ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MELEPASKAN KESEDIHAN


__ADS_3

Anak-anak semua berada di mobil, hanya orang tua yang duduk menunggu tidak ada yang berani mendekat ke makam ke dua orang tua Shin dan Genta karena tidak sanggup melihat Shin. Hanya Mam Jes, Anggun, Genta, Atika, Gemal, dan Papa Calvin.


Meskipun Shin tidak meneteskan air matanya, ucapan salam saja menguras air mata. Dari kejauhan Juna dan Hendrik duduk memperhatikan.


"Shin menyimpan kesedihan sangat besar, dia mampu menyembunyikannya namun orang sekitarnya tidak sanggup. Genta yang aku anggap pria kuat dan tidak pernah menunjukkan kesedihan juga meneteskan air mata. Sedalam apa luka kamu Shin?" Hendrik mengusap air matanya.


"Emh ... seseorang yang menyembunyikan kesedihan lebih mudah mengalami stres dan menyiksa dirinya sendiri. Lebih baik dia meluapkan semuanya." Juna melihat Mam Jes melangkah pergi bersama Papa Calvin.


Aliya dan Diana juga hanya duduk diam melihat dari kejauhan, tidak berani mendekati lagi. Hati terlalu hancur saat Shin memanggil Mama.


"Berdoa Aliya, Genta sudah memimpin doa. Nanti kamu kesurupan." Di menyenggol Aliya yang termenung.


"Kak Alina, terima kasih sudah menemani Aliya, tidak meninggalkan Al sendiri di dunia ini." Air mata Aliya menetes, memeluk Diana yang menangis kembali.


Anggun juga kembali bersama Gemal setelah berdoa, mata keduanya merah karena menahan air mata.


"Ayo Dek kita pulang, nanti saat ada waktu kita main lagi ke sini." Genta merangkul tubuh Shin untuk berdiri.


"Shin masih ingin di sini, tinggalkan saja Shin sendiri." Senyuman Shin masih terlihat, menyentuh nama Mamanya.


Genta menatap Atika yang duduk di samping Shin, merangkul sahabatnya untuk kuat. Atika akan selalu menemani Shin kapanpun dia ingin menemui kedua orangtuanya.


"Shin, kamu tahu gunanya air mata? menangis jika memang bersedih, tertawa jika memang bahagia. Jangan ditahan." Tika menggenggam tangan Shin kuat.


Kepala Shin mengangguk, melihat ke arah seluruh keluarga yang duduk menunggu mereka bertiga yang masih tetap di makam.


"Ma, siapa nama aku? kalian belum memberikan aku nama. Kira-kira Mama suka tidak dengan nama Shin sekarang." Bibir Shin bergetar, matanya merah masih menatap ke arah keluarga.

__ADS_1


Satu tetes air mata terjatuh, Shin mengusap nama Mamanya yang sangat indah. Orang selalu mengatakan jika nama adalah doa, tapi Shin mendapatkan nama bukan untuk Doa, namun mengantikan orang lain.


Seandainya dulu dia sudah bernama, pasti Shin akan menggunakan nama yang menjadi doa dari kedua orangtuanya.


Air mata Shin terus menetes memeluk makam Papanya, ingin merasakan pelukan seorang ayah. Shin ingin cinta pertamanya lelaki yang akan melindunginya.


"Papa, peluk Shin sekali saja." Tangisan Shin terdengar sangat kuat.


"Sekali saja, setidaknya kalian datang kepada Shin. Satu kali saja ... kenapa tidak bisa? aku tidak meminta apapun, Shin hanya rindu." Dada Shin semakin sesak, Genta sudah mengusap punggung meminta Adiknya mengerti.


Genta akan menggantikan peran Papa dan Mama untuk Shin, meskipun tidak bisa mengobati rasa rindu.


Sebesar apa kesedihan Shin, juga sama seperti Genta. Dirinya juga rindu, dirinya juga ingin bertemu. Jika bisa meminta, Genta ingin bertemu orang tuanya meksipun hanya dalam mimpi.


"Shin, kita bisa bahagia berdua. Biarkan Mama dan Papa tenang, dan melihat kita dari atas." Air mata Genta juga menetes membasahi pipinya.


"Kita pulang ya Dek? matahari hampir terbenam, kita lepaskan segala kesedihan di sini. Mulai kehidupan dengan penuh kebahagiaan, kita mulai semuanya dari awal." Tangan Genta mengusap punggung adiknya yang hanya diam saja.


"Mama, Shin tidak akan menangis lagi." Tangan Shin mengusap air matanya, menatap ke arah depan membuat Genta dan Tika binggung.


"Papa jaga Mama, Shin dan Kak Genta baik-baik saja di sini. Kita akan selalu bersama, jangan khawatirkan kami lagi." Air mata Shin tidak terbendung lagi seakan-akan melihat kedua orangtuanya datang.


Lama Shin diam seakan mendengarkan orang berbicara, hanya air mata juga senyuman kecil terlihat. Hatinya yang hancur perlahan tenang, menghentikan tangisannya.


"Shin pulang ya Ma, Papa. Kalian bahagia di surga, Shin akan kirimkan doa. Terima kasih sudah melahirkan Shin ke dunia ini, aku sangat mencintai kalian." Shin memeluk satu-persatu makan kedua orangtuanya.


"Ayo kita pulang." Tika mengulurkan tangannya kepada Shin.

__ADS_1


"Sebentar Tika ... Mama, Shin bahagia dengan hubungan Kak Genta dan sahabat Shin, dunia tenang akan segera hancur, tapi dia wanita yang baik. Kak Genta akan bahagia bersamanya. Satu lagi Ma, Shin mencintai seseorang yang tidak bisa Shin miliki, tapi aku bahagia karena hubungan kita baik dan Shin rela melepaskan perasaan ini." Bisikan Shin pelan sambil tersenyum.


Tangan Shin menyambut Tika, berdiri bersama melangkah pergi. Satu tangan Shin menggenggam tangan Kakaknya, sesekali Shin menoleh ke belakang sambil tersenyum.


Sampai di mobil, Juna memberikan kacamata hitam untuk menutupi mata Shin yang bengkak. Memberikan air minum agar lebih tenang.


"Kenapa semuanya menangis?"


"Karena kita sayang kamu, bahagia selalu Shin. Di balik kesedihan ada kebahagiaan, suatu hari kamu akan menemukan kebahagiaan itu." Aliya memeluk Shin, Diana juga memeluk menguatkan karena Shin tidak pernah sendiri.


"Kemarilah Adik perempuan Kak Gemal, berjanjilah ini akan menjadi air mata terakhir, Kak Gemal tidak ingin melihatnya lagi. Kamu mampu membuat banyak laki-laki menangis." Gemal memeluk adik perempuan satu-satunya yang harus mereka bertiga jaga.


Hendrik mengusap kepala Shin, hanya senyuman yang ingin mereka lihat. Hendrik akan menjaga makam kedua orang tua Shin, sehingga tidak perlu dicemaskan.


"Ke manapun kamu pergi, ada tempat kamu pulang. Ingatlah, kamu tidak sendiri. Ada Kak Hendrik di sini, ada Gemal dan Genta juga. Jika kamu marah kepada Genta, laporan pada Gemal, jika keduanya berulah katakan kepada Kak Hendrik." Senyuman Hendrik terlihat, mengusap air mata haru yang mengalir di pipi Shin.


"Terima kasih Kak, Shin kehilangan kedua orangtua, tapi diganti dengan tiga Kakak, Mama dan Papa yang tulus kepada Shin. Kak Genta akan sibuk pacaran, Kak Hendrik juga sibuk setelah menikah. Hanya Kak Gemal yang akan ada waktu untuk Shin." Bibir Shin monyong, mengejek Genta dan Hendrik yang saling pandang.


"Iya kalian berdua, Kak Hendrik sibuk malam pertama, Genta juga sibuk masih menyembunyikan hubungannya. Shin kamu sudah tahu siapa wanitanya? biarkan saja, mereka tidak tahu rasanya pusing rumah tangga apalagi memiliki anak seperti Iseeeeellllll." Gemal berlari melihat Putrinya sudah berdiri di atas kuburan orang.


"Papa, Mama, lihat ada bukit." Isel lompat-lompat melangkahi setiap makam.


"Bukit kepalamu, ini kuburan Isel." Gemal menggendong Putrinya membawa pulang.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2