
Suara langkah kaki berlarian terdengar, Aliya mengejar Altha yang sudah berlari lebih dulu ke kamar.
"Belum waktunya tidur, Al ingin merasakan berhubungan dengan Ayang." Al memonyongkan bibirnya meminta cium.
"Sudah punya jawaban atas pertanyaan yang aku berikan?" Alt menutup mulut Aliya, mendorongnya agar menjauh.
Kepala Aliya tertunduk, langsung lompat ke atas tempat tidur. Al tidak tahu rasanya jatuh cinta, dan tidak mengerti apa bedanya.
"Ayang sini, Al ingin bertanya." Tangan Al melambai meminta Altha mendekat.
Altha langsung menurut, duduk di samping Al yang masih binggung ingin bertanya apa dan takut jika dia akan terjebak dalam pertanyaannya sendiri.
"Ayang apa itu cinta? kenapa untuk berhubungan harus ada rasa cinta?" Al mengerutkan keningnya, menatap tajam suaminya yang hanya tersenyum.
"Kamu tahu anak itu apa?" Altha tersenyum melihat wajah Aliya yang sangat polos.
"Buah cinta, emh ... anak penambah kebahagiaan. Citra dan Roby bisa memiliki anak padahal mereka tidak saling mencintai." Nada bicara Aliya tinggi, tapi langsung merendah karena menyebut nama Citra.
"Aku Altha bukan Roby, kita tidak harus membicarakan kisah hidup orang lain. Cukup membicarakan hubungan kita dan kebahagiaan kita, tidak harus memikirkan urusan orang." Senyuman dingin terlihat.
Altha tidak marah soal Aliya yang selalu membandingkan dia dan Roby yang berbeda. Alt selalu membuat kebahagiaan dengan caranya.
"Al aku sejak dulu tidak menuntut apapun, kamu baik aku jauh lebih baik, kamu jahat aku proses dengan cara hukum. Aku tidak bisa menilai diri sendiri, setidaknya aku tidak merugikan orang lain."
Aliya langsung memeluk erat, meminta maaf karena keceplosan. Aliya berjanji tidak akan membahas masa lalu dan sibuk mengomentari hidup orang lain.
"Kita jalani saja rumah tangga kita, aku tulus Aliya ingin memperbaiki hubungan dengan kamu. Meskipun pertemuan kita tidak indah, aku berharap kita memiliki akhir yang indah." Pelukan Altha erat, menyatukan tubuhnya dengan Al.
Aliya menatap dengan keraguan, Al masih kesulitan membedakan Ketulusan Altha atau dirinya hanya pelarian.
"Ayang mencintai Al?"
Kepala Altha menggeleng, dia tidak ingin mengatakan cinta tanpa bukti. Alt ingin menjalin penikahan yang baik dan melihat cinta sebesar apa.
Tidak ada sedikitpun rasa kesal, marah ataupun kecewa kepada Aliya, Altha tahu Al anak baik dan akan membimbing Al ke jalan baik.
"Aku tidak sempurna Aliya, dan memiliki banyak sekali kekurangan. Bisa kita lewati kekurangan itu bersama?"
"Kamu meminta Aliya jatuh cinta, tapi kamu sendiri belum jatuh cinta." Aliya memukul dada Altha, mencubitnya kuat karena kesal.
__ADS_1
Altha langsung tertawa kecil, mengusap dadanya yang merasakan sakit. Altha merasakan, tapi tidak tahu cara mengatakannya.
Alt bahagia bersama Aliya, beban masalah, rasa lelah langsung hilang saat melihatnya. Altha menyadari jika dirinya jatuh cinta, tapi tidak berani mengatakannya karena masih ragu kepada perasaannya sendiri.
"Al aku takut kamu juga akan meninggalkan, aku tidak memiliki keberanian untuk mengakui cinta. Haruskah aku menunggu kamu sampai jatuh cinta." Altha hanya bisa bertanya di dalam hatinya, mengikuti arus kisah hidupnya.
Al tidur memunggungi Altha, kesal dengan jawaban Al yang mengatakan tidak mencintainya.
"Altha, kenapa kamu menerima aku bahkan tidur bersama?" Al menoleh, tapi tidak ada jawaban.
Mata Altha masih terbuka, dia masih belum bisa tidur dan tahu jika Aliya juga belum bisa tidur.
