
Kabar duka menghebohkan perumahan, baru saja mereka tertawa sudah banjir air mata kembali. Saat Juna menghubungi Aliya berlari tanpa menggunakan alas kaki saat tahu Tika jatuh pingsan.
Baru saja terlihat akur dan penuh canda tawa, sudah diuji kembali dengan rasa kehilangan. Waktu terlalu singkat sehingga hitungan jam tawa semua orang berubah air mata.
Pintu kamar terbuka, Juna sudah menutupi wajah Mamanya, memindahkan Shin dan Tika ke kamar lain. Juna berusaha lebih kuat karena dua yang paling tahu kondisi Mamanya.
"Juna,"
"Mi, Mama sudah tidak ada. Mama sudah pergi." Sekuat mungkin Juna menahan air matanya.
Aliya menangis memeluk erat Putranya, mengusap punggung Juna agar berdiri tegak. Sekarang Mama Citra tidak sakit lagi, dia pergi dalam keadaan baik.
Tidak ada lagi beban di hati Citra, dia sudah mendapatkan maaf dari semua orang. Al tahu Juna bisa mengantarkan Mamanya ke tempat peristirahatan terakhir.
"Juna baik-baik saja, Mi."
"Iya Nak, ikhlas ya sayang. Insyaallah dihapuskan segala dosa Mama, Juna harus merelakan." Al mengusap kepala Putranya yang menunjukkan senyuman meksipun matanya merah.
Altha juga masuk, mengusap punggung Putranya. Alt tahu Juna memahami apa yang terjadi, mereka harus mengikhlaskan apa yang sebenarnya sudah waktunya kembali.
Suara tangisan Ria terdengar, menatap Citra yang sudah terbaring dalam keadaan ditutup kain panjang.
"Mama, kenapa pergi? katanya ingin menemani Ria, menyaksikan penampilan Ria. Kenapa tidak menepati janji." Tangisan Ria terdengar menyayat hati, dia sangat menyayangi Citra yang selalu nyambung saat berbicara soal banyak hal.
Juna memeluk Ria melarangnya untuk meratapi, Allah tahu yang terbaik. Mereka semua harus mengikhlaskan agar Mama Citra juga tenang.
"Kak Jun, ini mimpi buruk Ria. Kita baru saja bahagia, kita tertawa, dan bergembira. Ria baru saja tidur, kenapa saat bangun kabar buruk?" suara Ria terbata-bata berbicara dengan Juna yang bisa memahami perasaan Adiknya.
"Begitulah hidup Ria, dibalik kebahagiaan pasti ada ujian. Maut, rezeki sudah ditentukan, dan kita mengikuti takdir itu. Banyak hal yang belum kita lakukan, tapi siapa yang bisa menolak jika takdir memilih memisahkan. Doakan Mama ya Dek, kita ikhlaskan Mama." Kedua tangan Juna mengusap air mata Ria, pelukan Juna erat.
__ADS_1
Melihat Kakaknya berduka, Juan langsung memeluk. Meksipun Juan tidak dekat, Citra tetap Mama bagi Juan.
"Kalian berdua jangan menangis, temani Kak Ria agar lebih kuat lagi." Juna tersenyum menatap kedua adik kembarnya yang menganggukkan kepala.
Di kamar lain, Tika sudah menangis histeris berpelukan erat dengan Shin. Aliya tidak kuasa menahan air matanya melihat Putrinya begitu terpukul.
"Tika sayang, jangan begini Nak." Aliya memeluk erat tubuh Tika yang terkulai lemas.
"Mami, kenapa Mama pergi sebelum melihat Tika menikah?" Tika jatuh pingsan kembali.
Berjam-jam Aliya mencoba menenangkan Tika, tapi kesulitan selalu jatuh pingsan. Diana sampai memasangkan infus agar Tika memiliki tenaga.
"Shin, kenapa kamu?" Di menepuk wajah Shin yang terdiam seperti patung. Hanya air mata yang mengalir dari pipi Shin, dia terlihat sangat terpukul dengan kepergian Citra.
"Sayang, Shin sadar Nak." Mam Jes memeluk Shin yang jatuh pingsan.
Aliya hanya bisa menggenggam tangan Tika, duka kembali menyelimuti mereka setelah kepergian Amora. Dulu Tika tidak terlalu mengerti arti kematian, dan sekarang dia paham jika tidak ada kesempatan bertemu lagi.
"Assalamualaikum,"
"Waalaikum salam Ana." Aliya mempersilahkan Hana masuk.
Hana duduk di samping Tika yang baru sadar kembali setelah berkali-kali pingsan. Tangan Hana menggenggam jari jemari Tika.
"Tik, menangis seperti ini hanya akan memberatkan, semua mahluk akan pergi dari dunia. Kematian tidak menunggu kita siap, dia akan datang jika sudah waktunya." Hana meminta Tika menatapnya.
Hana menjelaskan kepada Tika jika dia harus mengantarkan Mamanya ke tempat peristirahatan terakhir, meskipun berat dia harus melakukan sebagai anak yang berbakti.
Bukan air mata yang dibutuhkan, tapi doa. Ana tahu rasanya kehilangan karena dirinya juga pernah merasakan, sangat mengerti perasaan Tika yang masih ingin menghabiskan banyak waktu bersama Mamanya.
__ADS_1
"Kuat Ya Dek, Kak Ana yakin kamu anak yang kuat. Semangat adik-adik kamu, kita temui Mama Citra dengan perasaan yang ikhlas." Ana mengusap air mata Tika.
"Banyak hal yang belum Tika lakukan bersama Mama, berbelanja, menonton, bermain, tertawa, makanan bersama di tempat yang indah. Sejak kecil Tika belum melakukannya." Bibir Tika gemetaran, memegang dadanya yang merasakan sesak.
Ana tidak bisa membandingkan kehidupan dirinya, Tika mengerti semuanya karena dia sudah dewasa. Setiap makhluk hidup ada batas waktunya, ada yang pergi saat kecil ada juga yang tua.
Tika hanya bertanya, dua puluh tahun lebih dia hidup, belum diberikan kesempatan untuk menikmati masa dewasa bersama Mamanya.
Harapan Tika besar, dia hanya ingin setidaknya Mamanya menyaksikan dirinya menikah, Tika ingin Mamanya tahu dia sudah dewasa, dia bukan si kecil yang dulu, tapi menjadi wanita yang sudah memilih pasangan hidup.
"Tika baik-baik saja, ayo kita keluar menemui Mama?" Tika meminta infus di lepas menarik tangan Shin untuk keluar bersamanya.
Shin masih diam mematung, menatap mata Tika meneteskan air matanya. Air mata Tika juga menetes langsung memeluk sahabatnya.
"Sakit ... hati Tika sakit. Kenapa kamu juga lemah Shin? biasanya kamu yang menguatkan Tika, ayo berikan semangat." Tangisan Tika terdengar, mengeratkan pelukannya memanggil Mama.
"Kenapa hari itu aku tertawa? padahal itu hanya akan menjadi kenangan? kenapa harus berbagi cerita jika pada akhirnya ditinggalkan." Shin tertawa mengusap air mata Tika, meminta keluar lebih dulu.
"Kita tidak pernah tahu kapan kematian tiba, jika tahu mungkin sudah dipersiapkan. Menghabiskan banyak waktu bersama sebelum pergi. Saat ini doa menjadi yang terbaik daripada menyalahkan waktu yang terlewat." Ana mengulurkan tangannya meminta Tika dan Shin ikut dirinya keluar.
Senyuman Shin terlihat, menyambut tangan Ana. Senyuman yang Shin berikan penuh luka karena selalu ditinggalkan untuk selamanya.
"Kak Ana tidak tahu rasanya tidak punya Mama? Kak Ana juga tidak tahu rasanya dipukuli karena ingin kasih sayang Mama. Shin pernah bertanya kepada takdir, jika aku mati apa ada yang menangisi aku? takdir tidak menjawabnya dia hanya menguji aku dengan penuh rasa kehilangan." Shin tertawa kecil.
Tangan Ana menggenggam erat, seseorang yang berhati baik saat dirinya pergi ditangisi oleh malaikat karena rasa kehilangan. Jangankan manusia, malaikat juga menangis. Jika kita diuji lebih berat lagi, karena memang mampu menerimanya, mampu menjalaninya.
"Shin, Allah tidak menguji hambanya melebihi batas kemampuan kita. Kamu wanita kuat, banyak ujian yang kamu lewati karena ada bahagia di kemudian hari. Di balik kematian ada kelahiran, begitu hidup ada yang datang maka ada juga yang pergi." Ana mengandeng tangan Tika dan Shin untuk melangkah keluar melihat proses pemakaman.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira