ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
RENCANA LIBURAN


__ADS_3

Malam sudah larut, Aliya langsung melompat pagar bersama Altha. Dimas juga lompat menahan tawa melihat Anggun yang kebingungan cara melompat pagar.


"Kamu tunggu di luar saja Anggun, jangan membuat repot." Dimas tersenyum melihat kekasihnya yang ingin memukulnya.


"Tidak mau, nanti aku diculik." Anggun meminta Dimas menariknya.


Terpaksa Dimas menarik Anggun, dibantu oleh Altha. Dimas masih mengomeli Anggun yang ternyata cukup berat.


"Aku tidak berat, kamu saja yang sudah tua."


Altha berdehem meminta keduanya untuk diam, perdebatan mereka hanya akan memperlambat gerakan.


Anggun langsung berjalan di depan bersama Aliya, rumah kosong di depan rumah Sita sudah sangat hancur, meskipun dari luarnya bagus, tapi di dalamnya cukup berantakan.


"Tidak ada hal aneh di sini." Anggun berteriak saat melihat senter Aliya mengarah ke lukisan kepala buntung.


Dimas menutup mulut Anggun, langsung tertawa. Aliya juga tertawa melihat kekonyolan Anggun yang takut dengan lukisan.


Dimas, Anggun dan Aliya hanya berdebat meributkan banyak hal, hanya Altha yang diam dan mengawasi rumah.


"Rumah ini memang kosong, kita buang-buang waktu ke sini." Dimas langsung duduk, mengarahkan senter ke wajah Altha.


Alt hanya berdiri di tengah ruangan, berjalan berkeliling di sekitarnya. Aliya mendengarkan suara ketukan.


"Ada bangunan bawah tanah." Altha mencongkel keramik dan dugaannya benar.


"Anggun tidak mau masuk, takut."


"Kamu diam saja di sini, kita bertiga yang masuk." Dimas tersenyum melihat wanita disampingnya.


Anggun memukul punggung Dimas, tidak ada khawatir sama sekali jika terjadi sesuatu. Dimas tidak pernah perduli dengan dirinya.


Aliya juga menolak masuk, menatap Altha yang menutup kembali keramik. Mereka berempat langsung lompat pagar sambil bersembunyi.


Dugaan Aliya tepat, ada seseorang yang menggunakan jalur bawah untuk menuju ke tiga rumah di depannya.


"Ayang, seperti masalah ini tidak semudah yang kita pikirkan?" Al menggenggam tangan suaminya yang hanya mengangguk.


Altha hanya tersenyum tidak memberikan jawaban, hanya menatap Dimas yang tatapan matanya tajam.


Mereka memutuskan untuk pulang, tanpa ada kejelasan dari Altha yang langsung pamit untuk pergi, karena ada panggilan dari tim untuk melakukan pengintaian.

__ADS_1


Anggun langsung menatap Aliya yang mengizinkan Altha pergi, Dimas juga langsung pergi melarang Anggun pulang ke rumah dan menginap di rumah Altha.


Al langsung duduk diam, Anggun juga hanya diam. Tika membuka pintu kamar maminya mencari keberadaan Aliya.


"Mami di sini Tika." Al tersenyum melihat Tika yang mendekati langsung tidur dalam pelukan.


"Al, apa tim Altha sudah mengintai?"


"Mungkin. Dia tidak akan mengatakan apapun. Altha sangat tertutup soal pekerjaan, jika Alt tidak mengatakan apapun aku akan diam saja." Aliya sangat ingin menghargai privasi suaminya apalagi soal pekerjaan.


"Lalu bagaimana aku?" Anggun masih belum bisa melupakan soal anak kecil yang meninggal.


Al menepuk pundak Anggun, kehidupan orang kaya sangat berbeda dengan bayangan Anggun. Selama ini Anggun hanya menangani kasus-kasus kelas ringan, dan orang-orang dari kelas bawah sehingga belum mengerti kejamnya kehidupan bayar membayar dari uang berubah nyawa.


Mereka cukup duduk diam saja, Altha dan Dimas pasti akan membongkar kembali kasusnya, dan Anggun bisa membela ibu Erna agar mendapatkan keadilan, tidak harus terjun langsung dalam penyelidikan.


"Aku harus menemukan bukti Al?"


"Tidak perlu kak, bukti tidak ada gunanya selama mereka masih dilindungi. Tunggu saja sampai tanggal mainnya tiba. Kak Anggun harus percaya sama Al." Senyuman Aliya terlihat, mengusap punggung putrinya yang sudah tidur lelap.


Senyuman Anggun terlihat, dia mempercayai Al namun menghawatirkan Dimas yang memiliki sikap keras kepala dan suka berbuat nekad.


Satu persatu mulai berpencar memasuki rumah, Dimas dan Altha diikuti oleh Yandi masuk ke bangunan bawah tanah.


"Alt, kenapa tidak masuk dari rumah depan?"


Altha tersenyum, sebenarnya percuma saja mereka menyerang tidak akan membuahkan hasil. Semua orang yang ada di bangunan bawah tanah sudah melarikan diri.


Dugaan Altha tepat, semuanya sudah bersih dan tidak meninggalkan bukti sama sekali. Seluruh tempat sudah digeledah namun tetap tidak ada hasilnya.


Sampai matahari terbit, kepolisian akhirnya meninggal lokasi begitupun dengan Dimas, Altha dan Yandi yang duduk melihat tim mereka tidak membawa hasil sama sekali.


"Siapa dalang dari semua ini?" Dimas memainkan senjatanya.


"Pasti ada yang berkhianat, membela anggota dewan demi menutupi kejahatan." Yandi mengacak rambutnya.


Altha hanya menggeleng kepalanya, dia tidak bisa asal menebak tanpa bukti. Setinggi apapun pangkatnya selama orang dalam berkhianat hanya kegagalan.


"Dimas, Yandi kalian aku percaya dan kalian juga harus percaya aku." Altha menatap kedua bawahannya.


"Pak, saya dari dulu setia. Bahkan siap pasang badan menangkap Dimas, ternyata dia tim yang menyamar." Yandi tersenyum melihat Dimas yang menendangnya kuat.

__ADS_1


Alt akan mempertaruhkan jabatan, dia tidak membutuhkan banyak tim cukup ada Dimas dan Yandi untuk mengungkap kematian Sita, juga menangkap para aparat yang terlibat.


Dimas menahan Altha, meminta memikirkan kembali keputusannya. Untuk ada diposisi sekarang banyak hal yang harus Altha lewati.


"Alt, jika di skors masih mending. Bagaimana jika kamu dipecat secara tidak terhormat?"


"Lebih baik, setidaknya aku tidak memiliki beban memikirkan kasus ini." Altha tersenyum, jika dia di pecat mungkin memiliki banyak waktu untuk honeymoon bersama istrinya.


Dimas hanya bisa terdiam melihat Altha, jika kegilaan Alt tiba dia selalu melakukan sesuka hatinya.


"Jika pak Altha dipecat masih bisa hidup, karena dia kaya. Lalu kita?" Yandi menatap Dimas sambil tertawa.


Dimas merangkul Yandi, memintanya memikirkan diri sendiri. Dimas meksipun tidak kaya dia memiliki uang simpanan, juga beberapa aset yang bisa menghidupi keluarganya meksipun tidak mencapai tujuh turunan.


Tatapan Altha tajam, Yandi dan Dimas tidak perlu takut dipecat. Alt tidak akan bertidak tanpa rencana B sampai Z.


"Ayo kita pulang, waktunya tidur." Altha berlari ke rumahnya.


Yandi dan Dimas juga berlari mengejar Altha yang bisa sampai rumah dengan berjalan kaki.


"Pak, saya tidak salah lihat?" Yandi menahan pundak Altha dan Dimas.


"Ya, kamu tidak salah." Altha tersenyum.


Dimas menendang angin, bisa-bisanya tahanan sudah bebas dan lebih gilanya lagi dia bersama Citra.


"Alt, kenapa wanita itu bisa menjadi musuh bebuyutan kamu?" Dimas menatap tajam.


"Karena tidak bisa memiliki, maka lebih baik dihancurkan." Yandi tersenyum, ucapan Yandi di benarkan oleh Altha.


Dimas tidak percaya jika Altha diam saja melihat Citra berkeliaran. Mungkin saja dia bisa gelap mata, menyakiti anak-anak hanya demi balas dendam.


"Aku dan Al sudah memikirkannya, dan mencari waktu dan alasan yang tepat untuk liburan agar anak-anak tidak terlibat." Altha menepuk pundak Dimas dan Yandi agar masuk rumahnya.


***


follow Ig Vhiaazara


Jangan lupa like coment Dan tambah favorit


vote hadiahnya ya ditunggu

__ADS_1


__ADS_2