
Usia kandungan Diana memasuki lima bulan, langkah Diana ragu untuk masuk ke dalam ruangan Salsa.
Ketukan pelan terdengar, Salsa membuka pintu karena dia sudah bersiap untuk pulang. Mengambil cuti melahirkan.
"Diana, ayo masuk."
"Ini hari terakhir kamu kerja, jangan lupa memberikan kabar saat melahirkan baby boy." Di tersenyum mengusap perut Salsa yang sudah besar.
"Ada keluhan Di?" Salsa mempersilahkan duduk, dan bisa melihat mimik wajah Diana yang memaksa senyuman.
Awalnya Diana hanya menggelengkan kepalanya, tujuannya datang hanya ingin menyapa.
Selama bekerja Diana merasa lebih santai, dan tidak memiliki beban pikiran. Kondisi Diana juga sangat baik.
"Bagus jika begitu, awalnya aku sempat khawatir. Tetapi apa yang kamu lakukan sudah menjadi pilihan terbaik." Salsa menghidupkan kembali komputernya, meminta Diana mendekat dan melihat layarnya.
Suasana mendadak hening, Diana langsung memeluk Salsa yang sedang hamil, tetapi masih terus memikirkan dirinya.
Selama berbulan-bulan Salsa meneliti kasus kehamilan Diana yang terbilang tidak biasa, dan beresiko. Bahkan Salsa sengaja meminta Di memeriksa ke rumah sakit yang berbeda juga dokter yang berbeda.
Segala argumen Salsa kumpulkan menjadi satu, bahkan menghubungi banyak dokter spesialis kandungan baik dalam maupun luar negeri.
Melihat dari fisik Diana yang kuat, hanya saja pertumbuhan ibu dan janin yang dikhawatirkan apalagi dengan kehamilan kembar.
"Bertahanlah sekitar dua bulan lagi, terus memiliki perasaan yang bahagia. Kita berjuang bersama untuk mempertahankan baby twins." Salsa menjelaskan secara detail penelitian yang ditemukan, dan solusi terbaik.
"Terima kasih kak Salsa, Diana tidak tahu cara membalas kebaikan kak Salsa yang sangat mensupport Diana." Di tersenyum meksipun air matanya menetes.
"Ini tugas sebagai dokter, seluruh keluarga terlibat mensupport kamu. Sehat terus baby twins." Tangan Salsa menyentuh perut Diana, lalu menyentuh perutnya.
Salsa meminta Diana melakukan USG, dan Salsa tidak akan mengatakan apapun. Dia hanya ingin tahu kondisi janin selama satu bulan.
Awalnya Diana merasa ragu, dirinya belum siap dengan kondisi anaknya. Melihat Salsa memohon akhirnya Diana mengalah.
Senyuman Salsa terlihat menatap perut buncit Diana, meletakan gel dan menatap layar. Diana sengaja tidak melihat, dan hanya membiarkan Salsa yang mengetahui kondisi janin.
Salsa mengucek matanya, mulutnya menganga cukup terkejut dengan hasil pemeriksaan kehamilan Diana yang kelima bulan. Sekarang Salsa mengerti kenapa ukuran janin tidak sesuai.
"Kenapa lama sekali Salsa?"
"Maaf, aku terlalu bahagia melihat mereka, dan rasanya ingin segera berjumpa." Tawa Salsa terdengar, mengusap pelan perut Diana.
__ADS_1
Diana langsung duduk di kursi, melihat Salsa yang memalingkan tubuhnya sambil mengusap mata. Diana tahu jika Salsa sedang menangis.
"Di, apa mereka bergerak?"
Diana menganggukkan kepalanya, sesekali Diana terbangun saat tidur jika ada pergerakan.
Kepala Salsa mengangguk, meminta Diana jangan sampai kelelahan. Biasanya bayi diakhir bulan kelima akan semakin aktif bergerak, dan ibu mungkin akan hafal pergerakan mereka, baik jam bangun dan jam tidur.
Suara Diana tertawa terdengar, Salsa membicarakan jam tidur janin. Di merasa lucu mendengar janin juga bisa tidur dan bangun.
Salsa menjelaskan gerakan janin pada usia ini tak hanya berupa tendangan. Pada perkembangan janin lima bulan, kadang janin berputar, bergeser, sekadar bergoyang, kadang meninju dengan kepalan tangannya yang mungil, dan bahkan saat bayi cegukan, Ibu bisa merasakan semuanya. Ibu pun akan merasakan, janinnya tumbuh dengan penuh energi.
"Apa Diana bisa merasakannya?"
"Bisa, kamu bisa juga merasakannya. Setiap Ibu akan melewati moments ini. Kita bertemu setelah aku lahiran, dan kita pastikan jika mereka tumbuh dengan baik dan kamu bisa melahirkan di usia sembilan bulan." Pelukan Salsa lembut.
Tawa Diana kembali terdengar, dirinya dan Salsa tidak bisa berpelukan dekat karena ada perut besar yang menghalangi.
Bertemunya dua perut membuat Salsa juga tertawa, langsung merangkul Diana untuk keluar.
"Apa aku bisa melahirkan seperti kamu?"
"Bisa Diana, aku sudah menjelaskan penelitian tadi. Kita tidak akan pernah mengugurkan mereka." Tatapan Salsa serius, menyakinkan Diana jika dirinya positif thinking.
Tangan Salsa menarik Diana untuk tetap berjalan, Di menghentikan langkah Salsa.
"Apa yang akan terjadi kepada janin?"
"Janin memiliki penyakit bawaan seperti jantung, terpaksa harus digugurkan demi keselamatan ibu, karena meksipun lahir bayi tidak mungkin bertahan."
Diana menganggukkan kepalanya, melihat Dika yang sudah menunggu Salsa. Melihat Kakaknya, Di langsung berjalan cepat mengejutkan Dika.
Senyuman Dika terlihat, menepuk pelan kepala Diana. Mencium kening istrinya sambil mengusap perut.
"Kak Dika sekarang banyak diam, tidak jahil lagi?"
"Aku sudah tua Diana, memangnya kamu yang tidak ingat umur." Dika meniup Diana agar sadar umur.
Pertengkaran Diana dan Dika terdengar, Salsa hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya. Dua manusia yang tidak pernah bisa akur.
"Masuk mobil, kak Dika antar pulang."
__ADS_1
"Diana mengunakan supir."
Tangan Diana melambai melihat mobil Dika melaju pergi, seseorang menepuk pundak Diana dari belakang.
"Shin." Di tersenyum melihat si cantik yang semakin cantik.
Shin memotong rambutnya sampai pundak, tubuhnya yang tinggi langsing semakin terlihat tinggi dengan penampilan barunya.
"Kenapa kak Diana di sini?"
"Kak Di dokter, wajar di sini. Kenapa kamu di sini?" Diana menggelengkan kepalanya, melihat kaki Shin sudah dibalut.
Ponsel Shin berbunyi, wajahnya langsung terlihat marah. Taksi yang di pesan juga sudah tiba, Shin langsung buru-buru masuk mobil, Diana juga cepat ikut masuk.
"Kak Diana kenapa ikut masuk?"
"Kak Di ingin menagih hutang."
Shin memonyongkan bibirnya, meminta taksi jalan ke tempat tujuannya terlebih dahulu, baru membayar hutang kepada Diana.
Sesampainya di tempat tujuan, Shin langsung keluar. Diana hanya diam di dalam taksi, melihat Shin yang berdiri di tengah jalan sepi.
Tubuhnya yang tinggi, putih, menggunakan rok di atas lutut, memperlihatkan kecantikan gadis remaja yang bisa membuat jatuh cinta.
Satu mobil taksi juga tiba, Diana langsung kaget melihat Atika keluar dari mobil. Meksipun keduanya sudah pisah sekolah, tapi masih tetap bertemu.
"Apa anak berdua ini ingin bertengkar lagi?" Di mengaruk kepalanya.
Atika meminta taksi pergi, berjalan mendekati Shin. Tika melihat kaki Shin yang masih dibalut.
"Kenapa kaki kamu?"
"Apa gunanya balutan putih ini? apa untuk mempercantik kaki?" Shin menggelengkan kepalanya.
Beberapa pria keluar, anak-anak sekolah tingkat atas tertawa melihat Atika dan Shin yang benar-benar datang. Tika dan Shin langsung melangkah maju.
"Mereka tawuran, laki-laki sebanyak itu, melawan dua wanita?" Di menepuk jidatnya.
"Nona, silahkan keluar. Saya tidak ingin terlibat." Supir taksi meminta Diana keluar.
Di langsung keluar, menyingkir ke pinggir jalan. Menghitung jumlah pria yang mengelilingi Shin dan Tika.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira