
Di dapur Shin sedang sibuk, suara berdehem terdengar menatap Shin yang hanya melirik sinis. Sikap dingin Shin tidak berubah sama sekali.
"Bu, boleh bergabung?"
"Apa aku memperkerjakan seorang koki untuk menjadi penonton?"
Senyuman Reza terlihat, langsung mengganti bajunya untuk segera bergabung dengan Shin mempelajari resep yang Shin miliki.
Cara kerja Reza yang baik dan cepat menangkap membuat Shin tidak kesulitan, dia juga tidak menyukai seseorang yang banyak basa-basi.
Saat sedang belajar, Reza tidak pecicilan, tapi setelah selesai dia menjadi seseorang menyebalkan bagi Shin. Terlalu banyak bicara dan terlihat akrab.
"Ini terakhir aku mengajari kamu beberapa resep, saya harap tidak akan ada masalah serius. Beberapa minggu ini aku sibuk persiapan pernikahan, jadi jangan menganggu." Shin melepaskan celemek masak.
"Apa? Bu Shin ingin menikah. Kenapa sekarang Bu? tidak bisa nanti saja." Kepala Reza menunduk, sebentar lagi dia akan mengangumi istri orang.
Tangan Shin terangkat, ingin memukul kepala Reza yang langsung melindungi kepalanya menggunakan penggorengan.
"Jangan banyak bicara." Shin tidak segaja terkena pisau tajam.
Tangan Shin langsung disentuh oleh Reza, menahan darah yang keluar dari kulit putih dan mulus.
"Kenapa Kamu berhati-hati?"
"Lepaskan, aku bukan wanita lemah." Shin langsung melangkah pergi meninggalkan restoran meskipun Reza berusaha memanggilnya.
Sepanjang perjalanan Shin menutupi lukanya menggunakan tisu, langsung menuju rumah sakit untuk mengobatinya.
Suara langkah kaki Shin berlarian di koridor rumah sakit, langsung membuka pintu ruangan Juna tanpa mengetuk.
Tubuh Juna langsung merunduk ke bawah karena kaget, Juna sedang mengganti bajunya, dan Shin nyelonong masuk.
"Kak Juna hayo ... kenapa tidak menggunakan baju?"
"Kamu ... astaghfirullah ini perempuan!" Juna langsung memakai bajunya, menunjuk ke arah Shin yang menutup matanya.
Wajah Shin bersemu, masalah ciuman saja belum selesai sekarang melihat Juna tanpa baju. Mata Shin benar-benar sudah ternodai, dia semakin malu kepada Juna.
"Ada apa? bisa tidak mengetuk pintu dulu?"
"Lain kali dikunci Ay,"
__ADS_1
Juna melipat tangannya di dada, tidak ada satu orangpun yang berani masuk tanpa mengetuk pintu kecuali Shin. Juna seorang Dokter yang sangat ditakuti, dan hanya ada satu wanita yang mengganggap ruangannya seperti kamar pribadi.
Tangan Shin terulur, menunjukkan luka kepada Juna yang langsung menyentuh tangannya. Kursi ditendang mendekati Shin, luka tangannya langsung diobati.
Tatapan mata Shin fokus melihat tempat sampah, Juna menyelesaikan tugasnya dan menunggu lamunan Shin selesai.
"Dua minggu sudah berlalu, tidak ada tanda-tanda Dina ataupun Dini bergerak. Aku sangat yakin, ada seseorang yang berhasil melarikan diri." Shin menghela napasnya, penantiannya tidak mendapatkan jawaban.
"Tong sampah tidak bisa menjawab, Arshinta Leondra." Juna geleng-geleng melihat Shin yang nyegir.
"Tahu, Shin sedang bertanya-tanya padahal tahu tidak akan mendapatkan jawabannya." Tiba-tiba Shin melamun kembali melihat ke arah dada Juna.
Kedua tangan Juna menutup dadanya, melihat Shin yang berkali-kali melecehkannya.
"Shin! apa kamu lihat?"
Senyuman Shin terlihat, mengusap wajahnya yang terlalu banyak pikiran. Shin masih penasaran soal Dina dan Dini.
Jangankan Shin, Tika yang ahli dalam mencari identitas saja tidak mendapatkan hasil apapun. Genta yang menggunakan tim juga sama tidak menemukan jawaban apalagi Shin yang sibuk sendiri dengan bisnisnya.
"Apa yang kamu khawatirkan?"
"Pernikahan Tika semakin dekat, Shin merasa setelah penyerangan Hana, kenapa tiba-tiba tenang?"
