ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
GARA-GARA MOTOR


__ADS_3

Suara Gemal mengumpat kasar menggema di dalam hutan yang gelap gulita hanya diterangi oleh lampu motor.


"Kamu perempuan gila, tidak punya otak. Apa yang kita lakukan di sini?" Gemal menarik lengan Diana kuat.


Diana langsung memutar tangan Gemal untuk tidak menyakitinya, karena bisa saja Di membunuh jika merasa terancam.


"Perempuan psikopat!"


"Kenapa bangunan di sini sudah tidak ada? aku yakin sekali lokasinya di sini, kenapa kita bisa ada di hutan?" Di kebingungan menyinari sekitarnya menggunakan senter ponselnya.


"Kamu seharusnya belok kanan, bukan kiri. Sejak zaman dulu, ini memang hutan." Gemal ingin sekali meremas kepala Diana yang membuatnya hampir mati.


"Oh, baru tahu aku. Ternyata lima tahun bisa mengubah segalanya. Dunia yang berubah atau aku yang berubah." Di menyalahkan Gemal karena tidak memberitahu jalan yang benar.


Tangan Gemal mengusap perutnya yang masih mual, jangankan memberitahu jalan dirinya hampir mati ulah Diana.


"Berapa usia kamu, masih seperti anak-anak."


"Ya, aku tahu kamu sudah tua. Usia aku baru dua lima, masa depan masih panjang tapi kamu hampir membuat aku mati." Tatapan Gemal sedih melihat motor kesayangannya.


"Hanya beda dua tahun, pengalaman aku dalam kejahatan lebih banyak dari kamu, jadi bersikaplah lebih sopan." Di langsung melangkah keluar hutan membiarkan Gemal mendorong motornya.


Sepanjang jalan Gemal mengutuk Diana, bertemu Di malapetaka terbesar dalam hidupnya.


"Woy, bantuin. Lo yang membuat motor rusak." Gemal berteriak kuat.


"Bilang dari tadi jika kamu tidak kuat." Diana menyingkirkan Gemal.


Suara stater motor terdengar, tapi motor tetap tidak hidup. Di mencoba mengengkol tetap tidak hidup.


Gemal bertolak pinggang menatap Diana yang sibuk sendiri, tatapan Diana langsung tajam melihat ke arah Gemal yang mengerutkan keningnya.


Diana langsung menendang kuat motor, Gemal langsung teriak memeluk motornya yang diinjak-injak.


"Sialan, motornya tidak ada bensin." Diana teriak histeris.


Diana tarik nafas buang nafas, mengambil ponselnya meminta bantuan. Di memutuskan untuk berjalan kaki ke jalan besar, tapi Gemal menolak jika meninggalkan motornya.


"Kamu tinggal saja di sini." Di langsung berjalan sendiri.


"Tunggu, gunakan jaket. Jika ada laki-laki yang mendekat teriak kuat meminta bantuan." Gemal menyerahkan jaketnya.


"Aku lebih kuat dari kamu, khawatirkan diri sendiri." Diana menerima jaket langsung meninggalkan Gemal yang mendorong motornya.

__ADS_1


Keringat bercucuran membasahi baju Gemal, tatapan fokus melihat ke arah Diana yang duduk di pinggir jalan karena tidak ada sinyal, dan kendaraan juga tidak ada yang lewat.


"Kenapa kamu masih ada di sini?"


"Aku lebih tua dari kamu, panggil yang sopan." Di menatap tajam.


Gemal mengabaikan Diana, langsung lanjut mendorong motornya. Di membantu agar lebih cepat mereka mendapatkan bahan bakar untuk pulang.


"Kenapa pak Dimas bisa mempunyai Putri setua kamu? anaknya pak Dimas juga masih kecil." Tatapan Gemal melihat ke belakang, Diana duduk di atas motor yang Gemal dorong.


"Bodoh. Menurut kamu wajah aku mirip siapa?"


Gemal menghentikan langkahnya, memperhatikan wajah Diana yang tersenyum manis mengedipkan kedua matanya.


"Istrinya Pak Altha? astaghfirullah Al azim, kenapa wanita cantik dan baik seperti kak Al bisa mirip kamu? Ini tidak benar." Gemal melanjutkan langkahnya.


Diana langsung tertawa, memukul pundak Gemal yang memuji adiknya.


"Aku dan Aliya kembar, bedanya aku mendapatkan orang tua, dia menjadi orang tua." Di menundukkan kepalanya.


Gemal yang terkejut melepaskan motornya, Diana langsung terjungkal jatuh bersama motor.


Melihat motor jatuh Gemal langsung panik, bukan khawatir dengan Di yang kepalanya benjol, tapi mengusap motornya yang kemungkinan lecet.


"Alhamdulillah ya Allah, betis akhirnya kita bisa pulang." Diana tersenyum lebar.


Gemal juga tersenyum langsung mengisi bahan bakar motornya, sebelum pergi Diana dan Gemal menyempatkan diri untuk makan pop mie dan minum teh hangat.


Keduanya terlihat akur karena sama-sama kelaparan, juga kehausan. Gemal menatap Diana yang terlihat tidak jaim, bisa makan santai.


"Lapar, tambah lagi mie." Diana mengusap perutnya, menyendok milik Gemal.


Garpu Gemal menahan, tidak mengizinkan Diana mengambil sedikitpun miliknya, karena Diana rakus.


"Please." Diana tersenyum langsung mengambil dua sendok milik Gemal.


"Perempuan psikopat, rakus lagi." Kening Gemal berkerut, kesal melihat Diana.


Senyuman Diana terus terlihat, puas menghabiskan tiga pop mie beda rasa, dunia Diana rasanya sangat indah bisa makan mie dengan puas.


Gemal menghidupkan motornya, Diana langsung naik memeluk erat pinggang Gemal.


"Ayo gembel jalan, kita pulang." Diana meletakan kepalanya di punggung Gemal.

__ADS_1


Tangan Gemal menyingkirkan kepala Diana untuk tidak melecehkannya, apalagi tangan Di yang merendahkan harga dirinya.


Pukulan di punggung Gemal kuat, saat pergi Diana tidak marah dipeluk erat, tapi sekarang dirinya dimarah.


"Kamu mau jalan sekarang, atau aku yang membawa motor." Di menatap tajam.


"Aku saja, tapi jangan dipeluk. Perut aku geli." Gemal memohon karena dia tidak bisa fokus.


Sepanjang perjalanan, Diana memegang ujung kerah baju, jika naikkan leher dicekik oleh baju membuat Diana tertawa lucu.


Sikap jahil Diana muncul, melihat Gemal yang hanya menggunakan baju kaos biasa, karena jaketnya dipakai oleh Diana.


Satu tangan Di langsung masuk ke baju Gemal, menyentuh perutnya yang membuat suara teriak histeris.


Tangan Gemal menahan tangan Diana, meminta Di berhenti sebelum dirinya marah.


"Gila, perut kamu rata dan berotot. Aku akui tubuh kamu sempurna, tapi sayang kemampuan kamu masih di bawah rata-rata." Di meletakkan kepalanya di punggung, kedua tangannya melingkari pinggang.


Gemal membiarkan Diana, karena sudah larut malam dia harus segera mengantar Diana sampai rumah.


Senyuman Diana terlihat, merasakan angin sepoi-sepoi yang membuatnya nyaman. Rasa lelah bekerja terbayarkan dengan makan mie dan bermotor santai.


"Kenapa kamu menggunakan motor? kenapa tidak mobil lebih keren." Di bergumam pelan di telinga Gemal.


"Aku bukan orang kaya seperti kamu." Senyuman Gemal juga terlihat, menikmati hidup sederhananya.


"Jika kamu ingin kaya, jangan menjadi polisi tapi Mafia." Di mengeratkan pelukannya.


Gemal tertawa kecil, dirinya menjadi polisi karena ingin meminta keadilan atas kejahatan seseorang.


"Kamu tahu Gemal, aku sudah hidup dua puluh tujuh tahun, dua puluh tahun psikopat, dan tujuh tahun manusia. Satu hal yang aku percayai jika kekuasan bisa mengalahkan segalanya."


"Kamu salah Di, cinta keluarga bisa mengalahkan kekuasaan." Gemal tersenyum meminta Diana diam, karena dia ingin fokus menyetir.


Diana tersenyum, dia belum selesai bicara. Dua puluh tahun Diana ada di atas kekuasaan, tapi dirinya tidak bahagia. Tujuh tahun memiliki keluarga, Diana sangat bahagia bahkan terasa aman dan dilindungi.


Kekuatan keluarga, cinta dan kasih sayang memang tidak ada obatnya.


***


follow Ig Vhiaazara


Jangan lupa like coment Dan tambah favorit

__ADS_1


vote hadiahnya ya-


__ADS_2