
Surat dibuka, Aliya dan Altha sama-sama mengerutkan kening. Tidak ada tulisan sama sekali, bahkan satu coretan saja tidak ada.
Al langsung meremas kertas dan membuangnya ke tempat sampah, Altha hanya melihat sekilas ke arah kertas dan langsung duduk untuk makan siang.
Selesai makan Altha langsung pamit kembali bekerja, meminta Aliya jangan banyak tingkah.
"Ayang, malam ini jangan lupa. Kita ada ibadah berdua." Al mencium hidung suaminya.
Altha hanya tertawa kecil, mencium kening Al dan langsung melangkah pergi meninggalkan Aliya yang sudah mengobrol bersama Helen.
"Kak Al, katanya tidak cinta, tidak ingin jatuh cinta kenapa ada acara cium?" Elen tersenyum malu-malu, merasa bahagia melihat Aliya yang tersenyum membayangkan wajah Altha.
"Istri mengagumi suami itu wajar Elen, Altha juga aslinya sangat baik."
"Kak Al jatuh cinta, akhirnya Aliya bisa jatuh cinta." Helen berteriak sambil bertepuk tangan.
Aliya langsung tertawa lepas, dia juga tidak menyangka jika akan merasakan jatuh cinta. Al menganggap dirinya tidak punya hak bahagia, tapi melihat kebaikan Altha Al bisa menemukan bahagia.
Rencana awal hanya berdiri di belakang Altha untuk sesaat, tapi siapa sangka jika Al ingin menetap lama, bukan ada di belakang melainkan ada di samping suaminya.
Altha mendengar pembicaraan Aliya dan Helen, menatap tajam ke depan, mengerutkan keningnya langsung melangkah pergi.
Alt tidak sepemikiran dengan Aliya jika bahagia mereka sudah datang, Alt merasa luka lama mulai terbuka dan lebih menyakitkan lagi.
Meksipun Altha juga masih ragu, dia bisa merasakan ada yang tidak beres dan akan membongkar semuanya.
Alt menyadari jika mobilnya sudah disadap semua, pelaku sangat dekat dengan mereka sehingga Altha harus cepat mengambil tindakan. Sebelum Aliya dan anak-anak terluka.
"Maafkan aku Aliya, sebenarnya aku tidak sebaik yang kamu pikirkan. Cinta, tidak ada lagi cinta dalam hidupku. Aku tidak ingin jatuh cinta. Sebelum aku menangkap pelaku yang membunuh ibuku, kasus ini tidak akan selesai." Altha memejamkan matanya sesaat, langsung menjalankan mobilnya.
Selama perjalanan Altha tidak bisa konsentrasi, ada rasa bersalah karena tidak bisa menghubungi Al. Bahkan ponsel Altha juga sudah disadap, dia tidak punya cara untuk mengabari Al.
__ADS_1
"Maafkan aku Aliya, sekuat apapun aku mencoba memaafkan ibu kamu, tapi masih sulit. Dia membunuh ibuku, bagaimana mungkin aku bisa mencintai anaknya." Altha memukul setir mobilnya, berharap bisa mencari kesempatan untuk mengalihkan perhatian.
Mendengar pengakuan Aliya jika dia jatuh cinta, dan ingin hidup lama bersama Altha membuat hati Alt sangat bahagia, tapi keadaan tidak memungkinkan untuk mereka.
Tatapan mata Altha tajam melihat kotak hadiah yang sudah dia pesan untuk Aliya dan Atika, kalung couple yang putrinya inginkan.
Altha langsung membuangnya ke semak belukar, menjalankan mobilnya mencoba menatap lagi hati dan harus secepatnya mengungkap kematian ibunya.
***
Sudah tiga hari Altha tidak kembali, Al hanya menerima pesan jika Altha sedang ada di luar kota untuk tugas.
Setelah pesan masuk nomor Altha tidak pernah aktif, dia juga tidak pernah menghubungi Aliya.
"Apa yang sebenarnya terjadi? Altha terlihat berubah dari caranya menatap Aliya terakhir kali.
Sebuah panggilan masuk, Al langsung pergi ke bangunan kosong yang biasanya Aliya kunjungi untuk bertemu seseorang.
"Apa kamu jatuh cinta?"
