ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
ADIK LAGI


__ADS_3

Setelah istirahat full Aliya mulai bisa menggerakkan tubuhnya, dari sekian banyak kecelakaan yang Aliya alami kali ini cukup buruk, karena tidak menggunakan pengaman.


Al melihat luka di kakinya, mulai mengerakkan tangan dan kakinya. Menyentuh pinggang dan sekujur tubuhnya yang sudah kesekian kalinya terbang.


Suara ketukan pintu terdengar, sebuah mata mengintip Aliya. Al langsung tahu siapa pelakunya, seharusnya kedua anaknya pulang keesokan harinya.


"Mami, Tika boleh masuk tidak?" Suara pelan penuh permohonan agar diizinkan bertemu.


Aliya tidak menjawab, langsung tidur kembali. Sengaja mengabaikan Atika yang tidak menuruti ucapannya.


Pintu terbuka, langkah kaki pelan terdengar, Tika langsung naik ke atas ranjang, memijit Aliya yang belum berbicara.


"Mami sakit lagi ya? Tika temani ya?" kedua tangan kecil terus memijit.


Aliya memejamkan matanya, membiarkan Tika melakukan sesuka hatinya.


Cukup lama Aliya diam, Tika masih terus memijitnya tanpa ada keluhan apapun. Bahkan Tika mengobati luka di kaki Aliya yang sudah kering.


"Mami sakit karena Tika tidak menurut ya? Mami maafkan Tika." Air mata menetes, tangan mungil langsung memeluk Al dari belakang.


"Kenapa Tika sudah pulang? sementara waktu mami tidak bisa menemani Tika, dan kemungkinan kita tidak bisa bertemu lagi." Al langsung turun dari atas ranjang.


Al masuk kamar mandi, selesai dari kamar mandi Al langsung mengganti bajunya dan bersiap untuk pergi.


"Mami ingin pergi ke mana?"


"Ada urusan, Tika baik-baik sama Aunty Helen."


Air mata menetes membasahi pipi si kecil, tangan kecil menyentuh jari Aliya yang langsung menatapnya.


"Apa sudah waktunya Mami pergi? berapa lama Mi? nanti Tika akan mencari Mami bersama kak Juna. Jangan pergi lama nanti Tika kangen." Pelukan erat Tika di kaki Aliya yang juga merasakan sedih dari ucapan Atika.


"Kenapa Tika tidak mendengarkan Mami? hanya lima menit mami meninggalkan Tika, tapi kenapa kamu pergi?" Aliya menaikan nada bicaranya.


Kepala Tika menggeleng, dia tidak bermaksud meninggalkan Maminya. Tika hanya ingin bertanya kepada Mamanya.


Setulus hati Tika mengatakan maaf, menyentuh kedua telinganya berjanji tidak akan nakal lagi, akan selalu mendengarkan ucapan Maminya.


Apapun yang Maminya katakan akan selalu dituruti, Tika tidak bisa berlama-lama tanpa Aliya di sisinya.


Al langsung berjongkok memeluk putrinya yang sudah menangis sesenggukan, Al tidak tega melihat Atika yang sangat sedih.

__ADS_1


"Mami tidak akan pergi, Atika yang pergi meninggalkan Mami." Al menunjukkan wajah sedihnya.


Kepala Atika menggeleng, dia tidak pernah meninggalkan Maminya, dan akan selalu ada di sisi Maminya.


"Sudah jangan menangis, ini salah Mami yang meninggalkan Tika sendirian." Al mencium seluruh wajah Tika yang sudah cekikikan


tertawa.


Dari balik pintu Altha dan Arjuna tersenyum mendengarkan, lima hari tinggal bersama Mamanya membuat putrinya terus mengamuk ingin pulang.


Dalam satu hari Tika hanya makan satu kali, dia mogok makan dan demam terus mencari Maminya.


Citra dan Roby sampai kewalahan mengurus satu Tika saja, selama dua belas jam dia terus mengamuk dan berteriak membuat orang lain tidak bisa tidur tenang.


Juna juga sampai marah-marah melihat adiknya yang mengacak-acak rumah, menyobek buku sampai menempel di dinding.


Segala cara sudah Citra lakukan agar Tika menurut, menawarkan segala hal tapi tetap ditolak dia hanya ingin bertemu Maminya.


Altha sengaja memblokir nomor Citra juga nomor baru agar Citra tahu rasanya jika Tika mengamuk.


Suara Tika memanggil Helen terdengar, dia ingin makan karena sudah lima hari tidak makan dengan enak.


Aliya melangkah keluar bersama Tika untuk makan bersama, suara ocehan Al dan Tika mulai terdengar membuat rumah mulai gaduh.


"Mami suap Tika ya?"


"Tidak mau, kamu yang suap mami. Lihat tubuh Mami sakit semua, banyak luka karena Tika." Aliya menatap tajam, menyiapkan makan untuk mereka.


"Kenapa karena Tika?"


"Kamu yang mengejar mama dan hampir tertabrak, akhirnya Mami yang terbang." Al menaikan nada bicaranya.


"Mami terbang, kenapa tidak membawa Tika? padahal Atika juga ingin merasakan terbang." Kening berkerut, kesal melihat Maminya yang terbang sendirian.


Aliya langsung mengatur nafasnya, menatap tajam Atika yang cemberut. Jika Tika juga ikutan terbang sudah pasti Aliya langsung terbang ke akhirat.


Altha tersenyum meminta Aliya duduk, berhenti bertengkar disaat makan. Juna juga duduk sambil menatap Maminya yang terlihat sudah pulih.


Anak-anak makan dengan lahap, bukan hanya Tika yang terlihat kelaparan, tetapi Juna juga baru merasakan makan enak di rumah sendiri.


"Hari ini cuti terakhir Papi, kalian ingin pergi ke mana?" Alt menatap tiga orang yang makan bersamanya.

__ADS_1


"Kamu cuti, kenapa Aliya tidak tahu?"


"Kak Al, tuan yang merawat kak Aliya. Bahkan Dokter berkali-kali datang. Enak ya punya suami, rasanya Elen juga ingin menikah muda." Senyuman Elen terlihat, Altha juga sampai menghentikan makannya.


Pukulan Aliya dan Atika kuat di meja, mereka menatap tajam Elen yang berniat menikah.


"Aunty tidak boleh menikah, nanti Tika tidak ada teman."


"Gila kamu Len, apa enaknya menikah? tidak ada acara menikah muda, awas saja aku hancurkan pesta kamu." Al menatap tajam langsung minum, karena kesal.


"Tidak pesta kak, hanya ijab kabul." Elen langsung berlari sebelum Aliya menyiramnya dengan air minum.


Altha menghela nafasnya, menatap Aliya yang sepertinya sangat membenci pernikahan.


"Kamu kenapa menikah muda?"


"Aliya sudah tua, sudah pantas menikah."


Altha tersenyum tipis, Aliya berbohong dan sangat Alt kenali ekspresinya.


"Kenapa Mami dan Papi menikah?" Tika menatap kedua orangtuanya dengan tatapan penasaran.


Senyuman Altha terlihat menatap Juna dan Tika yang terdiam. Alt mempertanyakan tanggapan kedua anaknya jika memiliki adik lagi.


Aliya langsung berdiri sampai menjatuhkan kursinya, menatap Altha tajam soal adik untuk Atika.


"Tika punya adik lagi? banyak ya adik Tika." Tangan Tika langsung mengaruk kepalanya, dia binggung harus berapa banyak lagi dia mengalah kepada adiknya.


"Mami hamil Pi?" Juna menatap Aliya sambil mengerutkan keningnya.


"Mami dan papi menikah karena ingin memiliki anak, kalian tidak keberatan memiliki adik lagi?" Alt sekuat tenaga menahan tawanya.


"Em, Tika tidak masalah, tapi cewek saja."


"Juna tidak mau cewek, sudah punya dua adik perempuan tidak mungkin menambah lagi, semakin berisik rumah ini." Juna dan Tika berdebat soal cewek dan cowok.


"Sudah jangan bertengkar, nanti ada cowok dan cewek." Alt menatap Aliya yang masih menjadi patung.


"Aliya tidak mau hamil, tujuan Aliya menikah bukan untuk memiliki anak. Al tidak mau, dan sampai kapanpun tidak mau." Aliya menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? berikan aku alasan." Altha menatap serius.

__ADS_1


***


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2