ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
PAPA CEREWET


__ADS_3

Kondisi Gemal sangat cepat pulih, dia sudah mulai bekerja kembali dan mengawasi soal pengejaran Salman.


"Apa yang kamu lakukan di rumah sakit? luka lagi?" Diana keluar dengan wajah berantakan tanpa make up.


Sudah tiga hari Diana perang di ruangan operasi, dan waktunya dirinya pulang untuk beristirahat dan menenangkan pikiran.


"Kenapa kamu berantakan? berapa hari tidak mandi?" Gemal mengerutkan keningnya.


Diana menatap sinis, langsung naik ke atas motor memegang pundak Gemal yang hanya tersenyum melihatnya.


Rambut Diana juga berantakan, disanggul tinggi tapi tetap terlihat cantik.


"Kamu sudah pulang ke rumah Calvin?" Di meletakkan kepalanya di pundak.


Gemal menggelengkan kepalanya, pulang ke rumah saja belum karena sibuk bekerja. Semakin hari semakin banyak kasus yang tidak berkesudahan.


Motor berhenti di lampu merah, Gemal dan Diana masih asik bercerita banyak hal karena sudah tiga hari tidak bertemu.


"Dasar jomblo, baru tahu sama cowok tampan, tidak ingat tempat lagi. Di jalan saja main peluk-peluk. Ria laporkan sama Daddy." Jendela mobil terbuka, Ria mengeluarkan kepalanya memukul Diana.


Gamal menahan tawa melihat Ria yang memarahi Diana, mengoceh dan memukul Di.


"Kak Di nakal." Ria langsung keluar mobil, memaksa Gemal untuk menaikkannya di atas motor.


Supir pribadi Altha sudah berusaha melarang, Diana meminta membiarkan karena tidak ada yang bisa menghentikan kenakalan Ria.


Gemal menjalankan motornya, Diana tersenyum melihat Ria yang sangat senang bisa naik motor dan terkena angin.


"Ria nanti jika punya pacar harus menggunakan motor, jadinya bisa dipeluk."


"Dasar bocah genit, kamu sudah menjadi orang ketiga diantara kami?" Senyuman Gemal terlihat mengusap kepala Ria.


Diana juga tersenyum, rasanya sangat indah bisa bermotor sambil tertawa. Sesekali bercanda dan saling mengejek.


"Jangan melamun, nanti kamu jatuh." Gemal menarik tangan Diana untuk memeluk pinggangnya.


"Aku hanya lelah, lebih lelah karena ada Ria di sini." Diana mengeratkan pelukannya, meletakan kepalanya di pundak Gemal.


Sesampainya di rumah Aliya sudah berdiri di depan pagar, supirnya sudah menghubungi jika Ria berulah kembali.


Gemal tersenyum menghentikan motornya, Ria sudah tidur dalam pelukan tangan Gemal. Aliya langsung mengambilnya dan meminta maaf kepada Gemal.


"Kenapa kalian berdua pulang bersama?"


"Memangnya tidak boleh?" Di menatap sinis Aliya.


Al langsung melangkah masuk, kesal melihat Diana yang selalu berdebat dan bicaranya tidak pernah baik.

__ADS_1


"Aku masuk dulu, kamu hati-hati di jalan. Terima kasih tumpangannya." Di tersenyum melambaikan tangannya kepada Gemal yang tersenyum.


Anggun yang ada di rumah bisa melihat Diana dan Gemal dari lantai atas, keduanya terlihat semakin dekat dan pertama kalinya Diana mengizinkan seorang pria mengetahui kediamannya bahkan mengizinkan mengantar pulang.


"Bahagia sekali kelihatannya?" Anggun menuruni tangga, tersenyum melihat putrinya yang merentangkan tangan.


Diana memeluk erat Mommynya, mencium Anggun bekali-kali karena perasaannya sedang bahagia.


"Di, kamu terlihat sekali menyukai Gemal." Anggun menatap putrinya yang terdiam.


"Diana tidak tahu, tapi bersama Gemal rasanya nyambung dan nyaman." Di langsung masuk kamar untuk mandi dan tidur.


Anggun merapikan kamar Di, menunggunya selesai mandi. Anggun meminta Diana duduk, karena ada beberapa hal yang ingin Anggun bicarakan.


"Mommy ingin bicara soal apa? Diana tidak akan menjawab jika soal Gemal." Di tersenyum sudah bisa menebak pikiran Mommynya.


"Sayang, Mommy hanya ingin tahu perkembangan hubungan kalian."


"Kita tidak ada hubungan apapun Mom, percaya sama Di."


Anggun menghela nafasnya, mengaku kalah meminta Diana mengakui perasaannya. Anggun hanya berharap Diana lebih terbuka soal perasaannya sebelum terlambat.


***


Motor Gemal tiba di Mansion, penjaga langsung menunduk kepalanya saat melihat Gemal tiba.


"Silahkan tuan muda."


Gemal tersenyum lucu, dirinya tidak nyaman dengan panggilan tuan muda. Meminta semua orang memanggilnya Gemal.


Pintu terbuka, Jessi langsung berlari memeluk Gemal yang akhirnya pulang. Kebahagiaan terbesar seorang ibu bisa melihat anaknya pulang.


"Kenapa tidak mengabari Mama? nanti Mama buatkan makanan kesukaan kamu."


"Memangnya Mama tahu?"


Senyuman Jessi terlihat, Diana sudah menceritakan semua makanan kesukaan Gemal dan semua yang Gemal sukai sama dengan Papanya.


"Aku tidak pernah mengatakan apapun soal makanan kepada Di, kecuali ibu." Gemal tersenyum, dirinya merasakan rindu kepada wanita yang pernah membesarkannya.


"Kamu rindu ibu?" Tatapan Mam Jes sangat lembut.


"Sesekali, Gemal sudah lama tidak berkunjung."


"Baiklah, nanti kita berkunjung bersama-sama. Mama juga ingin menyapa." Jessi meminta Gemal menyapa kakek dan neneknya yang sedang menonton, dan tidak mengetahui kedatangan Gemal.


Kepala Gemal mengangguk, langsung berjalan ke ruang tamu yang sangat luas sampai membuatnya binggung.

__ADS_1


"Selamat siang, Kakek Nenek." Gemal tersenyum langsung mencium tangan.


"Gemal, cucu kesayangan nenek pulang."


Senyuman kakek Gemal terlihat, memintanya untuk duduk dan melihat sesuatu. Gemal menatap daftar keluarga dari generasi pertama.


Kakek Ken meminta Gemal menyempatkan waktu untuk berkunjung ke negara mereka, karena di sanalah makam keluarga besar.


"Apa nenek berasal dari negara ini?"


"Iya, makanya seluruh keturunan harus bisa menggunakan banyak bahasa."


Gemal langsung kaget, keluarga Leondra berawal dari dua orang yang berbeda negara, mereka sangat suka bertualang bahkan berpidah-pindah negara dan memahami banyak bahasa.


"Nenek menguasai berapa bahasa?"


"Itu berlaku untuk kalian laki-laki Gemal, minimal sepuluh bahasa, tapi nenek menguasai 10 bahasa dan hanya bisa paham dua bahasa."


Gemal mengaruk kepalanya, menatap kakeknya yang cengengesan. Gemal yakin kakeknya pasti mengetahui banyak bahasa.


"Dulu Kakek menguasai banyak bahasa internasional terutama Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, Mandarin, dan Arab."


"Sekarang Kek?" Gemal menatap sinis.


"Faktor umur Gem, hanya tahu bahasa Inggris. Tanya Papa kamu dia sangat pintar, jangan katakan kepada Papa kamu jika kakek sudah tidak belajar lagi." Suara tawa kakek Gemal besar sama seperti Gemal yang sangat merasa kakeknya pelawak.


Jessi langsung berlari, meminta mertuanya dan Gemal mengecilnya suaranya. Calvin tidak menyukai suara berisik apalagi tawa lepas, bagi Calvin tidak sopan.


"Di mana Calvin berada Ma?"


Jessi, kakek dan nenek kaget, Gemal memanggil Papanya dengan nama. Gemal belum tahu betapa kasarnya ucapan Calvin.


"Sayang panggil Papa, kamu temui Papa di ruangannya." Jessi menunjukkan arah.


Gemal langsung melangkah, mengetuk pintu perlahan langsung membukanya dan masuk. Calvin sedang sibuk tidak menghiraukan keberadaan Gemal.


"Calvin, aku ingin bicara." Gemal ingin duduk, tapi melihat tatapan Calvin langsung mengurungkan niatnya.


"Mandi, aku tidak suka bicara dengan orang bau keringat."


Gemal mencium tubuhnya, tidak ada bau badan sama sekali. Gemal bahkan tidak berkeringat.


"Keluar, kamu dari luar rumah harus mandi. Kuman apa yang kamu bawa dari luar. Mandi terlebih dahulu, baru kita bicara." Nada bicara Calvin sangat dingin.


"Dasar cerewet, banyak aturan. Tidak sadar diri jika dia juga bau." Gemal langsung melangkah keluar, kesal melihat Papanya yang sangat cerewet.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2