada di posisi aku, apa yang akan dilakukan?"
"Aliya akan membongkar semuanya, sekalipun itu menyakitkan." Tatapan Aliya tajam meyakinkan Altha untuk menyelidiki kasus kecelakaan orang tuanya.
Senyuman Altha terlihat, menggandeng tangan Aliya ke ruangan pribadinya. Sebuah tirai terbuka.
Altha menunjukkan beberapa foto yang membuat Aliya terkejut, ternyata Altha mengetahui soal orangtuanya.
"Ayang, kamu ... tahu semuanya?" Al terlihat sangat terkejut.
Kepala Altha mengangguk, dia tidak ingin berpikir buruk soal apapun akhirnya memutuskan untuk tetap diam dan tenang.
"Jadi benar ibu aku yang membunuh ibu kamu?"
Altha menggelengkan kepalanya, memeluk Aliya dari belakang. Sebenarnya bukan ibu Al yang melakukan, tetapi dia yang menyelamatkan.
__ADS_1
Ada seseorang yang ingin menyingkirkan Mama Alt, mengkonsumsi obat untuk menghilangkan stress. Dokter yang menangani ibunya Aliya.
Saat kejadian, ibu Al sudah berusaha untuk menghentikan, tetapi pelaku lebih cepat.
Altha hanya memprediksi, jika hari pembantaian ibu Al ingin pergi, tapi dikejutkan oleh suaminya yang membawa wanita lain.
"Mama terus menunggu ibu kamu Al, tapi dia meninggal karena pembantaian dan Mama akhirnya sekarat. Saat papa ingin ke rumah sakit, di dekat sebuah tebing mobil besar menabrak dan mobil jatuh." Altha meminta Aliya memperhatikan apa yang terjadi.
"Alt, kenapa nyawa harus dibalas nyawa?"
"Aku belum tahu pasti, tapi di sini semuanya ditutupi. Mama kamu difitnah memberikan obat yang salah, dan menghasut papa kamu sampai selingkuh. Rumor yang tersebar, Mama meninggal karena mama kamu yang gila."
"Mama meninggal lebih dulu dari mama kamu?" Aliya merasakan sesak.
"Inilah artinya nyawa di bayar nyawa, Mama kamu meninggal oleh pembantai, dan pihak Mama kamu berpikir kami balas dendam, padahal ada orang yang mengambil keuntungan. Aliya, Tante kamu hanya kambing hitam, dan sekarang mungkin dia mulai mencari celah untuk menghacurkan kita." Altha menutup tirai, membawa Aliya kembali ke kamar.
Aliya memeluk Altha yang sangat dewasa dalam berpikir, dia mencari semuanya dan tidak sedikitpun menyalahkan Al.
"Ayang, I love you. Terima kasih sudah mempercayai Aliya. Terima kasih juga tidak merusak nama baik Mama."
"Aku yang minta maaf atas masa lalu, orang yang ingin balas dendam mungkin orang dari pihak kamu atau orang yang selama ini menghacurkan keluarga kita." Alt tersenyum masih berusaha untuk terus kuat.
"Ayang, Tika mungkin dalam masalah."
"Aliya, aku tidak perduli dengan konflik masa lalu, tapi kamu jangan terlalu berpikir untuk bertahan sendiri. Soal Atika aku akan memperketat penjagaan dia." Alt menarik selimut meminta Aliya tidur.
Senyuman Al terlihat, dia terlalu meremehkan Altha. Dibalik sikapnya yang cemburuan sangat dewasa dan tidak bertidak sembarang.
Aliya yakin Altha mengetahui banyak hal, dan sangat mempercayai Alt untuk menjaga keluarga kecil mereka.
"Ayang, ayo kita enak-enak."
Altha tertawa, menunjuk ke arah jam yang sudah pukul empat subuh. Mereka semalam tidak tidur.
Saat sedang bermain, Atika muncul lebih kacau lagi dan akan membuat heboh rumah.
"Lalu kapan kita melakukannya?"
"Besok, jika sempat. Salahkan Roby yang menghubungi kamu." Altha kembali kesal jika mengingat Roby.
"Sudah tua, cemburuan ingat umur Altha." Aliya memejamkan matanya, berpura-pura tidur saat Tika sudah teriak mengetuk pintu.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazara