
Kelelahan bermain anak-anak langsung berlari pulang ke rumah, karena sorenya Gemal akan membawa mereka semua menonton bioskop.
Tika melangkah masuk sambil merangkul Shin, Aliya sudah berdiri di depan pintu menatap tajam Shin.
"Hai Tante, Tika aku pulang saja." Shin langsung pamitan kepada Al.
"Masuk dulu untuk makan, minum dan membersihkan bau keringat." Al langsung melangkah masuk.
Senyuman Tika terlihat langsung menarik Shin untuk masuk, Diana juga ke rumah Aliya untuk mengambil es krim.
Al bercerita banyak hal kepada Di soal persiapan lahiran, apalagi Diana yang terlalu sering beraktivitas.
"Mami, di mana makanan Tika?"
Al meminta Tika duduk, langsung menyiapkan makanan untuk kedua Putrinya juga Shin yang tersenyum melihat makanan di atas meja.
"Mami Tika sebenarnya baik, meksipun cerewet." Suara Tika bisik-bisik terdengar oleh Diana dan Al.
Kepala Shin tertunduk, ragu untuk mengambil makanan karena Tika dan Ria juga belum mengambil.
"Langsung makan saja, jangan lupa berdoa dulu." Al masih bernada sinis.
Diana menarik baju Al, memintanya lebih lembut kepada Shin. Al pasti akan menyukainya jika sudah mengenal Shin.
"Shin tidak punya agama," jawab singkat Shin yang binggung.
Diana dan Aliya sama terkejutnya, Shin tidak memiliki agama sejak kecil karena dirinya tidak tahu agama apa yang dijalani orang tuanya.
"Mama Papa kamu tidak pernah punya acara keagamaan?" Al menepuk jidat.
"Tidak, tapi Shin hafal sholat, pernah juga pergi ke tempat agama lain, Shin menjalankan semua kepercayaan agama, tapi hanya mencoba mencari tahu saja bukan main-main." Tawa Shin terdengar sambil makan.
Al mengaruk kepalanya, tidak paham dengan kehidupan Shin yang masih muda, tetapi dia juga binggung dengan hidupnya.
Altha mencium kening dan kedua pipi Ria, begitupun dengan Tika yang mulutnya penuh makanan. Alt mengusap kepala kedua Putrinya langsung pamit untuk pergi, karena ada urusan.
Aliya langsung mencium tangan suaminya, memeluk dan membiarkan Altha pergi setelah pamitan.
Tatapan Shin menatap punggung Altha yang sangat menyayangi anak-anaknya, Shin tersenyum karena dirinya tidak pernah merasakannya.
__ADS_1
Selesai makan Tika langsung meninggalkan bekas makan, meminta Shin mengikutinya ke kamar, dan meminta Ria tidak ikut-ikutan.
"Kamu tidak mencuci piring Tika?"
"Ada maid yang mencucinya." Tika meminta Shin cepat berdiri dari duduknya.
"Oh ... Shin cuci bekas makan dulu." Piring Shin langsung dibawa ke tempat cuci, langsung meletakkan di tempat piring.
Aliya meminta Shin tidak melakukannya, dan langsung ke kamar bersama Tika. Al menghela nafasnya melihat senyuman anak remaja.
"Kak Di, aku sangat penasaran dengan sosok orang tuanya." Al menatap Diana yang memiliki pikiran yang sama.
Al menunjukkan sesuatu kepada Diana, melihat perkembangan Arjuna yang berhasil menjadi mahasiswa kedokteran. Di sangat mengagumi Juna yang jenius, juga sangat cepat belajar padahal usianya masih muda.
Secara langsung Hendrik yang membimbing Juna, selain belajar materi Juna selalu membantu Hendrik dengan praktek dan mengamati.
Senyuman Diana terlihat, kagum dengan kecepatan tangan Juna. Tidak heran Calvin sesekali kembali hanya untuk menemui Juna.
"Dia akan menjadi dokter termuda, juga terhebat beberapa tahun ke depan." Di tidak punya kata-kata untuk mengekpresikan kekagumannya.
"Al takut kak, Juna belum 17 tahun tetapi sudah terjun ke dunia yang membuat kepala pecah" Al mematikan rekaman video.
Tangan Di menepuk pundak adiknya, Aliya terlalu mengkhawatirkan Juna sehingga membuatnya berpikir negatif.
"Siapa pria ini? aku sering melihatnya berpatroli di kediaman kalian?" Al menunjukkan rekaman CCTV yang sesekali memperlihatkan seorang pemuda tampan.
"Dia Genta, pengawal pribadi Ayang Gem. Dia juga anggota baru kepolisian, tapi sering berada di lapangan." Di mengagumi ketampanan Genta.
Mimik wajah Aliya dan Diana sama terkejutnya, langsung saling pandang dan melihat kembali ke arah wajah Genta.
"Aku rasa wajahnya mirip Shin." Al menunjuk ke arah Genta.
Jantung Diana berdegup kencang, dirinya sangat mengagumi ketampanan Genta, sama halnya dengan mengagumi kecantikan Shin. Dua orang yang berbeda jenis kelamin, tapi mampu membuat Diana terpesona dengan keduanya sejak pandangan pertama.
Tangan Diana mengusap perutnya, anak-anaknya sangat menyukai keduanya yang memiliki wajah tampan dan cantik yang luar biasa.
"Mungkin mereka jodoh sampai wajahnya hampir sama?" Al langsung mematikan laptopnya.
Suara Ria menangis membuyarkan lamunan Diana, melihat kelapa Ria yang sudah benjol karena jatuh saat berlari.
__ADS_1
Al langsung menggendong Putrinya, meniup pelan kepala Ria. Al sudah kewalahan memarahi Ria, diam dan memberikan senyuman pilihan terbaik.
"Kenapa kamu Ria?"
"Kak Tika sama kak Shin punya baju kembar, tapi Ria tidak punya." Tangisan Ria terdengar semakin besar.
"Berhentilah drama Ria, kamu ngambek karena baju lalu berlari dan jatuh akhirnya kepala benjol. Mami sudah katakan, berhenti membuat heboh." Al gemes melihat Putrinya, ingin rasanya memasukkan ke dalam perut.
Suara Mam Jes datang terdengar, menunjukkan baju untuk Ria yang sama dengan Shin dan Tika sehingga tidak ada rasa iri.
Senyuman Ria langsung terlihat, mengambil baju dan mengucapkan terima kasih langsung berlari ke arah kamar Tika, Ria sudah lupa dengan kondisi kepalanya.
"Mama sudah pulang dari butik?" Di mencium tangan mertuanya.
"Iya sayang, membelikan baju untuk Shin agar jika menginap di sini punya banyak baju." Mam Jes sudah mengetahui jika Shin tinggal sendirian.
Diana tersenyum haru, Shin berada di tengah-tengah orang baik. Di sangat senang jika banyak orang yang menerima kehadirannya.
"Sayang, Genta sementara waktu kembali ke luar, karena ada hal yang harus dilakukan." Mam Jes mendengar pembicaraan Genta dan Gemal.
"Ada masalah apa Ma? Papa Calvin juga pulang?"
"Tidak sayang, hanya Genta. Mama kurang tahu masalahnya, tapi Papa terlihat marah." Mam Jes pergi karena tidak ingin menjadi amukan Calvin.
Rasa penasaran Diana sangat tinggi, Genta tidak mungkin kembali jika tidak ada masalah serius, apalagi Calvin sampai marah.
"Apa dia dipaksa menikah? atau ada masalah dengan Arjuna." Al langsung berdiri kaget.
Mam Jes dan Diana juga langsung berdiri, langsung berjalan cepat untuk mengetahui alasan Genta kembali, takutnya ada sangkut pautnya dengan Arjuna.
Sejak awal Calvin sudah membuat keputusan agar Genta mendampingi Juna, tapi tetap mengikuti Gemal, dan sekarang secara tiba-tiba diminta kembali.
"Ayang, kenapa suami kedua Di pulang?" Diana berteriak membuat Gemal kaget.
"Siapa suami kedua?" kening Gemal sudah banyak kerutan, masih saja tidak menyukai Diana mengagumi pria lain.
"Pa, kenapa Genta pulang? apa ada masalah dengan Arjuna?" Al langsung merasa khawatir memikirkan Putranya.
Calvin menggelengkan kepalanya, Genta pulang bukan karena ada masalah, tetapi ada rahasia negara yang tidak bisa Calvin bicarakan.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira