
Pintu kamar terbuka, Altha masuk membawa makanan untuk Aliya yang baru bangun.
Senyuman Al terlihat, dia hanya sarapan pagi dan minum air saat bertemu Citra.
Altha membantu Aliya untuk duduk, menyuapinya makan karena tubuh Al masih lemas.
"Maafkan Aliya yang tidak mendengarkan, seharusnya aku tidak pergi." Al menundukkan kepalanya.
"Sejak awal sudah aku duga tidak akan didengarkan, kamu terlalu terbiasa sendiri dan melakukan segala hal menurut perhitungan kamu." Senyuman Altha terlihat, memaklumi Aliya yang keras kepala.
Altha sudah menduga jika hal ini akan terjadi, makanya dia tidak bisa tenang dan langsung membawa tim untuk mengecek lokasi.
Saat melihat mobil Aliya ada di jalanan tempat kecelakaan Altha semakin yakin, langsung cepat pergi ke rumah kosong.
"Al, sekuat apapun kamu jika melihat keluarga sendiri yang menyakiti dan disakiti kita pasti melemah. Aku harap kamu tidak memiliki trauma besar soal ini, kita selesaikan sampai akhir." Tangan Altha menggenggam jari-jemari Aliya.
Kepala Aliya mengangguk, menghabiskan makanannya dan terus menatap wajah Altha yang terlihat ada luka di pipinya.
Al tidak ingin bertanya, dia tahu Al pasti melakukan segala cara untuk menyelamatkan dirinya sehingga sampai terluka.
Tatapan Altha dan Aliya melihat ke arah pintu, Atika dan Arjuna bertengkar. Altha langsung membuka pintu melihat Tika yang menangis membawa bantal guling, dan selimutnya.
"Ada apa? kenapa bertengkar?"
"Tika ingin tidur sama Mami, tapi kak Juna marah." Suara tangisan Tika semakin besar.
"Kemarilah Tika, tidur sama Mami." Al berteriak sambil tersenyum melihat putrinya menangis histeris.
Aliya langsung memeluknya mengusap air mata Tika agar berhenti menangis, mengizinkan dirinya untuk tidur bersama Al.
"Tika malam ini jagain Mami." Senyuman manis Atika terlihat.
Al juga tersenyum, melihat senyuman Tika membuat Aliya merasa menjadi ibu sebenarnya. Bahkan hatinya berubah pikiran untuk menetap lama mungkin selamanya bersama anak-anak.
Bermalam-malam Aliya tidak bisa tidur, setiap dia tertidur mimpi buruk kembali datang. Atika bisa merasakan kegelisahan Aliya.
Altha tidak ada di rumah, masih melakukan pemeriksaan soal pembongkaran puluhan makam.
Semua yang ada di makam sesuai dengan daftar orang-orang yang meninggal di rumah karena pembantaian.
Tulang belulang sudah dimasukkan ke dalam peti untuk dimakamkan secara layak di pemakaman umum.
__ADS_1
Hanya satu keanehan, satu makan tidak ada tulang belulangnya. Bahkan tidak bisa diidentifikasi.
"Siapa yang menghilang?" Altha menatap Dimas yang menunjukkan sebuah laporan.
"Tulang belulang ibunya Al sudah remuk dan banyak terpisah-pisah. Tim kesulitan mengumpulkannya, sedangkan satu makan kosong. Dia makam saudaranya Aliya, kemungkinan tulangnya sudah dibuang atau dimakan sama psikopat gila." Dimas menghela nafasnya berkali-kali.
"Aku akan mengabari Aliya, kamu urus sampai selesai dan mereka dimakamkan secara layak." Altha melangkah pergi membawa surat laporan yang ingin diberikan kepada Al.
Sampai di rumah sudah subuh, Altha melihat Juna berlarian ke kamarnya. Alt langsung cepat masuk, melihat Aliya demam dan mengigau.
Tika memijit Al, Juna meletakkan kain di kening berharap panas akan segera turun. Altha menyentuh tubuh Aliya.
"Sejak kapan Mami seperti ini?"
"Sekitar dua jam yang lalu Pi, Tika mengabari Juna Mami memukul dirinya sendiri, sekarang Mami tidur dan demam." Wajah Juna terlihat sangat khawatir.
Altha bisa melihat rasa cemas di wajah putra dan putrinya melihat Aliya sakit, keduanya kehilangan senyuman.
"Sakit, tolong. Sakit." Al mengusap tubuhnya.
"Aliya bangun, apa kamu yang sakit?" Alt mengusap wajah Al.
Altha menganggukkan kepalanya, langsung menggendong Aliya untuk ke rumah sakit. Tika dan Juna juga berlari langsung masuk ke dalam mobil.
Juna memangku kepala Aliya, mengusap kepalanya. Air mata Juna juga menetes. Hatinya terasa sakit melihat keadaan Maminya.
Wanita yang hadir dalam hidupnya dengan tatapan sombong dan angkuh, menjadi ibu muda untuk mereka.
Beberapa bulan Aliya ada di sisi mereka, memberikan kasih sayang yang tidak didapatkan dari ibu kandung, belajar banyak hal tentang hidup.
Sosok wanita yang sangat kuat, dibalik canda dan tawanya ada rasa sakit yang besar, tetapi tidak ada yang menyadarinya.
"Mami, jangan sakit. Siapa yang akan menghibur kami saat sedih? siapa yang akan membuat heboh dari matahari terbit sampai terbenam. Bangun Mi, apa sesakit itu yang hati Mami rasakan?" Juna bergumam pelan, menatap wajah Aliya yang pucat.
"Kakak Juna jangan menangis, nanti Tika juga sedih." Atika meneteskan air matanya melihat kakaknya mengusap air mata.
Altha tidak memiliki kata-kata untuk menghibur anak-anaknya, dia juga merasakan khawatir yang sama dan merasakan cemas melihat keadaan Aliya.
Sesampainya di rumah sakit Aliya langsung dirawat, Altha dan anak-anak hanya bisa menunggu di luar.
Kedua tangan Alt merangkul kedua anaknya, menunggu dokter memeriksa keadaan Aliya.
__ADS_1
Dokter keluar dan menjelaskan kondisi Aliya yang hanya demam, panasnya juga sudah turun dan masih beristirahat.
"Mami baik-baik saja ya Papi? Tika tidak mengerti apa yang dokter katakan. Dia berputar-putar, membuat kepala Tika pusing." Tika membuka pintu, melihat Maminya yang masih tidur.
"Juna Tika kalian tidur di sofa, nanti jika Mami bangun Papi bangunkan." Alt tersenyum melihat anak-anaknya.
Tika dan Juna menurut, mereka tahu Papinya lelah dan memiliki banyak pikiran. Bahkan belum beristirahat sedikitpun.
***
Perlahan mata Aliya terbuka, melihat langit-langit kamar yang terasa berbeda. Al melihat tangannya diinfus, dan satu tangannya dalam genggaman Altha.
Al melihat kedua anaknya tidur di sofa tanpa selimut, Altha juga tidur sambil duduk. Alt bahkan belum mengganti bajunya.
"Kamu pasti belum istirahat sama sekali." Al mengusap wajah Altha yang langsung terbangun.
"Alhamdulillah kamu sudah bangun Al, aku khawatir sekali." Altha tersenyum melihat Aliya juga tersenyum.
"Sekuat apa kamu Altha? tubuh kamu bisa tumbang jika terus bekerja keras seperti ini. Jangan terlalu lelah, kamu harus hidup lama." Al mengusap wajah tampan lelaki di sampingnya.
Altha mendekati wajah Aliya, mencium keningnya. Aliya menatap binggung, tidak paham dengan tatapan mata Altha yang terlihat berbeda.
"Kenapa mencium Aliya?"
"Memangnya tidak boleh?" Alt tersenyum mengusap kepala Al yang panasnya sudah turun.
Aliya memalingkan pandangannya, tidak memiliki jawaban dari pertanyaan Altha. Mereka berdua selalu mencium tanpa ada alasan melakukannya.
"Jangan seperti ini lagi, aku tidak sanggup melihatnya." Al mengusap wajah Aliya yang masih pucat.
"Kenapa? apa kamu takut kehilangan aku?" Al menatap mata Altha yang juga menatapnya.
"Aku tidak tahu Aliya, hati aku masih terlalu sakit untuk membuka kembali. Kehilangan satu kali sudah membuat terpecah belah, sanggupkah aku kehilangan lagi? aku tidak yakin sanggup untuk kehilangan." Alt memejamkan matanya.
"Apa yang kamu inginkan Altha?"
Kepala Altha menggeleng, dia tidak tahu apa yang dia inginkan. Apa dia punya hak untuk meminta Aliya tetap ada disisinya.
***
follow Ig Vhiaazara
__ADS_1