
Mata Ria terbelalak besar memperhatikan Dina yang sedang tertawa tanpa beban, begitupun dengan orang-orang disekitarnya.
Tidak berapa lama, Tika dan Shin juga datang secara bersamaan dan melihat secara langsung Dina yang berkumpul dengan beberapa orang.
Kemunculan ketiganya sudah disambut dengan baik, Dina sengaja membuat Tika dan Shin datang namun tidak menyangka jika Ria yang di targetkan juga hadir.
Tangan Tika menahan pergerakan Shin, ada yang membuat Tika curiga jika Dina benar-benar tidak sengaja muncul.
"Sepertinya kita dijebak," ucap Tika sambil tersenyum lebar.
"Ria saja yang memancing mereka keluar." Ria melangkah ingin pergi, tapi Tika menahannya.
"Kenapa kamu bisa ada di sini? kenapa juga Mami membiarkan kamu keluar malam?"
"Kita tidak punya waktu untuk menjelaskan lebih baik kita bertindak sebelum mereka melarikan diri." Langka Ria terdengar meninggalkan Shin dan Tika.
Perasaan Shin mendadak tidak enak, Ria tidak punya pengalaman sama sekali dalam mengejar penjahat, dia lebih suka make up, dan kecantikan.
Jika bukan karena dendamnya yang tidak sengaja bertemu Dina hingga terjadi pertengkaran mana mungkin Ria peduli pada siapapun.
Tika sependapat dengan Shin, mereka masuk jebakan Dina dan target sebenarnya Ria yang membuat Dina terluka.
Keduanya melangkah mundur mengejar Ria yang ingin masuk lewat jalan belakang. Secara tiba-tiba ada yang menyerang Shin dan Tika.
"Mereka preman bayaran, singkirkan dalam waktu singkat." pukulan Tika langsung menghantam beberapa preman yang menyerang menggunakan senjata tajam.
'Aku masuk Tika, dan membawa Ria keluar." Shin berbicara menggunakan bahasa asing yang digunakan mereka setiap dalam keadaan darurat.
Tika menolak keputusan Shin yang masuk, Tika tahu jika Ria licik, meskipun otaknya lambat, dan tenaganya tidak seberapa. Dia ratu drama yang bisa bersandiwara dan dengan mudahnya menipu siapapun.
Tidak mudah orang melumpuhkan riya jika dia seorang yang tidak berpikir menggunakan logika.
Di dalam ruangan Ria sudah dikepung banyak orang, tidak terlihat wajah takut sedikitpun. Langkah Dina juga terdengar dan kabar polisi mendekat yang dipimpin oleh Genta sudah mendekat.
__ADS_1
"Kamu si kecil yang licik, lebih licik daripada Tika. Jangan harap kamu bisa lepas dan selamat dari tempat ini." Suara tawa Dina terdengar, mereka tidak punya banyak waktu sebelum polisi tiba.
Senyuman Ria terlihat, kedua tangannya terlipat di dada. Matanya melihat ke arah lain berpura-pura jatuh dan melihat ke atas banyak sekali jebakan.
"Kalian tahu jika Dina hanya memanfaatkan kalian? dia hanya membayar dengan nominal yang belum tentu membuat kalian kaya, tapi sebenarnya kalian sudah dijebak. Bukan kalian tapi kita." Ria menghela napasnya dalam.
Beberapa minggu yang lalu Dina memanfaatkan dirinya untuk bekerjasama, tapi secara tiba-tiba keberadaan Ria ketahuan oleh polisi dan akan dilaporkan sebagai pencuri usia dini.
Penjahat yang kejam menjadikan Ria buronan hanya karena kesalahan kecil, ketahuan Ria Kareena ulah Dina.
Dia dipekerjakan oleh kepolisian untuk menangkap orang-orang yang terlibat dengan kejahatan, tidak peduli besar ataupun kecil.
"Kalian pasti tahu jika polisi sudah datang dan mendekat ke sini? apa kita semua bisa lari dari sini, bukan Dina yang akaan ditangkap, tapi kita semua. Kalian dan juga aku hanya dimanfaatkan untuk keuntungan individu." Air mata Ria menetes karena penjahat yang paling jahat dia yang menjatuhkan kawannya, memanfaatkan dan menjebloskan kawan-kawannya ke dalam masalah besar.
"Apa benar kamu menjebak kami Dina?"