"Jawab aku Aliya, apa kamu jatuh cinta dengan Altha?" tatapan mata tajam, menggelengkan kepalanya.
Aliya menganggukkan kepalanya, hanya Altha yang menerima kekurangannya. Alt ingin menjalin hubungan selayaknya suami istri, dan Altha satu-satunya orang yang akan Aliya percaya.
"Bodoh, Altha juga menyelidiki kasus ibunya. Dia sudah menemukan kebenaran jika ibu kamu memang membunuh ibunya, kalian tidak bisa bersama Aliya."
"Aku tidak perduli, Altha menerima segala kekurangan aku. Dia mencintai aku dan aku juga mencintai dia." Al tetap pada pendiriannya.
Suara tawa terdengar, Altha mungkin baik sebelum dia mengetahui jika ibu Al pelaku yang membunuh ibunya. Seseorang memberikan informasi, jika Aliya bisa menerima surat kosong, dia keturunan yang masih hidup.
"Kamu menerimanya, apa Altha tahu? sekarang Altha di mana kamu juga tidak tahu?" senyuman sinis terlihat.
__ADS_1
Aliya bodoh, menyakiti hatinya sendiri. Tidak ada cinta yang tulus di dunia ini. Semuanya palsu dan tidak ada kebenaran, lelaki mana yang bisa menerima pembunuh dari ibunya.
Al menerima sebuah map, langsung melangkah pulang tanpa mengeluarkan kata-kata.
"Lupakan Altha, kalian hanya akan saling menyakiti. Ibu kamu yang membunuh ibunya, sedangkan ayah Altha yang menabrak kamu sampai hampir mati. Aliya balik ke tujuan awal kita untuk menghacurkan keluarga Hariz dan tidak sibuk mengusik hidup Altha." Suara langkah kaki berlari meninggalkan bangunan kosong.
Al melangkah keluar, duduk di dalam mobilnya sambil melihat malam. Aliya percaya hanya kepada Altha, tidak mungkin Altha mengkhianatinya hanya karena ibu mereka.
Aliya juga ikhlas saja menjadi korban tabrak lari ayahnya, dan tetap mencintai Altha setulus hatinya.
Al menghubungi ponsel Altha yang akhirnya terhubung, cepat Al melakukan panggilan video melihat Altha yang ada di dalam mobil juga.
Keduanya hanya saling pandang tanpa mengeluarkan sepatah kata, Al tersenyum melihat Altha baik-baik saja.
[Ayang, apa benar kamu tidak mencintai Aliya? sengaja hanya untuk membuat jatuh cinta lalu menyakiti. Tidak benarkan?] Al tersenyum menunggu jawaban Altha.
[Maafkan aku Aliya, awalnya aku berharap jika penemuan aku yang benar jika ibu kamu tidak terlibat, tapi kebenaran tidak berpihak. Bagaimana aku bisa mencintai putri seorang pembunuh? apalagi dia ibuku. Salahkan aku Al.] Kepala Altha tertunduk.
Aliya juga menundukkan kepalanya, dia tahu Altha berbohong. Ada sesuatu yang menyadap Altha sehingga memilih keluar rumah, dan tidak pulang beberapa hari demi keselamatan Aliya dan anak-anak.
Al hanya terluka saja mendengar secara ucapan Altha, seseorang yang ingin menghacurkan Altha, Aliya dan Citra orang yang sama.
[Ayang, Al minta maaf untuk masa lalu. Berjanjilah Ayang akan bahagia, Al tidak bisa mendampingi Ayang lagi.] Senyuman Aliya terlihat langsung mematikan panggilan.
Dada Al terasa sesak, siapapun yang mencoba memisahkan mereka akan Aliya temukan. Meskipun dia dan Altha harus berpisah, setidaknya Altha harus bahagia.
Al membuka map, ibu Citra sudah meninggal kecelakaan saat dia melarikan diri bersama lelaki lain, sedangkan Ayahnya Citra masih hidup. Al langsung bergegas untuk menemui pria yang mengetahui segala tentang keluarga mereka.
Sebuah pesan masuk, Altha meminta Aliya hati-hati. Dia berjanji akan segera kembali dan menjelaskan semuanya.
"Aku tahu kamu mencintai aku, meskipun mulut kamu begitu menyakitkan. Aku tidak masalah kamu permainan, karena dari awal aku memang tidak berharga."
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazara