ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
DISAKITI


__ADS_3

Suara pukulan Diana mendarat dipunggung Juna, Shin langsung memeluk Juna erat karena terkena pukulan juga.


Tangan Juna mencoba menahan Diana yang sedang marah, masalah serius terjadi kepada Shin, tetapi Juna sengaja menutupinya.


"Kak Di cukup, malu di lihat orang." Juna menatap tajam, melihat Shin yang masih memeluknya erat.


"Tindakan kamu tidak mencerminkan sikap seorang Dokter,"


"Salah Juna apa? aku sudah memintanya menghubungi keluarganya, segala keputusan ada pada pasien." Juna melepaskan Shin yang harus menghadapi Diana.


Kepala Di menggeleng, Shin keluarga bagi Diana. Dia sudah dianggap seperti Putri Diana sendiri, masalah sakitnya Shin disembunyikan cukup lama darinya.


"Shin baik-baik saja Kak Di?" Tatapan Shin melihat ke arah lain.


Diana yang melihatnya langsung hancur hatinya, Di tidak tahu apa masalah Shin sampai bisa mengalami kebutaan.


"Kak Di ada di samping kamu, tega sekali kamu menyembunyikan ini Shin." Air mata Diana hampir menetes.


"Maafkan Shin Kak, ini hanya sementara. Shin akan segera melihat kembali."


"Berapa lama kalian menyembunyikan ini? separah apa cendera mata kamu?" nada bicara Diana sangat tinggi, sampai menjadi pusat perhatian.


Tatapan Diana melihat Juna, meminta penjelasan Juna. Sekalipun harus ke ujung dunia, Di akan mengobati Shin meskipun kesempatan bisa melihat hanya satu persen.


Juna meminta Diana tenang saja, dalam beberapa hari Juna pastikan Shin bisa melihat kembali. Kondisi Shin tidak seburuk yang Diana pikirkan.


Awalnya juga Juna sama khawatirnya jika Shin buta permanen, tapi baru saja Juna mendapatkan kabar baik jika dugaannya salah. Juna akan segera mengecek ulang dan menjadwalkan operasi.


"Apa yang harus Kak Di katakan kepada Mam Jes dan Papa Calvin? hari ini mereka tiba, apa yang harus Kak Di jelaskan?" tatapan Di tajam.


"Juna masuk duluan." Arjuna langsung melangkah pergi tidak ingin ikut campur.


Shin memanggil Juna, tetapi tidak dihiraukan. Kepala Shin terduduk takut berhadapan dengan Diana.


Tangan Di mengusap kepala Shin, langsung merangkulnya untuk masuk ke dalam rumah sakit.


Di tidak tega melihat gadis cantiknya tidak bisa melihat, Diana yang mendapatkan kabar saja langsung terduduk lemas, apalagi Mama mertuanya yang sangat menyayangi Shin.


"Maafkan Shin Kak, aku hanya tidak ingin menjadi beban siapapun?"

__ADS_1


"Kak Diana mengerti, tapi kita ini keluarga kamu Shin. Ini bukan masalah kecil, kamu buta." Diana membawa Shin ke ruangan pribadinya.


Kepala Shin mengangguk langsung meneteskan air matanya, dirinya juga merasakan sedih tidak bisa melihat Diana langsung.


"Sudah jangan menangis, kita obati mata kamu secepatnya. Kak Di pastikan, ini sementara." Tangan Diana menghapus air mata Shin.


Kepala Shin mengangguk, menggenggam tangan Di langsung mencium mengucapkan terima kasih.


Shin tidak menyangka jika ada orang lain yang sangat tersakiti saat mengetahui kondisinya, semangat Shin kembali untuk segera sembuh.


Diana meminta Shin menjelaskan apa yang terjadi kepada dirinya sampai bisa mengalami kebutaan, Diana yakin bukan masalah sepele.


Pelan-pelan Shin menceritakan soal rumahnya yang hancur, dan kembalinya Maminya yang melakukan kekerasan. Shin dipukuli oleh lima orang, sampai mengalami cendera parah.


Shin juga mendengar cerita Tika, jika dirinya tidak sadarkan satu minggu dan saat terbangun Shin tidak bisa melihat apapun.


"Bohong, aku tahu kuatnya fisik kamu Shin. Ada masalah lain yang terjadi sebelumnya." Di tersenyum sinis, Diana sangat tahu dunia kejahatan dan tidak bisa Shin dibohongi.


Kemampuan bela diri Shin sangat tinggi sejak muda, dan setelah dewasa bisa dua kali bahkan tiga kali lipat.


Dipukul oleh beberapa orang tidak akan membuatnya sampai buta, patah tulang saja masih Diana ragukan.


"Berarti ada orang lain yang menutupi, salah satunya Juna." Di menggelengkan kepalanya, langsung mengecek ulang laporan soal kondisi Shin.


Kepala Shin langsung terduduk, tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Diana tidak pernah bohong soal ucapannya, dan sangat pintar membaca ekspresi seseorang.


"Apa ada orang yang meracuni Shin? siapa dia?" tatapan Shin tajam, langsung berdiri meraba meja untuk berjalan ke jendela.


Diana hanya terdiam, merasa kasian dengan hidup Shin yang sangat malang. Sejak kecil tidak mendapatkan kasih sayang, dan saat besar menjadi target pembunuhan berencana.


Bibir Shin bergetar, tangisannya langsung pecah berteriak kuat memukul dinding dengan kedua tangannya. Shin membenturkan kepala sampai Diana menahannya.


Pelukan Diana sangat erat, bisa merasakan hancurnya hati Shin yang baru menyadari jika dirinya di racun agar mati secara perlahan.


Organ tubuhnya satu-persatu akan melemah sampai akhirnya mengalami kelumpuhan, kebutaan, bahkan kematian.


"Kenapa Tika tidak mengatakan apapun?"


"Pasti dia menjaga perasaan kamu, kak Di yakin Tika tidak tinggal diam soal ini." Di mengusap wajah Shin.

__ADS_1


"Kenapa mereka ingin membunuh Shin Kak? padahal aku tidak pernah menuntut apapun." Tangisan Shin sangat menyayat hati Diana yang melihatnya.


Luka Shin sama seperti Diana yang dulunya kehilangan sandaran, sekarang Shin juga sama berada dalam luka yang sangat menyakitkan.


Shin memberikan ponselnya kepada Diana, meminta menghubungi Tika. Shin ingin tahu siapa pelaku, juga alasan dirinya harus disingkirkan.


"Salah aku apa lahir ke dunia ini ya Allah? mengapa kejam sekali?" Shin memegang dadanya yang terasa sesak.


Tangisan Shin terdengar sangat kuat, pintu ruangan Diana terbuka. Di kaget melihat Papa mertuanya datang, melihat kondisi Shin yang sedang terpukul.


Tangan Calvin melambai dihadapan Shin, langsung mengepal kuat melihat Shin yang tidak bisa melihat lagi.


"Papa, salah aku apa lahir ke dunia?" Shin menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kamu tidak salah, Papa yang salah terlambat menemukan kamu sampai harus menderita sejauh ini." Papa Calvin memeluk erat Shin, tidak mengerti apa salah Shin yang memiliki sikap baik dan ceria, tetapi disakiti oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


Diana mengusap air matanya, mengusap kepala Shin yang sudah tersenyum terlihat baik-baik saja.


Senyuman Calvin terlihat, Shin wanita yang sangat kuat dan tidak pernah berlarut dalam kesedihannya langsung bangkit untuk kuat kembali.


"Kamu harus kuat, ada Papa yang akan menjaga kamu. Mulai hari ini siapa yang menyakiti kamu, akan menjadi urusan Papa."


"Tidak Pa, Shin ingin menyelesaikan sendiri."


"Kamu gagal menjaga diri sendiri, sampai bisa mengalami kebutaan."


"Papa yang mengatakan kepada Shin, kamu harus jatuh agar tahu rasanya sakit, bangkit, dan bertahan. Shin sudah jatuh berkali-kali, bangkit berkali-kali, sekarang Shin akan bertahan sampai pelaku terungkap." Shin menggenggam tangan Calvin, berjanji tidak akan terluka lagi.


"Kamu tahu Mama jatuh pingsan saat tahu kamu mengalami kebutaan. Rumah sudah heboh, banjir air mata. Shin mengerti pentingnya dalam keluarga ini. Enam tahun yang lalu, kamu menjadi Putri Papa, dan mulai sekarang kebebasan kamu dibatasi. Papa tidak rela, kamu disakiti oleh masa lalu." Calvin bicara tegas tidak memberikan kesempatan kepada Shin untuk bebas seperti sebelumnya.


Senyuman Shin terlihat, langsung memeluk Papa Calvin. Meskipun dirinya tidak akan berdiam diri disakiti, Shin akan mencari pelakunya.


"Pa, siapa Dokter Liana? apa dia lebih cantik dari Shin? Papa lebih sayang siapa?" Shin mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


Diana dan Calvin saling pandang, binggung dengan pertanyaan Shin.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2