ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENYERAHKAN DIRI


__ADS_3

Keluarga Altha sedang berbahagia, pergi bersama kedua anaknya untuk periksa ke rumah sakit memastikan usia kandungan.


Pertama kalinya bagi Tika bisa melihat adiknya secara langsung, dokter yang menangani Aliya tidak berhenti tertawa melihat kelucuan Tika yang mengusap perut Maminya.


Altha yang memperhatikan juga sangat bahagia, putrinya sangat bersemangat menyambut adiknya.


"Ini untuk kamu anak lucu." Dokter memberikan foto USG pertama Aliya.


Altha dan Aliya cukup terkejut, Al sudah mengandung lima minggu, dan kondisi janin dalam keadaan baik dan sehat.


Al memeluk perutnya, dirinya lompat pagar, masuk ke bawah jalan tikus yang sempit dan sesak bahkan bertarung dalam keadaan hamil.


Altha menggenggam tangan istrinya, bersyukur baby mereka kuat dan tidak mempermasalahkan Maminya yang bar-bar tidak bisa diam.


"Wow, mata adiknya Tika besar sekali."


Semua orang langsung menoleh ke arah Tika, menatap benda yang Tika pegang. Juna mengerutkan keningnya, karena dia tidak melihat apapun.


"Mana?"


"Tika hanya membayangkan saja, mata Tika besar jadinya matanya juga besar. Biar mirip." Atika tertawa mengejek kakaknya, tidak mengizinkan Juna untuk melihat adiknya, karena dia yang akan menyimpan.


Altha dan Aliya hanya bisa tersenyum, mengandeng tangan kedua anaknya melangkah keluar dari ruangan dokter kandungan.


Alt membicarakan soal liburan mereka yang mungkin akan dipending lama, langkah Tika langsung terhenti melihat ke arah Papinya.


Dirinya sudah menyiapkan koper untuk liburan, tapi harus dibatalkan karena demi keamanan adiknya.


"Ayang, Aliya pikir tidak masalah kita liburan karena Al akan berhati-hati. Dia anak yang kuat seperti Papinya." Al tersenyum memohon kepada Altha yang membutuhkan waktu untuk berpikir.


Altha tidak setuju jika kuat mirip dirinya, Aliya jauh lebih gila daripada Altha.


Dari kejauhan Citra berdiri melihat keluarga Altha dan Aliya penuh canda dan tawa, kedua anaknya juga tertawa bahagia.


Kebahagiaan Tika dan Juna terlihat nyata, tidak seperti saat bersamanya. Ucapan Tika benar, dia tidak memiliki waktu dan kenangan bersama Maminya, tapi saat bersama Al dia memiliki banyak kenangan indah.


"Lebih baik kamu menyerahkan diri Citra, tidak ada gunanya kamu terus bersembunyi." Tatapan dokter Salsa tajam melihat Tika berlarian sambil tertawa.


"Aku merindukan anak-anakku." Air mata Citra menetes mengangkat tangannya ingin menyentuh Tika dan Juna.

__ADS_1


"Terlambat."


Salsa tidak berharap Citra masih berpikir untuk berhubungan baik dengan anak-anaknya, Altha sudah memberikan banyak kesempatan untuk Citra demi kebahagiaan anak-anak, namun disia-siakan.


Bahkan kesempatan yang diberikan, Citra gunakan untuk membunuh anaknya sendiri. Beruntungnya Tika dan Juna ditangan wanita baik, sehingga mereka keluar dalam keadaan selamat.


"Saat ini biarkan Altha dan Aliya yang membahagiakan Juna dan Tika, mereka sosok orang tua terbaik untuk pertumbuhan keduanya." Salsa menepuk pundak Citra mengatakan jika Alt dan Aliya juga bersiap menyambut anak mereka.


"Apa Aliya masih akan tetap mencintai anakku?"


"Tentu, cinta Al lebih besar daripada cinta kamu. Dia mencintai Tika dan Juna seperti darah dagingnya." Senyuman Salsa terlihat, bisa melihat ketulusan dari mata Al.


Tika juga sangat bahagia saat mengetahui jika dirinya akan segera memiliki adik, dia sudah membayangkan wajah adiknya yang memiliki mata besar, bibir tipis, hidung mancung, bahkan letak tahi lalat adiknya sudah dia tentukan.


Citra langsung tertawa, putrinya Tika sangat lucu. Pasti bahagia sekali bisa mendengar langsung ocehan Tika.


Dulu jika Tika mengoceh dirinya pasti menegur untuk diam, tapi Al membiarkan Tika bicara sesuka hatinya.


"Sal, aku akan menyerahkan diri. Awasi putra dan putriku meskipun aku seumur hidup membusuk di penjara." Air mata Citra membasahi pipinya.


Salsa menepuk pundak Citra, merangkulnya untuk berjalan ke kantor polisi. Salsa merasa iba melihat kondisi Citra yang sekarat di hutan saat dirinya mengunjungi bukit untuk menenangkan diri.


Kehilangan suami, anak, status juga kehormatan. Citra menjual kebahagiaan hanya untuk kepuasan yang tidak mampu dia gapai.


"Aku akan datang mengunjungi kamu, jaga kesehatan Citra. Bertahanlah." Salsa memeluk dan langsung melangkah pergi.


Dari kejauhan Yandi melihat Citra menyerahkan diri, langsung menghubungi Altha yang tidak menjawab panggilan, begitupun dengan Dimas yang kemungkinan sedang sibuk untuk persiapan pernikahan.


"Kalian berdua jika satu menghilang, dua-duanya menghilang." Yandi langsung masuk ke dalam kantor polisi, menatap Citra yang hanya diam menundukkan kepala.


Yandi menatap sinis, dia berharap Citra mati secara tragis. Dirinya ingin melihat seorang ibu yang jahat mendapatkan hukuman yang setimpal.


"Selama apapun kamu di penjara, tidak bisa membuat trauma anak-anak kamu menghilang." Kepala Yandi menggeleng tidak terbayangkan ada sosok ibu sejahat Citra.


Air mata Citra menetes, mengakui semua kejahatannya. Banyak polisi yang berkumpul, mereka berhari-hari mengejar Citra dan akhirnya dia menyerahkan diri.


"Aku datang tidak meminta keringanan hukuman, tapi tulus menyerahkan diri."


"Kami juga tidak akan memberikan keringanan apapun." Yandi masih sempat menyahut, dia benar-benar kecewa melihat wanita berpendidikan namun hatinya tidak terdidik.

__ADS_1


Anggota yang lain menarik Yandi keluar, tim Yandi sedang tidak ada tugas dan melarang Yandi untuk menghakimi Citra.


Mobil Yandi melaju dengan kecepatan tinggi, langsung menuju kediaman Altha yang lebih ketat keamanannya.


Di depan rumah Al sudah ramai, karena satu hari lagi pernikahan Dimas dan Anggun. Mereka sengaja tidak mengadakan di hotel karena tidak banyak tamu undangan.


"Uncle." Tika dari lantai atas sudah melambaikan tangannya.


Senyuman Yandi terlihat, melambaikan tangannya langsung melangkah masuk ke rumah Altha yang sangat ribut karena banyak anak-anak dari tetangga yang membantu persiapan bermain bersama Tika.


"Tik, di mana Papi?"


"Di kamar, bersama Mami dan dedek." Tika tersenyum mengumumkan kepada semua orang soal adiknya.


"Apa yang Altha lakukan siang bolong seperti ini?" Yandi mencari kamar Altha untuk membicarakan soal Citra.


"Jangan diketuk apalagi langsung masuk." Helen menahan tangan Yandi, dia sudah cukup satu kali memergoki majikannya yang sedang bermesraan.


Yandi mendobrak pintu membuat Helen menendang kakinya, suara Yandi berteriak sambil meringis terdengar membentak Helen.


"Tuan dan nyonya sedang berduaan jangan diganggu."


"Aku tidak peduli!" Yandi berteriak menggedor pintu.


Altha dan Aliya saling pandang melihat Yandi dan Helen bertengkar di depan pintu kamar mereka, Alt mengacak-acak rambutnya. Bawahannya tidak ada yang beres.


"Yan, apa yang kamu lakukan?" Dimas tertawa melihat Yandi rambutnya berantakan.


"Aku akan menuntut dia." Tangan Yandi merapikan rambutnya yang berantakan.


"Kamu menangis Yan?" Anggun tersenyum melihat wajah laki-laki dihadapannya, badan saja yang besar, dipukul wanita wajahnya memelas.


Altha, Aliya dan Dimas langsung tertawa melihat ekspresi Yandi, tawa langsung lenyap saat Yandi menyebut nama Citra.


***


Senin waktunya vote


follow Ig Vhiaazara

__ADS_1


__ADS_2