
Panggilan dari Genta sudah cukup membuat jantungan, bukan soal ketemunya Shin namun meninggalkannya Dina. Saat tim mengejar, Dina berlari dan terjatuh.
Saat dihampiri dia sudah merenggang nyawa karena meminum racun, cendera tubuhnya menyebabkan kondisi tubuhnya lemah.
Pukulan Aliya kuat menghantam meja sampai barang berjatuhan, Ria sampai memeluk lengan Papinya ketakutan.
Bagaimana mereka bisa menemukan hackers yang terlibat jika Dina sudah tewas, jalan paling cepat hanya dengan menggunakan Dina.
"Mi, coba Aunty Di yang melacaknya?"
"Melacak itu hal mudah, masalahnya ada beberapa hacker yang tidak memiliki identitas mungkin juga dia menggunakan identitas orang yang sudah meninggal. Kalian ingin menyelusuri CCTV sampai kapan?" Al memijit pelipisnya melihat ke arah Altha.
Alt menghubungi Genta untuk mencari tahu soal beberapa hacker menggunakan jalur rahasia, Alt akan menjadi orang yang bertanggung jawab jika terjadi sesuatu. Bahkan Alt siap melepaskan gelarnya untuk menemukan Shin.
Sudah beberapa jam Shin belum juga ditemukan, Aliya dan Diana juga turun langsung untuk menyelidiki seorang hacker.
Tika yang menunggu infusnya habis juga melacak dan mencari melalui memperhatikan rekaman CCTV mobil, dan Tika hanya bisa tersenyum sinis karena seluruh rekaman yang akan dilewatinya sudah mati.
Secara tiba-tiba Tika mengerutkan keningnya, saat lamaran ada hal yang terjadi. Tika dan Ria masuk restoran, tapi Shin berada di mobil. Dia tiba-tiba keluar dan mengejar seseorang.
"Ria, tolong Kak Tika. Datangi restoran yang pernah kita kunjungi, lakukan itu secara rahasia. Gunakan identitas ini agar kau tidak diperiksa karena masih dibawah umur." Tika memberikan sebuah kartu nama.
Tidak ada protes dari Ria, dia langsung bergegas pergi ditemani oleh Juan dan Dean untuk menjaga keamanan.
Seluruh keluarga berada di luar untuk menemukan Shin, dan Dina yang sudah tewas benar-benar berhasil mengacau keluarganya.
Pintu ruangan Tika terbuka, Juna baru selesai operasi dan melihat adiknya sendiri sedang duduk memejamkan mata.
"Bagaimana kondisi kamu?"
"Bagaimana hasil operasinya?"
"Lancar, tapi aku tidak bisa menemukan keluarga korban. Kenapa ini bisa terjadi? kamu tertembak, lalu di mana Shin?"
Tika memalingkan wajahnya, air matanya menetes mengatakan Dina tewas sebelum penyelidikan. Segala upaya gagal karena pelaku memilih mati.
"Kak Juna tidak peduli soal Dina, aku bertanya soal Shin." Arjuna melihat sekitar karena tidak ada satupun keluarganya terlihat.
__ADS_1
Tangisan Tika terdengar, Juna langsung memeluknya. Juna mengerti Tika memerlukan Genta, tapi harus mengerti pekerjaan apalagi pelaku meninggal.
"Aku tidak tahu di mana Shin, dia tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Aku meninggalkan dia bertarung sendiri, dan aku mengejar Dina demi menjaga Ria. Saat Tika kembali, Shin tidak ada." Tangan Tika mencengkram lengan Kakaknya yang mendadak juga shock.
Tidak ada jawaban dari Juna, perasaan Juna juga hancur saat mengetahui jika Shin tidak menghilang dan tidak bisa dilacak.
"Sudah jangan menangis lagi, tidak akan mengubah apapun. Kamu memiliki rekaman CCTV?"
Shin memberikan ponselnya, rekaman CCTV tidak jalan karena di hack, dan Dina meninggal tidak bisa menemukan informasi.
Gerakan tangan Juna cepat, matanya tajam memperhatikan layar. Tika baru tahu jika kakaknya mengerti soal teknologi apalagi yang sudah di hack.
"Pelakunya seorang wanita." Juna menyerahkan rekaman CCTV yang berhasil terbuka.
Tatapan Tika sangat terkejut melihat Kakaknya yang bisa melakukannya. Bahkan Tika matanya hampir lepas untuk mendapatkan rekaman, sedangkan kakaknya sangat mudah melakukannya.
"Jangan katakan kepada siapapun jika Kak Juna yang membukanya,"
Panggilan dari Ria juga masuk, wanita yang dikejar oleh Shin orang yang sama dengan orang yang membawa Shin.
Dari rekaman terlihat, Shin berhasil menjatuhkan seluruh lawannya. Dari kejauhan Shin ditembak jarum suntik sehingga tubuhnya langsung tumbang.
"Cari tahu identitasnya?"
Tika langsung mengambil tablet, menunjukkan kepada Juna jika pelaku tidak memiliki identitas, tapi menggunakan identitas orang lain.
Disaat yang bersamaan Genta juga berhasil menemukan, Tika pergi bersama suaminya untuk menemukan hackers. Juna hanya berdiri diam menatap mobil yang berlalu pergi.
"Di mana Reza? kenapa dia meninggalkan Adiknya? pasti ada sesuatu yang terjadi." Juna mondar-mandir menunggu seseorang tiba.
Mobil berhenti tepat di hadapan Juna, Gemal keluar mobil mengikuti Juna menuju ruangan keamanan.
"Kenapa kamu sibuk mencari orang lain? kita harus menemukan Shin secepatnya? lokasi hacker juga sudah diketahui. Kali ini tidak melibatkan kepolisian Jun, semua bertindak bebas karena yang diutamakan menemukan Shin." Gemal berjalan sambil menatap wajah Juna yang terlihat serius.
"Ini juga kemungkinan ada sangkut pautnya dengan Shin,"
Ruangan keamanan terkejut melihat Dokter masuk apalagi meminta rekaman CCTV. Gemal mengecek cepat mencari pemuda yang Juna inginkan.
__ADS_1
Dugaan Juna benar jika Reza juga menghilang, dan ada beberapa orang yang menculiknya. Juna meminta Gemal menemukan pelaku penculikan agar mereka tahu keberadaan Reza, dan kemungkinan Shin bersamanya.
"Kenapa kamu begitu yakin?"
"Reza menyukai Shin, dan dia juga membutuhkan uang untuk pengobatan. Kemungkinan Dina juga menggunakan Reza." Mata Juna terpejam, berharap Shin bisa bertahan menunggunya datang.
Di tangan Juna ada ponsel Shin, Tika meninggalkannya dan dari ponsel bisa menemukan Reza.
"Kita bergerak sekarang Jun, perasaan aku tidak enak." Gemal dan Juna berlari kencang keluar rumah sakit setelah mengetahui jika Reza mengirimkan lokasi kepada Shin.
Gemal juga sudah menemukan arah mobil yang berhenti di suatu tempat, dan mereka akan menemukan Reza terlebih dahulu.
Mobil yang Gemal kendarai kebut-kebutan sampai menemukan lokasi, emosian sudah tinggi jika sampai terjadi sesuatu kepada Adiknya, tidak akan pernah Gemal ampuni.
"Ini mobilnya,"
"Mereka sedang berpesta miras, kita hanya membutuhkan informasi Kak." Juna langsung masuk tidak menunggu Gemal lagi.
"Kenapa Juna masuk duluan? padahal dia tidak bisa berkelahi." Gemal berlari mendekati Juna yang sudah emosi.
"Dimana Reza?!"
Suara teriakan terdengar meminta beberapa orang mengatakan di mana mereka meninggalkan Reza.
"Tidak ada gunanya bicara baik-baik dengan orang seperti mereka, langsung pukuli saja." Gemal meminta Juna menunggu sebentar, dan dia akan menyelesaikannya.
Perhatian Juna melebihi layar ponsel Shin yang menunjukkan fotonya bersama Tika, tapi di belakang foto kedua sahabat ada Juna yang sedang duduk menundukkan kepala tidak menyadari adanya kamera.
"Kamu di mana? aku belum sempat mengakui perasaannya ini. Cepat pulang Shin, kita semua mengkhawatirkan dan merindukan kamu." Juna mengusap wajahnya sangat mengkhawatirkan keberadaan Shin.
Suara bertengkar di belakangnya berakhir, Gemal mencekik satu orang menanyakan keberadaan Reza.
"Jun, Reza ada di hotel bersama dengan seorang wanita, kamu ingin pergi duluan atau menunggu. Kak Gemal harus memasukkan mereka ke dalam jeruji besi." Gemal menatap Juna yang memutuskan pergi sendiri.
Melihat nekatnya Juna mengkhawatirkan Gemal, langsung menghubungi Tika untuk menyusul ke hotel.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira