ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
DIBAKAR


__ADS_3

Di dapur Genta sudah sibuk masak, menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga setelahnya mengantar pulang.


"Kak Genta, Shin boleh meminjam baju lagi?"


"Kamu dari kemarin tidak izin, langsung pakai saja. Kenapa sekarang tiba-tiba tahu diri?" Tatapan Genta melihat Shin yang memakai bajunya sebelum meminta izin.


Suara tawa Shin terdengar, dirinya hanya basa-basi saja. Sejujurnya Shin tidak tulus meminta izin, sekalipun tidak diizinkan tetap memakainya.


Suara teriakan Tika terdengar, lompat-lompat di atas tempat tidur saat melihat baju Genta yang berukuran sangat besar kepada dirinya.


"Ini kenapa badan Tika hilang? Om tua yang besar atau Tika yang kecil." Atika langsung keluar kamar, tertawa menunjuk bajunya kepada Shin.


Genta memalingkan wajahnya, karena Tika tidak menggunakan celana. Hanya ditutupi oleh baju yang panjang sampai hampir ke lututnya.


"Celana kamu di mana?" suara Genta protes dengan penampilan Tika.


"Kenapa bajunya besar sekali?" Shin tertawa melihat baju Atika.


Tika berlari ke kamar lagi, langsung mengambil celananya dan mengganti baju. Setelah selesai baru ikut duduk untuk sarapan.


"Om tua punya pacar? kenapa baju tadi beda dari yang lain?" Tika mengunyah nasi gorengnya.


Genta hanya diam tidak memberikan jawaban sama sekali, masih fokus dengan makanannya.


Tatapan Genta melihat Shin yang membolak-balik makanan, Tika juga memperhatikan yang Shin lakukan.


"Makan, jangan diaduk-aduk, kamu pikir itu bubur?" Tika menepuk pundak Shin yang langsung memonyongkan bibirnya.


"Ada yang tidak kamu sukai dari masakan aku?" tatapan Genta sangat lembut menatap Shin yang garuk-garuk kepala.


Ekspresi Genta berubah kepada Shin membuat Tika penasaran, kepadanya sangat dingin, pemarah, tetapi kepada Shin sangat lembut.


Senyuman Shin terlihat, menatap makanannya langsung memasukkan ke dalam mulutnya. Mengunyah pelan sambil menganggukkan kepalanya.


"Lumayan, aku pikir tidak enak."


Senyuman Genta juga terlihat, melanjutkan makannya sampai selesai. Suara Tika memukul piring sendok menganggu Genta yang sedang membaca pesan di ponselnya.


Shin sudah beranjak ke dapur, meletakkan piring kosong bekas mereka makan.


"Om menyukai Shin?" Tika bicara sangat pelan.

__ADS_1


"What?" kepala Genta geleng-geleng, tidak percaya dengan ucapan Tika yang mustahil baginya.


"Cara bersikap Om kepada Tika dan Shin sangat berbeda?"


"Seandainya aku bisa mungkin akan aku coba, tapi kenyataannya tidak mungkin. Setidaknya Shin lebih baik dari kamu." Mata Genta melihat bibir Tika yang memonyongkan bibirnya, ingatan malam saat bibir mereka bersentuhan teringat.


Genta meminta Tika bersiap untuk pulang, dirinya masih mempunyai banyak pekerjaan tidak punya waktu berlama-lama mengurus mereka.


Suara ketukan pintu terdengar, Shin langsung berlari membuka pintu menatap banyak orang yang menatapnya sinis, beberapa pria juga terlihat menatap Shin penuh tanda tanya.


"Assalamualaikum Nona, apa pemilik rumah ada di dalam?"


"Iya, ada. Memangnya ada apa Pak?"


Seorang wanita seksi mendorong Shin sampai jatuh, pertanyaan kedatangan mereka sungguh tidak pantas, karena wanita malam seperti Shin harus dihakimi.


Senyuman Shin terlihat sinis, langsung berdiri mendekati wanita yang sudah mendorongnya. Membisikkan sesuatu ke telinga, mengatakan jika dirinya bisa saja mencabut nyawa di depan banyak orang.


Genta dan Tika langsung keluar, Atika menarik Shin untuk mundur. Genta mempersilahkan pengurus perumahan masuk ke dalam.


