ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SAKITNYA AKU


__ADS_3

Langkah kaki Al tidak berarah, seseorang menghadang jalanan. Al hanya bisa tersenyum saat melihat kakaknya tertawa sangat bahagia.


Alin meminta Al mengikutinya ke bangunan tua yang tidak jauh dari rumah sakit, ada hal yang ingin Alina bicarakan.


Tanpa jawaban, Aliya hanya melangkah mengikuti. Menatap Alin yang tidak berhenti tertawa, dia sangat puas melihat semuanya hancur.


"Kak, Mora meninggal. Dia baru satu tahun melihat dunia ini." Al mengusap air matanya, duduk memeluk lututnya penuh kesedihan.


Melihat wajah Mora sungguh menyakitkan bagi Al, dia baru saja bisa merasakan pelukan ayah kandungnya. Baru saja belajar berjalan, dan mulai ingin belajar bicara juga terus tertawa.


Secara tiba-tiba, Alin merenggut semuanya. Takdir tidak mengizinkannya melihat dunia lebih lama lagi, sehingga kematian menjadi pilihannya.


Alina mengerutkan keningnya, duduk di atas tumpukan kayu yang tidak digunakan lagi. Merasa aneh melihat kesedihan adiknya yang terlihat sangat bodoh.


"Kamu menangisi apa bodoh? bukannya menyenangkan melihat satu-persatu banyak orang yang mati?" Alin tertawa lucu, dia puas sekali setelah belasan tahun akhirnya bisa bernafas lega.


"Kak, selama lima belas tahun setelah kepergian Mama Papa Al merasakan ketakutan." Al menatap ke arah luar.


Selama belasan tahun Al berjalan dalam kegelapan, melihat kematian puluhan orang di depan matanya Al langsung melarikan diri. Tidak sedikitpun dia melupakan apa yang terjadi, saat senjata menembus kepala Mamanya dan menebus jantung Papanya.


Sebuah mobil menabrak Al membuatnya terpental, bayangan kematian mama Papanya terlihat di depan matanya.


Saat di rumah sakit Al tidak bisa berbicara, mulutnya pahit dan rasanya lidahnya tidak berfungsi, bibirnya gemetaran.


Al berpikir dia akan hidup bahagia, melupakan apa yang terjadi juga mencoba hidup menjadi orang normal.


Seiring berjalannya waktu, tubuh Al terus dipukul secara berkali-kali meninggalkan banyak bekas luka.


"Kak, mereka memukul Aliya setiap hari, tidak membiarkan Al sedikitpun waktu untuk sembuh. Meksipun luka sudah menghilang, Al masih merasakan sakitnya kak." Al menangis di depan Alina, mengeratkan pelukan pada tubuhnya.


"Seharusnya kamu membunuh mereka." Alin menggelengkan kepalanya melihat Aliya yang bodoh.


Mama mereka mengambil kehidupan saudaranya, menjadikan gila dan menderita. Bukan hanya menghacurkan saudaranya, tapi kedua putrinya.


Mungkin Alin berpikir, Aliya hidup bebas dan penuh kebahagian dan hanya dirinya yang menderita.

__ADS_1


Sebenarnya Aliya yang menderita, menanggung semua beban hidup Alin. Saat keluar dari rumah Aliya pindah ke tangan penjahat yang lain, sedangkan Alina dia bisa sekolah tinggi dan memiliki banyak kekayaan di luar negeri.


Meksipun Alina menjalankan kejahatan untuk menimbun kekayaan, dia memiliki kekuasaan dan dihormati banyak orang.


keberadaan Alina dihargai, meskipun dalam dunia kejahatan.


"Kak Alin menjadi jahat itu pilihan yang dilakukan secara sadar, sedangkan Aliya. Aku merasa diriku pembunuh kak, aku membiarkan mereka memukul, merendahkan, bahkan menghancurkan aku, karena seorang psikopat seperti Al pantas mendapatkannya." Al menatap tajam Alin, bibirnya sampai gemetaran jika dugaan benar soal Alin.


Alina membenarkan ucapan Aliya, jika keberadaannya di luar negeri sangat dihormati, seluruh penjahat takluk kepadanya.


"Kak Alin melupakan jika sebenarnya kak Alin yang membunuh keluarga kita, tapi Al yang menanggung sakitnya." Al menatap seorang pria yang mengintip pembicara keduanya.


Tidak cukup puas Alin menghacurkan hidup Al kecil, bahkan sekarang dia juga menghancurkan kebahagiaan yang baru Al jalani.


