ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
KASUS BARU


__ADS_3

Tatapan mata Gemal dan Papanya tajam, Diana berdiri di depan Gemal. Memintanya keluar dan tidak menyakiti hati keluarga.


"Gem, please. Ini memalukan!" Teriakan Diana sangat besar.


Semua orang binggung melihat pertengkaran Gemal dan Diana, tidak mengerti apa yang sedang keduanya permasalahkan.


"Ada apa kalian berdua?" Dimas menarik tangan Diana untuk menghadapnya.


"Calvin, kenapa kamu tidak pernah mengatakan soal dokter sialan yang mendekati Diana? kamu tahu jika kami akan menikah. Setidaknya beritahu aku, takutnya nanti dia bisa mati di tangan aku." Senyuman Gemal terlihat, langsung duduk di samping Papanya.


"Gemal, kamu keterlaluan."


Di mengusap air matanya, candaan Gemal tidak lucu. Mendiamkan dirinya sepanjang jalan. Hati Diana sakit, saat Gemal diam saja. Apalagi Albar mengatakan jika Di berselingkuh dengan Papa Gemal.


"Aku meminta kalian berdua terbuka, selesaikan masalah ini." Calvin melihat ke arah Gemal yang masih duduk diam.


"Papa tahu Gemal mendiamkan aku, marah dan mempercayai Alber. Bahkan Alber menuduh aku dan Papa memiliki hubungan gelap." Diana memeluk Daddy-nya, seharusnya Gemal membelanya dan menunjukkan pada Alber jika kepercayaan Gemal sangat besar.


Diana mengeratkan pelukannya, masih merasa sakit hati dengan sikap Gemal yang kekanakan. Di tidak bisa menerima alasan apapun.


"Kamu ingin membatalkan pernikahan? bicarakan saja jangan sampai undangan sudah disebar." Nada bicara Dimas langsung tegas.


Anggun dan Jessi berdiri serempak, menggelengkan kepalanya. Seharusnya apapun masalah harus dibicarakan.


"Gemal, minta maaf kepada Diana sekarang. Mendekati pernikahan memang selalu terjadi masalah. Kalian harus bisa mengatasinya." Mam Jes menarik tangan Gemal untuk bicara dengan Diana.


Gemal menarik nafasnya, langsung meminta maaf kepada Diana karena sikapnya yang kekanakan. Tidak mengerti dirinya.


"Maaf Di, aku tidak pernah menganggap kamu buruk, jika aku memilih menempatkan pilihan hati. Artinya aku terima kekurangan, dan memberikan kepercayaan sangat besar." Tangan Gemal mengusap kepala Diana lembut, berjalan ke arah kamarnya.


Diana menatap punggung Gemal, mengusap air matanya melihat sikap Gemal yang lebih dingin.


Suara pintu terbuka terdengar, Juna berlari kencang langsung masuk ke kamar Gemal. Siapapun yang melihat langsung kaget juga binggung.


"Kak Juna tunggu Tika."


"Atika, ada apa nak?"


"Mami tidak tahu, teman sekelas Tika diculik dan organ tubuhnya di ambil. Kak Gemal yang berhasil menyelamatkan dia, karena Tika yang menghubungi kak Gem." Tika langsung berlari ke kamar.


"Kamu tidak menghubungi Mami Tika," Al berteriak kuat.


"Sudah Mami, Tika mengirim pesan suara." Kepala Tika nongol, lalu masuk lagi.

__ADS_1


Diana langsung berlari ke dalam kamar Gemal, melihat duduk di pinggir ranjang sambil memejamkan matanya.


Juna hanya duduk diam melihat wajah Gemal yang diam saja, menanyakan keadaan yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Kak Gem sudah diobati?" Juna menatap Gemal yang masih memejamkan matanya.


"Belum, kak Gem hanya sedang berpikir. Pelaku ada di depan mata, tapi kak Gem tidak bisa menangkapnya." Tubuh Gemal terbaring merasa gagal menyelamatkan, karena pelaku masih berkeliaran.


Mendekati calon istrinya, dan ingin menjatuhkan nama baik Papanya.


"Gem, kamu terluka." Di langsung naik ke atas ranjang, membuka baju.


Di perut Gemal ada goresan pisau, tujuan Gemal ke rumah sakit ingin menjemput Diana sekaligus meminta diobati.


Sikap Gemal yang tidak bisa mengendalikan emosi saat melihat wajah Alber membuatnya diam, bahkan ingin melepaskan pukulan ke arah wajah pria sialan yang sedang dia selidiki.


Pintu terbuka, Altha membuka baju Gemal melihat luka yang tidak terlalu berbahaya.


"Laporan yang baru saja kamu ajukan ada sangkut-pautnya dengan dokter yang mendekati Diana."


"Nanti saja pak membahasnya, Gemal lagi kesal. Atau langsung hubungi pak Yandi yang tahu detailnya." Arah pandang Gemal melihat ke jendela.


Dimas ingin mendekat, tapi ditahan oleh Alt. Jika Gemal tidak ingin bicara, berarti banyak hal yang dia pikirkan.


"Gem, kamu membutuhkan bantuan Papa? aku bicara sebagai seorang ayah, bukan teman."


Senyuman Gemal terlihat, menggelengkan kepalanya. Gemal hanya kesal, Papanya tidak mengatakan apapun soal Alber yang masih mendekati Diana.


"Apa aku harus laporan ke kamu?"


"Iyalah! dari masuk sampai pulang kerja. Setidaknya harus melapor dengan detail."


"Di lagi operasi juga harus lapor?"


"Iya, sebutkan juga siapa yang dia operasi." Gemal mengulum senyum melihat Papanya yang mulai kesal.


"Gem, jika kamu gila jangan melibatkan orang lain. Aku dokter bukan pesuruh kamu." Mata Calvin terlihat tajam.


Tawa Gemal terdengar melihat Papanya keluar dengan wajah kesal. Dimas dan Altha juga keluar ingin menyelidiki kasus penculikan anak.


Al dan Anggun masih berdiri di samping Jessi yang tidak berkedip melihat Diana mengobati Gemal.


"Di, Gemal baik-baik saja. Apa kita harus melakukan operasi?"

__ADS_1


"Mam Jess, ini hanya luka kecil. Jika ditusuk dalam baru operasi." Tika mengusap kepala Gemal yang menatap wajah Diana.


"Maafkan aku, saat aku meminta diam berarti aku tidak marah sama kamu. Jika ada kesalahan di antara kita, apa kamu pernah melihat aku diam saja?" Senyum Gemal terlihat, Menggenggam tangan Diana.


Mam Jes meminta Gemal lebih berhati-hati lagi, pernikahan sudah di depan mata. Meksipun luka sudah hal biasa, tapi Jessi belum terbiasa.


Gemal menganggukkan kepalanya, meminta maaf karena pulang dalam keadaan terluka. Gemal berjanji akan berhati-hati.


"Mama keluar, kalian bicara saja berdua. jangan bertengkar lagi."


Tika langsung tiduran di samping Gemal, meletakkan kepalanya di pundak Gemal yang tersenyum menatapnya.


"Tik, kamu sudah besar. Tidak boleh melakukan itu?"


"Syirik, sebelum diambil kak Di, Tika ingin mencobanya."


Tangan Gemal mengusap kepala Tika, memuji keberaniannya. Meksipun Tika tidak menyukai seseorang, dia tetap menolong.


"Bagaimana kondisi teman Tika?"


"Kabarnya baik, kak Gem belum menjenguk. Dia hanya ketakutan, Tika juga harus hati-hati." Gemal sedang memperingati jika sedang banyak kasus penculikan.


Juna meletakkan cincin yang Diana buang di mobil, Gemal mengambilnya kembali memasang cincin ke jari manis Di.


"Terima kasih Juna, kamu sudah menemukan cincinnya." Gemal meminta Diana tidak pernah melepaskannya, apalagi dalam keadaan marah.


Keinginan Gemal jika ada masalah jangan diputuskan langsung, berikan sedikit jeda agar bisa saling berpikir.


"Jangan pernah kamu putuskan untuk meninggalkan aku."


"Maafkan Diana, maaf. Hal ini tidak akan terjadi lagi, Diana akan belajar memahami kamu."


Arjuna meminta Tika keluar, dia masih belum cukup umur untuk mendengar ungkapan cinta yang membuat Juna risih.


"Kak Juna saja yang keluar, biarkan Tika di sini menemani setan agar tidak menjadi orang ketiga." Kedipan mata Tika terlihat menatap Diana yang tersenyum.


Kepala Gemal hanya geleng-geleng, meminta Juna segera mengembalikan laptopnya. Meletakkan kembali di mobil, karena laptop Juna disita Maminya.


***


follow Ig Vhiaazaira


jangan lupa like coment Dan tambah favorit

__ADS_1


__ADS_2