
Sepanjang perjalanan pulang Aliya hanya diam, bahkan Anggun juga diam memikirkan kembali apa yang Salsa bicarakan.
Juna menatap kedua bumil, namun mengurungkan niatnya untuk bertanya.
Sampai di rumah, Aliya langsung melangkah masuk rumah, menggenggam tangan Tika untuk mengikutinya.
"Al, ayo kita bicara?" Anggun menahan pundak Al.
"Tidak ada yang perlu kita bahas lagi kak? jawaban Al tetap sama, tidak mengizinkan." Al menghela nafas kasar, tidak ada kesempatan bagi Citra untuk bertemu anak-anaknya.
Apa yang Citra lakukan sudah lebih dari cukup, jika bertemu lagi hanya akan membuat anak-anak takut dan mengingat kembali kenangan saat penyekapan.
Anggun mengerti kekhawatiran Aliya, dan tidak ingin memaksa karena Aliya sangat mengenal anak-anaknya.
Kepulangan Anggun membuat Aliya berdiam diri, memeluk perut besarnya.
Tika mendekat Maminya meletakan telinganya di perut Al untuk berbicara dengan adiknya yang kembar.
Suara Altha memanggil Aliya terdengar, senyumannya sangat lebar memeluk erat bahkan sampai menggendong.
"Ayang, turun. Aliya sekarang sudah berat, karena ada dua anak di dalamnya." Al tertawa melihat Altha sangat bahagia, saat tahu anaknya kembar.
Ciuman mendarat berkali-kali di perut besar, membuat tatapan Tika sangat tajam tidak menyukai adiknya di peluk erat.
"Papi, mundur. Haduh, kenapa mencium adiknya Tika berlebihan?" mata Tika sinis, membuat Altha langsung menggendong putrinya.
Altha langsung menciumi Atika, tangan Tika menahan wajah Papinya. Suara besar Tika teriak histeris membuat terus tertawa.
Tika langsung keluar dari kamar, kesal melihat Papinya ingin melaporkan kepada kakaknya jika Papinya nakal.
"Gemes banget kamu Tika." Alt mencium wajah Aliya.
"Maafkan aku karena tidak menemani." Altha memeluk Aliya lembut, bahagia sekali mendapatkan kabar soal anaknya kembar.
Aliya melarang suaminya mengatakan maaf, karena Aliya sangat mengerti dan berterima kasih karena Alt selalu mengutamakan dirinya juga anak-anak.
"Ayang jangan terlalu khawatir, Al baik dan akan selalu baik,"
__ADS_1
"Sayang, kamu pasti kerepotan mengurus anak-anak. Aku bahagia diberikan kepercayaan cepat memiliki keturunan, apalagi double." Alt mengaruk kepalanya, dia tidak bisa menjanjikan untuk selalu ada di sisi istrinya.
"Ayang, Al tidak menjaga anak-anak, tapi mereka yang menjaga Al. Percaya sama Aliya, twins tidak pernah merepotkan." Tatapan mata Aliya menyakinkan suaminya yang tidak tenang meninggalkan Al untuk bekerja.
Tatapan mata Altha fokus ke mata istrinya, Alt sangat mengenal baik Aliya dan tahu saat Al memiliki pikiran, dan ragu mengatakannya.
"Sayang, ada apa dengan mata kamu?" Alt mencium mata Aliya.
Aliya menghela nafasnya, menundukkan kepala dan menceritakan apa yang dokter Salsa katakan bahkan sepertinya Anggun mengetahui lebih.
Altha langsung duduk, merangkul Aliya. Alt tidak mengizinkan Tika dan Juna bertemu Citra dengan alasan apapun.
Apapun kondisi Citra, Alt tidak bisa membiarkan Juna dan adiknya mengetahui lebih.
Aliya sepemikiran dengan Altha, tapi Alt akan mencari tahu kondisi Citra dan mengapa dia sangat ingin bertemu anak-anak.
Altha langsung melangkah ke rumah Dimas, sudah terdengar perdebatan antara Anggun dan Dimas soal membahas Citra.
"Sayang, kamu fokus saja sama kehamilan. Berhenti memikirkan orang lain, Citra tidak akan mati dengan mudah." Dimas menghela nafasnya, langsung memeluk istrinya yang sudah menangis.
Anggun tidak tega saat seluruh pengacara di kantornya menolak membela Citra, bahkan tidak ada yang ingin mengetahui kondisinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" Alt berjalan mendekati Dimas yang langsung menghela nafasnya.
