ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
DITAHAN


__ADS_3

Belum selesai sampai tuntas acara, Aliya sudah berlari kencang ke lantai atas begitupun dengan Atika, Ria yang penasaran hanya mengikuti Mami dan kakaknya.


Amarah Tika tidak terbendung lagi, layar laptopnya yang sudah aktif di lantai paling atas hotel sudah menemukan titik terang penyebab Isel keracunan.


"Siapa pelakunya Tika?"


Al dan Tika menatap layar, Aliya mengambil alih melihat detail setiap rekaman. Banyaknya pelayan yang berkerja membuat kesulitan.


"Siapa dia Mi?"


Seseorang ymengambil tanda pengenal pelayan yang sudah diseleksi sebelumnya, masuk area makanan. Tidak ada yang dia masukkan kecuali minuman yang dikhususkan untuk Ana.


Al mengerutkan keningnya, apa tujuan menyerang Ana. Dosis racun yang dimasukkan juga cukup banyak, jika hanya untuk membuat lumpuh.


"Dia berencana membunuh Kak Ana? kenapa?" Tika menatap Maminya.


"Kenapa harus Ana?"


"Tujuannya kemungkinan Kak Juna karena Ana calon istrinya. Atau bisa jadi ada yang melamar Kak Ana, namun ditolak membuat sakit hati. Tujuannya tetap dendam." Ria duduk santai menatap dua wanita yang wajahnya sama-sama serius.


Seseorang dilempar tepat di hadapan Aliya, tangan pelayan gemetaran saat melihat Al yang menatapnya mematikan.


"Aku tidak menyukai lawan yang lemah, katakan jika ada yang memerintahkan kamu." Al menatap tajam memastikan.


Tendangan Tika kuat membuat muntah darah, high heels tinggi sudah menginjak leher. Tika tidak akan bertanya siapa yang memerintah, dan tidak membutuhkan penjelasan, mati sudah pasti untuk orang yang menyakiti keluarga.


"Kamu ...."


"Diamlah, aku akan mengirim kamu ke neraka dengan cepat." Tika tersenyum sinis, melihat wanita dibawah kakinya sudah muntah darah.


Secara tiba-tiba Tika memutar tangan sampai patah membuat teriakan kesakitan terdengar sangat besar meminta pertolongan.


"Hanya tangan yang patah, belum leher. Nikmati dulu rasa sakitnya, aku harus menemukan komplotan kamu." Tika kembali ke depan komputernya.


Ria yang melihat kakaknya sampai merinding, Tika bisa lebih kejam dari Maminya tanpa memandang usia.


Di layar terlihat jelas seorang pria berbadan besar melewati Dina, tubuh Dina terpental sampai jatuh saat pria besar menabraknya.


Tanpa dibantu dan meminta maaf pria tersebut meninggalkan Dina, dan tidak bertahan lama Dina mendekati Genta lalu jatuh pingsan.

__ADS_1


"Kenapa kamu mengikuti Dina? seharusnya mengejar pria besar tadi." Al menatap Tika yang menatap tajam ke layar.


"Rindi." Tangan Tika menatap layar, menghentikan rekaman. Rindi melihat ke arah kamera sambil tersenyum manis.


"Jangan dihiraukan Tika, Rindi hanya suka bercanda karena itu menatap kamera." Al meminta Aliya fokus kepada pria yang lewat dan menyebabkan Dina jatuh pingsan.


"Tidak Mi, aku yakin Rindi sedang memberikan petunjuk, seharusnya di sini ada Shin." Tika menghubungi Shin, meminta segera datang ke hotel.


"Kamu menuduh Dina pelakunya?" Al mengulangi rekaman.


Aliya terdiam menatap layar yang terus diulang-ulang sampai Aliya paham tuduhan Putrinya.


Pintu terbuka, Diana melangkah dengan tatapan mematikan. Melihat seorang wanita yang meringis kesakitan.


"Bawa semua pelaku ke sini, aku sendiri yang akan mencabut nyawa mereka!" Di melangkah ke pinggir balkon, melihat ke arah bawah.


"Kak Alin, Dina pelakunya. Kenapa dia mencelakai Ana?" Aliya menunjukkan tablet ke arah Diana yang matanya masih tajam ke arah bawah.


"Aku tidak peduli siapapun, mereka harus merasakan yang Putriku rasakan." Di mengambil tablet memperhatikannya dengan tajam.


Kening Di berkerut melihat ke arah Rindi yang tersenyum, seakan-akan Rindi tahu jika seseorang sedang melakukan kejahatan.


"Bagaimana keadaan Isel?"


Air mata Di menetes, Putrinya sedang tertidur kemungkinan mereka akan lama tidak mendengarkan suara Isel. Bagian vital suara terluka ulah racun, dan Isel tidak bisa bicara sampai pulih.


Sepuluh jam Diana tidak mendengarkan suaranya saja hancur, apalagi akan lama tidak mendengar keributan Putrinya.


"Siapapun boleh menyakiti aku, tapi tidak dengan ketiga anakku." Di mengusap air matanya, perasaannya sebagai seorang ibu hancur.


"Mereka juga harus terluka lebih dari Isel,"


"Aku mempertaruhkan segalanya melahirkan putriku, bermalam-malam tidak tidur karena dia terlalu aktif, setiap hari membuat kepalaku hampir pecah, bahkan dia menjadi musuh di dalam hidupku. Beraninya ada yang menyakitinya. Aku tidak rela Aliya, dunia ini hancur melihatnya terluka." Bibir Diana bergetar merasa sakit melihat kondisi Putrinya.


Kedua tangan Aliya mengepal kuat, air matanya juga menetes melihat Diana menahan amarah sampai meneteskan air matanya.


Dari jarak jauh, Tika sudah mengeluarkan senapan jarak jauh untuk menemukan pria yang bersama dengan Dina.


"Siapa pelaku utamanya Tika?"

__ADS_1


"Dina, nama aslinya Dinata." Shin dan Rindi juga sampai, kondisi Shin masih terlihat lemah.


"Tanya Shin saja Kak Diana, dia yang menyelidiki identitas Dina." Tika terkejut melihat Shin yang terlihat lemah.


"Minggir, aku ingin melihatnya." Shin mendekati senapan, melihat ke arah bawah.


Senyuman Rindi terlihat menatap ke bawah, meminta wanita yang sudah patah tangannya dijatuhkan ke bawah.


"Kakak ingin aku lempar? kira-kira patah berapa ya? Rindi melemparkan batu sambil menghitung kecepatan.


Suara Tika terdengar memberikan perintah, ada empat pelaku yang bekerja sama untuk menyusup ke dalam hotel. Membawa keempat termasuk Dina.


Mereka semua akan dikumpulkan menjadi satu untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya yang sudah menyakiti si kecil.


Satu-persatu orang dilempar, tapi tidak ada yang bisa menemukan keberadaan Dina. Bawahan Tika sedang bergerak mencari keberadaannya.


Tubuh Dina terlempar, tapi kondisinya sudah penuh luka. Darah juga masih mengalir di hidung dan mulutnya.


"Jadi kalian berenam yang merencanakan untuk menyakiti Putriku? kalian tahu siapa aku? membunuh hal biasa, melenyapkan kalian semudah membalikkan telapak tangan." Di tertawa lucu melihat empat laki-laki dan dua wanita.


Aliya menutup pintu agar tidak ada lagi yang masuk, sebelum hukum bertindak maka mereka akan memberikan hukuman setimpal.


"Aliya buka pintunya, Sayang biar kamu yang bertindak." Altha menggedor pintu kaca yang tidak bisa pecah sekali peluru menebusnya.


"Tolong Dina, Tante selamatkan Dina." Tangan Dina memegang kaku Diana yang langsung menendangnya sampai terpental.


"Ini semua rencana kamu Dini, kamu harus bertanggung jawab!" Teriakkan wanita yang patah tangan terdengar.


"Aku bukan Dini, aku Dina. Tolong selamatkan aku dari Dini. Dia sangat jahat." Tangisan terdengar mengejutkan Tika dan Shin yang saling pandang.


Tawa Rindi terdengar, mengusap kepala Dina melayangkan pukulan kuat membuat Dina tidak bergerak lagi.


"Ternyata kasus ini akan panjang," Al tersenyum sinis.


Teriakan dari luar terdengar, Altha, Gemal, Genta bahkan Juna sudah teriak-teriak meminta pintu dibuka. Gemal meminta Diana tidak melakukan kesalahan hanya karena emosi.


"Diana, tolong buka pintunya." Gemal mengetuk pintu kaca memohon.


****

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2