ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENDADAK INGIN LAHIR


__ADS_3

Suara teriak-teriak terdengar, membuka pintu sambil menatap sinis. Bibir Ria sudah monyong, bersamaan dengan hentakan kakinya.


Atika memaksa Ria untuk ikut dengan mereka padahal Genta sudah melarang untuk pergi ke manapun tanpa pengawalan.


"Kita shopping saja, beli baju untuk baby girl." Ria mengalihkan perhatian dua wanita yang masih keras kepala ingin jalan-jalan.


"Bagaimana jika laki-laki?" tatapan sinis Tika terlihat.


Akhirnya Ria pasrah, mengikuti keinginan dua bumil untuk jalan ke jembatan yang pernah mereka datangi saat masa muda.


Mobil dikendarai sendiri oleh Tika, suara tiga wanita bernyanyi terdengar musik di dalam mobil juga berdentum membuat kepala berdenyut sakit.


Ria yang duduk di belakang juga sudah joget-joget kesenangan, menunjukkan vokal suaranya yang memang sangat indah.


Permen karet yang ada di mulut hampir tertelan, Ria membuka jendela mobil menatap kendaraan roda dua. Pengemudinya sedang berhenti lampu merah, Ria diam-diam menempelnya di helm anak muda yang fokus ke depan.


Mobil melaju pergi, tawa Ria terdengar memukul kuat helm. Shin yang menyaksikan kejahilan Ria juga tertawa menatap pemuda yang sudah berteriak karena helmnya ditempeli kotoran.


"Kak Tik, mampir dulu beli es krim." Tangan Ria menunjuk ke arah penjual es.


Ketiganya langsung turun, senyuman gadis muda terlihat menyapa Ria yang tersenyum membeli semua dagangan.


"Ria, kita ingin beli es krim. Kenapa membeli kue?" Shin menatap sinis.


"Dia temannya Ria, namanya Anggrek. Bantuin teman Ria, kenapa pelit sekali?"


"Rambutnya Anggrek sudah panjang, dia jadi perempuan beneran. Sama rambutnya seperti kamu Shin sudah panjang." Tika tersenyum meminta Anggrek ikut mereka untuk jalan-jalan.


"Shin memang cewek, buktinya Shin hamil. Dasar Tika bodoh!" pukulan Shin hampir mendarat, tapi Ria langsung menahannya.


"Kak jangan berantem, bahaya tahu." Jantung Ria berdegup meminta bantuan Anggrek untuk menenangkan keduanya.


Jika sampai ada pertarungan pasti akan lahiran secara dadakan. Ria tidak ingin menanggung resiko.


Anggrek akhirnya bergabung bersama untuk ikut jalan-jalan makan di warung yang selalu Shin dan Tika kunjungi.


Sesampainya di lokasi tempat makan, wajah sedih terlihat karena tutup. Tika sampai duduk di pasir sambil memeluk tiang.

__ADS_1


"Memangnya ke sini mau makan apa?" Anggrek menatap dua bumil yang terlihat sedih.


"Mie," jawab keduanya bersamaan.


Helaan napas Anggrek dan Tika terdengar, hanya demi mie berjalan sangat jauh. Membuang-buang banyak waktu.


Kedua tangan Tika memegang perutnya, merasakan sakit yang teramat sakit. Wajah Tika sampai merah meringis kesakitan.


Suara Shin mengomel terdengar sangat berisik, membuat perut Tika semakin kesakitan. Ocehannya yang meminta warung dibuka, dia kelaparan karena hanya makan kue yang dijual oleh Anggrek.


"Shin diam dulu. Perut aku sakit, rasanya ingin melahirkan." Tika bahkan tidak bisa berdiri lagi memegang perut besarnya yang sudah terlihat dibawah.


Tiga orang teriak kaget, mustahil Tika ingin melahirkan, usia kandungan Shin jauh lebih lama, tapi belum ada tanda-tanda ingin lahiran.


"Kak Tika jangan bercanda, kita jauh dari rumah sakit." Ria meminta kakaknya segera berdiri, jangan menakuti mereka.


"Aku tidak bercanda, ini sakit sekali." Teriakan Tika terdengar sangat besar, langsung menangis merasakan perutnya ingin meletus.


"Tik, kenapa kamu lahiran lebih dulu? bukannya prediksi dokter aku?"


"Mana aku tahu! apa ini waktunya kita berdebat soal siapa yang lebih dulu?" Tika berusaha berdiri dibantu oleh Anggrek yang terlihat panik.


Anggrek meminta Ria berhenti marah-marah, mereka tidak punya waku untuk berdebat. Melahirkan itu mempertaruhkan nyawa, jadi mereka harus segera ke rumah sakit.


Ucapan Anggrek disetujui oleh Shin, langsung membantu Tika berjalan ke mobil untuk segera kembali.


"Sialan kamu shin, masa iya aku yang membawa mobil?"


"Oh iya ya, lupa,"


Shin langsung menjalankan mobil, Ria bertugas menghubungi keluarga soal kondisi Tika yang secara tiba-tiba perutnya sakit, hal buruknya lokasi mereka cukup jauh.


[Halo aunty Di, bantu kita memberikan jalan dari ... sampai rumah sakit, soalnya kak Tika sakit perut.] Ria menghubungi Diana yang paling utama.


[Halo ini Isel, kamu siapa? kalau sakit perut langsung ke toilet saja,] jawaban Isel membuat Ria hampir banting handphone.


[Anjing kamu Sel, aku juga tahu soal itu, masalahnya ini ingin lahiran, cepat serahkan ponselnya ke aunty Di.] Suara Ria marah-marah terdengar.

__ADS_1


[ini handphonenya Isel tahu, kenapa bertanya mama?"


Semua jenis hewan sudah Ria sebut, dari hewan darat sampai hewan laut habis diumpat semua. Memarahi Isel yang masih saja bercanda padahal mereka sedang dalam keadaan gawat.


Mendengar suara Ria mengamuk, Tika langsung tertawa, begitupun dengan Anggrek yang tertawa kecil menutup mulut. Shin yang duduk di samping Ria hanya bisa mengelus dada, sambil tertawa dan geleng-geleng.


Soal masalah menghina orang Ria memang tidak ada lawannya, mulut Ria memang tidak punya kontrol.


"Mami, di mana nomor mami. Matilah kamu Ria pasti dimarah habis-habisan,"


Benar dugaan Ria, Aliya marah besar karena keluar rumah tanpa pamitan apalagi kandungnya sudah hampir memasuki sembilan bulan.


Aliya meminta semuanya tenang, tidak terburu-buru karena keselamatan paling penting.


"Biarkan mami yang menghubungi lainnya, Ria takut." Kepala Ria menoleh ke arah Tika yang sesekali tertawa, lalu menahan sakit lagi.


"Nikmatnya sakit ini,sabar ya nak. Tunggu sampai rumah sakit dulu." Tika mengusap perutnya yang bergerak.


"Kak Shin baik-baik saja? Ria takut nanti ikut-ikutan ingin lahiran. Bahaya tidak ada yang membawa mobil, bisa lahiran di jalan jika begitu." Tangga Ria mengusap dadanya yang masih deg-degan.


Hal yang paling menegangkan, Ria tidak bisa membayangkan jika Shin mendadak ingin lahiran juga.


Mobil yang Shin kendarai kebut-kebutan di jalan, kebiasaan Shin yang suka balapan kumat. Dia bisa dengan mudah melewati beberapa kendaraan, apalagi bantuan Diana datang yang langsung memberikan jalan untuk mobil yang sedang terburu-buru.


Beberapa polisi disekitar yang sedang patriioli langsung mengikuti agar mobil tiba ke rumah sakit dengan cepat dan selamat.


"Wow keren, ini pertama kalinya Anggrek melihat banyak mobil menyingkir dari jalan demi memberikan tempat untuk mobil kita melaju cepat." Tangan Anggrek bertepuk tangan mengagumi kehebatan keluarga Ria yang memilki pengaruh sangat besar.


Hanya melalui panggilan, segalanya bisa terselesaikan meskipun tetap panik karena atyika sudah pecah ketuban.


"Shin, rasanya ada yang ingin keluar." Tika menahan perutnya untuk menunda sebentar.


"Tarik napas buang napas Tika, astaga kenapa rasanya aku yang ingin lahiran," Shin mengatur napasnya menghentikan tarik napas.


Ria langsung berpura-pura pingsan, dia takut jika sampai ada tangisan bayi di dalam mobil belum lagi jika tiba-tiba Shin juga melahirkan.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2