
Kesibukan di rumah sakit membuat Diana tidak punya waktu pulang ke rumahnya, bahkan tidak punya waktu untuk melakukan perawatan.
"Berapa banyak uang yang aku hasilkan?" Di memperhatikan wajahnya yang mulai kusam, memiliki banyak uang tapi wajahnya berantakan.
"Dokter Di, sudah waktunya mengecek pasien."
Diana menatap sinis, langsung melangkah pergi menemui pasiennya. Sepanjang perjalanan Di melihat orang memperhatikannya.
"Ada apa mereka menatap aku?" Di menatap tajam.
Dokter di samping Diana tersenyum, Di memiliki wajah yang cantik, tapi memiliki sikap yang kurang baik sehingga banyak orang takut.
Satu-persatu Diana mengecek pasien yang semakin banyak, dan memastikan jadwalnya agar bisa mengatur pertemuan.
"Sebaiknya aku perawatan." Di meninggalkan rumah sakit dengan mobil mewahnya, berhenti di lampu merah menatap pengendara motor yang sangat Diana kenal.
Gemal ada di jalanan bersama seorang wanita yang mengunakan seragam polisi, melaju dengan kecepatan sedang setelah lampu berubah hijau.
Di mengikuti motor Gemal, keduanya terlihat sedang mengobrol sambil tertawa bersama. Bahkan tangan wanita yang bersama Gemal memeluk pinggang dengan mesra.
Tatapan Diana sinis, langsung melewati motor Gemal untuk menuju ke tempat salon kecantikan yang sudah lama tidak dia kunjungi.
"Diana, lama tidak berkunjung? di mana Mommy kamu?"
"Di rumah, mungkin sebentar lagi menyusul." Di langsung duduk meminta perawatan seperti biasanya.
Satu jam Diana tertidur, bangun karena mendengar suara Tika yang sudah ribut langsung memeluk Di.
"Diana kamu cantik sekali."
"Percuma cantik, tapi jomblo." Ria mengejek Diana yang melemparnya menggunakan tisu.
Aliya memeluk putrinya yang sudah duduk ingin melakukan perawatan kuku, juga merapikan rambutnya.
Al mendekati Diana yang memainkan ponselnya, tidak ada yang Di bahas kecuali soal pekerjaan.
"Kak Di belum ingin menikah? atau masih ada kewajiban yang belum terpenuhi?" Al menatap kakaknya dengan senyuman manis.
Diana menghela nafasnya, dia belum mempertanyakan dengan Daddy dan Mommynya. Apalagi Dimas bukan pria yang mudah luluh.
Sejauh ini belum ada pembicaraan soal pernikahan, Dimas bahkan melarang Di untuk keluar dengan sembarang lelaki.
"Aku tidak tahu, bahkan belum menemukan lelaki yang sepaham." Diana mengangkat kedua bahunya.
Anggun datang seorang diri, mencium pipi Diana yang sangat dirindukannya.
"Kak Anggun, Diana ingin menikah?" Al langsung tertawa.
Tatapan Diana melotot, menggelengkan kepalanya tidak membenarkan ucapan Aliya yang sembarangan.
"Tidak boleh, jika bukan lelaki baik dan bisa menjamin kamu bahagia." Anggun sudah membicarakan dengan Dimas dan mereka berdua sepemikiran.
__ADS_1
Diana tersenyum terserah kedua orangtuanya, Di juga tidak yakin sudah siap menikah apalagi dirinya yang super sibuk.
"Kenapa tidak pacaran dengan kak Gemal?" Tika tersenyum menunjuk kukunya yang sudah bersih.
Aliya setuju, karena Gemal memang anak baik dan sangat mandiri meskipun sikapnya pecicilan.
"Dia sudah punya pacar, Gemal tidak masuk daftar." Di menyilang tangannya.
Ria langsung tertawa, mengejek Diana yang cantiknya hanya untuk dilihat oleh orang sakit, dan tidak ada yang menyukainya sebagai wanita.
"Kenapa anak kamu ini Al? mulutnya ingin rasanya dicabein." Di melotot tajam.
"Mirip kakaknya yang sangat cerewet, suka bertengkar mirip preman." Al tersenyum melihat Atika yang cemberut.
Anggun membayar biaya perawatan Diana, langsung menuju ke tempat makan siang mereka yang sudah Aliya pesan terlebih dahulu.
Tangan Aliya melambai melihat Helen datang, Ria dan Tika langsung berlari ingin memeluk sempat rebutan ingin minta digendong.
"Maaf, Aunty belum bisa menggendong." Elen terlihat sedih mencium wajah Tika dan Ria yang sangat disayanginya.
"Alhamdulillah, sudah isi. Akhirnya Yandi berhasil menanam dengan baik." Al memeluk Helen mengucapkan selamat.
Anggun juga memeluk Elen mengucapkan selamat, meminta Helen berhati-hati karena kandungannya masih muda.
"Selamat Elen." Di mengulurkan tangannya.
"Terima kasih Di, kamu cantik sekali. Bahkan wajah kamu dan Al hampir tidak mirip." Elen tersenyum mengagumi kecantikan Diana.
"Gemal." Senyuman Helen terlihat, menyapa Gemal yang langsung berdiri menyapa.
Tatapan Gemal tertuju kepada Diana, langkah kaki Di langsung pergi lebih duluan ke ruangan private tanpa menyapa Gemal yang sedang bicara dengan Helen.
Atika menatap sinis, langsung melangkah pergi mengejar Diana yang sudah pergi lebih dulu.
Ria duduk di meja makan Gemal, menatap wanita yang duduk manis menggunakan jaket Gemal karena tidak nyaman menjadi pusat perhatian melihat seragam polisi.
"Cantik tidak, seksi lumayan, melihat dari makanan tidak mewah. Kakak pacarnya kak Gemal? saingan kecil." Ria menyatukan jempol dan telunjuknya meremehkan wanita yang makan bersama Gemal.
Aliya langsung menutup mulut putrinya, menariknya untuk pergi lebih dulu ke ruangan makan mereka.
"Ria jaga mulut kamu." Al melangkah kesal.
"Kak Di lebih cantik dari dia, Ria tidak menyukainya."
Aliya melotot melihat putri kecilnya, siapa peduli dengan pendapat Ria. Gemal terlihat bahagia bersama wanita yang makan bersamanya.
Di dalam ruangan Diana tertawa bersama Tika, melihat rekaman video yang membuat keduanya terpingkal-pingkal tertawa.
"Kak Di tertawa menutupi luka, kasian. Dia dan kak di 80 banding 5." Ria menunjukkan ekspresinya yang sok pintar.
"Ria kamu jangan membuat malu, rusak harga diri Di. Lagian aku dan Gemal hanya sebatas pasien dan dokter." Di mencubit telinga Ria gemes.
__ADS_1
Suara panggilan ponsel terdengar, Diana langsung menjawab dengan ekspresi wajah tidak bersahabat.
"Diana pergi dulu Mom, ada masalah dengan pasien Di."
"Hati-hati Diana." Anggun mengusap kepala putrinya yang masih sempat mencium Tika dan Ria, juga memeluk Mommynya.
Diana berlari, Gemal hanya memperhatikan langkah Diana yang sangat terburu-buru. Langsung membayar makanannya dan meninggalkan temannya.
"Diana tunggu, ada yang ingin aku tanyakan?"
"Nanti saja, aku buru-buru." Di langsung mencari taksi, karena mobilnya tinggal di salon.
"Gem, ayo kita kembali ke kantor."
"Shilla, kamu pulang sendiri, aku ada pekerjaan. Hutang makan akhirnya lunas." Gemal tersenyum, tapi tatapannya melihat Diana yang menyebrangi jalan ingin naik taksi.
Senyuman Shilla terlihat, mempersilakan Gemal pergi dan mengucapkan terima kasih untuk traktirannya.
Gemal langsung mengambil motornya, mendekati Diana yang sedang berdebat dengan ibu-ibu rebutan taksi.
"Di, ayo aku antar ke rumah sakit."
"Tidak!" Diana menatap kesal Gemal.
"Yakin, aku pergi ya." Senyuman Gemal terlihat, memberikan helm.
Diana menghentakkan kakinya, rambutnya bisa rusak jika menggunakan motor, wajahnya yang baru saja perawatan bisa tekena debu.
"Sialan." Diana langsung memasang helm dan naik ke motor Gemal.
Senyuman Gemal terlihat mendengar ceramah Diana yang memikirkan rambutnya, wajahnya, maskara yang bisa rontok karena angin.
"Punggung aku bisa remuk kamu pukul Di, bisa diam tidak." Gemal berhenti di lampu merah.
"Aku bisa jelek." Diana memonyongkan bibirnya.
Diana mengambil ponselnya, melihat pesan jika pasiennya sudah stabil dan berhasil diatasi.
"Astaghfirullah, handphone." Diana teriak, ponselnya diambil orang.
"Kenapa juga kamu main handphone di jalan?" Gemal berteriak kesal.
"Kejar Gemal!" Di memukul helm Gemal kesal melihat jambret.
***
jangan lupa like coment Dan tambah favorit
follow Ig Vhiaazaira
VOTE hadiahnya ya
__ADS_1
3bab hari ini done, maafkan jika ada TYPE