
Rintihan Shin terdengar seperti nyawanya diujung tanduk, takut melihat Juna memegang suntikan.
"Ay, nanti saja. Buat Shin pingsan saja,"
"Ini tidak sakit Shin,"
"Coba suntikan ke tubuh Ay Jun, Shin tahu jika dijahit tidak menggunakan suntikan sebesar itu." Teriakkan Shin terdengar membuat Juna tertawa kecil.
"Maaf, aku lihat dulu lukanya." Juna menyingkap baju Shin, membersihkan bekas darah.
Mata Shin terpejam, menahan rasa sakit. Juna menutup luka setelah menjahitnya. Juna juga memberikan obat dari dalam agar luka cepat kering.
"Shin, terima kasih karena saat detik-detik terakhir Mama, sudah menemaninya." Juna menyadari peran Shin yang berusaha menyatukan Mama Citra dan anak-anaknya.
Kepala Shin tertunduk, dia juga tidak menyadari jika semua akan berlangsung secepat itu. Hati Shin masih sakit karena baru saja merasa nyaman, tapi takdir sudah memisahkan kembali.
"Satu hal, jika ada masalah jangan lari apalagi menyendiri. Kamu sendiri yang mengatakan untuk melepaskan rasa sakit dengan cara yang berbeda, jika kamu bersembunyi bagaimana bisa melepaskannya,"
"Sebenarnya Shin bohong. Shin hanya melakukan apa yang bisa saja, tanpa tahu hasil akhirnya." Menasihati orang mudah, tapi dilakukan sangat sulit.
"Aku tidak biasa banyak bicara, tapi kamu bisa anggap aku sebagai Kakak. Jika tidak bisa mendapatkan solusi aku akan menemani kamu, meksipun tidak bisa melakukan apapun." Juna berdehem, tulus menganggap Shin seperti Adik kandungnya.
Amanah terakhir dari Mamanya untuk menjaga Shin, Juna tidak bisa menikahi Shin karena hubungan keluarga mereka, tapi jika untuk melindungi Juna siap menyayangi setulus hatinya.
"Siap Ay,"
"Bagus, kamu istirahat sebentar. Kita pulang bersama,"
Senyuman Shin terlihat, membiarkan Juna pergi. Shin menghela napasnya. Dia sudah memiliki banyak Kakak, untuk apa lagi menambah Kakak.
"Empat, ada empat Kakak. Siapapun yang Shin temukan akan menjadi Kakak." Shin meringis memegang perutnya.
Pelan-pelan Shin turun, membuka pintu berjalan keluar. Dirinya bosan menunggu ruangan kosong bau obat-obatan.
Dari kejauhan Shin melihat pemuda yang terlihat sekali tidak menyukai keluarga Ria, senyuman jahil Shin terlihat mendekatinya.
Tatapan mata sinis terlihat, bergeser menjauhi Shin yang mencoba mendekatinya.
"Kamu anak yang pemarah juga sombong,"
"Lalu apa bedanya dengan kalian? merendahkan dan menghina." Pukulan kuat di kursi tunggu terdengar mengejutkan Shin.
__ADS_1
"Kamu sosok Kakak yang baik, tapi Shin juga mempunyai banyak Kakak. Mereka semua Kakak yang baik,"
"Minta wanita itu meminta maaf kepada adikku, meksipun kami miskin bukan berarti bisa dia hina,"
"Lakukan saja sendiri, memangnya kamu siapa bisa memerintah." Lidah Shin terjulur menatap anak sekolah tingkat atas yang menatapnya tajam.
Shin bangkit dari duduknya, melangkah ingin pergi, namun balik lagi menatap anak kecil pemarah yang menatapnya dengan mata merah.
"Jika kamu ingin melawan hinaan orang, buktikan jika kamu mampu lebih dari dia. Kata maaf tidak akan mengubah fakta yang dilihat, jika tidak dari mulut Ria, mungkin banyak orang lain yang mengatakan hal yang sama. Bisa dari depan, dari belakang, secara lisan, tulisan bahkan bully-an." Senyuman Shin terlihat menepuk pundak anak laki-laki yang semakin marah.
Tangan Shin langsung ditepis, tubuh Shin di dorong kuat membuatnya terhentak jatuh sampai terduduk.
Teriakan kuat terdengar mencaci maki Shin, kemarahan terdengar. Shin langsung berdiri, meremas mulut untuk tidak meremehkannya.
"Kamu pikir aku bodoh, anak miskin seperti kamu bisa dijadikan penjahat bagi orang-orang yang ingin mengambil keuntungan. Kamu yang sudah menyebar rumor soal tempat itu sehingga warga sekitar meninggalkan lokasi." Shin melepaskan cengkraman tangannya.
Kesulitan ekonomi juga demi pengobatan adiknya, seorang anak muda diperalat untuk menyebarkan kabar buruk.
Tangisan terdengar, menundukkan kepalanya melihat Shin yang marah karena dia tidak sengaja melihat pemuda yang berlari dari bangunan bawah tanah miliknya.
"Siapa nama kamu? jangan menangis." Shin mengusap kepala pelan.
"Angga,"
"Nama aku Adipati Anggara, aku tidak bohong. Tolong jangan memberitahu Ibu,"
Tawa Shin terdengar, gemes melihat anak muda yang suka berbohong. Shin memberikan sebuah kartu, memintanya menjauhi lokasi karena kepolisian sedang menyelidiki.
"Aku melindungi kamu anak bodoh. Ingat aku awasi kamu, berani melakukan kesalahan lagi bisa saja aku melenyapkan kamu." Shin mencubit pelan pipi.
Suara Juna memanggil Shin terdengar, Angga langsung mengusap air matanya menyembunyikan kartu yang Shin berikan. Tangan Shin merangkul Angga tersenyum menatap Juna.
"Ada apa?"
"Tidak ada, kita hanya mengobrol ringan. Dia Arjuna, Kakak nomor empat, dia dokter juga calon suami orang. Ay, perkenalkan nama dia Albara Anggara pajo." Shin meminta Angga berkenalan dengan Juna.
"Adipati Anggara, tidak ada Pajo apalagi Albara. Kenapa memberi nama jelek sekali,"
"Ay, maafkan anak ini. Dia kebanyakan makan hati, jadinya pemarah. Lain kali makan nasi, pakai ayam, sayur, ikan, tambah susu juga. Jangan hanya makan dedak." Shin berlalu pergi setelah mengerjai anak orang.
"Aku benci sekali melihat Kakak itu, siapa namanya? dasar Shin setan." Umpatan terdengar, melihat Shin yang jalan menjauh.
__ADS_1
"Maafkan dia, jika kamu bisa memahami seseorang bukan hanya dari apa yang dilihat pasti tahu mana orang baik, dan orang jahat. Kakak itu, wanita yang sangat baik." Juna berlalu pergi untuk pulang.
Di depan mobil Shin melihat lukanya yang terbuka kembali karena dorongan kuat, tidak Shin sangka bisa terluka di tempat yang sama.
"Masuk mobil Shin,"
"Iya Ay,"
Mobil Juna melaju pergi, Ria masih dirawat dan dijaga oleh Mami dan Papinya. Juna harus pulang karena ada Juan yang belum mengetahui kondisi Ria. Altha sengaja tidak memberitahu karena Putranya sedang mengikuti perlombaan, tidak ingin mengusik konsentrasi Juan.
Sepanjang jalan Shin memejamkan matanya, merasa cemas memikirkan kakaknya. Shin yakin ada sangkut pautnya dengan Am yang serakah kekayaan.
Mobil Juna berhenti lampu merah, Shin membuka jendela melihat seorang wanita yang tidak asing baginya sedang bersama seorang pria.
Saat Shin memperhatikan langsung menutup mulutnya, kaget menemukan Papi Am berada di mobil yang berdekatan dengannya.
Mobil melaju pergi, Shin langsung melihat ke belakang untuk mengetahui plat mobil yang digunakan oleh Papinya.
"Siapa wanita itu? ayo ingat lagi Shin." Tangan Shin memukul kepalanya.
"Apa yang kamu lakukan?" Juna menahan tangan Shin.
Mata Shin melihat ke arah Juna, menatapnya sangat lama membuat Juna tidak nyaman dengan pandangan mata Shin.
"Siapa wanita itu? tiga dua satu satu satu ... panti asuhan." Pukulan tangan Shin menghantam dasbor mobil.
"Kenapa kamu Shin?"
"Dina, wanita tadi Dina. Ke mana jilbabnya? aku tidak mungkin salah lihat, tapi siapa juga yang akan percaya?" Shin bicara sendiri, menutupi mulut Juna agar diam.
***
follow Ig Vhiaazaira
***
cerita ini alurnya lambat, sudah usaha untuk dipercepat tapi takutnya tidak nyambung, jadi mohon bersabar.
Setiap bab pasti akan ada sangkut pautnya suatu hari nanti.
***
__ADS_1
request minta ada seseorang yang mendekati Shin, maaf tidak dikabulkan 😂 soalnya Shin setia kepada Juna, sudah mati rasa ke pria lain.
Kapan Tika dan Genta menikah? sabar ya. Masih proses.