ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KELUARGA PANTI


__ADS_3

Kepala Tama geleng-geleng melihat dua wanita masih punya waktu untuk bertengkar, keduanya bukan berpikir untuk mencari jalan keluar, tapi main pukul-pukulan.


"Kenapa kalian berdua bisa ada di sini?" Genta berdiri ingin melangkah mendekat.


"Stop!" Tika dan Shin berteriak bersamaan menahan Genta agar tidak mendekati.


"Kenapa bisa ada Om tua di sini? kamu melihatnya sebagai apa Shin?"


"Kak Genta, apa mata kita sedang di sihir?" Shin memukul pelan wajahnya.


"Maju ke depan nanti di makan buaya, terus tengelam, melangkah ke belakang ada hantu." Tika mengacak-acak rambutnya, merasa kesal dengan penglihatan.


"Tik, kamu melompat ke air lebih dulu, jika tidak ada buaya aku ikut. Jika ada, aku akan menolong kamu." Shin tersenyum ingin mendorong Tika yang sudah teriak-teriak bergelantungan di kaki Shin.


Genta menarik tangan keduanya, menjauhi dari air untuk kembali ke tim yang sudah menunggu.


"Kenapa hantunya bisa menyentuh?"


"Tidak lucu Shin, Kak Genta belum menjadi hantu." Tawa Genta terdengar menarik tangan dua wanita.


"Ini Ayang Gen?"


"Iya Atika, sudah menggilanya,"


"Ayang ... lihat tangan Tika." Kedua tangan Tika terangkat, menunjukkan kepada Genta telapak tangannya terluka sayatan pisau.


"Ya Allah, telapak tangan kamu. Mana obat?" Genta mengambil air membersihkan tangan Tika, meniupnya menutupinya dengan kain agar tidak kotor.


Shin duduk di kayu, melihat Tika yang meringis kesakitan saat diobati. Padahal Shin tahu niat busuk Tika, luka yang menggores tangannya tidak sebanding dengan luka biasanya saat bertarung.


Hanya mencari perhatian, mungkin ditusuk bahkan ditembak juga Atika masih bisa berlari, hanya goresan ditangan sama sekali tidak dirasakan.


"Kak Gen, kaki Shin sakit. Boleh gendong." Shin memijit kakinya yang banyak goresan kayu.


"Sebentar ya Dek,"


"Genta ... pacar satu saja jangan dua." Kepala bawahan Genta geleng-geleng memperingati jika mendua bisa merusak karirnya.


"Jaga mulut, dia adik saya dan ini pacar saya." Genta membantu Tika berdiri setelah mengobati tangannya.


"Wow, Putrinya Pak Altha kamu pacari. Berapa nyawa kamu Gen?"

__ADS_1


"Naik dipunggung Kak Gen,"


Senyuman Shin terlihat, menjulurkan lidahnya mengejek Tika yang menatap sinis. Tika juga ingin digendong, tapi tidak mungkin menjatuhkan Shin.


Suara pukulan kuat menghantam punggung Shin, Genta melihat ke arah Tika yang memukul nyamuk, namun sekuat tenaganya.


"Di sini banyak nyamuk Ayang, dan tidak tahu diri." Tika juga menjulurkan lidahnya, berjalan sambil menggenggam tangan Genta.


Semua penjahat tertangkap, Genta meminta tim lain untuk menyelidiki kepolisian daerah yang mengabaikan laporan yang disampaikan oleh beberapa orang yang gagal mengirimkan bantuan ke panti asuhan.


"Kenapa kalian berdua bisa ada di sini?"


"Kita menemani Kak Ana ke panti, dan dihentikan oleh penjahat." Shin menghabiskan minuman duduk di dalam mobil Kakaknya.


"Jika tahu Ayang di sini, Tika tidak menyesal ikutan." Senyuman genit Tika terlihat.


"Aku sedang bekerja Tika,"


"Siapa yang memberi perintah? pasti Gemal sedangkan dia sibuk duduk di kantor. Nanti Tika laporkan kepada Papi biar dipecat." Ucapan Tika membuat polisi yang lain menundukkan kepalanya cemas.


Genta mengusap kepala Tika, seharusnya memberikan penghargaan kepada Gemal yang sudah mengirimkan tim hingga bisa menghentikan kejahatan.


Tika dan Shin ikut Genta ke panti asuhan, merasa cemas juga kepada Ana yang pastinya sangat khawatir.


Sesampainya di panti, dari kejauhan Shin bisa melihat Ana yang tertunduk sedih. Melihat anak-anak makan dengan lahap, dan masih memikirkan Tika dan Shin.


"Kak Ana,"


"Shin, Tika. Alhamdulillah kalian baik-baik saja?"


"Iya Kak, bagaimana soal makanannya?" Shin tersenyum melihat bajunya yang sudah berganti menggunakan baju Kakaknya begitupun dengan Tika.


"Enak, Kakak membawa makanan lagi?"


"Maaf, lain kali kita datang membawa satu truk makanan." Tika berjanji kepada anak-anak dia akan kembali membawa makanan juga mainan.


Wajah Tika menghadap ke arah lain, mengusap air matanya melihat anak-anak yang bahagia. Mereka sudah lama tidak makan enak, hanya makan seadanya dari kebun yang mereka olah sendiri.


Senyuman Shin juga terlihat, semua makanan yang dia masak habis. Beberapa anak juga menambah karena memang ada lebih.


Langkah Tika menjauh, mengambil ponselnya di mobil Ana. Tika menghubungi Maminya dan meminta bantuan untuk anak-anak panti.

__ADS_1


"Kenapa menangis? kamu belum mengetahui apapun soal panti ini." Genta mengusap air mata Tika yang menetes.


"Mereka tidak punya orang tua, dan makanan juga dibatasi. Tika mengingat saat kecil, kehilangan sosok Mama membuat Tika takut jika ditinggalkan di panti. Melihat panti, menjadi tempat yang menyedihkan bagi Tika." Air mata Tika mengalir di pipinya.


Senyuman Genta terlihat, mungkin Tika benar. Tanpa orang tua menyedihkan, namun berada di panti anak-anak akan lebih baik, daripada hidup di jalanan. Tidak ada yang tahu rezeki mereka, jika suatu hari bisa menjadi orang yang bernama.


Mata Genta berkeliling, melihat lokasi panti yang memang sangat luas, ada banyak perkebunan sayuran, buah-buahan bahkan mereka menanam umbi-umbian.


"Permisi Nak, apa kamu seorang polisi?"


"Benar Bu, saya yang akan menyelidiki kasus panti. Melepaskan panti dengan kekayaan yang melimpah memang keputusan berat, apalagi dengan harga yang tidak sesuai." Genta menarik napas panjang, melihat luasnya tanah.


"Berapapun di bayar, saya tidak akan meninggalkan tempat ini. Di sini suami saya dimakamkan, dan tanah ini sebagai wasiat untuk anak-anak." Ibu panti meneteskan air matanya.


Ibu panti berjalan diikuti oleh Genta, beberapa makam ada di bawah pohon rindang. Terawat dengan baik.


"Ini makam suami, juga kedua anak kami. Di sini keluarga ibu, bagaimana bisa pergi dari sini?"


"Saya mengerti, siapa orang yang ingin membeli tanah panti? apa tujuan mereka?"


Ibu panti meminta Genta ikut ke dalam panti, menunjukkan beberapa surat peringatan. Ibu panti tidak tahu pasti siapa pelakunya, dan hanya mencoba terus bertahan.


Sudah tiga bulan, tidak ada satu orangpun yang datang ke panti dan yang berada di dalam panti tidak ada yang bisa keluar. Seluruh jalan ditutup, dan jika ada yang ingin memberikan donasi pasti mengalami musibah gagal datang.


"Baiklah, saya akan menyelidiki lebih lanjut." Genta mengambil surat peringatan untuk barang bukti.


Di luar Genta menatap Ana yang terlihat masih terkejut, dia tidak terbiasa dengan kekerasan.


"Kenapa Kak Ana datang ke sini? padahal tahu jika jalan ditutup, dan Ibu panti sudah memperingatkan kemungkinan bahaya." Tatapan mata Genta dingin.


Ana menundukkan kepalanya meminta maaf, kedatangan Hana karena dia memiliki seorang teman yang berasal dari panti, sekalian berkunjung juga berbagi.


Sungguh Ana tidak menyangka jika akan berakhir menakutkan. Bekali-kali Ana meminta maaf atas kelalaian dirinya.


"Maafkan Kak Ana Genta, kalian terluka karena aku,"


"Jangan khawatirkan Shin dan Tika, mereka wanita tangguh. Tenangkan diri, dan jangan menyalahkan diri sendiri."


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2