
Suara Altha tertawa terdengar, mengusap kepala Arjuna yang sedih karena adiknya perempuan.
"Atika kamu harus memilih Adriana atau Andriani?" Alt menatap putrinya yang terlihat bingung.
"A ... Adriana saja, tapi Andriani juga bagus." Tika masih binggung.
Altha menatap Aliya, meminta tambahan nama untuk kedua anak mereka agar semuanya bisa adil.
"Arjuanda Dewa Rahendra, Adriana Dewi Rahendra." Al tersenyum melihat putra dan putrinya yang juga tersenyum melihat Maminya.
Arjuna menatap lebih detail wajah adiknya, membuka sedikit penutup kepalanya yang membuat Juna tersenyum lebar.
"Adiknya Juna laki-laki?"
"Emh, kecewa sama kak Juna tidak mengenali kamu?" Altha mengusap kepala Juna yang kesenangan karena adiknya laki-laki dan perempuan.
Atika juga bekali-kali mencium Ana dan Juan yang sangat cantik dan tampan, suara tangisan keduanya hiburan untuk Tika yang sudah lompat-lompat kesenangan.
Salsa menatap Altha dan Aliya, senyuman Salsa menunjukkan kabar yang kurang baik. Melihat kebahagiaan keluarga Altha atas kehadiran putra dan putri, kebahagian juga terlihat dari wajah Juna yang mengagumi adik lelakinya.
"Mami, kenapa adiknya Juna menggunakan baju kuning? Juna pikir perempuan."
"Sama saja kak Juna, hal paling penting bukan bajunya, tapi jenis kelaminnya." Tika mencium adiknya berkali-kali.
"Di mana Anggun, kak Dimas, Diana dan Dika?" Al baru sadar jika keluarga Dimas tidak ada yang terlihat.
Salsa menatap Aliya yang memintanya untuk memberikan jawaban keberadaan Anggun, dan juga keluarganya.
"Aunty Anggun sudah melahirkan, kak Di menangis terus." Tika menatap Maminya yang sudah terduduk lemas.
Altha merangkul istrinya, mendengarkan penjelasan dokter Salsa soal kondisi Anggun dan bayinya.
Saat Aliya selesai persalinan, Salsa menerima panggilan dari Dika jika kakak iparnya mengeluarkan banyak darah.
Jam enam pagi Anggun sudah melakukan perawatan, karena kondisi Anggun drop total demi keselamatan bayi akhirnya Salsa meminta operasi caesar.
Meksipun kondisi bayi belum masuk tujuh bulan, kondisi bayi juga stabil namun masih harus di awasi secara intensif.
"Selesai operasi sesar, Anggun kritis." Suara Salsa tarik nafas panjang terdengar.
"Astaghfirullah Al azim." Al mengusap dadanya mendengar Anggun sampai kritis.
__ADS_1
Anggun kehabisan darah, karena kondisi dokter yang belum lengkap, juga pendarahan hebat. Diana dan Dika sampai mendonorkan darah.
"Jangan terlalu khawatir, Anggun sudah sadar sekitar tiga puluh menit yang lalu, dia kritis hanya sebentar." Salsa memastikan Anggun baik-baik saja.
Anak mereka juga hanya membutuhkan waktu untuk bisa bertemu kedua orangtuanya, karena bayi prematur.
Aliya langsung ingin menemui Anggun, Altha meminta istrinya menggunakan kursi roda agar aman karena Al juga mendapatkan beberapa jahitan.
Helen menemani dua baby, bersama Tika dan Juna yang tidak ingin pisah dari kedua Adiknya.
Al dan Altha mengikuti Salsa yang menunjukkan jalan posisi keberadaan kamar Anggun yang masih beristirahat total.
"Dok, bagaimana keadaan Diana? apa dia melakukan sesuatu?" Al menatap Salsa yang tertawa terbahak-bahak melupakan statusnya sebagai dokter.
"Dia menangis terus bukan karena adiknya lahir prematur, bukan juga karena Mommynya sempat drop, tapi Di menangis karena adiknya laki-laki." Salsa tertawa diikuti oleh Aliya yang menutup mulutnya merasa kasihan dengan Di yang menginginkan adik perempuan.
Altha meminta Salsa membawa Aliya langsung menemui Anggun, dia ingin mendekati Dimas yang masih melihat anaknya dari kejauhan, karena belum bisa mendekatinya.
Tangan Altha menepuk Dimas yang hanya melihat sekilas, senyuman Dimas masih terlihat sangat tenang.
"Maafkan Altha kak, karena terlalu sibuk cemas melihat Juna, juga Aliya yang mendadak lahiran jadinya campur aduk." Al melihat seorang bayi yang masih sangat kecil.
"Jangan minta maaf, kita tahu kondisi ini secara dadakan." Dimas terlihat santai ingin sekali menggendong anaknya.
"Kasian masih kecil sekali, sampai-sampai mungkin satu tangan juga bisa menggendong dia." Dimas menepuk pundak Altha, agar tetap fokus untuk kebahagian mereka.
Dimas juga bahagia karena putra dan istrinya selamat, meskipun membutuhkan waktu untuk pulih cukup lama.
"Selamat ya kak Dim, baby boy. Siapa namanya?"
"Belum tahu Al, Diana masih mengamuk sampai mengungkit meminta darahnya lagi, dia memaksa ingin adik perempuan." Dimas tertawa lucu jika mengingat Diana yang sampai menangis histeris seperti anak kecil.
Altha bersyukur karena baby mereka boy and girls, jika tidak salah satu juga pasti ngambek apalagi Tika.
Di kamar Diana masih duduk dengan wajah kusut, tidak ingin menjawab pertanyaan siapapun. Bahkan Anggun memintanya makan juga tidak dihiraukan.
"Di, berhentilah marah." Salsa tidak bisa tahan tawa jika melihat wajah Diana yang masih berantakan.
Dimas masuk bersama Altha mendekati Aliya dan Anggun yang masih tersenyum melihat tingkah gadis dewasa yang kekanakan.
"Siapa nama adik kamu Di?"
__ADS_1
"Diandra Daddy!"
Dimas langsung mendekati Diana, mengusap kepalanya meminta duduk diam. Dimas penasaran, kenapa Diana bisa datang di waktu yang tepat?
"Kak Dim, Diana kabur dari asrama, dan ada surat panggilan yang ketiga. Dia bisa dikeluarkan dari fakultas kedokteran." Dika geleng-geleng kepala melihat email dari luar negeri.
Dimas terdiam melihat putrinya, mempertanyakan apa yang Diana inginkan.
"Di ingin menjadi dokter, karena dokter yang menangani Arjuna ganteng banget meskipun dia terlihat menyukai Salsa, Di akan merebutnya." Senyuman jahat Diana terlihat, dia ingin menjadi dokter hanya untuk mengincar dokter tampan.
Dimas hanya gelang-gelang kepala, susah sekali mengatur Di yang keinginannya selalu berubah-ubah.
"Besok kamu balik ke luar negeri?"
"Tidak mau, bulan depan." Diana memohon kepada Anggun yang menganggukkan kepalanya.
"Siapa nama adik kamu?" Anggun menatap Diana yang sedang berpikir.
"Dean Martin, nama belakangnya Dirgantara."
"Bagus, Dean Martin Dirgantara." Dimas menyetujui nama putra mereka.
Suara Tika muncul terdengar, langsung lompat-lompat sambil tertawa mengejek Diana yang masih cemberut.
"Nama adiknya Tika Andriana Dewi Rahendra, sedangkan adiknya kak Juna namanya Arjuanda Dewa Rahendra. Cie kak Di tidak punya adik cewek." Tika menjulurkan lidahnya langsung duduk di samping Diana.
"Bersyukurnya kamu masih kecil, jika tidak sudah dilenyapkan." Diana menatap sinis, tapi langsung memeluk Tika.
Aliya tersenyum, mempertanyakan penyebab menatap tiba-tiba bisa pendarahan tanpa sebab.
Anggun juga sebenarnya binggung, dia terhentak jatuh dan perutnya langsung sakit. Awalnya memutuskan untuk beristirahat, tapi saat bangun tempat tidur sudah darah semua
Bersyukurnya ada Dika, karena dia hanya memantau Juna melewati Salsa. Pas juga Aliya selesai lahiran.
"Maafkan Aliya ya kak Anggun." Kepala Al tertunduk.
"Kenapa meminta maaf? tidak ada yang menginginkan musibah ini. Lebih bagus juga cepat lahirnya, mereka bisa seumuran. Aku berharap Diana, Atika dan Riana menyayangi dia." Anggun menatap Diana dan Tika yang berdebat soal adiknya Tika yang sangat cantik.
"Dia mirip Aliya, berarti mirip kak Di juga."
"Tidak, Riana mirip Tika." Atika memukul Diana yang ingin mengambil adiknya.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazara