
Sudah larut malam, Alin melihat Tika yang tidur di sebelahnya. Menghidupkan ponselnya dan diletakan di sekitar Tika.
Siapapun yang masuk mendekati Tika, Alin pasti tahu. Prioritas utama melindungi Tika dan Juna. Sungguh penyesalan terbesar Alin mengiyakan apa yang Aliya katakan.
Perlahan Alin melangkah meninggalkan rumah, langsung berjalan ke jalanan dan langsung menghubungi seseorang.
Suara Alin mengumpat Vito bahkan sumpah serapan dia ucapkan, akan Alin pastikan Vito mati di tangannya.
Sebuah mobil tiba, beberapa orang langsung menundukkan kepalanya. Alin mempertanyakan soal keberadaan markas yang sempat di serang oleh Altha.
Tidak ada yang tersisa, bahkan seluruh bawahan Alin yang bertugas langsung mati bunuh diri. Beberapa bisnis di luar negeri tidak bisa beroperasi lagi, Altha sudah berkerja sama dengan kepolisian luar untuk memberantas bisnis Alin.
"Sialan, Altha tidak main-main dalam menghacurkan. Aku tidak punya pilihan lain, secepatnya temukan Vito, Aliya, wanita yang membawa Al juga lelaki sialan yang menusuk Al." Alin tidak memiliki banyak waktu untuk masalah ini.
Dia tidak bisa terus menyamar menjadi Aliya, apalagi keberadaan dua anak Al. Mereka anak-anak pintar dan cerdik, sedikit saja Alin melakukan kesalahan dalam bertindak pasti ada pertanyaan yang menjerumuskan.
"Jejak Vito benar-benar menghilang Nona."
"Persetan, jika kalian tidak menemukan jasadnya temukan arwahnya." Alin langsung mengambil alih mobil dan meninggalkan bawahannya.
Bawahan Alina hanya bisa terdiam, tidak mungkin mereka harus menjadi dukun untuk menemukan keberadaan Vito.
Mobil Alina masuk ke rumah lamanya yang sudah dihancurkan, duduk diam di atas tumpukan pasir. Cukup lama Alin berdiam diri.
"Apa yang harus aku lakukan? siapa yang harus kami kalahkan? aku tidak tahu apapun." Alin memejamkan matanya.
Beberapa tempat yang sering Aliya kunjungi Alin datangi, bahkan rumah orang tua angkat Aliya yang memiliki garis polisi.
Sebuah diary tergeletak dalam keadaan basah dan lusuh, Alin langsung mengambilnya dan membuka pelan-pelan karena takut sobek.
Dari buku diary Alina bisa mengetahui segala penderitaan Aliya, dia selalu menulis setiap hari kehidupannya dan menulis siapapun yang dia temukan.
Baik buruknya karakter seseorang sudah Al tulis detail, bahkan banyaknya perubahan setiap orang.
Dada Alin merasakan sesak, adiknya benar-benar diperlakukan seperti binatang. Selama lima belas tahun Aliya menderita dan terkurung dalam rasa sakit yang sangat dalam.
"Maafkan aku Dek, Mama benar aku memang psikopat."
__ADS_1
"Bukan kamu, Alina yang psikopat." Vito muncul langsung memeluk Alin, tanpa dia ketahui jika orang yang ada di hadapannya Alina.
Senyuman Alina terlihat, menatap Vito yang akhirnya muncul. Melayangkan pukulan kuat, sekuat apapun Vito mencoba melawan, saat sikap binatang Alin muncul tidak bisa dihentikan.
"Mati kamu Vito, siapapun yang berani menyentuhku harus mati." Alin langsung melangkah mundur, melihat darah di tangannya.
Bayangan Aliya yang meminta untuk tidak membunuh lagi, ucapan Juna yang mengatakan berhenti melakukan kejahatan, juga perkataan Altha yang tidak ingin melihat kekacauan yang Alin perbuatan.
Senyuman Tika juga muncul, memeluknya erat dan mengatakan jika mereka harus saling menggenggam.
"Aliya, aku akan membunuh Alina untuk kamu."
"Kenapa kamu mengkhianati Alin?"
Vito tersenyum, dia mencintai Aliya sejak lama. Mendengar Aliya mengatakan jika jatuh cinta kepada Altha membuatnya sakit hati dan sulit menerimanya.
"Aliya menghilang, ada seorang wanita yang membawanya, aku tidak mengenali wanita yang bersama Al." Alin menceritakan apa yang terjadi di gedung kosong.
"Kamu siapa? tidak mungkin kamu Alina? Al maafkan aku, sungguh aku tidak sengaja menusuk kamu hanya karena rasa cemburu."
"Diamlah! aku Alina bukan Aliya, dia menghilang." Alin yakin orang yang membawa Aliya bukan orang jahat, dia pasti menyelamatkan Aliya.
"Siapa orang yang paling Aliya percaya? selain Altha dan Dimas." Kening Alin berkerut, mengingat satu nama yang sudah berbulan-bulan tidak muncul.
Vito masih tidak percaya, langsung menarik Alin untuk menatapnya. Genggaman tangan Vito terlepas, ucapan Alin benar jika yang dia tusuk bukan Al.
Suara tembakan terdengar, Alin tersungkur jatuh melihat Vito menebaknya. Langsung melarikan diri, tapi terlambat.
Alin yang ahli menebak sudah melepaskan tembakan balasan, mengarahkan senjata di kepala Vito.
"Sialan, jika tidak memegang ucapan Al kamu pasti mati." Alin meminta bawahan untuk menyingkirkan Vito, membuatnya lenyap dari muka bumi.
Luka tembak di pundak Alin tidak dirasakan, langsung melangkah ke mobilnya dan menuju apartemen Dimas, dia yakin bisa mendapatkan informasi.
Suara pukulan di pintu apartemen terdengar, Dimas membuka dengan wajah bantal. Melihat Aliya yang langsung masuk penuh darah.
"Aliya, apa yang terjadi?" Dimas langsung berlari mencari bajunya.
__ADS_1
"Di mana Anggun?" Alin menatap tajam.
Kepala Dimas menggeleng, dia sudah mencari Anggun bahkan memasukkan ke dalam daftar orang hilang. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda keberadaan Anggun.
"Apa dia orang baik? apa hubungannya dengan Aliya?"
"Apa maksudnya kamu?"
"Kak Dimas, aku Alina. Kemungkinan Aliya bersama Anggun."
Dimas mengusap wajahnya, dia masih tidak bisa mencerna apa yang baru saja didengarnya. Langsung menghubungi Altha yang ternyata tidak ada di rumah, masih keluyuran mencari Aliya.
"Tidak puas kamu membunuh Mora, sekarang kamu mengambil identitas Aliya." Dimas mencengkram kuat lengan Alin yang tertembak.
"Jika aku menginginkan, kenapa aku ada di sini?" Alin menatap tajam, tidak merasakan sakit sama sekali dari luka yang dia dapatkan.
Pintu apartemen terbuka, Altha langsung masuk melihat Alin yang sedang berdebat dengan Dimas.
"Alt, kenapa kamu membiarkan wanita ini hidup? dia yang membunuh putrimu, dan dia juga yang membuat Aliya menderita selama ini." Dimas berteriak kuat.
Altha menepuk pundak Dimas, menghukum Alina sama saja Altha menyakiti Aliya. Tidak ada yang berhak menghukum, meskipun Alt tahu Alin sudah menyakiti banyak orang.
"Altha kamu menjadi orang jangan terlalu baik!"
"Aku harus bagaimana? istriku menghilang Dim, melihat dia terluka sama saja aku menyakiti Al. Apa yang terjadi di masa lalu memang tidak bisa dihentikan, tapi apa yang terjadi kepada kami ada sangkut-pautnya." Meskipun Altha tidak secara langsung menyakiti keluarga Aliya, dia tetap merasa ikut ambil tanggung jawab.
Alina menyentuh lengannya, dirinya selalu menyalahkan ibunya yang gila, tanpa dia sadari jika dirinya juga lebih gila.
Membunuh banyak orang tanpa rasa sesal juga bersalah, sungguh mudah bagi Alin untuk melenyapkan orang, tanpa berpikir panjang.
"Aku memang psikopat, Al benar aku yang sudah membuat keluarga kami hancur. Akulah penjahatnya." Alin mengeluarkan peluru tanpa obat penahan rasa sakit.
Dimas dan Altha kaget, melihat Alin yang tidak meringis sedikitpun. Alt tahu rasa sakit di dalam tubuh Alin lebih besar sehingga sakitnya luka luar tidak dirasakan.
"Maafkan kakak sudah menghacurkan hidup kamu, aku tidak akan mati sebelum kamu bahagia." Alin meneteskan air matanya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara