
Keberangkatan keluarga sudah menunggu jam, Aliya tarik nafas buang nafas, berusaha untuk melepaskan putranya dan tidak menetes air mata di bandara.
Mobil satu-persatu meninggalkan kediaman, tangan Juna menggenggam jari jemari Maminya, Ria duduk di pangkuan sambil memeluk erat, Tika juga bergelantung di lengan kakaknya.
Hanya Juan yang duduk di depan bersama Papinya, Juan terlihat lebih tenang, dan paham dengan kesedihan ketiga wanita di rumahnya.
Sesampainya di bandara, Arjuna tidak bisa turun, ada tiga wanita yang masih tidak merelakannya.
Altha membukakan pintu, tapi tidak ada yang keluar. Suara tangisan Tika dan Ria terdengar.
Diana langsung melangkah mendekati mobil, bisa mengerti betapa beratnya melepaskan Arjuna.
"Ayo kita turun." Juna menatap adiknya Tika.
Aliya langsung melangkah keluar, mengusap air matanya memeluk Diana erat. Gemal menepuk pelan, merasakan sedih melihat Al menangis.
Jessi mengusap punggung Aliya, dia akan memastikan Juna aman berada di kediamannya. Mam Jes tahu, Al hanya belum siap melepaskan putra tertuanya.
Suasana sesaat hening, Calvin binggung untuk menyapa jika mereka harus segera berangkat. Melihat keluarga yang masih sedih, hatinya juga merasakan sedih.
"Dimas, Altha, sudah waktunya kami berangkat."
"Hati-hati di jalan, kita titip Arjuna." Alt merangkul Calvin yang tersenyum.
"Mommy, Diana pergi sebentar." Di mencium pipi Mommynya.
Di juga memeluk Dean yang langsung menangis, meminta kakaknya cepat pulang.
"Daddy, Diana pergi dulu." Di memeluk erat Dimas yang menepuk pundaknya pelan.
Gemal juga pamitan kepada mertuanya, pamitan juga kepada Altha dan Aliya yang berusaha tersenyum.
Arjuna tersenyum memeluk Papinya, mencium tangan meminta doa agar dirinya kembali dengan hasil yang memuaskan.
"Ria, adik kecilku yang sangat kak Juna sayangi, jangan terlalu nakal, rajin belajar dan kurangi bertengkar." Juna berlutut, memeluk adiknya Ria.
Suara tangisan Ria terdengar, Altha langsung menggendong Putri bungsunya yang sudah menangis histeris.
Juna mendekati Tika, memeluk adik perempuannya yang mulai tumbuh remaja. Juna juga berat melepaskan Tika, tapi dirinya tidak punya pilihan.
"Atika, jangan nakal. Jaga mami dan adik-adik. Kamu harus menjadi panutan, belajar dewasa. Sementara kak Juna pergi, Tika jaga diri." Juna mencium kening adiknya.
"Kak Juna hubungi Tika terus, Tika nanti kangen." Air mata Tika menetes membasahi pipinya.
__ADS_1
Juna menganggukkan kepalanya, setiap hari dia akan menghubungi Tika untuk mengetahui keluh kesah adiknya.
Pelukan Juna erat kepada Aliya, air matanya juga tidak tertahankan. Aliya menguatkan Juna, dan Al akan menyempatkan waktu untuk menjenguk putranya.
Tangan Juna menjabat tangan kecil adik lelakinya, Adjuanda tersenyum santai. Memastikan kepada kakaknya jika dia akan menjaga tiga wanita di rumah mereka.
Juna bisa belajar dengan tenang, dan mengejar cita-citanya sampai berhasil. Juan menunggu kakaknya pulang dengan keberhasilan.
"Dean, kak Juna titip Ria." Juna mencium tangan Dimas, dan Anggun. Mengusap kepala Dean.
Tangan Juna melambai, melangkah mundur untuk pertama kalinya pergi tanpa Mami dan adik-adiknya.
Langka Juna terhenti, langsung berlari ke arah Helen yang baru datang. Elen menangis dan memeluk erat Juna yang ingin pergi.
Helen satu-satunya orang yang menjaga Juna, Tika, Mora sampai Ria dan Juan. Hubungan dengan Juna juga sangat baik, karena Juna sangat menghormati Helen.
"Juna pergi Aunty, maafkan Juna saat Aunty lahiran tidak ada di sini." Juna mengusap perut Helen.
"Iya sayang, jaga diri Juna." Helen mengusap air matanya.
Arjuna tersenyum, langsung berlari ke arah Gemal yang langsung merangkulnya. Melihat Juna menjauh, Aliya langsung menangis histeris.
Tika langsung berlari kencang mengejar kakaknya, Juna bisa melihat adiknya berlari. Altha langsung menangkap Tika melarangnya mengejar Juna.
"Papi kamu menangis Juna." Gemal mengusap kepala Juna.
"Kamu harus kuat, ini bukti betapa sayangnya keluarga." Diana menggenggam tangan Juna yang terlihat sangat kuat.
Lambaian tangan Juna terlihat, dan akhirnya menghilang dari pandangan.
Di dalam pesawat, Juna duduk bersama Hendrik yang memperhatikan Juna. Hendrik mengerti Juna sedang menangis karena terpisah dari keluarganya.
Hendrik memberikan tisu, meminta Juna menangis melepaskan bebannya. Setelah menangis, Juna harus berdiri lagi untuk tujuan dan alasan dirinya pergi.
Gemal yang ada di depan mereka, meminta Diana duduk bersama Juna, dan Hendrik pindah duduk di sampingnya.
Diana langsung berdiri, meminta Hendrik pindah. Diana langsung menggenggam jari-jemari Juna yang juga menggenggam Diana.
"Kak Di tidak bisa menjadi Mami kamu, tapi kak Diana juga sangat menyayangi kamu Juna."
"Aku tahu, tapi kak Di yang selalu menyesatkan Juna." Senyuman Arjuna terlihat, melihat Diana kesal.
Calvin tersenyum melihat Juna yang sudah bisa ceria, kehadiran Diana bisa mudah mengubah perasaan sedih.
__ADS_1
"Apa yang akan kamu lakukan Juna? kamu belum tujuh belas tahun, tapi harus beradaptasi dengan orang di atas tujuh belas tahun, semoga kuat." Di memperingati Juna untuk menjauhi wanita, karena dia bisa menyesatkan.
"Kak Di, wanita yang bisa menyesatkan Juna hanya kak Di." Tatapan Juna tajam.
Suara tawa terdengar, ucapan Juna ada benarnya. Diana memang selalu menyesatkan dan ucapannya tidak pernah benar.
Diana langsung cemberut, memejamkan matanya langsung tidur sambil menyandarkan kepalanya kepada Juna.
Perjalanan cukup panjang, Juna memejamkan matanya untuk tidur sebentar. Tangannya masih menggenggam tangan Diana.
Suara rintihan terdengar, Juna langsung membuka matanya. Berjalan ke bangku belakang melihat seorang wanita hamil meringis kesakitan.
"Berapa bulan?" Juna bicara menggunakan bahasa asing.
Mata Juna melihat ke bawah, ada darah yang mengalir. Tangan Juna memegang denyut nadi langsung memegang perut yang tidak ada pergerakan.
Juna langsung berjalan ke kursinya, membangunkan Diana yang masih tidur. Juna menjelaskan, seorang wanita hamil lima bulan, kemungkinan besar keguguran dan mengalami pendarahan.
Denyut nadi sangat cepat, bayi dalam perut tidak ada pergerakan sama sekali. Juna meminta Diana membantu persalinan.
"Gila kamu Juna, aku bukan dokter kandungan. Seharusnya kita membawa Salsa."
"Kak Di, saat ini yang dibutuhkan bukan dokter kandungan, hentikan dulu pendarahannya." Juna menarik tangan Diana.
Di langsung berjalan ke tempat wanita yang memang sudah penuh darah, tidak ada waktu lagi untuk mencari tempat.
Diana langsung meminta sarung tangan, pramugari langsung mengeluarkan obat-obatan yang Diana butuhkan.
"Lakukan pendaratan darurat." Juna menatap pramugari yang menghubungi perusahaan penerbangan.
Calvin juga langsung datang melihat Diana sudah penuh darah, infus sudah terpasang dan secara terpaksa Diana bekerja tanpa asisten.
"Keluarkan bayinya Diana, Papa akan menjadi asisten kamu." Calvin menyuntikkan sesuatu.
Diana menganggukkan kepalanya, Arjuna menahan tangan Diana untuk tidak mengeluarkan bayi.
Calvin dan Di saling tatap, apa yang Juna lakukan bisa membunuh pasien.
"Hentikan pendarahan, karena jika pendarahan berhenti kemungkinan besar bayi selamat. Jika dia dilahirkan maka tidak ada kemungkinan hidup." Juna menjelaskan metode yang dia pelajari dari buku kedokteran.
***
follow Ig Vhiaazaira
__ADS_1