
Tatapan Diana takjub melihat ketampanan Gemal setelah berganti baju dan membersihkan tubuhnya, langsung masuk ke mobil Di untuk memberikan selamat.
Diana memasang sabuk pengamannya, menggenakan kembali baju kebaya yang dia buka di dalam mobil.
"Kapan kamu ganti baju?"
"Kenapa? kamu ingin melihat." Di melotot meminta Gemal menjalankan mobil.
Senyuman Gemal terlihat, sesekali menatap Diana yang sangat cantik menggunakan kebaya yang memperlihatkan keanggunan.
Sesampainya di hotel sudah sepi, hanya masih ada penjaga juga keluarga yang berfoto bersama.
Gemal dan Diana melangkah masuk, semua orang melihat keduanya yang memakai baju senada.
"Wow, kak Gemal sama kak Di romantis sekali, menggunakan baju yang sama." Ria mengagumi keduanya yang baru sadar jika bajunya sama.
Gemal meminta maaf karena terlambat, mengucapkan selamat kepada Dika dan Salsa yang tersenyum melihatnya.
Dika memeluk Gemal, menahan tubuhnya sambil menatap Diana yang salah tingkah.
"Kamu apakan adikku?"
"Dia jauh lebih kuat, aku yang sedang dalam bahaya." Gemal tersenyum melepaskan Dika.
Semuanya berfoto bersama, Gemal juga bergabung bersama keluarga untuk menyimpan kenang-kenangan hari bahagia.
"Perhatian, tolong semua diam di tempat, Tika akan mengatur posisi foto kita."
Tika menarik tangan Mami dan Papinya berdiri berpasangan, Daddy dan Mommy juga berdiri saling menatap.
"Uncle Dika dan Aunty Salsa di tengah, Kak Di dan kak Gem juga di sini." Tika menarik kakaknya Juna yang menggendong Ria, sedangkan Atika berada di tengah Juan dan Dean.
Semuanya tersenyum, Diana dan Gemal saling menatap. Jantung Diana berdegup kencang, merasakan tidak nyaman pandangan Gemal.
"Astaga ini jantung kenapa? sadar Di." Batin Diana di dalam hatinya mengumpat melihat Gemal yang hobi pamer tampang.
"Gem, ikut aku." Dimas melangkah turun pelaminan, diikuti oleh Gemal.
Di meja yang berjauhan, Dimas dan Gemal bicara sangat serius, Altha juga bergabung untuk membahas kasus yang akhirnya selesai.
"Tiga bulan kamu menghilang Gem? kira-kira saja."
__ADS_1
"Sudahlah, paling penting kasusnya selesai." Alt meminta Gemal mengakhiri penyamarannya.
Suara langkah kaki Tika terdengar seperti raksasa, menghentak kuat di lantai menatap Papinya sambil meneteskan air matanya.
Gemal yang melihat Tika menangis bukan kasihan, tapi langsung tertawa lucu melihatnya menangis mengemaskan.
"Bisa kamu tertawa Gem, nanti akan tahu rasanya memiliki anak perempuan." Alt menatap tajam Gemal yang masih tertawa.
"Tika lucu jika menangis." Gemal melihat Tika yang sudah dalam gendongan Maminya, sedangkan Ria menangis memeluk kaki Maminya.
Altha ingin mengendong Ria, tapi ditolak masih memeluk erat kaki Maminya sambil mengamuk.
Diana langsung menggendong Tika, memintanya untuk diam dan berhenti menangis dan bertengkar.
Aliya sudah menarik telinga Ria yang menangis semakin kuat, Juan langsung berlari memarahi Maminya, menyayangi adiknya.
Tatapan Dean juga sedih, memeluk Ria yang sudah berguling-guling di lantai. Arjuna langsung memeluk adiknya Ria membawa pergi.
Senyuman Gemal terlihat, menatap Tika dan Ria yang bertengkar. Altha tidak memarahi keduanya, Aliya yang mencoba tegas kepada yang salah.
"Bahagia juga jika memiliki keluarga yang akur, terkadang juga bertengkar." Gemal tersenyum melihat Juna yang dingin saja bisa menjadi tempat mengadu adiknya.
Gemal pamitan dengan keluarga Dimas dan Altha, dia masih memiliki urusan yang harus diselesaikan.
"Kamu sudah mengambil keputusan?" Di menatap punggung Gemal.
Kepala Gemal menggeleng, hatinya masih belum yakin dan tidak siap jika hidup dalam aturan.
