ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
HARUS PERGI ATAU MENETAP


__ADS_3

Sudah larut malam, anak-anak sudah tidur. Gemal masih bermain game bersama Juna yang sangat hebat.


"Jun, apa cita-cita kamu? apa ingin meneruskan Pak Altha? atau menjadi pengusaha seperti Mami kamu?" Mata Gemal masih fokus di depan layar, tangannya masih sibuk menekan tombol.


Juna melihat sekilas Gemal, dia tidak memiliki cita-cita karena masih binggung memilih. Ingin menjadi seperti Papinya, Maminya tidak mengizinkan Juna berada dalam bahaya.


"Menjadi seorang pengusaha bukan sebuah cita-cita, karena setiap orang bisa berbisnis hanya tergantung keberuntungan."


"Kenapa? menjadi pengusaha tidak mudah, banyak resikonya."


"Makanya tergantung keberuntungan, semua orang bisa memiliki usaha, memulai usaha juga mudah cukup niat dan modal, tapi yang sulit mempertahankan. Seorang dokter bisa menjadi pengusaha, polisi, tentara, guru, siapapun bisa."


Gemal menganggukkan kepalanya, ucapan Juna tidak ada yang salah. Dia sangat pintar memprediksi sesuatu apalagi dengan kepintaran yang dimiliki.


"Kak Gemal tahu, jika Mamanya Juna di penjara?"


Kening Gemal berkerut, langsung melihat ke arahnya dan menghentikan permainan. Perasaan Gemal tidak nyaman mendengar pertanyaan Juna.


"Kamu merindukan Mama?"


Juna tersenyum kecil menggelengkan kepalanya, Mamanya menjadi alasan Juna sulit memilih impiannya.


"Kak Gemal rasa kamu harus terbuka kepada Mami dan Papi."


"Mami mengetahuinya, tidak ada yang bisa Juna sembunyikan dari Mami kecuali soal obat kemarin. Sekarang Mami lebih ketat lagi dalam mengawasi."


"Ternyata Mami kamu lebih mengerikan dari Diana." Gemal tertawa melihat Juna yang tersenyum.


Tatapan Juna melihat Gemal, awalnya Juna juga tidak menyukai Maminya menganggapnya penghancur kebahagiaan. Tetapi pada akhirnya tanpa Maminya mungkin Juna akan menjadi anak yang berantakan, dan bisa saja memilih jalan kejahatan.


Kehadiran Maminya mengubah semua pola pikir Juna, dunia yang dipikirnya sempit ternyata sangat luas dan terlihat nyata.


"Tanpa Mama, tidak ada Juna di dunia ini. Dan tanpa Mami, tidak bahagia dunia Juna."


"Kamu hebat Jun, kak Gemal tidak tahu masa lalu kalian, tapi kamu hebat bisa memaafkan Mama kamu dan mencintai Mami sama seperti cinta kepada Mama. Seandainya kamu diberikan pilihan, siapa yang akan kamu pilih?" Mata Gemal melihat bibir Juna tersenyum.


"Siapa? keduanya berarti bagi Juna. Tetapi jika memang harus memilih, Juna akan mengambil Mami alasannya Mama tidak akan marah, tapi Mami akan terluka jika tidak diutamakan." Juna tertawa bersama Gemal.


Tangan Gemal menepuk pelan pundak Juna yang ternyata bisa hangat juga jika hanya mengobrol berdua.


"Pilih Ria atau Atika?"


"Kak Gem, bisa tidak Juna dihilangkan saja. Ibaratkan memiliki pilihan jatuh di tengah laut dan jatuh dari ketinggian, sama-sama mati." Kepala Juna geleng-geleng tidak bisa memilih.

__ADS_1


"Jika Juan memilih siapa?"


"Juan memilih pacarnya."


Suara tawa Gemal terpingkal-pingkal merasa lucu dengan keluarga Arjuna yang sangat rumit. Menjadi anak pertama pasti sulit bagi Juna, memiliki tiga adik yang nakal dan jahil.


"Lalu bagaimana dengan Diana?"


"Jangan membangunkan singa betina, jika tidak ingin tercabik-cabik." Juna menatap serius.


Melihat ekspresi wajah Gemal, Juna bisa melihat jika Gemal menyimpan perasaan, namun sulit cara mengungkapkannya.


"Kak Gem, menyukai kak Di. Apa yang kak Gemal takutkan?"


Cukup lama Gemal diam, menghela nafasnya bekali-kali. Ada banyak hal yang menganggu pikiran Gemal terutama soal statusnya.


Diana memiliki karir, dan keluarganya juga dari kalangan yang bergelar dan tidak mungkin rela jika Diana dibawa pergi meninggalkan apa yang sudah dirancang Di dan keluarga.


Gemal juga ingin melakukan satu hal saja yang bisa membahagiakan orang tuannya, setidaknya satu kali seumur hidup untuk tinggal bersama.


"Kak Gemal akan pergi dari negara ini? meninggalkan karier kak Gem." Juna terdengar kaget.


"Minggu depan kakek dan nenek akan kembali, meksipun belum ada pertanyaan soal Gemal, beberapa kali sudah membahas identitas Gemal yang harus pindah." Tangan Gemal mengacak-acak rambutnya, merasa pusing berpikir.


Keluarga Gemal pasti menginginkan menantunya ikut dengan keluarga suami dan menetap di sana untuk menjalankan tugas.


"Kak Gemal akan meninggalkan kak Di?"


"Aku harus bagaimana? keluarga Dirgantara tidak akan melepaskan putri semata wayangnya.


"Juna juga tidak setuju kak Di pergi, tapi kak Gemal memang harus kembali." Juna langsung naik ke atas tempat tidur meninggalkan Gemal yang sudah guling-guling pusing berpikir.


Gemal melihat Juna sudah tidur, langsung melangkah keluar menutup pintu pelan. Di ruang tamu Gemal melihat Papanya yang tidak tidur.


"Kenapa belum tidur Pa?"


"Gemal, kenapa kamu bangun?"


Senyuman Gemal terlihat, dia tidak bisa tidur dan baru selesai main game bersama Juna.


"Gem, tiga hari lagi nenek dan kakek pulang ...."


"Bukannya satu minggu lagi?" Gemal langsung kaget.

__ADS_1


"Jika orang tua bicara dengarkan sampai selesai, jangan dipotong. Papa dan Mama juga pulang, dan kamu silahkan memutuskan." Calvin tidak memaksa Gemal untuk memilih.


"Tidak bisa ditunda?" Kepala Gemal tertunduk, langsung duduk di lantai.


Calvin meminta Gemal menjadi lelaki yang tegas dan bisa dengan cepat mengambil keputusan, karena tidak ada yang akan menunggu keputusannya menggunakan waktu yang lama.


"Papa bicara enak, menjadi Gemal tidak enak. Ini masalah hati, menyatakan perasaan saja belum sekarang ingin pergi." Tatapan Gemal tajam, kesal melihat Papanya.


"Ya sudah tinggal saja, jika memang masalah hati lebih penting." Calvin menutup gorden jendela.


Tangan Gemal menarik kaki Papanya, meminta saran bukan meminta Omelan. Setidaknya ada keringanan untuk dirinya agar bisa mengambil keputusan yang tepat.


Calvin geleng-geleng kepala melihat putranya merengek seperti anak kecil yang kebingungan untuk mengambil keputusan untuk kembali ke negaranya atau menetap.


"Apa seperti ini cara kamu meminta saran? bergantung di kaki."


"Terus di mana?" Gemal memeluk erat kaki Papanya.


Calvin meminta Gemal mejelaskan alasan belum siap pulang, sesuatu yang bisa Calvin terima dengan akal sehat.


Senyuman Gemal terlihat, dia masih ingin bersenang-senang dan bisa jalan-jalan bersama Diana, mencari waktu yang tepat untuk menyatakan perasaannya.


"Astaghfirullah Al azim, kamu memikirkan cara untuk berpacaran?"


"Iyalah, lalu apa lagi?"


"Gem, wanita tidak membutuhkan status pacaran." Calvin melangkah pergi.


Gemal langsung mengejar Papanya, memeluk dari belakang meminta saran bukan pertanyaan apalagi kritikan.


"Apa yang paling sulit kamu tinggalkan di sini? sesuatu yang kamu perjuangkan dan sulit dilepaskan." Tatapan Calvin sangat tegas menatap putranya.


Senyuman Gemal terlihat, mengaruk-garuk kepalanya cukup lama untuk menjawab pertanyaan Papanya.


"Jujur Pa, meksipun gaji Gemal tidak besar, aku mencintai pekerjaanku. Gemal bahagia saat bisa melindungi dan menghentikan kejahatan." Kepala Gemal tertunduk, menggenggam erat tangannya.


"Itu jawaban yang ingin Papa dengar, bukan soal wanita. Lelaki harus memiliki pendirian dan kesetiaan terhadap apa yang dia perjuangkan. Sekarang tidurlah."


"Nomor duanya wanita Pa." Gemal langsung berlari mengejek Papanya yang melotot.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2