ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PERTARUNGAN SI KEMBAR


__ADS_3

Kedua tangan Aliya memegang pundak Tika, memeluk Putrinya lembut sambil mengusap rambutnya.


"Mami,"


"Kenapa tidak cerita? Mami yang membesarkan Tika, tidak rela sedikit saja kamu terluka, biar Mami yang sakit asalkan kamu bisa tertawa. Bagaimana bisa Tika merahasiakan ini dari Mami? meksipun Mami sudah tahu sejak awal." Suara tawa Al terdengar, menciumi wajah Tika penuh kasih sayang.


"Mami tahu sudah lama?"


"Tentu, apa yang tidak Mami ketahui tentang kamu? kita best friend. Sejak awal Mami tahu jika dia Genta, tapi kamu mengecewakan karena tidak jujur kepada Mami." Al menarik telinga Tika sambil tersenyum.


"Mami, membuat Tika takut saja." Pelukan Tika erat, tidak ingin melepaskan Maminya sama sekali.


Al akan selalu mendukung apapun yang menjadi kebahagiaan Tika, wanita mana yang tidak jatuh cinta kepada pria seperti Genta. Dia lelaki yang sangat tenang, dewasa, tidak mudah tergoda oleh wanita, kekuasaan, juga kemewahan.


Tidak ada pilihan pria terbaik kecuali Genta, dia calon suami paling pas untuk Tika. Dan Aliya berharap Altha juga mengerti meksipun mendapatkan restu dan izinnya cukup sulit.


"Papi kamu tidak mengizinkan kamu menikah melangkahi Juna, dan dia juga tidak ingin kamu bersuami yang berprofesi sama sepertinya. Papi tahu betapa berbahaya dan sibuknya, tapi Tika jangan khawatir Mami akan dukung Tika untuk mendapatkan restu." Al tersenyum mengusap wajah Putri kesayangannya.


"Terima kasih Mami, restu Mami segalanya untuk Tika. Sayang Mami, I love you." Tika mencium kedua pipi Aliya.


Senyuman Shin terlihat mengangumi cara Aliya mencintai Tika, apapun pilihan Tika akan selalu mendapatkan dukungan. Kekaguman Shin juga terlihat untuk Tika yang sangat mencintai Kakaknya, namun jika Maminya tidak setuju maka bagi Tika itu yang terbaik.


"Inilah yang selalu membuat aku iri dengan kamu Tika karena memiliki Mami yang luar biasa hebatnya, cintanya tidak bisa diukur dengan apapun." Shin melepaskan genggaman tangannya.


Tatapan sinis Diana terlihat, dia sudah menangis mengkhawatirkan Tika namun melihat respon Aliya semakin cemas, tapi ternyata dia hanya dijahili oleh Adiknya.


Tendangan kuat menghantam Aliya, wajah Shin dan Tika terkejut saat Aliya terlempar di lantai.


"Kak Diana!" keduanya berteriak kaget, Di bermain kekerasan pertama kalinya dihadapan Tika dan Shin.


"Itulah akibat jika bermain-main dengan Diana." Di beranjak pergi kembali ke tempat keluarga kumpul.


Aliya yang terlempar berdiri dibantu oleh Tika dan Shin, merapikan rambutnya yang berantakan.


"Minta kuncir." Aliya menguncir rambutnya tinggi, berjalan ke arah Diana menendang punggungnya sampai tengkurap di lantai.


Semua yang ada di meja makan berdiri, dua bersaudara berkelahi habis-habisan. Altha dan Gemal berlari kencang menghentikan pertengkaran si kembar.

__ADS_1


"Sudahlah, biarkan saja Gemal Altha. Sudah lama juga keduanya tidak bertarung." Dimas geleng-geleng kepala tidak mengerti penyebab keduanya bertengkar.


Suara teriakan Ria menggema mendukung Maminya, Rindi juga menyemangati Diana untuk secepatnya menjatuhkan lawan.


"Apa ini pantas dipertontonkan anak-anak?" Genta menatap Juna yang juga sudah berjalan mendekat.


"Diana, Aliya sudah cukup. Di sini banyak anak-anak." Anggun mengusap air matanya melihat keduanya masih bertarung.


"Aliya berhenti!" Altha sudah terbawa emosi melihat cara bertarung yang tidak main-main.


"Mami cukup, Aunty Di juga berhenti." Juna ingin maju ke depan, tapi sebuah pedang menghentikannya.


"Biar Isel saja yang menghentikan,"


Pukulan Diana kuat, berhasil Aliya hindari. Tubuh Di terpental begitupun dengan Aliya yang terlempar. Belum sempat berdiri, kepala keduanya dipukul oleh Isel menggunakan pedang.


"Sakit Isel!" Diana berteriak marah.


"Mama nakal ya, pukul lagi." Isel memukul menggunakan pedangnya lebih kuat.


"Maafkan Isel Aunty Aliya, Isel juga meminta maaf ya Mama. Ini semua salah Isel meksipun Isel bicara fakta, seharusnya tidak salah."


"Diam Isel!" teriakan Diana dan Aliya sama besarnya membuat Isel tersentak kaget sampai matanya melotot.


Tangisan histeris terdengar, Isel menangis sambil teriak-teriak memukuli Aliya dan Diana mengunakan pedangnya.


Calvin menggendong Isel, menenangkannya yang mengamuk karena dibentak. Diana meringis kesakitan melihat bekas pedang yang tertinggal di tubuhnya.


"Gila anak kamu Diana, sakit ya Allah." Aliya melihat tangannya memerah.


Senyuman Aliya terlihat menatap suaminya, baju Al sobek langsung diangkat untuk menutupi bagian tubuhnya yang terbuka.


Altha melangkah pergi, Aliya berteriak meminta maaf mengejar suaminya sambil merapikan rambutnya yang berantakan.


Melihat Aliya dan Altha bertengkar membuatnya cemas, Diana lupa jika sedang bersama keluarga dan juga banyak anak-anak.


"Aunty Di baik-baik saja?" Juan mengulurkan tangannya.

__ADS_1


"Kenapa Mama bertengkar? ini bukan contoh yang baik." Ian merapikan baju Mamanya.


"Maafkan Mama Ian, jangan di contoh sayang." Di berdiri menatap Gemal yang matanya tajam.


Senyuman Diana terlihat, menurunkan celananya yang sobek. Meminta maaf kepada Mam Jes dirinya hanya bercanda bersama Aliya untuk melepaskan kekesalan.


"Apa yang kamu ributkan? apa karena hubungan Genta dan Tika yang ketahuan?" suara Gemal berteriak besar terdengar, mata Diana menatap suaminya yang bicara di depan Genta.


Mendengar ucapan Gemal, perasaan Genta tidak enak. Melihat ke arah Juna yang ternyata sudah pergi menerima panggilan.


"Kak Diana bertengkar dengan Kak Aliya karena aku? apa karena tidak direstui? kenapa melakukan itu Kak? Genta merasa bersalah jika begini." Tatapan Genta sedih, melangkah pergi menemui Aliya dan Altha. Genta ingin meminta maaf langsung.


Diana menahan Genta, mereka bertengkar bukan karena hubungan keduanya yang diketahui hampir seluruh keluarga. Di dan Al bertengkar hanya karena candaan.


"Selama ini kami memang selalu bertengkar, tanpa alasan yang pasti. Semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan kamu." Di menahan Genta agar tetap diam.


"Aku bukan anak kecil Kak." Genta tetap melangkah pergi menemui Aliya yang kemungkinan besar sedang bertengkar dengan suaminya.


Melihat kekacauan, Tika dan Shin saling pandang. Tangan Shin masih bertepuk pelan mengangumi cara bertarung Diana dan Aliya yang sangat luar biasa.


"Sebaiknya, semuanya masuk kamar masing-masing untuk beristirahat. Kita rahasiakan dulu hubungan Genta dan Atika sampai pihak Tika memberikan restu." Mam Jes mengandeng tangan Gion dan Ian.


Anggun meminta Dean dan Juan mengikutinya, Gemal juga pergi keluar. Masih kesal melihat tingkah laku istrinya yang suka bertengkar tidak tahu tempat.


Di meja makan, Ria hanya duduk diam melanjutkan makannya. Diana juga duduk mencari makanan karena perutnya lapar. Tika dan Shin juga bergabung.


"Kak Tika pintar memilih calon suami, Ria nanti juga akan memilih pangeran untuk dijadikan suami." Senyuman Ria terlihat memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


"Pangeran kodok,"


"Ria, Tika maafkan Aunty sudah memukul mami kalian."


"Santai saja Aunty, kita tahu kemampuan bela diri Mami. Masih bisa mematahkan tulang belulang." Tawa Ria terdengar, Tika setuju dengan ucapan Adiknya.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2