Diana berjalan di depan Gemal, bertahun-tahun tidak cukup untuk Gemal berpikir untuk mengambil tindakan.
"Ayo ikut aku untuk bertemu Mam Jes." Di meminta Gemal masuk mobil, dia yang akan menyetir.
"Aku tidak ingin suatu hari ada yang mengungkit, dan menyalahkan aku memanfaatkan keluarga Leondra hanya karena kondisi istrinya Calvin yang sakit."
"Jangan bicara sembarang Gem."
Diana tahu jika Mam Jes orang yang sangat baik, alasan Shima tidak membunuh bayi yang dia buang pasti karena Jessi wanita yang tulus.
Shima tahu keberadaan Gemal, bahkan bertemu langsung dengan ibunya Gemal untuk memastikan jika Gemal berada di tangan orang yang tepat.
Mobil Diana masuk ke Mansion keluarga Leondra, kedatangan Di disambut baik para penjaga.
__ADS_1
Gemal menatap rumah mewah yang dijadikan tempat liburan keluarganya, sedangkan kediaman di negara mereka bekali-kali jauh lebih besar.
Pintu terbuka, Diana masuk diikuti oleh Gemal yang bertemu langsung dengan Mam Jes. Senyuman seorang ibu terlihat langsung berlari memeluk.
Seorang wanita tua juga terkejut melihat wajah Gemal yang sangat mirip dengan generasi pertama saat masih muda, dan mereka tidak harus melihat identitas Gemal langsung tahu jika Gemal bayi yang hilang.
"Cucuku kembali." Pelukan hangat menyentuh Gemal.
Suara tangisan terdengar, mengusap wajah Gemal penuh rasa kagum dan rindu.
"Aku hanya datang menyapa, maaf jika menganggu."
"Siapa nama kamu? bahkan kami belum memberikan nama." Air mata dari pria tua juga menetes.
"Perkenalkan nama aku Gemal ...."
"Nama kamu Chandra Leondra, bukan Gemal." Tatapan Calvin tajam dari lantai atas.
"Terserah kamu, aku hanya ingin melihat kondisi Tante, dan aku pergi sekarang." Tatapan Gemal tajam melihat Calvin.
"Mama, panggil aku Mama. Terima kasih sudah datang Gemal, Mama akan cepat sehat jangan khawatir." Jessi memeluk lembut putranya.
Diana tersenyum melihat Gemal yang membalas pelukan ibunya, di dalam lubuk hatinya pasti sangat ingin merasakan dipeluk erat.
"Nenek, kakek Gemal permisi." Gemal menarik tangan Diana untuk pergi bersamanya.
"Kamu tahu siapa wanita yang kamu genggam tangannya? dia seorang pembunuh berdarah dingin, bahkan menghabisi seluruh keluarganya." Suara tawa Calvin terdengar mengejek Diana, langkah Diana juga langsung terhenti, menatap Gemal yang menatap tajam.
Jessi meminta suaminya berhenti, Diana wanita baik tidak peduli masa lalunya.
"Aku tahu! apa kamu juga tahu jika dia putri seorang polisi yang sangat disegani, putri seorang pengacara hebat, dia juga kakak dari pengusaha AT grup yang memiliki pengaruh besar di negara ini, dan adik iparnya seorang polisi yang memiliki kekuasaan." Suara Gemal terdengar sangat besar sampai menggema di dalam rumah mewah Calvin.
Gemal juga menambahkan, jika baru saja keluarga Diana menyambut seorang dokter yang hebat, juga saudaranya seorang pengusaha yang memiliki puluhan cabang.
"Anda hanya kaya seorang diri, tapi keluarga Diana kaya hartanya juga hatinya. Mungkin Diana memiliki masa lalu yang buruk, tapi sekarang dia sudah menjadi dokter yang hebat dan salah satu dokter jenius yang diincar banyak negara." Gemal melangkah maju mendekati Calvin yang hanya bisa terdiam.
Gemal merasa malu berada di samping banyak orang, dirinya tidak tahu terlahir darimana, karena hanya anak pungut. Dirinya hidup apa adanya, bekerja keras hanya untuk makan.
"Gemal tidak iri dengan kekayaan orang lain, tapi jujur aku iri dengan keharmonisan keluarga Diana. Jujur aku malu, tapi lebih malu lagi melihat kalian yang menghina Diana tanpa berkaca dari kegagalan kalian sebagai orang tua." Air mata Gemal menetes, langsung cepat menepisnya.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira