ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PESTA DAN PERPISAHAN


__ADS_3

Pesta yang dinantikan oleh Aliya dan Altha akhirnya tiba, acara diadakan di hotel mewah.


Aliya sudah ada di kamar bersama Anggun dan Alina, melihat adiknya menggunakan gaun pengantin Alin bahagia, meskipun itu menjadi hari terakhir mereka bertemu.


"Kamu cantik sekali Al, mirip queen." Senyuman Anggun terlihat.


"Kak Anggun iri, menikahlah. Daddy juga sepertinya sudah mulai membuka hati." Alin mengunyah makanannya sambil sesekali mendengar percakapan Aliya dan Anggun.


Anggun mendekati Alin, menatap tajam memintanya juga menikah dan berhenti membuat kekacauan.


Suara Alina tertawa terdengar, dia tidak akan menikah dengan lelaki sibuk seperti Altha dan Dimas.


Dia menginginkan lelaki yang kerjanya santai dan tidak berbahaya, jika harus berbahaya setidaknya dia harus mafia.


Aliya dan Anggun hanya bisa geleng-geleng melihat Alina yang melangkah membuka pintu, Tika masuk bersama Elen dan Susan.


Susan langsung memeluk Aliya memberikan selamat, akhirnya ada yang menikah juga meskipun Aliya sebenarnya sudah menikah satu tahu yang lalu.


Semuanya tertawa bahagia, menyambut hari bahagia Al dan Altha.


Di tempat pesta Altha sudah bertemu dengan seluruh rekan kerjanya, tidak ketinggalan seluruh karyawan AT grup juga turut hadir memeriahkan pesta pernikahan.


Alt melihat Aliya menggunakan gaun pengantin, berjalan bersama Atika melangkah dengan anggun mendekati Altha.


Senyuman Alt terlihat, menyambut tangan Aliya yang juga tersenyum bahagia. Dimas langsung mengambil Tika sebelum mengamuk minta duduk di pelaminan.


Alt juga mengumumkan jika dirinya dan Aliya sudah menikah satu tahun yang lalu, ada banyak hal yang terjadi sehingga keduanya mengundur waktu untuk acara pesta.


Keduanya saling menatap Altha meminta Aliya menutup matanya, ingin memberikan hadiah yang sudah lama ingin dia berikan tetapi belum ada waktu yang tepat untuk memberikannya.


Al langsung menutup matanya, Altha mengambil kalung yang pernah dia janjikan.


"Papi, punya Tika mana?" bibir Tika sudah manyun menadahkan tangannya.


"Tik, kamu tidak menunggu sampai di rumah?" Dimas menepuk jidat.


"Tidak bisa Uncle, Tika tidak bisa bersabar."


Altha tertawa mengizinkan putrinya naik, dia memang menjanjikan ingin memberikan kalung couple untuk kedua wanita yang sangat dicintainya.

__ADS_1


Aliya dan Atika memejamkan mata, Alt memasangkan kalung untuk Aliya. Mata Tika mengintip membuat semua orang tertawa yang menyaksikan, dia sangat penasaran dengan hadiahnya.


"Wow, Tika mau." Kaki Tika sudah lompat-lompat kesenangan, berputar-putar dengan gaunnya melihat cantiknya kalung Maminya.


Altha langsung berlutut, memasangkan kalung kepada putri kecilnya yang sangat bahagia melihat kalungnya. Satu hati ada di Aliya, dan satunya ada di Atika.


"Mami, lihat punya Tika."


Aliya menyentuh kalungnya, langsung memeluk Altha yang juga memeluknya erat. Tika menarik gaun Aliya untuk melepaskan Papinya.


"Papi pergi dulu kita mau berfoto." Tika meminta Altha menyingkir, memanggil fotografer yang memang ada di depan mereka.


Al dan Tika tersenyum, duduk di pelaminan sambil menunjukkan kalung mereka yang sama. Satunya khusus untuk wanita dewasa, dan satunya khusus untuk anak-anak, tapi memiliki liontin yang sama-sama setengah heart.


Dimas menepuk pundak Altha, dia harus mengatur malam pertama jika tidak tuyul kecil yang sudah mirip bayangan Aliya akan terus menguntit mereka.


Alt menganggukkan kepalanya, ucapan Dimas ada benarnya Atika tidak bisa jauh dari Aliya dan menguasai sendiri.


Sepanjang acara menyambut tamu Tika tidak melangkah jauh dari pelaminan, Anggun sudah berkali-kali menarik tapi membuatnya marah.


Mata Juna yang menatap tajam tidak dihiraukan, Tika tetap duduk di samping Aliya dengan santainya sambil melambaikan tangannya.


Dimas, Anggun dan Juna kaget mendengar ucapan Alina, tapi langsung melihat senyumannya jika dia hanya becanda langsung berjalan menutupi wajahnya mendekati Tika.


Alin membisikkan sesuatu, Tika langsung melangkah mengikuti Auntynya. Aliya dan Altha tersenyum tidak tahu apa yang Alin katakan sehingga bisa membuat Tika pergi.


Tamu undangan masih ramai, Alina tersenyum melihat adiknya tersenyum bahagia. Tika masih menggenggam tangan Alin seakan tidak ingin melepaskannya.


"Aunty jangan pergi."


"Maafkan aunty Tika, kamu sudah berjanji untuk menjadi kakak yang baik, nanti kita bertemu lagi." Alin tersenyum.


"Aunty pergi selama sembilan bulan, sama seperti adiknya Tika harus di kandung selama sembilan bulan." Tika menunjukkan jari-jarinya.


Alin membuat jari Tika ke angka sepuluh, mungkin Alin akan pergi selama puluhan tahun, jika sampai hitungan sepuluh Alina tidak kembali, Tika tidak boleh menanti dirinya.


"Tidak bisa lima saja Aunty, jika sepuluh Tika sudah besar."


Alin tersenyum melangkah mundur, melambaikan tangannya. Tatapan Alin melihat ke arah Dimas yang tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Tika hanya bisa melihat Alina melangkah pergi, Juna juga melihat tapi tidak berani mendekat.


Alina pergi sendiri, tapi dia membawa keluarganya di dalam hati juga kalung yang Juna berikan.


Altha menggenggam tangan Aliya yang menyadari jika Alin sudah pergi, tanpa mereka tahu tujuannya.


"Al, dia akan baik-baik saja."


"Iya Ayang, Al tahu kak Alin akan baik-baik saja dan suatu hari dia akan kembali berkumpul bersama kita. Tidak tahu kapan waktu itu, tapi Al percaya kak Alin akan bahagia." Aliya tersenyum, tidak ingin terlihat sedih sesuai permintaan kakaknya.


Pesan terakhir Alina, dia hanya memperingati Aliya untuk tetap menjadi wanita yang kuat. Perjalanan masih panjang, dan ini hanya awal dari banyaknya masalah.


Menjadi seorang istri seorang polisi yang taat kepada negara, juga hukum yang kuat. Aliya harus bisa menghindari kejahatan dan menjaga rumah tangganya.


Menjadi seorang ibu tidak mudah, anak-anak akan terus tumbuh dan semakin sulit dikendalikan, Al harus dewasa di depan mereka, tapi juga harus menjadi anak-anak seumuran untuk bisa mengerti mereka.


Altha lelaki yang gagal dalam rumah tangganya, perpisahan mereka bukan pisah mati, pasti akan ada perbandingan antara yang satu dan kedua, Al harus bisa mengatasinya apalagi Citra masih berkeliaran.


Anggun menepuk pundak Aliya, dia melamun sesuatu yang tidak penting. Sudah waktunya bagi Al untuk melemparkan bunga.


Altha tersenyum bersama Aliya, sudah ramai di depan mereka bersiap untuk menerima bunga, terutama Elen, Susan, Kenan dan Dika yang suaranya paling besar.


"Kak Dimas di mana Ayang?" Al menatap Altha yang juga mencari keberadaan Dimas.


Keduanya menghela nafasnya, melihat Dimas duduk santai bersama Juna hanya menonton saja sambil makan-makanan.


"Dasar duda tua, dia tidak berniat melamar Anggun." Altha tersenyum melihat Al yang juga menatap sinis Dimas.


Al menggenggam kuat bunga, menatap ke arah Dimas. Semuanya orang melihat ke arah pandang Aliya sambil menahan tawa.


Bunga dilempar kuat, Juna yang menyadari langsung menyingkir melihat Dimas yang baru saja ingin minum dan dilempar bunga.


Minuman membasahi bajunya, tatapan Dimas tajam diikuti tawa banyak orang. Bunga langsung dicengkeram dan ingin dibuang, tapi tatapan Dimas melihat Anggun yang menghela nafasnya.


Aliya langsung menatap Dimas, memintanya melamar Anggun agar tidak terlalu lama menunggu.


"Kenapa harus sekarang? memalukan." Dimas menundukkan kepalanya.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2