ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MEMILIH BERPISAH


__ADS_3

Pintu mansion terbuka, Diana melangkah masuk ke dalam rumah mewah yang bagaikan istana. Rumah berbentuk klasik, bisa Di perkiraan rumah sudah sangat lama berdiri kokoh.


Dari luar pagar terlihat hanya kecil biasa, tapi di dalamnya sungguh luar biasa mewahnya. Bahkan Di kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan mewahnya di dalam rumah.


"Kenapa kak Di mengejar penipu? lain kali hati-hati, karena bahaya." Shin mempersilahkan Diana duduk.


"Kak Di tidak tahu jika anak itu gunakan untuk menipu, terima kasih sudah menolong kak Di." Diana langsung duduk di sofa yang terlihat masih sangat tua.


Diana tidak melihat satu orangpun di kediaman Shin, bahkan tidak memiliki penjaga, apalagi maid di dalam hari.


"Kamu tinggal bersama siapa Shin?"


"Sendiri, rumah ini sudah lama berdiri di sini hanya saja sering dilakukan renovasi, tapi sekarang sudah tidak lagi, mungkin akan segera kosong." Shin menatap sekeliling rumahnya yang sunyi.


Senyuman Diana terlihat, memaklumi pikiran Shin yang ingin meninggalkan rumah, karena memang terasa sangat hampa.


Kepala Diana tertunduk, meminta Shin membantunya untuk terakhir kalinya. Sementara waktu Diana ingin menghindari keluarganya, dan sendirian.


Di menceritakan apa yang terjadi kepada kandungannya, seharusnya saat ini dirinya ada di rumah sakit, melakukan operasi untuk mengeluarkan bayi yang dikandungnya selama 26 minggu.


"Kenapa tidak dilahirkan saja?"


"Kandungan usia 26 jarang lahir selamat, apalagi dia kembar." Di menundukkan kepalanya.


"Kak Di ingin bersembunyi di sin, tapi kasian keluarga kak Di, apalagi kak Gem. Memangnya tega?" Shin mengangkat kakinya ke atas.


Sejujurnya Diana tidak tega, tapi mungkin ini yang terbaik untuk dirinya dan baby twins. Bukan karena tidak mencintai Gemal, Di hanya tidak sanggup melihat kesedihan keluarganya.


Shin juga mengkhawatirkan Di jika terjadi sesuatu, apalagi kehamilan Diana sudah sangat besar.


"Jika kamu tidak mengizinkan, kak Di akan mencari tempat lain."


"Jangan seperti itu, Shin mengizinkan dan akan selalu menemani kak Di." Senyuman Shin terlihat, mempersilahkan Diana untuk masuk ke kamarnya.


Meskipun memiliki banyak kamar, Shin tidak bisa membiarkan Di tidur sendirian. Diana hanya menurut saja, paling penting dirinya dan anak kembarnya bisa menenangkan diri.


***


Sudah larut malam Diana tertidur dengan pulas, sesekali bangun saat merasakan sakit dan pergerakan anaknya yang mengejutkan. Shin. tidak tidur sama sekali, mengawasi Diana yang tidurnya tidak tenang.

__ADS_1


"Kalian anak yang beruntung, karena diperjuangkan oleh Mama, meskipun semua orang memintanya untuk menyerah." Tangan Shin mengusap perut besar Diana yang ada pergerakan.


Sampai pagi Shin tidak tidur, menyiapkan sarapan untuk dirinya dan Diana. Makanan sehat untuk ibu hamil, dan bayi dalam kandungan.


Diana terbangun karena bau masakan yang luar biasa wanginya, langsung melangkah keluar untuk mencari asal bau enak makanan.


"Kamu bisa masak Shin?"


"Iya dong, jika tidak Shin bisa mati kelaparan." Senyuman Shin terlihat, meminta Diana langsung duduk dan menikmati makanan.


Di makan dengan lahap, berkali-kali menambah makan, memuji kemampuan masak Shin yang luar biasa enaknya.


Tawa Shin terdengar mengucapkan terima kasih atas pujian Di, meminta Diana makan yang banyak, karena masakannya juga bagus untuk ibu hamil juga janin.


"Kamu bagus membuka restoran, masakannya enak." Di memberikan jempol.


"Benarkan, Shin akan mendengar saran kak Di."


Selesai makan Shin langsung membersikan, mencuci piringnya, merapikan meja makan sampai bersih.


"Kamu tidak sekolah?"


"Kamu sebentar lagi ujian kelulusan, sampai lulus sekolah jangan membuat masalah. Kak Di akan membantu kamu masuk ke sekolah Tika." Di menghela nafasnya, melihat Shin yang masih bisa tertawa.


Kepala Shin hanya mengangguk, meminta Di memberikannya waktu untuk bersantai sebentar, karena Shin ingin menjaga Diana siang dan malam.


Melihat Diana yang kesepian, Shin tidak tega meninggalkannya, apalagi melihat wajah Di yang mengkhawatirkan anaknya.


Di menatap keluar rumah, memikirkan suaminya yang pasti sedang stres memikirkannya. Diana meminta maaf kepada Gemal, dirinya sangat egois.


Sakit perut Diana datang, tangan Di mencengkram kuat kursi, sambil mengusap perut besarnya meminta anaknya memberikan waktu sedikit lebih lama untuk lahir.


"Silahkan minum kak, ini bagus untuk memperkuat janin." Shin menyerahkan minuman.


"Terima kasih Shin, kak Di boleh ke kamar untuk beristirahat." Di langsung menghabiskan minumannya yang rasanya tidak enak.


Tatapan Shin sedih melihat Di menahan sakit, tetapi masih tetap berjalan dengan tegap. Mengabaikan rasa sakitnya, memilih egois untuk anaknya.


"Aku harus memberitahu Tika soal ini." Shin langsung berlari ke luar rumahnya, mengambil sepeda listriknya langsung keluar menuju sekolah Tika.

__ADS_1


Cukup lama Shin menunggu Tika tiba di sekolah, dari kejauhan Shin melihat Aliya yang mengantar menasehati Tika untuk tidak membuat masalah.


Setelah mobil Aliya pergi, barulah Shin mendekati sambil berteriak memanggilnya.


"Shin, ada apa? kamu tidak sekolah? atau ada masalah?"


"Jangan banyak tanya, kak Diana menghilang."


"Kamu tahu dari mana?" Tika langsung menarik tangan Shin untuk menjauh.


Shin menceritakan pertemuannya dengan Diana, lalu membawanya ke rumah. Keputusan Diana untuk tidak bertemu keluarga juga Shin bicarakan.


"Ayo kita pergi." Tika naik sepeda Shin, langsung bolos sekolah menuju kediaman Shin.


Sesampainya di rumah Tika menyukai kediaman Shin, tapi cukup menakutkan karena tidak memiliki kehidupan.


"Kak Di." Tika membuka kamar, tetapi Diana tidak terlihat.


Shin juga sama terkejutnya langsung mencari keliling rumah sampai lari-larian, Tika terhenti saat berada di belakang rumah, menatap Diana yang mengambil buah-buahan.


"Atika, kenapa kamu di sini?"


"Kak Diana keterlaluan, keluarga semalaman mencari, sampai saat ini masih mengerakkan kepolisian. Kak Gem juga sampai menangis." Tika mengusap air matanya, langsung memeluk Diana.


Dirinya sangat takut jika Diana sampai terluka, semua keluarga sangat menyayangi Di, sampai tidak ada yang makam dan tidur.


Tika tahu Diana sedih, tapi keluarga sama sedihnya. Jika Diana tidak ingin bayi dikeluarkan, pasti keluarga mencari jalan lain bukan menghilang.


"Kak Di memikirkan keselamatan twins, tapi keluarga juga memikirkan kondisi kak Diana. Untuk apa bayinya selamat, tapi Kak Di meninggal." Tangisan Tika langsung pecah, hatinya sangat sedih mendengar kabar Diana, tapi lebih sakit lagi karena Diana tidak mempercayai keluarganya.


Tika memberikan ponselnya, meminta menghubungi Gemal sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan. Jika Diana mencintai Gemal, jangan membuatnya gila.


Di langsung mengambil handphone Tika, melakukan panggilan video. Air mata Di menetes menatap suaminya, meminta maaf karena sudah membuat semua orang khawatir.


Tangisan Gemal juga terdengar, hatinya hancur melihat Diana memilih meninggalkannya. Cinta Diana tidak sebesar rasa Gemal, sehingga tidak mempercayainya.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2