
Sampai di parkiran, Tika melempar kunci mobil Genta yang ada padanya. Tatapan Tika tajam, Genta mengambil kunci sambil kebingungan.
Kepala Shin tertunduk, pertengkaran Tika dan Genta tidak dihiraukan sama sekali. Shin masih merasa kecewa saat mengetahui hubungan Genta dan Li yang terlihat sangat dekat meskipun Kakaknya bersikap acuh.
"Kenapa kamu marah? perempuan aneh."
"Aneh kamu bilang, sadar laki-laki bodoh." Tika melayangkan tendangan.
Genta berhasil menghindar, meminta Tika berhenti kekanakan karena mereka menjadi pusat perhatian banyak orang. Tika yang sudah tersulut emosi tidak ingin berhenti, melayangkan pukulan ke wajah Genta.
"Tika berhenti, Mami memanggil lagi." Tangan Shin menunjukkan ponselnya.
Handphone Tika berbunyi, alarm pertanda buruk. Tika langsung mengecek ponselnya, melihat pelacak dan perekam sudah ketahuan oleh Irish.
"Ais sialan, ini semua gara-gara kamu." Tika memukul punggung Genta sangat kuat.
Tatapan Genta melihat ponsel Tika yang melacak ulang, jaringan menghilang membuat Tika mengacak-acak rambutnya.
"Tik, aku juga memasang di jam tangan, kamu lacak ulang." Shin mengingatkan jam tangan pria yang bersama Irish.
"Mana kunci mobil, nanti aku balikkan lagi." Tika berlari ke arah mobil, Shin juga langsung bergegas masuk.
Panggilan Aliya diabaikan, Genta membiarkan mobil yang Tika kendarai meninggalkan supermarket. Rasa penasaran Genta semakin besar dan bergegas masuk mobil untuk mengejar mobil Tika.
Sesampainya di restoran Shin berlari kencang diikuti oleh Tika yang kalang kabut, mereka lama dia supermarket gara-gara Li yang membuat darah naik.
"Shin, buka ruangan rahasia." Tika lari ke kamar mengambil laptopnya dan menuju ruangan pribadi.
Shin menatap layar yang sudah hidup, Tika mulai melacak kembali keberadaan Irish. Kening Tika dan Shin berkerut karena keberadaan Irish masih di tempat yang sama.
"Kenapa aneh sekali Tik?"
"Ada orang lain di dalam kamar, dan dia memiliki sesuatu yang bisa mengacau jaringan." Mata elang Tika menatap tajam seakan tidak percaya dengan apa yang dirinya saksikan.
Kedua tangan Shin menutup mulutnya, memalingkan pandangannya agar tidak melihat secara langsung apa yang terjadi di dalam kamar hotel.
Kedua tangan Shin gemetaran, berjalan keluar ruangan membiarkan Atika yang masih menatap layar besar memperhatikan apa yang terjadi di dalam kamar.
__ADS_1
Suara bel pintu terdengar, Shin mengintip sekilas lalu membukanya. Tatapan mata Shin menunjukkan ketakutan juga kecemasan.
"Ada apa Shin? apa yang kamu lihat?" Pelukan Genta lembut ke arah adiknya yang juga membalas pelukan sangat erat.
"Me ... mereka mengerikan Kak." Shin berjalan ke arah ruang tamu, duduk diam masih membayangkan yang terjadi di dalam kamar hotel.
Langkah Genta mendekati ruangan rahasia yang terbuka, tatapan mata Genta juga terlihat kaget saat layar besar yang Atika kendalikan menunjukkan hal yang mengerikan.
"Di mana lokasi mereka?" Genta duduk di samping Tika yang terlihat santai saja.
Tatapan mata Tika masih sinis, menolak bicara dengan Genta yang berhubungan baik dengan Li. Membayangkan wajah Li saja membuat darah Tika naik.
Genta mengambil alih laptop Tika, memperbesar layar yang menunjukkan sebuah tato di bagian leher pelaku.
Saat berada di supermarket seseorang datang ke kamar Irish, pria yang bersamanya terbangun lalu membuka pintu.
Jaringan Tika langsung hilang, saat tiba di rumah Atika hanya melihat banyaknya darah yang sudah simbah. Kasus pembunuhan dari orang yang tidak dikenali.
Irish bangun dan terlihat biasa saja menatap pria yang bersamanya sudah meregang nyawa. Tatapan mata Irish melihat wanita yang menutup wajahnya sambil tersenyum.
Kasus pembunuhan berencana, Irish menerima bayaran setelah melakukan tugasnya membawa pria yang tidur bersamanya.
"Mereka saling mengenal dan ini pembunuhan berencana?" Genta tersenyum sinis melihat Irish melangkah pergi.
Tubuh pria yang sudah tidak bernapas dibiarkan begitu saja, dan tidak ada yang berani mengungkap kasus pembunuhan.
Atika mematikan layar, Genta melihat wajah Tika yang masih terlihat kesal dan tidak ingin melihatnya.
"Di mana mereka sekarang Tika?"
"Cari sendiri, kamu polisi. Seharusnya jauh lebih tahu," jawab Tika dengan nada tinggi.
"Aku bicara baik-baik, kenapa kamu emosian sekali?"
Atika langsung melangkah keluar, mengabaikan Genta yang masih bicara kepadanya. Genta ingin menuju lokasi pembunuhan agar bisa mendapatkan bukti jika Irish pelaku yang bekerja sama dengan seseorang.
Shin melihat pertengkaran Genta dan Tika yang masih membahas masalah pembunuh di hotel. Tika menolak bekerja sama dengan Genta.
__ADS_1
"Kamu urus masalah sendiri, aku akan melakukan dengan caraku." Kedua tangan Tika terlipat di dada, menatap dengan mata yang sangat tajam seakan-akan ingin mencabik-cabik tubuh Genta.
"Apapun yang bersangkutan dengan Shin aku akan ikut campur, dan aku tidak peduli penolakan kamu."
"Stop ... Shin katakan stop. Sekarang rencana kita apa? Tika tidak boleh diam saja membiarkan Irish melakukan kejahatan." Shin memukul punggung Tika yang masih menatap Genta tajam.
"Di mana lokasi mereka Shin?"
"Jangan katakan apapun, aku tidak ingin melihat wajahnya. Sebaiknya kamu ke rumah sakit, temani Dokter genit yang suka mendekati banyak pria." Tika tidak ingin melibatkan Genta dalam rencananya.
Shin memijit pelipisnya, kemarahan Tika terlalu berlebihan. Seharusnya Shin yang mengamuk karena Li menyukai Juna sebelum Shin menyatakan perasaannya dan lebih dekat dengan Juna.
"Kalian berdua selesaikan perdebatan ini, lagian kenapa debat terus? nanti kalian berdua berjodoh baru tahu rasa." Shin melangkah duduk kembali membiarkan Tika dan Genta menyelesaikan perdebatan mereka.
"Aku tidak mungkin suka pria dingin, pemarah, merasa paling sempurna. Sorry, bukan level."
"Bagus jika seperti itu, berarti hubungan kita hanya sebatas kasus saja." Genta melangkah duduk mendekati Shin.
Genta meminta Tika duduk, mendengar penjelasan jika Genta sudah menyusun rencana untuk menjebak Irish.
Orang yang paling dekat dan mudah ditaklukkan Irish, wanita yang melakukan pembunuhan di kamar menggunakan tato di bagian lehernya.
"Wanita yang membunuh tadi bernama Rindi, dia mengalami gangguan jiwa sejak kecil dan terobsesi membunuh orang."
"Selama ini dia tinggal di mana kak Gen?"
"Luar negeri, dan mereka datang ke sini juga memiliki tujuan." Genta menceritakan kasus luar negeri soal pembunuhan berantai satu keluarga kemungkinan ada sangkut pautnya dengan Rindi.
"Bukannya ini berbahaya, apalagi kita memiliki banyak anak-anak?" Shin mengkhawatirkan keluarga jika mereka lalai.
Kedua alis Tika terangkat, hanya ada satu cara agar tidak menyebabkan keluarga terlibat. Genta harus membawa kasus pembunuhan di hotel untuk mengejar Irish secara besar-besaran dan Tika akan menemukan markas.
"Rencana ini harus selesai dengan cepat, dan membuahkan hasil yang diharapkan jika tidak resikonya besar." Tika menatap Shin dan Genta yang sependapat.
Genta menghubungi kantor pusat untuk mengirim polisi ke hotel, dan menangkap Irish lebih dulu.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira