ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
BERTUKAR POSISI


__ADS_3

Sebuah kotak terbuka, Alt mengambil hadiah yang sempat dia buang. Hadiah pertamanya untuk Aliya, tapi terlambat. Al sudah lebih dulu meninggalkannya.


Mata Altha langsung merah menahan kesedihannya, mengusap wajahnya agar tidak berlarut dalam kesedihan.


"Alt, masih belum ada kabar soal Aliya?" Dimas menarik kursi dan duduk di depan atasannya.


Kepala Altha hanya menggeleng, Al pernah mengatakan jika suatu hari dia menghilang tidak akan ada yang bisa menemukannya. Awalnya Altha tidak percaya, tapi melihat penyelidikan yang tidak membuahkan hasil kepercayaan diri Alt mulai runtuh.


Dimas menghela nafasnya, Alt sudah siang malam berjuang untuk menemukan wanita yang dicintainya, tapi tidak ada hasil baiknya.


"Alt, ini baru tiga bulan masih banyak waktu." Dimas menyemangati.


Alt meminta Dimas keluar dan sebaiknya pulang untuk beristirahat, Altha ingin sendiri dan mencoba mencari Al.


Tidak perduli harus berapa lama, Alt akan terus menunggu dan setia menanti Aliya. Meskipun Al tidak mengingatnya.


Dimas langsung melangkah pergi, membiarkan Altha menguras isi kepalanya untuk berpikir dan menguras tenaganya untuk mencari Al.


Kepala Dimas juga sakit, berhari-hari bekerja tanpa istirahat. Alt gagal menemukan Aliya, dan Dimas juga gagal menemukan Anggun.


Setiap hari Dimas selalu melihat wajahnya, tapi sekarang jangankan melihat suaranya saja tidak terdengar, kabarnya pun tidak tahu.


"Di mana kamu sekarang Anggun? apa kamu baik-baik saja?" helaan nafasnya terdengar, matanya sayu karena kelelahan.


Tatapan Dimas tajam saat melihat pintu apartemen, langsung menekan sandi. Langkah Dimas terhenti saat melihat punggung seorang wanita terbuka.


Dimas hanya bisa menggelengkan kepalanya, Dika selalu saja membawa perempuan ke apartemen meksipun bekali-kali diganti sandinya.


"Silahkan keluar, Dika tidak ada di sini. Dia ada di lantai atas." Dimas langsung melangkah ke kamarnya membanting pintu segera mandi.


Selesai mandi, tatapan Dimas melihat nomor Anggun mencoba kembali untuk menghubunginya.


Senyuman terlihat, tangan Dimas menepuk dadanya saat panggilan masuk berharap ada jawaban.


Jantung Dimas berdegup mendengar suara pelan Anggun, mempertanyakan keberadaan Anggun langsung mengambil jaketnya ingin melangkah pergi.


"Aku ada di apartemen kamu, karena rumah aku dibakar." Anggun melihat ke arah Dimas yang menghentikan langkahnya.


Senyuman Anggun terlihat, menarik bajunya untuk menutupi punggung yang terluka, Dimas langsung melihat ke punggung.


"Apa yang terjadi? siapa yang menyakiti kamu?"

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, sekarang aku sudah kembali setelah melewati kematian." Air mata Anggun menetes, tapi langsung menepisnya.


Dimas berjongkok, membuka baju Anggun yang memiliki banyak bekas luka. Secara spontan Dimas memeluknya erat, Anggun juga membalas pelukan lelaki yang dicintainya, meskipun tidak pernah menginginkannya.


"Aliya baik-baik saja, kak Dimas tidak perlu khawatir."


"Aku percaya Al baik-baik saja, dia sudah terbiasa dengan kekerasan, tapi berbeda dengan kamu yang tidak pernah terlibat dengan hal buruk."


Anggun tersenyum menutupi tubuhnya, meyakinkan Dimas jika dia baik-baik saja. Selama dua bulan Al dan Anggun berjuang untuk kembali.


"Apa yang sebenarnya terjadi kepada kalian berdua?"


Anggun menggeleng kepalanya, dia tidak mengingat pasti. Saat tiba di rumah kosong tidak jauh dari rumah sakit Aliya tergeletak karena tusukan.


Dalam keadaan panik, Anggun membawa Al, dan meninggalkan Alin bersama seorang pria. Dari kejauhan Anggun melihat Alin ditusuk berkali-kali.


Seseorang memukul kepala Anggun dan dia tidak mengingat apapun lagi, saat sadar sudah ada di bangunan bawah tanah, di sana juga ada Aliya.


Mereka berdua dikurung dan disiksa, Aliya tidak merasakan sakit sama sekali, bahkan tidak menangis.


Seseorang yang pernah Aliya jatuhkan kembali, Hariz dalang dari penculikan. Dia menyimpan dendam kepada Aliya, dan ingin membunuhnya.


Sebelum Hariz melakukannya, beberapa orang mendekat. Mereka memanggil Al Nona Alin dan membawa Aliya dan Anggun keluar dari sana.


"Lalu apa yang terjadi kepada Hariz?"


"Dia mati, bangunan dibakar untuk menghilangkan jejak." Anggun melihat kedua tangannya.


Saat berada di sana Aliya bercerita soal kakaknya Alina, saat mereka berusia dua tahun melihat mamanya memukul saudara kembarnya yang dinyatakan gila, tanpa sengaja Alina menusuk tantenya sedangkan Aliya melarikan diri.


"Selama ini Mama mereka menyangka Alina sudah gila, dan mulai mengasingkannya. Alin sebenarnya anak normal, tapi perlakuan ibunya yang membuatnya menggila."


"Aliya yang sebenarnya mengalami gangguan, dia melihat penusukan dan penembakan."


"Kenapa kamu mengatakan itu?"


Al tidak merasakan sakit dan menyukai darah, tapi saat dia mengingat Tika dan Juna langsung menangis.


"Keduanya tidak bersalah, mereka hanya korban trauma."


Dimas menganggukkan kepalanya, dia melihat Alin yang sebenarnya haus kasih sayang, dan membutuhkan perhatian.

__ADS_1


"Kak, mungkin Anggun tidak pantas mengatakan ini, tolong jangan tangkap Alina. Dia juga tidak bermaksud membunuh kak Roby dan Mora, meksipun kita tidak bisa membersihkan namanya dari kejahatan selama ini. Secara tidak langsung bawahan Alin yang menyelamatkan Aliya dan Anggun." Air mata Anggun menetes, menceritakan semuanya.


Dimas menundukkan kepalanya, mengambil sebuah bingkai foto. Anggun terdiam melihat foto Dimas dan putrinya.


"Putriku dinyatakan meninggal, dan tidak pernah diketahui penyebabnya. Dia menghilang bagai ditelan bumi." Dimas mengusap wajah bayi kecil.


"Siapa namanya?"


"Diana."


Senyuman Dimas terlihat menatap Anggun yang memohon agar Dimas bisa menyelamatkan Alina demi Aliya, segala cara akan Aliya lakukan untuk menyelamatkan Kakaknya dari hukuman.


Meyelamatkan Alin sama saja menyelamatkan kebahagiaan Aliya.


"Kenapa tidak meminta Altha saja melakukannya? cepat atau lambat kejahatan Alina akan terungkap, dia terlibat di dalam banyak kejahatan. Tidak terhitung berapa banyak orang mati karena ulahnya."


"Alt tidak bisa melakukannya?"


"Kenapa aku harus mengurus dua anak kembar itu?"


"Alina memiliki banyak kekayaan hasil kejahatannya, tapi seluruh harta kekayaan diwariskan kepada anak-anak telantar. Alin sudah mempersiapkan hari kematian." Perasaan Anggun tidak enak, karena Aliya mengetahui kehidupan kejam kakaknya.


Dimas akan memikirkan, Aliya dan Alina harus dibebaskan. Jika ingin melihat Aliya bahagia, maka harus membebaskan Alina dan membiarkan hidup normal.


***


Al melangkah masuk ke kamarnya, melihat foto dirinya di atas tempat tidur. Alt tidur bersama fotonya.


Selama tiga bulan Aliya pergi, dia tidak tahu sama sekali kabar suaminya. Alina menjadi Aliya hidup bebas, sedangkan Aliya masuk ke dunia Alina yang penuh kekejaman.


"Ayang, apa kamu bisa menolong kak Alin." Al menatap foto pernikahan yang sudah di gantung.


Dada Al terasa sesak saat dirinya ada di dunia Alina, menjadi seorang penjahat bukan keinginan, tapi karena tidak memiliki pilihan.


"Aku ingin kak Alin meninggalkan dunia gelap, agar dia bisa hidup." Al melihat pintu kamar terbuka.


Altha menutup pintu dan melihat Aliya yang mengusap air matanya, keduanya saling pandang.


"Kenapa kamu ada di sini? keluar!" Alt menatap tajam, sudah saatnya Alina pergi karena Altha akan mengungkap kejahatannya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2