ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PENCURI


__ADS_3

Mobil Genta melaju pergi meninggalkan kantor AT grup, tangan Tika menarik kuat sabuk pengaman yang nyangkut.


"Aduh ... ini kenapa susah sekali? mobil jelek." Tika menatap kesal sabuk pengaman.


"Segala sesuatu lakukan dengan pelan, jangan emosi." Genta memberhentikan mobilnya, langsung mendekati Tika untuk memasang sabuk pengaman.


Kepala Genta geleng-geleng, dia sangat mudah menariknya. Tika langsung cemberut memalingkan wajahnya, merasa malu karena tidak bisa memasang sabuk pengaman.


"Om, kembalikan kartu Tika." Tangan Tika menadah sambil melihat Genta yang fokus menyetir.


"Kartu apa?" Genta melihat sekilas, menyingkirkan tangannya Tika dari hadapannya.


Senyuman sinis Tika terlihat, memukul lengan Genta yang berpura-pura tidak mengenali dirinya, padahal mereka sudah bertemu sejak Tika muda.


Pertemuan pertama mereka saat pernikahan Diana dan Gemal, Genta mengambil kartu yang Tika gunakan untuk membuka segala jenis pintu.


Diana membuatnya secara langsung khusus untuk Atika, tapi Genta dengan kurang ajarnya mengambil, merampas selama bertahun-tahun.


Tika sudah menjelaskan panjang lebar, Genta hanya mengangkat bahunya tidak mengerti apa yang sedang Tika bicarakan.


"Om yakin tidak ingat, dosa Om berbohong." Tika melipat tangannya di dada.


"Aku hanya tahu kamu Putri tuan Altha, sebatas itu saja," jawab Genta pelan.


"Tidak mungkin, Tika yakin pria jelek itu Om tua. Lihat kalian sama-sama tua." Suara Tika meninggi.


Genta yang mendengar Tika marah hanya diam, tertawa di dalam hatinya. Dirinya yakin jika mengakui kepada Tika, pasti akan mendapatkan pukulan.


Dulu Tika sampai bersumpah akan menemukan Genta, melayangkan pukulan sampai Genta bertekuk lutut.


"Anak di bawah umur ingin melihat pengantin baru malam pertama, dasar perempuan jahil." Genta berbicara di dalam hatinya, tidak akan mengakui jika mereka sudah bertemu sejak lama.


"Tika sangat yakin itu Om tua, tinggi badannya, warna kulitnya, hidung mancung, bibirnya bahkan tatapan matanya masih teringat jelas." Tika melihat ke arah Genta yang diam saja, terlihat sangat tenang.


Kening Genta berkerut, dirinya tidak akan pernah terpancing dengan ucapan Tika yang masih berusaha mengungkap pria yang mengambil kartunya.


Tika tersenyum sinis, dirinya tidak melihat wajah Genta, mana dirinya tahu bentuk hidung, bibir, bahkan kening Genta juga tidak terlihat.


Hanya tatapan mata keduanya yang bertemu, Tika sangat yakin Genta pria yang mengambil kartunya.


Sudah banyak Tika bertemu pria, dan mata indah yang dulunya sangat dirinya benci tidak akan pernah bisa dilupakan.


"Kamu salah orang Tika, saya tidak mengenal kamu."

__ADS_1


"Aku pastikan menemukannya, mematahkan tulang belulangnya terutama tangannya yang sudah mencuri." Tika menatap mata Genta tajam.


"Tidak sekalian kamu bunuh saja,"


"Rencana bagus, Tika akan melakukannya."


"Aku yang akan menangkap kamu, ingat aku seorang ...." Genta menghentikan mobilnya karena Tika berteriak.


Di depan mereka terjadi kecelakaan, Genta dan Tika langsung keluar melihat kondisi korban. Seorang wanita terlempar berlumur darah.


Genta langsung menghubungi kantor kepolisian, beberapa korban juga langsung dibawa ke rumah sakit.


"Tika, kamu bisa membawa mobil, bantu wanita ini ke rumah sakit, aku akan menyusul." Genta mengikat tangan menutupi luka agar darah berhasil dihentikan.


"Bawa langsung ke mobil,"


Pintu mobil terbuka, Genta memasukkan korban kecelakaan untuk ke rumah sakit bersama Tika.


"Cepat menyusul ke rumah sakit, jangan berlama-lama." Tika berteriak ke arah Genta yang sudah berlari untuk mengecek korban lainnya.


Jarak ke rumah sakit tidak terlalu jauh, tapi perasaan Tika tidak nyaman satu mobil dengan korban kecelakaan yang tidak membuka mata sama sekali.


"Apa dia mati?" Tika melihat dari kaca spion mobil.


"Kamu baik-baik saja? kita sedang dalam perjalanan ke rumah sakit." Tika tersenyum melihat luka di bagian wajah.


"Bodoh, menyingkirkan satu wanita buta saja tidak mampu,"


Suara bergumam terdengar jelas oleh Tika, perasaan tidak nyamannya beralasan saat melihat tato di belakang telinga, saat wanita yang ada di belakangnya menoleh ke samping.


"Hentikan mobilnya, aku turun di sini." Wanita yang Tika tolong menepuk pundaknya.


Senyuman Tika terlihat, langsung meminggirkan mobilnya. Sebuah mobil berhenti di depan mobil yang Tika kendarai.


Wanita yang Tika tolong keluar tanpa mengucapkan terima kasih, seorang wanita berjalan mendekat, mendapatkan pukulan kuat.


"Kenapa bisa gagal membunuhnya?"


"Dia ahli beladiri Nona."


Senyuman Tika terlihat gelap, satu wanita lagi keluar. Jantung Tika berdegup kencang, berpuluh tahun akhirnya Tika melihat wanita yang mengendalikan Mamanya.


Senyuman terlihat, langsung memeluk wanita yang keluar dari mobil Tika. Keduanya masuk mobil, lalu melaju pergi.

__ADS_1


Tika masih diam terpaku, memegang dadanya yang terasa sesak. Bagaimana dirinya bisa memaafkan Mamanya, jika lukanya belum terobati.


Air mata Tika menetes, Mamanya di penjara puluhan tahun sedangkan pelaku yang mengarahkan tertawa bahagia, mengendarai mobil mewah, tubuh sehat berbeda dengan Mamanya yang terkena sakit mematikan.


"Anak kecil yang dulu kalian sakiti sudah tumbuh dewasa, tidak sedikitpun aku melupakan wajah kamu meskipun puluhan bahkan ribuan tahun." Tika mengusap air matanya, menggenggam kuat setir mobilnya.


Panggilan masuk, Tika langsung melihat ke arah suara ponsel yang ada di belakang mobil. Tika langsung mengambilnya, melihat ponsel korban kecelakaan tertinggal.


"Sekarang kalian bisa tertawa, tunggu saja aku akan segera muncul saat itu tiba kalian menangis." Tika tersenyum sinis, langsung melajukan mobil ke rumah sakit.


Ponsel berdering kembali, Tika langsung mematikannya. Melihat ke tasnya, mengambil ponselnya yang ada panggilan lebih dari dua puluh kali.


Tika tidak menyadari jika Maminya memanggil, Tika langsung menghubungi balik agar tidak khawatir.


Suara Aliya membuat Tika tertawa, beban dihatinya langsung hilang saat mendengar suara Maminya.


"Astaga, keluarga sudah tahu kondisi Shin, pasti Mam Jes drop." Tika mempercepat laju mobilnya.


Tiba di rumah sakit Tika langsung berlari, menghubungi Shin yang menjawab dengan tawa.


"Shin, keluarga sudah tahu kamu buta." Tika berjalan mendekati Shin yang tertawa dengan seorang anak kecil.


"Aku tahu, ada berita buruk lagi." Shin langsung berdiri, meraba mencari keberadaan Tika.


Bisikan Shin terdengar di telinga Tika, ada seseorang yang ingin membunuh Shin menggunakan belati, tetapi dia berhasil menghindarinya.


Tika langsung memeluk, mengusap punggung Shin, meminta maaf karena dirinya terlambat datang.


"Kamu baik-baik saja Tika?"


"Bagaimana aku bisa baik-baik saja saat bertemu dengan wanita yang aku cari." Tika mengeratkan pelukannya, merasakan sakit hatinya.


Shin mengusap punggung sahabatnya, Shin berjanji akan segera sembuh dan melindungi Tika sesuai janji mereka untuk saling melindungi.


"Kenapa kamu mengkhawatirkan aku? kita sama-sama dalam luka besar." Tika melepaskan pelukan, menggenggam tangan Shin erat.


"Karena aku menyayangi kamu, jika bisa aku ingin selalu bersama kamu dalam suka dan duka." Shin tersenyum menyemangati Tika.


"Aku juga sayang kamu, jangan pernah meninggalkan aku lagi." Tika tersenyum melihat Shin yang tertawa.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2