Semua orang langsung masuk, menatap Tika dan Shin yang berada di rumah Genta. Tuduhan pencemaran terus terlontarkan.


"Jangan hina mereka, aku bisa menuntut pencemaran nama baik." Nada bicara Genta sangat tegas, tidak suka ada yang menghina Shin dan Tika.


"Apa menurut kamu tinggal dengan dua wanita bisa dibenarkan?"


"Saya tahu salah pak, tapi kami tidak melakukan kesalahan. Mereka berdua adik saya, dan baru kembali dari luar negeri menyelesaikan pendidikannya." Genta hanya membicarakan apa yang penting, dan akan segera mengantar keduanya untuk pulang.


"Nak Genta, kamu sangat paham dengan hukum. Tempat tinggal kita tercemar nama baiknya."


"Maafkan saya, besok saya akan segera pindah. Kepada kepala desa, Genta meminta maaf, kepada masyarakat juga." Senyuman Genta terlihat, karena sudah waktunya dirinya pindah.


Semua orang langsung diam, mereka tidak bermaksud mengusir Genta. Tetapi keputusan Genta sudah bulat, dirinya akan tetap pindah.


"Maaf Pak Bu, saya harus segera pergi untuk mengantar kedua adik saya. Kalian bisa undur diri." Tangan Genta mempersilahkan keluar.


Kepala Tika tertunduk, menahan tawa melihat Genta mengusir secara halus. Bukan Genta yang di usir, tapi dia yang mengusir.


Tangan Shin melambai, meminta para wanita yang menyukai Genta segera keluar dan lenyap selamanya.


Setelah semuanya pergi, Genta menarik nafas panjang, langsung meminta Shin dan Tika bersiap untuk pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


"Om tua yakin ingin pindah?" Tika duduk di atas meja menatap Genta.


"Terima kasih untuk bencana kedatangan kalian, tapi sudah waktunya aku pindah." Genta menatap sinis Tika yang melotot ke arahnya.


Pintu rumah sudah ditutup, Genta menatap alarm keamanan, dan CCTV juga mati. Tidak sembarang orang bisa mematikannya.


Tidak ingin terus memikirkan, apalagi mempertanyakan kepada Shin dan Tika siapa yang melakukannya, karena Genta sendiri yang akan mencari tahu soal Shin sebenarnya.


Kening Tika berkerut melihat pagar, buah mangga sudah banyak lagi yang bergelantungan ke arah pagar. Seakan-akan sengaja diarahkan ke tempat Genta.


"Dasar perempuan licik." Shin merangkul Tika yang juga tersenyum.


"Harus kita apakan?" Tika tersenyum sinis, menunjukkan sesuatu di tangannya.


Shin langsung terkejut, Tika bahkan bisa menciptakan peledak kecil untuk membakar sesuatu.


"Kalian berdua, cepat masuk mobil." Genta berteriak sudah menghidupkan mobilnya.


Shin langsung berlari masuk, duduk di samping Genta untuk mengalihkan perhatian. Tika juga langsung masuk, duduk di belakang.


Mobil langsung melaju, Shin langsung berbicara dengan Genta, Tika mengeluarkan kepalanya. Tangan Tika melemparkan peledak ke arah pohon mangga.


Setelah mobil jauh suara ledakan terdengar, Genta melihat ke arah kaca spion. Shin memukul dasbor membuat Genta menatapnya.


"Good by." Tika melambaikan tangannya, melihat pohon terbakar, beberapa orang sudah berlarian untuk mematikan api sebelum menjalar ke rumah penduduk.


Suara tawa Tika terdengar, menatap ponselnya. Sungguh menyenangkan menghancurkan orang-orang yang melakukan seribu cara untuk mendapatkan keuntungan.


"Tika, kamu happy?"


"Pastinya, rasanya di dalam dada berbunga-bunga." Atika tertawa mengejek.


Melihat Shin dan Tika tertawa, Genta semakin cemas. Dua anak pengacau pasti sudah punya rencana lain untuk membuat kegaduhan.


"Tika, Papi kamu tahu jika kalian pulang?" Genta merasa heran tidak ada yang menghubungi Tika.


Kepala Tika menggeleng, tidak ada yang tahu jika dirinya pulang. Kepulangannya akan menjadi kejutan untuk keluarganya.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2