ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
JANTUNGAN


__ADS_3

Kebiasaan Aliya selalu mengantar Tika dan Juna ke sekolah, dia juga ada jam kuliah tapi memutuskan untuk tidak pergi. Al sudah lelah tiap hari melihat wajah Citra.


"Aku ingin bicara." Citra menepuk pundak Aliya yang baru selesai mengantar Tika.


"Ah sialan, kaget binatang. Kenapa kita selalu bertemu?" Al menatap tajam Citra yang hanya tersenyum sinis.


Niat hati Aliya tidak kuliah agar berhenti bertemu Citra, tapi kenyataannya tetap saja Citra datang mencari masalah.


Keduanya langsung melangkah ke tempat restoran terdekat, Al hanya bisa geleng-geleng melihat Citra yang masih saja menganggu ketenangan hidupnya.


"Ada apa lagi Citra? kamu tidak lelah bertemu Al lagi Al lagi dan selalu Al." Ekspresi Aliya terlihat sangat lemas, kesal melihat Citra yang tidak bisa menjauh.


Tatapan Citra tajam, dia menunjukkan sesuatu kepada Aliya. Kening Al berkerut tidak mengerti apa yang Citra tunjukkan.


"Kamu tidak lelah? bermalam-malam kamu menghubungi aku menggunakan nomor pak Roby sengaja ingin membuat Altha marah." Al tertawa lucu, Citra sangat licik.


Dia sangat tahu jika Altha sangat cemburuan, dan jika Al ketahuan ada sesuatu dengan Roby rumah tangganya akan berantakan.


"Kamu sudah menyakiti Altha, sekarang kamu ingin menyakiti dia lagi. Perempuan sinting." Kepala Aliya menggeleng tidak tahu cara mengatasi Citra.


Disingkirkan kasihan anak-anak, bagaimanapun Citra ibu kandung, sedangkan di diamkan Citra semakin ngelunjak.


Al melihat kertas dan membacanya, ada orang yang ingin balas dendam kepada Citra. Dia orang yang ada sangkut pautnya dengan masa lalu mereka.


"Aku tidak ingin ikut campur Citra, kamu urus sendiri. Biarkan aku dan Altha hidup tenang dan bahagia." Senyuman Al terlihat langsung melangkah pergi.


"Siapa yang ingin membunuh aku selain kamu?"


Kening Aliya berkerut, Al tidak mengerti kenapa dia harus membunuh Citra. Al tidak memiliki niat sedikitpun karena dia sangat tulus menyayangi anak-anak Citra.


Bagi Aliya dia sekarang menemukan kebahagiaan, Al tidak akan tinggal diam jika Citra mencoba merebutnya, karena dari awal Altha memang milik Al.


"Jaga batasan kamu, selama aku masih bersikap baik seharusnya kamu mundur. Aku menghormati ... upz ... bukan hormat, tapi menghargai karena kamu ibu dari Juna, Tika, dan Mora, jika tidak sudah habis kamu." Al langsung melangkah pergi meninggalkan Citra yang masih terus memanggilnya.


Mobil Al melaju dengan kecepatan tinggi, langsung menuju kantor. Aliya datang langsung masuk ke ruangan pimpinan yang kebingungan melihat kedatangan Aliya secara dadakan.


"Butuh bantuan buk?"


"Tidak, kamu boleh keluar, tinggalkan aku sendiri." Al mencari tahu soal Ayahnya Altha.

__ADS_1


Seorang karyawan lama yang mengenal sosok pimpinan sebelumnya sangat dekat, dia seorang pimpinan yang jujur dan dan sangat baik.


Al cukup binggung melihat hasil kerja yang luar biasa, bahkan berita persahabatan tiga orang sangat terkenal.


Seseorang melangkah masuk, Al memintanya duduk dan menunjukkan foto tiga orang.


"Bapak mengenal mereka bertiga?"


"Iya, pimpinan dan kedua sahabatnya."


"Bagaimana hubungan mereka?"


Senyuman pria tua terlihat, ketiganya rekan bisnis juga sahabat lama. Ketiganya sukses dan berjaya bersama, bahkan satu-persatu menikah dengan penuh kebahagiaan.


Sebelum pimpinan meninggal, terjadi perdebatan. Salah satu dari sahabatnya ingin bercerai, dan tahu jika istrinya gila selalu mengurung anaknya juga selalu melarang keluar rumah.


Pimpinan menenteng sahabatnya untuk berpisah demi anak, bahkan Pimpinan AT grup juga setia kepada istrinya yang sakit-sakitan.


"Kenapa sahabatnya pimpinan ingin bercerai? apa dia punya selingkuhan?"


"Dulu saya sekretaris tuan, dan melihat sahabat wanitanya membawa wanita cantik untuk dikenalkan."


"Terima kasih pak, silahkan keluar."


"Satu hal lagi nona, wanita itu mencintai pimpinan sebelum mereka menikah, tapi demi persahabatan cintanya ditolak."


Senyuman Aliya terlihat, menatap tiga orang yang sudah tiada, tapi meninggalkan luka bagi anak-anaknya.


Sekarang Al tahu jika Citra mengetahui soal ini, dia tahu jika Aliya dan Altha terikat sejak kecil, alasan Citra meminta Al menjauhi Altha karena tidak ingin mengembalikan luka lama mereka.


"Citra harus membayar kejahatan ibunya, tapi siapa yang ingin membunuh Citra? Aku tidak memiliki keluarga, begitupun dengan Altha." Al meremas kepalanya yang terasa berdenyut.


Sungguh membuat binggung, setelah lima belas tahun perlahan semuanya mulai terbuka.


Sebuah panggilan masuk, Al langsung menjawab dan melangkah keluar. Al menutup panggilan langsung menuju lokasi yang dikirimkan.


Al menatap punggung seorang lelaki yang berdiri di pinggir tebing, Al melangkah mendekat dan melihat ke bawah.


"Sudah lima belas tahun, bukannya ini sudah terlambat."

__ADS_1


"Mungkin, aku hanya ingin tahu siapa yang menabrak mobil mereka sampai masuk jurang." Al menatap seorang pria yang seumuran dengannya, secara bersamaan melihat ke bawah.


"Kamu tahu jika kasus ini masih ditutupi sampai sekarang, tidak ada yang boleh mengorek informasi." Al mengerutkan keningnya penasaran.


Suara tawa terdengar, pelaku yang menabrak mobil dengan sengaja masih hidup dan dia masih berkeliaran di alam bebas.


"Bagaimana cara kita menemukan dia? kita tidak memiliki bukti apapun."


"Sejak kapan kita melakukan sesuatu dengan bukti. Tunjukkan saja siapa orang yang kamu curigai, akan aku temukan kebenarannya." Tatapan tajam melihat Aliya, meminta Al berhati-hati dan tetap menjaga keamanan mereka.


Kepala Al mengangguk, memberikan sebuah foto meminta mencari wanita yang sudah membuat ayah Al selingkuh, juga menemukan suaminya.


"Jika mereka sudah mati temukan makamnya, jika dia masih hidup lakukan seperti biasanya. Aku ingin dia memecahkan masalah ini, hanya dia saksi apa yang terjadi lima belas tahun yang lalu. Apa benar aku pelaku pembantaian?" Al menghela nafasnya langsung melangkah pergi.


Al melihat sekilas ke bawah tebing, langsung menjalankan mobilnya kembali untuk bertemu anak-anaknya.


Saat bertemu Tika ataupun Juna, Al tidak boleh terlihat seperti wanita jahat.


"Mami akan melindungi kalian dari siapapun yang ingin balas dendam, tidak perduli dari pihak siapapun, sekalipun dia memiliki darah yang sama dengan aku." Al mengusap keringat dari keningnya.


Secara tiba-tiba jantungnya berdegup kencang, Al merasakan sesak dadanya. Mobil di dipinggirkan.


"Kenapa jantungku, tidak mungkin aku punya penyakit jantung." Al mengusap dadanya.


Cukup lama Aliya berdiam diri di mobil, mengirim pesan kepada Altha jika dirinya mungkin mati jantungan.


Altha yang menerima pesan langsung tertawa, melakukan panggilan video dengan Al yang terlihat khawatir.


[Ada apa?]


[Ayang, Al sepertinya ada penyakit jantung, tiba-tiba berdebar kencang.]


[Al orang jantungan langsung pingsan, tidak sempat mengirim pesan panjang seperti ini. Kamu sekarang di mana?]


[Tidak tahu, Al lupa segalanya. Apa sudah waktunya Al mati?]


Altha tersenyum meminta Aliya berhenti bercanda, Al hanya sedang banyak pikiran dan lebih baik pulang dan istirahat.


***

__ADS_1


FOLLOW IG VHIAAZAIRA


__ADS_2