"Ayang, ayolah." Aliya menepuk pelan pundak Altha, mereka bisa menjadi dua orang jahat yang tidak memperdulikan perasaan cinta.
Aliya ingin Altha mengubah prinsipnya yang berhubungan karena cinta, tidak ada gunanya mereka menunggu perasaan yang kedatanganya mungkin tanpa mereka sadari.
Mata Altha terpejam, mencoba mengabaikan Aliya yang menarik bajunya.
"Al, tidurlah."
"Aku meminta hak aku Altha." Aliya memukul kesal.
Al langsung melangkah mundur, tersenyum manis mengigit bibirnya masih ragu.
"Baiklah, kita bicarakan soal anak nanti lagian dia tidak mudah dibentuk. Mora masih kecil untuk memiliki adik, Tika juga masih membutuhkan perhatian khusus." Aliya meminta pengertian Altha.
Senyuman Altha terlihat, Aliya sangat pintar bernegosiasi. Mereka berdua jika bertemu kebanyakan kesepakatan yang tidak berujung.
"Besok kamu kuliah tidak?"
"Aliya tidak perduli soal kuliah, ayo kita bercinta." Aliya mengedipkan matanya.
Altha langsung merinding, langsung berlari dari atas tempat tidur. Meminta Aliya berhenti dan tetap di tempat tidur.
"Ayang, ayo kemari." Al menatap tajam meminta Altha mendekat.
"Al kamu biasa saja, mana ada orang ingin bercinta, tapi seperti ingin diterkam." Alt duduk di sofa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Aliya yang guling-guling di atas ranjang karena tertawa.
"Kamu lucu sekali Altha, takut sama perempuan." Al langsung turun dari ranjang, memeluk Altha yang memainkan ponselnya.
__ADS_1
Ponsel Alt sudah jatuh di lantai, suara keduanya sudah tidak terdengar lagi. Senyuman Al terlihat melihat mata Altha tertutup.
"Kita pindah ke rajang saja." Alt melepaskan ciuman.
Suara ponsel Aliya berbunyi, Altha langsung mengambilnya. Tatapan Altha tajam melihat nama Roby menghubungi Aliya tengah malam.
Tanpa persetujuan Altha langsung menjawab, tangannya mengepal membuat Aliya kebingungan langsung melangkah mendekat.
[Ada apa kamu menghubungi Aliya tengah malam? apa ada urusan penting yang mendesak, jika urusan Mora kamu bisa menghubungi aku, bukan Aliya.] Altha langsung melempar ponsel Al ke atas tempat tidur.
Aliya langsung duduk diam, sekarang Aliya baru tahu jika Altha sangat cemburuan. Dia bisa berpura-pura baik kepada orang, tapi tidak bisa menutupi kecemburuannya.
Melihat tatapan Altha membuat Aliya takut, tidak berani menatap dan hanya bisa diam saja.
"Ada urusan apa dengan Roby?"
Aliya menjelaskan soal dirinya menginginkan Mora tinggal sementara bersama mereka, dan meminta Roby membujuk Citra.
"Kenapa tidak bicara dengan aku lebih dulu? apa alasannya kamu meminta Mora tinggal di sini? kenapa kalian harus saling berkomunikasi tengah malam? bagus." Altha langsung melangkah keluar.
Aliya langsung lompat-lompat, mencaci maki Roby, ingin sekali Al pecahkan handphonenya. Rencananya untuk bercinta gagal total.
Sulitnya membujuk Altha, dan pada akhirnya gagal. Keberuntungan juga tidak berpihak kepadanya.
"Roby sialan, gagal sudah rencana enak-enak malam ini." Al menarik selimut dan menutupi kepalanya.
Di kegelapan Altha berdiam diri, dikhianati Citra membuat Altha lebih posesif dan mudah emosi jika berurusan dengan hati.
"Kenapa aku harus marah? Altha bodoh." Alt mengacak rambutnya, menyalahkan dirinya sendiri yang bodoh marah kepada Aliya.
Suara ponsel terdengar, Altha menghidupkan lampu dan melihat tas Aliya masih tertinggal di ruang tamu.
"Ada berapa perempuan satu ini ponsel?" Altha melihat panggilan dari nomor tidak dikenali.
Panggilan tidak terjawab, pesan masuk Altha bisa membacanya dan membuat Altha mengerutkan keningnya.
"Kenapa Aliya menyelidik kecelakaan orangtuaku?"
***
__ADS_1