Hidup bersama Altha juga anak-anak membuat Al merasa menjadi manusia kembali, dia bisa tertawa, menangis bersama, bermanja-manja, makan bersama, berjoget dan jalan-jalan.


Kebersamaan dan kebahagiaan yang tidak bisa Aliya utarakan dengan kata-kata, jujur Aliya sangat bahagia dan untuk pertama kalinya dia jatuh cinta.


"Kak,"


Apa yang terjadi sudah menjadi akhir kehidupan mereka, Alina tidak bisa memaafkan keluarga Citra.


Asal Aliya tahu jika ibu Citra juga berhubungan dengan Ayah mereka, bahkan sejak awal kelahiran mereka perselingkuhan sudah terjadi.


Semua orang yang Alina bunuh sudah sepantasnya mati, ayah yang pengkhianatan, ibu yang jahat sudah menyakiti anak dan saudarinya.


Alina juga memiliki alasan membunuh seluruh orang, jika mereka semua manusia seharusnya tidak menonton saja.


Hal buruk harus dihentikan, tapi tidak ada satupun yang mengeluarkan suara. Mereka bukan manusia, sehingga Alina membunuh mereka semua.


Seandainya juga Aliya tahu, jika anak-anak yang ada di paviliun selalu menganggu, mengatainya anak gila sehingga bagi Alina mereka semua pantas mati.


Tujuan Alina kembali hanya untuk menemui tantenya, tapi sayang dia juga harus Alina singkirkan. Dia membunuh seorang wanita, dan orang-orang yang bertemu dengannya


Di mata Alina sudah waktunya dia mati, dan orang terakhir yang ingin Alina singkirkan Citra, dia keturunan terakhir.

__ADS_1


"Kenapa kakak membunuh Mora dan pak Roby? mereka tidak bersalah."


Alin tersenyum, dia tidak bermaksud sepenuhnya membunuh Mora, dia hanya ingin memancing Citra keluar melihat kebenaran soal ibunya, tapi Roby mengacaukan.


"Ada banyak hal yang tidak pernah kita duga di dunia ini Aliya, sebelum orang membunuh maka aku yang akan membunuh mereka." Alin yang biasa balapan tidak bisa mengelak jika rem mobil blong.


Ada seseorang yang ingin membunuh Alina, maka kecelakaan itu terjadi. Kematian Mora dan Roby di luar rencana Alina.


"Bohong, aku mendengar semua pembicaraan kalian." Al menghapus air matanya.


"Aku tidak minta kamu percaya, lupakan saja soal kematian mereka. Jika kamu takut kepada Altha, aku akan membereskannya." Alin menarik Aliya untuk berdiri.


Aliya menepis tangan Alina, dia yang membuat Aliya dalam masalah dan membuat Altha pasti membenci dirinya.


"Ais, kamu lemah sekali Aliya. Ikut dengan aku, kita pergi jauh dari negara ini, aku akan mengajari kamu untuk menjadi wanita kuat." Alina berteriak, menatap penuh amarah, jika Aliya terus menangis maka jangan salahkan dirinya untuk menyingkirkan Al.


Seseorang muncul, Alina cukup terkejut melihat seorang pria yang dia kenali. Lelaki yang melarikan diri saat hari pembantaian.


Ayah Citra tidak terima Alina membunuh Istri, menantu, cucu, dan membuat putrinya lumpuh. Sebuah benda tajam dikeluarkan.


Alina tertawa langsung melangkah maju, meminta lelaki dihadapannya untuk maju dan menusuk dirinya.


Alin ingin melihat keberanian lelaki lemah, dan tidak berguna seperti Ayahnya Citra.


"Kamu ingin membalas dendam, lakukanlah. Ingin menusuk di mana?" Alin menunjuk dada, perut, seluruh bagian perut yang mematikan.


Seseorang melemparkan kabut putih, Alin mengumpat kasar kepada seseorang yang berani hanya bermain sembunyi.


Suara teriakan terdengar, Alin melihat sebuah tubuh tumbang ke arahnya, langsung memeluk dari belakang.


"Aliya, bodoh." Alin terjatuh bersama Aliya yang sudah bersimbah darah dari perutnya, tidak ada satu orangpun yang terlihat, bahkan ayah Citra juga menghilang.


Aliya tersenyum melihat wajah Alina, suara Aliya terputus-putus berbicara membuat Alina berteriak marah.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazara


__ADS_2