Shin menepuk jidat, Juna tidak mengerti dalam dunia persaingan. Ketenangan sesuatu yang sangat diantisipasi, dikarenakan bisa saja ada penyerangan yang mendadak.
Sedikit atau besar masalah
tidak akan menjadi perkara jika diketahui sejak jauh. Sudah ada persiapan juga cara untuk mengatasi sehingga ada penjaga yang aman.
"Shin ingin pulang saja, kak Juna hanya tahu soal medis." Shin mengeluarkan uangnya untuk membayar Juna.
Pintu ruangan Juna terbuka, Shin menghentikan langkahnya melihat Hana berjalan bersama Dina yang baru keluar dari rumah sakit.
Tidak berapa lama Juna juga keluar, tersenyum melihat Hana yang mengucapkan salam.
"Shin, kenapa kamu berduaan dengan Juna?" Dina menatap ke arah Hana yang juga melihat ke arah Shin.
"Kenapa ada masalah? apa kamu berpikir aku dan Juna melakukan sesuatu? jika iya kenapa?" tatapan mata Shin tajam, kepada Dina sudah tertunduk.
Pergelangan tangan Shin ditahan oleh Juna, menatapnya serius meminta berhenti. Juna sudah mengizinkan Dina pulang, dan masalah trauma hanya membutuhkan pemeriksaan.
__ADS_1
"Terima kasih Juna, kamu harapan aku bisa bertahan hidup." Dina tersenyum manis.
"Apa selama ini kamu mati?" Shin menepis tangan Juna.
Hana hanya diam mendengar suara Shin, selama ini dirinya diam dan mengangumi sosok Shin yang cantik, pintar, juga penuh kasih sayang. Semakin jauh mengenalnya Hana merasakan kecewa, dan tidak menyukai cara Shin menghakimi Dina.
Wanita dewasa dan taat, tidak menyakiti perasaan orang. Berpikir bukan hanya soal logika. Nilai plus Shik berubah menjadi mines.
"Juna, Tante Aliya sudah memberitahu kamu belum? jika besok keluarga aku ingin berbicara serius soal hubungan kita." Ana melihat mata Juna yang terlihat binggung.
Kepala Juna menggeleng, dia belum mengetahuinya dan akan segera membicarakan dengan Maminya. Juna akan mengambil keputusan terakhir saat menemui keluarga Hana dan berharap Maminya menerima keputusannya.
"Bu Shin, bagaimana kondisi tangan kamu?" Reza memegang tangan Shin, melihat sudah terbalut rapi.
"Lepaskan, beraninya kamu menyentuhku." Shin menepis tangan, mendorong Reza sampai mundur beberapa langkah.
Belum selesai Hana bicara, Juna sudah pamitan untuk pergi lebih dulu. Menarik tangan Shin yang melangkah bersama, tapi kepala Shin masih melihat ke arah Reza.
"Di mana mobil kamu?"
Shin menyerahkan kunci mobilnya, mengikuti Juna yang terlihat marah kepadanya. Pintu mobil juga tertutup kuat membuat Shin kaget.
Tatapan Shin fokus ke arah tangannya, tidak memperhatikan Juna yang terlihat galau sendiri tanpa Shin ketahui penyebabnya.
Ada yang aneh baru Shin rasakan, kekuatan tangan Shin sangat terlatih, siapapun yang dirinya dorong mengunakan tenaga pasti terjatuh meksipun dia seorang pria, tapi anehnya Reza hanya mundur beberapa langkah.
Pria yang memiliki humor pelawak, riang dan suka bercanda, namun memiliki tenaga yang tidak bisa Shin sangat.
"Dia memiliki kemampuan bela diri yang tinggi, kenapa aku tidak tahu? biodatanya tidak sesuai." Shin mengambil ponselnya melakukan panggilan untuk meminta data ulang soal beberapa koki yang melamar kerja.
Ada hal serius yang tidak bisa Shin anggap remeh, dia belum menemukan pelaku utama yang ingin menyakiti keluarga, dan siapapun orang baru harus dia selidiki termasuk Reza.
"Ay, tadi melihat Reza ...."
"Kenapa aku harus melihat dia? tidak penting sama sekali, jangan bahas dia." Juna fokus menyetir untuk pulang ke rumah.
***
follow Ig Vhiaazaira
***
__ADS_1
Minal 'Aidin wal-Faizin (: من العائدين والفائزين), selamat merayakan hari raya idul Adha.
***