
Kabar Dina berhasil melarikan diri dari penjara hanya diketahui oleh beberapa orang yang berada di dalam ruangan kontrol, sisanya tidak ada yang tahu.
Demi terlihat normal tidak ada yang diubah, demi kenyamanan semua orang yang hadir di pesta pernikahan.
Di kamar rias Tika tersenyum sangat lebar saat baju pengantin sudah merekat di tubuhnya, Shin selalu ada di sisinya memeluk Tika yang bagaikan seorang ratu.
Tanpa bisa tertahan air mata Shin menetes, Tika menepuk punggung sahabatnya untuk tidak menangis. Tidak akan ada yang memisahkan mereka berdua, Tika pastikan selalu bersama.
Mami Al juga memeluk Tika dan Shin, ikutan menangis haru. Ikut bahagia untuk Tika yang akan segera melepaskan masa lajangnya.
"Jangan menangis, nanti Tika juga ikutan." Wajah cantik Tika langsung cemberut.
Layar besar sudah dihidupkan, suasana di tempat ijab kabul sudah ramai. Seluruh keluarga Genta sudah melangkah masuk ke tempat menikah. Genta terlihat sangat santai, berjalan di tengah kedua orangtuanya untuk duduk di tempat yang sudah disiapkan.
Senyuman Tika terlihat menatap calon suaminya yang sangat tampan, senyuman santai juga terlihat menyapa keluarga dari pihak Tika.
"Genta tegang sekali, dia menyembunyikan wanita simpanan, ada masalah yang sedang dia sembunyikan." Rindi tersenyum sinis melihat ke arah layar yang menampakkan wajah Genta.
"Jika kamu tidak hamil sudah aku banting, jangan merusak senyuman bahagia ini." Hentakkan kaki terdengar, kesal melihat Rindi yang suka bicara sembarangan.
"Sudah, jangan memikirkan apapun. Percaya saja jika acara lancar sampai selesai." Al mencium kening Tika lembut.
Banyak yang mengaminkan, menunggu acara dimulai dan Genta bisa memulai acara ijab kabul.
"Tik, aku tunggu diluar." Shin memeluk erat, mencium pipi sahabat yang akhirnya menjadi Kakak iparnya.
Kepala Tika mengangguk membiarkan Shin meninggalkan kamar pengantin, menatap Maminya yang masih mengenggam jari jemari Tika erat.
Tanpa permisi Rindi juga melangkah keluar diikuti oleh penjaganya. Langkah Shin dihentikan, keduanya melangkah bersama ke arah tempat acara.
Senyuman Reza terlihat, mengangumi kecantikan Shin yang sangat luar biasa. Dia bagaikan Putri kerajaan yang memiliki segalanya, bukan hanya harta namun juga paras dan kewibawaan.
Saat melihat Rindi, Reza memalingkan wajahnya. Menghadap ke arah lain tidak ingin terlibat lagi dengan psikopat seperti Rindi.
"Tidak aku sangka jika Rindi Kakak iparnya Shin,"
Juna melangkah bersama beberapa Dokter terkenal, Reza menatap Juna yang tidak sedikitpun melirik ke arahnya.
Langkah Juna terhenti, meminta tamunya menemui Dokter Calvin dan juga Diana. Tatapan Juna melihat ke arah Reza yang sedang mengarahkan kepada para pelayan ke posisi masing-masing.
__ADS_1
"Siapa nama kamu? apa kita saling mengenal?" Juna mendekati Reza yang tersentak kaget.
Tidak pernah dia bayangkan manusia dingin seperti Juna bisa berbicara juga, tahun bertanya dan bisa penasaran juga dengan seseorang.
"Ay, dicari sama Kak Di." Shin menarik pergelangan tangan Juna.
Rasa menyesal terlihat, Reza terlambat menjawab sehingga tidak mungkin ada kesempatan untuk berbicara dengan Juna lagi.
Genggaman tangan Shin erat, Reza hanya bisa senyum tersungging melihatnya. Beberapa gosip juga terdengar, kabar keluarga Rahendra bukan hanya melangsungkan pernikahan Putrinya, tapi juga mengadakan lamaran untuk Putra utama.
Kabar berita lamaran untuk Juna membuat jantung Reza berdegup kencang, baru saja dia mengangumi seorang wanita dan secara langsung juga Juna pemiliknya.
"Juna Juna Juna dan selalu Arjuna,"
Pembaca acara meminta semuanya untuk bersiap, Genta sudah duduk di hadapan Papi Altha. Keduanya tersenyum menutupi kekhwatiran.
"Bagaimana Genta sudah siap untuk memperistri wanita pilihan kamu?" penghulu tersenyum melihat pria yang gagah dan tampan terlihat paling santai.
Kepala Genta mengangguk pelan, ingin secepatnya pernikahan dilangsungkan. Di telinga Genta masih terdengar suara Gemal yang ada di ruangan kontrol menggodanya.
Senyuman Shin terlihat menatap Kakaknya, Genta mengulurkan tangannya memeluk Shin yang langsung menangis.
"Kamu akan ikut dengan Kak Gen, jangan menangis. Acara belum juga dimulai,"
"Iya Shin, kenapa kamu menangis seperti berbeda negara saja, jarak rumah hanya lima langkah." Gemal muncul mengusap kepala adik perempuannya.
"Itu wajar Gemal, dia perempuan satu-satunya sedangkan ketiga kakaknya sudah menikah. Shin hanya takut mengurusi para keponakannya yang aktif." Senyuman Hendrik terlihat, meminta Shin tersenyum agar Genta bisa lancar mengucapkan ijab kabul.
"Sudah jangan sedih, ayo kita berfoto sama sebelum Genta menjadi suami." Tangan Gemal terulur ke arah Shin.
Keempat berdiri tersenyum lebar ke arah kamera, Genta menggenggam tangan Shin. Mencium kening adiknya, tawa kecil terdengar dari Shin yang sangat bahagia memiliki tiga Kakak yang menyayanginya.
Suara Rindi terdengar, melarang Shin menyentuh suaminya, Diana juga protes karena Shin selalu diutamakan.
Panggilan dari Tika masuk, mengizinkan Shin meminjam suaminya sebelum dirinya keluar, jika Tika sudah muncul maka tidak ada tempat untuk Shin.
"Kalian tiga ipar yang jahat,"
"Semuanya punya Isel tahu!" teriakan menggema.
__ADS_1
Gemal meminta ijab kabul dimulai, menggendong Putrinya untuk membawanya pergi sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.
Tawa banyak orang terdengar, Genta duduk kembali melihat tangan Altha yang sudah terulur kepadanya.
"Sedikit tegang tidak masalah Gen, kamu tidak harus terlihat sempurna." Alt tersenyum kepada calon menantu pertamanya.
"Maafkan Genta jika melakukan kesalahan Pi,"
Doa-doa sudah dipanjatkan, Genta mengeratkan genggaman tangannya terhadap Altha menunjukkan dirinya sedang gugup.
Menelan ludah juga pahit, Genta sulit membuka mulutnya saat Altha mulai menyebutkan nama putrinya.
Semua tawa orang terdengar, Calvin menepuk pundak Genta, mengusapnya pelan untuk mengatur napas karena Genta diam saja setelah Altha selesai.
"Genta makanya perbanyak bicara," Gemal tidak bisa menahan tawanya.
"Aku diam saja kalian tertawa, bukan ... kita mulai lagi Pi,"
"Santai saja Nak, jangan terburu-buru. Malam masih lama." Papa Calvin menahan tawa melihat Genta cemberut.
Suara tawa belum terhenti, Genta yang pendiam menjadi bully karena dia terlihat menggemaskan saat tegang.
Setelah semuanya tenang, barulah penghulu meminta Altha mengulangi kembali ucapnya dengan lantang dan jelas.
"Saya nikahan dan kawinkan putriku Atika ... dengan mas kawin ... tunai." Alt mencengkram tangan Genta.
"Saya terima Nikah dan kawinnya Atika claura Rahendra dengan mas kawin ... tunai." Genta menyebut dengan satu kali tarikan napas.
Saksi langsung mengatakan sah, Genta langsung mengucapkan Alhamdulillah. Air mata menetes dari matanya, tapi langsung ditepis.
Genta melihat ke arah Mam yang sudah tertunduk menangis, kedua tangan Genta mengambil tangan sosok wanita yang selama ini menjadi Ibu pengganti untuk menjaga.
"Ma, Genta sudah menemukan wanita sehebat Mama, dia akan membesarkan anak-anak kami penuh kasih sayang seperti Mama." Tangan Genta mengusap air matanya.
"Sudah selesai tugas Jessi mengantarkan Putra ketiga ku untuk memiliki pasangan hidup, jadinya suami yang bukan hanya mencintai, tapi dicintai." Mam Jes memeluk erat, mengusap punggung.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1