"Jangan bodoh wanita ini ratu licik, dan hanya mengadu domba kita, untuk apa aku menipu kalian, tidak ada untungnya." Suara Dina meninggi ingin sekali menyobek mulut Ria yang bisa-bisanya berbicara sembarangan.
"Kamu yang pembohong, buktinya kamu mengkhianati Hana setelah mendapatkan bayaran dengan nominal fantastis dari Am. Apa ada yang diuntungkan kecuali kamu sendiri? pada akhirnya Am yang di masukkan penjara. Kamu bisa tertawa kembali tanpa penyelidikan." Suara Ria juga meninggi menyakinkan semua orang jika Dina berkhianat.
Teriakan Dina menggema, mulut Ria sangat pintar membalikkan fakta. Menjatuhkan Dina dengan mudahnya.
Puluhan orang diperintahkan untuk membunuh Ria, tangisan ketakutan Ria terdengar. Tetapi bukan Ria yang diserang melainkan Dina.
Pukulan menghantam wajah Dina. Ria hanya duduk santai menonton Dina yang berdebat dengan banyaknya preman, dan mendapatkan pukulan.
Senyuman sinis terlihat, Ria langsung berdiri. menekan tombol yang tidak jelas arahnya karena memang tidak paham apapun.
Dina berhasil meloloskan diri dari jaring listrik yang menyengat dan menjatuhkan banyak orang.
Atika dan Shin berhasil masuk melihat lebih dari sepuluh orang yang sudah terkapar dan tidak sadarkan diri karena sengatan listrik.
"Sudah aku katakan, gadis kecil itu hanya menipu kalian, di sangat pintar drama. Bahkan tidak ada yang bisa membeda-bedakan dia jujur atau berbohong." Umpatan Dina terdengar mencaci maki Ria.
__ADS_1
"Iblis jahanam, jaga mulut kamu. Bukannya kamu lebih licik, Meksipun ucapan aku banyak bohongnya, tapi ada beberapa fakta yang seharusnya kamu akui." Tawa Ria terdengar mengejek orang-orang yang berbadan besar.
Beberapa orang berbadan besar melangkah masuk ingin menyerang Ria, tapi Tika dan Shin sudah masuk lebih dulu untuk menyerang.
Pertarungan kembali terdengar diiringi oleh suara beberapa mobil berdatangan yang sudah bisa diduga jika kepolisian sudah tiba.
Dina bergegas berlari, dikejar oleh Ria meninggalkan Shin dan Tika yang masih melumpuhkan sebagian kecil orang suruhan Dina.
Suara kejar-kejaran terdengar, Shin meminta Tika mengejar Ria karena bisa saja didalam bahaya karena ambisinya ingin menjatuhkan Dina.
"Jaga diri Shin, aku akan segera kembali." Tika berlari mengejar searah larinya Dina dan Ria yang sudah menghilang di kegelapan malam.
Teriakkan Ria terdengar meminta Dina berhenti berlari. Dan tidak mungkin bisa lolos. Sesuai sumpah Ria akan menangkap Dina dengan tangannya sendiri.
"Kamu pikir sudah menang? blum Ria. Bagaimana jika kamu mati, pasti Aliya akan hancur,"
"Kamu yang akan mati, dan aku akan menabur bunga bangkai ke atas mayat kamu. Tetapi di dalam keluarga kami kematian terbaik sebenarnya penyiksaan yang membunuh secara perlahan." Ria melangkah maju mendekati Dina.
"Kamu salah, hukuman terbaik memang bukan kematian, bukan juga penyiksaan, tapi mental yang hancur. Hidup dalam masa lalu yang menyedihkan, menyakitkan dan penuh dendam sampai kematian bukanlah akhir." Senjata diarahkan ke dada Ria, tembakan terdengar.
Tika langsung lompat memeluk tubuh adiknya, Dina hanya tertawa menembak berkali-kali sampai peluru habis.
Suara tawa terdengar menggema. Dina merasa hidupnya sangat berantakan sejak Mamanya pergi mencintai Pria lain hingga dirinya menjadi yatim piatu, semua petaka di mulai oleh Altha ditambah lagi kehadiran Aliya juga kekejaman Diana sehingga munculah dendam besar di hati Dina.
***
follow Ig Vhiaazaira
***
jika banyak typo maafkan.
Tangan author luka, nulis pakai keyboard membuat emosi.ðŸ¤
__ADS_1