
Kondisi Isel demam tinggi, Hendrik sampai memasangkan infus juga meminta Diana menjaga Putrinya.
"Isel jika marah mengerikan,"
"Ini yang aku takutkan jika keinginannya tidak dituruti, dia mudah tersinggung dan berubah pendiam." Diana memeluk Putrinya yang tidur harus dipangku.
"Nyonya, tuan muda Ian dan Gion juga demam tinggi." Pelayan menghampiri Diana saat mengecek kondisi si kembar yang juga sakit.
"Astaghfirullah, kenapa baru bicara sekarang?" Di melepaskan Isel pelan, berlari ke arah kamar Putranya.
Tangan Di menyentuh tubuh, panas keduanya tidak setinggi Isel, tapi masih mengkhawatirkan. Diana memberikan obat penurun panas.
"Kak Gem kenapa belum kembali? ini anaknya langsung tiga-tiganya sakit,"
Mam Jes masuk ke kamar, Isel sudah muntah. Papa Calvin sudah mengecek kondisinya yang panasnya tidak ingin turun.
"Sudah berapa lama Isel seperti ini Hen?"
"Sekitar tiga jam yang lalu, jika sampai matahari terbit masih belum turun kita bawa ke rumah sakit." Hendrik membersihkan bekas muntah.
Sampai Gemal tiba panas Isel belum turun, hanya Ian dan Gion yang sudah membaik. Diana sampai tidak tidur sama sekali karena menggendong Putrinya yang terus mengigau.
Gemal melihat kedua putranya yang masih tidur, diawasi oleh Papanya. Gemal pindah ke kamar Putrinya menyentuh tubuh Isel.
"Belum turun panasnya?"
"Belum, aku sudah mempersiapkan ruangan untuk Isel di rumah sakit. Ini semua karena Kak Gem membentaknya." Diana memarahi Gemal, hanya dia yang boleh menegur Isel, dan tidak boleh Papanya.
Isel terlalu manja kepada Papanya, hatinya pasti sakit karena dibentak orang yang sangat dia percaya tidak pernah marah.
"Gendong Papa Nak,"
Pelukan Isel erat kepada Diana, tidak ingin disentuh Papanya. Kepala Diana menggeleng melepaskan Putrinya ke atas tempat tidur, Gemal langsung meminta maaf mengusap kepala.
Sentakan tangan Isel membuat infus terlepas, darah langsung keluar dari tangannya. Tangisan histeris terdengar, Gemal memeluk erat Putrinya yang mengamuk.
Tempat tidur penuh darah, tubuh Gemal dipukuli. Isel berlari keluar kamar, suaranya menangis membuat semua orang keluar.
"Isel!" Diana mengejar Putrinya yang berlari keluar rumah, darah berceceran dari tangan Isel yang sakit larinya masih kencang.
Suara hentakan kaki Gemal terdengar melompati beberapa tangga, meminta Isel berhenti mengamuk.
Diana hanya berdiri di depan pintu melihat Gemal menangkap putrinya yang berlari sambil teriak-teriak.
__ADS_1
"Maafkan Papa Nak, Isel jangan marah. Papa salah, pukul Papa saja." Pelukan Gemal erat sampai meneteskan air matanya melihat tangan Putrinya.
Diana langsung cepat menghentikan darah, menatap panik putrinya yang masih menangis.
"Kenapa Gem? apa yang membuatnya mengamuk?" Dimas sampai keluar rumah melihat cucunya menangis histeris.
Anggun dan Dean juga berlari, penggorengan masih ada di tangan Anggun sampai lupa meletakkan mendengar tangisan Isel.
"Ada apa?" Altha sekeluarga juga keluar.
"Kenapa tangan Isel?" Juna yang baru pulang menyentuh tangannya.
"Jangan sentuh aku, Kak Juna pembohong suka ingkar janji, Isel benci sama Kak Juna." Tangisan terdengar, Isel memukul Papanya berjalan ke arah Juan yang memalingkan wajahnya.
"Katanya wonder woman,"
"Isel manusia bodoh, Papa jahat, Kak Juna juga, semuanya jahat. Tidak ada yang sayang Isel lagi, Uncle peluk." Kedua tangan Isel terulur meminta Dean menyelamatkannya.
"Kenapa meminta aku? ke mana kedua kakak kamu, katanya banyak pelindung sekarang minta bantuan." Dean menjulurkan lidahnya melangkah ingin pulang.
Tangisan histeris kembali terdengar sampai berteriak kuat, wajah Isel sampai merah kedua tangannya mencengkram kuat.
Tubuh Isel langsung digendong oleh Dean, memintanya untuk diam. Gendang telinga bisa pecah karena suara Isel.
"Kak Juan, lihatlah Isel menangis. Aku tidak ingin mengurusnya, badannya juga panas." Dean mengulurkan tangannya meminta obat dari Diana langsung membawanya lari ke rumah Juan.
Gemal dan Juna masih berjongkok diam, pertama kalinya melihat Isel mengamuk parah. Niat Gemal menjaga Putrinya, tapi dengan cara yang salah sehingga Isel banyak pikiran sampai jatuh sakit.
Juna pamit pergi, dia ada urusan lain. Meminta Diana mengawasi kondisi Isel yang memang sering demam jika keinginannya tidak dituruti.
"Ke mana Jun? kamu baru pulang, sudah ingin pergi lagi." Aliya mengusap punggung Putranya untuk tidak mengambil hati ucapan Isel.
"Ucapan Isel benar, kita selalu mengajarkan untuk menepati janji, tapi Juna mengingkarinya dia berhak marah karena orang dewasa juga harus menepati janji agar memberikan contoh yang baik." Senyuman Juna terlihat, memaklumi ucapan si kecil karena Juna tahu dirinya salah.
Rasa sayang Juna kepada Isel sangat besar, sama seperti menyayangi Adiknya. Anak kecil melakukan kesalahan harus dihukum dan mendapatkan peringatan, berlaku juga untuk yang dewasa.
"Mami ikut, kita pertanggungjawaban bersama-sama,"
"Juna bisa sendiri Mi,"
"Papi juga ikut, kita bicarakan secara kekeluargaan." Altha menarik napasnya, takut jika Ria akan melakukan hal yang sama seperti Isel, jika Gemal saja kewalahan apalagi Altha.
Senyuman Juna terlihat, meminta maaf kepada kedua orangtuanya karena sudah mengecewakan dan membuat pernikahan Tika terasa hambar.
__ADS_1
Perasaan bersalah juga Juna rasakan karena malam bahagia adiknya dihabiskan main pukul-pukulan dengan Shin.
"Kepada seluruh keluarga Juna memohon Maaf." Kepala Juna tertunduk dalam.
"Bukan salah kamu Jun, itu sudah direncanakan oleh seseorang. Salah kamu karena belum mengakui perasaan kepada wanita itu, sehingga keadaan semakin runyam." Gemal berdiri mengusap wajahnya yang sempat menangis.
"Sepertinya kalian semua sudah tahu siapa dia?"
"Mommy belum, Mama Jes juga belum, kita selalu menjadi yang terakhir tahu." Anggun menatap penggorengan di tangannya.
Suara langkah berlarian terdengar, Tika dan Shin baru muncul menggunakan baju sobek. Keduanya masih memejamkan mata.
"Kenapa ribut? kita baru saja tidur." Shin menggulung bajunya.
"Ini baju malam pertama Tika, kenapa kamu yang pakai bodoh!" kepala Shin dipukul kuat.
"Itu juga baju Shin tahu!" kepala Tika juga dipukul.
"Kalian berdua bajunya terbalik, jangan bertengkar." Juna menatap keduanya yang mencoba sadar dari peperangan.
Shin dan Tika menatap Juna, semua orang kaget melihat wajah Shin dan Tika babak belur karena bertarung.
"Astaghfirullah Shin." Juna menyentuh wajah Shin yang membiru.
"Tika yang pukul Shin duluan Ay, kepala Shin pusing sekali." Shin memegang kepalanya menggunakan dua tangan.
"Bukan Ay, di mana ayang Tika?" Tangan Tika ingin memukul Shin, tapi ditahan oleh Juna.
Anggun dan Mam Jes saling pandang, Papa Calvin dan Dimas juga. Semuanya tersentak kaget melihat Juna merangkul Shin dan menahan tangan Tika agar tidak menyakiti lagi.
"Hubungi suami kamu Tika, sadarlah ini bukan mimpi. Berkaca lihat wajah kamu,"
"Ay, Shin masih cantik tidak? Tika memukul mata, pipi, hidung, lihat bubur Shin bengkak." Tangan Shin menunjuk wajahnya, tapi matanya masih terpejam.
"Bibir bukan bubur," Juna meralat ucapan Shin.
"Shin mau makan bubur,"
"Ayam. Lihat Shin memukul wajah Tika." Tangisan Tika terdengar melihat Genta pulang.
"Ayang Tika bukan ayam," Juna kembali meralat ucapan Adiknya.
"Bagaimana ini ceritanya?" Dimas pusing melihat hubungan Tika, Genta, Shin dan Juna.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazaira