ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
GARA-GARA ANAK


__ADS_3

Sudah malam Al masih berdiri di balkon kamarnya, Altha pulang dan langsung memeluk Aliya dari belakang.


Tidak ada yang bersuara, Al menyandarkan tubuhnya kepada suaminya sambil memejamkan matanya.


"Ada masalah hari ini? aku dengar teman kelasnya Juna ada yang meninggal?" Alt mencium pipi Aliya yang hanya memberikan senyuman.


"Ayang ingin makan?"


"Aku tidak makan semalam ini, sekarang pukul sebelas malam." Alt menggenggam tangan Aliya memintanya untuk beristirahat.


Al langsung tidur di samping Altha yang baru selesai mandi, menyerahkan surat yang ditinggalkan anak kecil seumuran Juna.


"Kamu ingin aku menyelidiki ulang?"


Aliya tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya memeluk erat suaminya. Al sudah menyelediki jika kedua orangtuanya sudah bercerai.


Ayahnya seorang anggota dewan, dan memiliki kekayaan yang berlimpah. Dua tahun yang lalu bercerai karena ketahuan selingkuh.


Karena memiliki kekuasaan, kebenaran diputar balik. Istrinya mendapatkan tuduhan selingkuh, dan tidak mendapatkan hak asuh anak.


Altha langsung duduk mendengarkan penjelasan Aliya jika orang-orang berkuasa, harus dilawan dengan kekuasaan juga.


"Apa penyebab kematian anaknya?"


"Kekerasan dan pelecehan."


Altha langsung merinding, jika terungkap ayah kandung menyakiti putri kecilnya pasti sangat menyakitkan. Apalagi jika sampai ada kasus pelecehan di bawah umur sampai meninggal dunia.


"Ayang kenapa?"


"Tidak habis pikir saja." Alt membedakan cara mendidik Arjuna dan Atika.


Juna harus dididik kuat karena dia laki-laki, harus menjadi panutan dan bisa memimpin dirinya sendiri agar kuat melewati jalanan hidupnya. Tapi berbeda dengan seorang putri, dia mata Altha tidak perduli berapa usia Tika, tidak peduli dia nakal dan selalu melakukan kesalahan.


Bagi seorang ayah putrinya selamanya akan kecil, jangan disakiti tetesan air matanya sudah sangat menyakitkan hati.


Jangankan tetesan darah, melihat cemberut saja tidak mampu, bagaimana seorang pelindung bagi seorang putri dan sosok itu juga yang menyakitinya.


"Apa aku terlalu berlebihan? putri bagi aku sesuatu yang tidak boleh disentuh, disakiti, aku tidak bisa memaafkan diri sendiri jika sampai melakukannya." Alt menutup matanya membayangkan saja sungguh menyakitkan.

__ADS_1


"Putrinya Altha sangat beruntung, tapi banyak anak-anak di luar sana yang tidak seberuntung Atika. Tika bangga memiliki pelindung seperti Ayang." Al memeluk suaminya, berharap segera diberikan kepercayaan untuk memiliki putri.


Aliya tersenyum membayangkan seorang gadis kecil yang mungil, nanti dia mirip sama Atika saling pukul dan jambak lalu adiknya menangis mengadu kepada Juna, lalu Tika akan mengadu kepada Aliya sehingga rumah akan rusuh.


Altha berdehem membuyarkan ucapan Aliya soal putri kecil yang akan menghacurkan rumah bersama Atika.


"Al juga menginginkan seorang putri cantik."


"Lebih baik laki-laki saja sayang, lebih aman dan damai." Altha tersenyum mengusap wajah istrinya yang matanya melotot.


Altha cukup pusing melihat kekacauan Atika dan Aliya, jika ditambah satu lagi bisa hancur rumahnya.


"Ayang menginginkan anak laki-laki?


"Iya, tujuannya baik sayang. Atika akan dijaga oleh tiga laki-laki, kakaknya yang dingin, adiknya yang posesif dan Papinya yang akan menjadikannya putri mahkota yang dijaga ketat." Altha tersenyum, Aliya juga memiliki tiga lelaki yang akan menjaganya sehingga kedua wanita di dalam rumah akan selalu aman.


Aliya meremas rambutnya, Kakak yang dingin sudah cukup membuat kacau ditambah adik yang posesif. Bisa depresi Aliya dan Atika jika dijaga tiga lelaki yang memiliki karakter sama dan mengekang mereka.


Senyuman Aliya terlihat menganggukkan kepalanya menyetujui keinginan suaminya, meskipun sebenarnya tidak setuju dan tidak akan ada pernah setuju.


"Bagaimana jika perempuan?" Al nyengir kuda.


Al ingin sekali melempar Altha keluar kamar, dia pikir hanya laki-laki yang bisa memimpin perusahaan, wanita jauh lebih hebat.


Memiliki tiga laki-laki dingin membuat hidup Tika dan Aliya tidak memiliki kebebasan, Al tetap pada pendiriannya jika wanita jauh lebih cocok.


"Ayang, Tika jika besar juga bisa menjadi pemimpin perusahaan, bahkan bisa juga menjadi dokter perkejaan akan double." Al tersenyum membanggakan wanita jika mereka sangat tangguh.


Alt menggelengkan kepalanya, dia tidak ingin jika putrinya sibuk dan jarang pulang, karena pergaulan di luar sangat bebas.


Anak laki-laki saja sulit dikendalikan jika sudah keluar dunia malam, apalagi perempuan. Jia laki-laki gonta-ganti wanita tidak ada cacatnya, berbeda dengan wanita.


"Kita wanita tangguh Ayang, hal seperti itu tidak akan terjadi."


"Kamu berbeda Aliya sayang, zaman kalian berbeda. Lima sampai sepuluh tahun ke depan mungkin kamu sudah menjadi nenek, zaman akan semakin maju. Wanita tidak baik banyak di luar rumah." Alt tersenyum mengusap kepala Aliya yang tertawa padahal menahan emosi.


Mata Aliya menatap sinis, belum juga hamil punya anak sudah dikatai nenek-nenek. Al menarik nafas panjang, mengigit bibir bawahnya ingin melayang tendangan.


"Sayang, kenapa kita membahas soal anak? lanjutkan soal kasus yang ingin kamu selidiki." Altha menatap istrinya yang wajahnya sudah merah.

__ADS_1


"I don't know, Aliya mengantuk. Kehilangan semangat untuk melanjutkan kasus yang membuat naik darah, menyingkir Ayang. Nenek-nenek ingin tidur!" Al menaikkan nadanya menarik guling meletakan di tengah, langsung memunggungi Altha.


"Kenapa tiba-tiba kesal?" Alt mengaruk kepalanya tidak tahu salahnya di mana?


"Sayang, kita tidak ingin membuat Altha junior."


"Altha junior? Jubaidah iya." Al bergumam kesal, menarik selimut menutupi tubuhnya.


Alt menyingkirkan guling, memeluk Aliya dari belakang masih tidak mengerti penyebab Al mendadak kesal.


"Sayang kamu sudah tidur?" Altha membalik tubuh Aliya agar menghadap dirinya.


Karena tidak mendapatkan respon Altha akhirnya tidur, dia juga cukup lelah seharian bekerja.


Al langsung bangun setelah melihat Altha tidur dengan pulas, menyelimutinya sambil menatap tajam.


"Junior? nenek? anak laki-laki? tidur sendiri kamu. Menyebalkan." Aliya langsung melangkah pergi meninggalkan Altha tidur sendirian.


Di depan pintu Al tulis besar-besar, nenek sedang mengungsi. Hati Aliya sangat kesal melihat suaminya langsung pindah ke kamar Atika.


Kedatangan Aliya membuat Tika bangun, menatap maminya yang masih mengomel.


"Kenapa Mami?"


"Nenek Aliya ingin menumpang tidur." Al memeluk Tika yang hanya mengerutkan keningnya, matanya mengantuk dan melihat Maminya bertingkah aneh.


Kekesalan Aliya akhirnya hilang setelah memeluk putri kesayangannya, sahabat kecilnya yang tidak bisa dijadikan musuh. Seandainya ada satu perempuan lagi pasti menyenangkan.


Tika mengaruk kepalanya, mengusap wajah Maminya agar segera tidur dan berhenti membahas nenek.


Kening Juna berkerut saat bangun subuh melihat di depan pintu sudah penuh coretan, langsung mencoba menghapusnya, tapi ternyata permanen.


"Siapa yang kekanakan mengotori pintu kamar?"


***


follow Ig Vhiaazara


--

__ADS_1


__ADS_2