Altha dan Aliya langsung duduk, meminta Anggun menjelaskan apa yang sedang mengganggu pikiran sehingga tidak bisa tenang.
"Maafkan aku Altha, dia memang salah dan harus dihukum untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tapi dia tetap seorang ibu yang merindukan anak-anaknya." Citra meminta maaf jika dia lancang dan ikut campur.
"Maafkan aku Anggun, aku tidak mengizinkan dan kamu juga tidak boleh membela dia." Altha menggenggam tangan Aliya, meminta mereka melupakan Citra dan membiarkan apapun yang terjadi menjadi hukuman takdir untuknya.
Aliya mendengarkan pengakuan Anggun soal kondisi Citra yang divonis penjara dua puluh tahun, dan kondisinya sekarang selalu sakit-sakitan karena terus merindukan anak-anaknya.
Bahkan Citra tidak punya kesempatan untuk melihat putri kecilnya di pemakaman, Anggun hanya berharap ada satu saja orang yang menyemangatinya dan tidak meninggalkan sendirian meksipun dia salah.
"Aliya akan menemuinya, kak Anggun dampingi Al. Dia memiliki kesempatan untuk bertemu anak-anak jika dia bisa bertahan selama hukumannya." Al meneteskan air matanya, membayangkan posisi Citra membuat hati Al sakit.
Altha menganggukkan kepalanya, memberikan Aliya izin. Tetapi Alt tidak bisa menemani Al, karena urusannya dengan Citra sudah lama selesai.
__ADS_1
Al akan menjadi jembatan antara Citra dan anak-anaknya, karena Altha tahu dia tidak bisa memisahkan anak-anak dari ibu kandungnya sejahat apapun dia.
"Kenapa kalian tidak mengakhiri saja hubungan dengan Citra? mengapa harus repot menjenguk dan menyemangati dia?" Dimas hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Aliya yang masih ingin bertemu.
"Kak Dim, kita hanya ingin menjaga hubungan baik, kejahatan tidak harus dibalas kejahatan kak." Anggun menyentuh tangan suaminya yang masih kesal karena Anggun selalu membicarakan Citra.
Dimas melepaskan tangan istrinya, menjaga hubungan baik memang tidak salah, masih kurang baik apa mereka kepada Citra yang hampir merenggut nyawa anak-anak.
"Kalian berdua sadar tidak sedang hamil? bagaimana jika Citra berbuat nekad dan menyakiti salah satu?" Dimas menatap tajam Aliya dan Anggun yang menundukkan kepalanya.
Suara langkah kaki Dika terdengar, duduk melihat dua pasang keluarga yang masih berdebat.
"Masalah Citra lagi, kenapa kalian yang ribut?" kening Dika berkerut, merasa aneh.
"Jangan ikut campur," balas Dimas yang melirik sinis.
"Aku pernah menjenguk dia bersama Salsa, beberapa kali, dan dia cukup menyedihkan." Dika melangkah pergi menuju kamarnya.
Anggun menghentikan Dika, mempertanyakan soal hubungan Citra dan dokter Salsa. Hubungan baik keduanya apa mungkin sandiwara.
"Kak Anggun, Salsa dan Citra hanyalah hubungan dokter dan pasien. Dua orang yang tidak saling mengenal." Senyuman Dika terlihat, melangkah duduk kembali.
Salsa orang lain saja mensupport seorang penjahat seperti Citra agar kuat dan bangkit, meskipun dia tahu Citra memiliki banyak kejahatan, namun dengan ketulusan hati setiap dua Minggu sekali menjenguk.
"Dika tidak setuju jika anak-anak melihat kondisi Citra, tapi kita sebagai orang yang mengenal dia bukannya berbaik hati untuk menyemangati." Dika menatap satu persatu orang yang menatapnya tajam.
Aliya tersenyum menyetujui ucapan Dika, mereka sudah memiliki kebahagiaan dan harus melupakan keburukan Citra agar membuka lembaran baru.
"Dunia ini bukan tempat bersenang-senang, tapi tempat diuji. Besok Al ingin menjenguk Citra."
"Dika temani, agar kedua keponakan uncle Dika aman." Dika memberikan dua jempol untuk Aliya dan Anggun.
"Ada tiga Dik." Al menunjuk perutnya yang ada twins.
Dika dan Dimas langsung kaget, bertepuk tangan hidup Altha akan semakin repot jika lahir lagi dua wanita.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazara