ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
MENUA BERSAMA


__ADS_3

Suara tembakan terdengar, banyak orang yang ingin melarikan diri. Seluruh orang ditahan oleh kepolisian, sedangkan Salman sudah mengembuskan nafasnya setelah meminum racun.


"Apa yang diperdebatkan oleh Aliya dan Diana?" Kepala Yandi menggeleng dua wanita yang bicaranya saling teriak.


"Sudah aku katakan, jangan membawa Aliya hanya membuat ribut saja." Dimas menatap Altha yang mengangkat kedua bahunya.


Alt tidak bisa menolak jika Istri ada inginnya, Aliya memaksa untuk ikut dan melihat Salman secara langsung.


"Terima kasih Dimas." Calvin menundukkan kepalanya.


"Tidak perlu berterima kasih, ini sudah tugas dan kewajiban kami." Kening Dimas berkerut melihat Gemal yang mendadak pendiam.


Senyuman Gemal terlihat, mengucapkan terima kasih, dia tidak menyangka jika Papanya meminta bantuan Dimas.


Altha mengusap punggung Gemal, keluarga Gemal juga menjadi keluarga mereka dan melindungi Gemal sudah menjadi kewajiban yang tidak bisa diganggu gugat.


Beberapa mobil kembali meninggalkan rumah kosong, langit yang awalnya terang sudah berubah gelap gulita.


Mata Gemal memperhatikan wajah Papanya yang menyetir mobil, senyuman terlihat dari bibir Gemal.


Dia pikir Calvin orang yang sangat egois, tidak akan menundukkan kepalanya hanya untuk meminta bantuan, apalagi ucapan terima kasih.


Pikiran buruk Gemal langsung lenyap, melihat secara langsung Papanya yang berdiri sendiri, dan tidak ragu menurunkan keegoisannya.


"Tidurlah, saat tiba di rumah Papa bangunkan."


"Terima kasih Pa, Gemal pikir keluarga kaya hanya tahu memerintah, dan tidak tahu cara meminta maaf dan berterima kasih." Kepala Gemal tertunduk.


"Kaya dan miskin sama saja Gem, jika salah kamu harus minta maaf, jika ditolong ucapkan terima kasih, jika butuh bantuan ucapkan tolong. Jika kamu ingin menjadi manusia yang dihormati, maka terlebih dahulu hormati orang lain." Suara lembut berwibawa terdengar, Calvin menyentuh kepala putranya.


Tanpa keraguan, Gemal langsung memeluk Papanya. Suara tangisan pelan terdengar membuat Calvin tertawa.


"Laki-laki tidak boleh cengeng, hapus air mata kamu jangan sampai dilihat oleh Mama." Pelukan Calvin juga erat, menguatkan putranya.


Suara ribut terdengar di dalam mobil Dimas dan Diana, suara Diana mengomel terdengar membuat Dimas tertawa.


"Di kesal sekali melihat Aliya, bisa dia menjatuhkan harga diri Di mengatakan soal Hendrik, dasar tidak tahu sopan santun."


"Kamu malu kepada Gemal, atau Papanya?"


"Daddy, Di malu kepada semuanya. Cinta Diana yang hanya sebesar ujung kuku, kandas saat pertemuan pertama di restoran." Bibir Diana monyong, penolakan Hendrik langsung plus dengan penghinaan.

__ADS_1


Dimas hanya tersenyum meminta Diana tidur, berhenti mengomel karena apa yang Aliya katakan tidak ada yang salah.


Di memeluk lengan Daddy-nya, mengucapkan terima kasih karena sudah membantu Gemal dan kembali tanpa ada yang terluka.


"Calvin datang kepada Daddy, dan mengatakan. Dim, tolong jaga putraku. Dia nyawa dan hidupku, selamatkan Gemal agar tidak tersakiti lagi." Dimas bisa merasakan besarnya kasih sayang Calvin kepada putra semata wayangnya.


Calvin tidak datang meminta hukum Salman, tidak juga minta dijaga dirinya dan harga diri. Calvin datang bukan sebagai putra dari keluarga terpandang, bukan juga sebagai musuh Salman, dia datang sebagai Ayah yang ingin menjaga anaknya, datang sebagai suami yang ingin membahagiakan keluarganya.


Mendengar permintaan Calvin Dimas langsung mengumpul pasukan sebanyak mungkin, kedatangan mereka bukan untuk menangkap Salman dan bawahannya, tetapi melindungi Ayah dan anak.


"Di senang jika Gemal menemukan kebahagiaannya, dan sekarang dia memiliki rumah untuk pulang. Tenang hati Diana."


"Sebesar itu cinta kamu kepada Gemal?"


"Iya, besar sekali ...." Diana menghentikan ucapannya, menatap Daddy-nya.


Bibir Diana langsung manyun, Dimas langsung tertawa melihat ekspresi kesal dari wajah putrinya yang menutup wajahnya berpura-pura tidur.


Sesampainya di rumah, Dimas melihat istrinya yang mondar-mandir di depan pintu. kekhwatiran seorang ibu yang tidak pernah bisa tidur tanpa kabar dari putrinya.


"Mommy, Di pulang." Senyuman Diana terlihat, langsung berlari merentangkan tangannya memeluk erat.


"Alhamdulillah ya Allah, anakku pulang." Anggun mengecek tubuh Diana, menciumi wajahnya.


Dimas menggelengkan kepalanya, merangkul dua wanitanya untuk masuk dan melepaskan penat seharian bekerja.


"Daddy."


"Anaknya Daddy belum tidur?" Dimas langsung menggendong putra kecilnya.


"Besok libur sekolah Daddy, Dean tidak tidur karena menemani Mommy yang mengkhawatirkan kak Di." Dean mencium pipi Daddy-nya.


Kepala Dimas mengangguk, mencium wajah putranya penuh kasih sayang. Harta yang paling berharga bagi Dimas.


Pergi dari rumah untuk menjalankan tugas dan kewajiban, pulang ke rumah untuk melepaskan rindu terhadap ratu, putri dan sang pangeran kecil.


Langka Diana dan Dimas terhenti, makanan sudah penuh di atas meja. Keduanya saling pandang.


Demi menjaga tubuh yang ideal, menghilangkan kebiasaan makan malam, tapi jika sudah ada di atas meja tidak mungkin bisa menolak, karena akan mengecewakan Anggun yang sudah bersusah payah.


"Daddy turunkan Dean, cacing di perut sudah demo meminta makan." Suara langkah kaki Dean terdengar bersemangat sambil mengusap perutnya.

__ADS_1


"Dean rakus, perasaan makan terus."


"Namanya pertumbuhan kak Di, lihat perut Dean berbunyi."


Diana tersenyum sinis, mencubit telinga adiknya. Di tersenyum melihat Mommynya yang memberikan minuman untuk Diana dan Dimas.


"Makan malam hanya khusus untuk Dean, Mommy, kak Di dan Daddy tidak makan malam."


"Kenapa? kamu sudah kurus harus makan." Tatapan Dimas langsung tajam.


"Daddy juga kurus, Diana juga sangat kurus. Mommy ingin melangsingkan tubuh seperti saat gadis."


"Apa aku harus menyentuh tulang? Makan sekarang, aku tidak suka melihat wanita kurus seperti kurang makan, dan banyak beban hidup." Dimas mengambil piring, meminta Diana dan Anggun juga makan.


Dean menatap Daddy-nya yang mengomel, mata Dean melihat pergelangan tangannya mencari tulang yang Daddy-nya katakan.


"Dean tidak bisa melihat tulang, karena ditutupi oleh daging dan kulit." Kepala Dean geleng-geleng, melanjutkan makannya.


Diana sudah cekikikan tertawa, adiknya sangat lucu membicarakan soal tulang, tanpa mengerti peribahasa.


Selesai makan malam, Diana langsung masuk kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat.


Senyuman Diana terlihat menatap foto keluarganya, mengusap bingkai dan merenungkan kejadian puluhan tahun saat dirinya kecil.


Diana langsung menghubungi Aliya, dijawab oleh Altha langsung memanggil istrinya yang sudah teriak-teriak.


[Aliya, apa kamu bahagia?]


[Iya, kenapa tiba-tiba bertanya? kak Alina baik-baik saja?] Al langsung mengerutkan keningnya menatap suaminya.


[Emh, syukurlah jika kamu bahagia. Al, aku ingin meminta maaf untuk kejadian puluhan tahun yang lalu, aku yang menyebabkan kamu kehilangan orang tua, dan menjadi yatim-piatu. Maafkan aku.] Di mengusap air matanya.


Aliya meminta Diana ke depan balkon kamarnya, Al juga langsung keluar melihat Alin dari depan rumahnya.


Al tidak pernah mengingat lagi kejadian mengerikan itu, karena sekarang dia bahagia memiliki keluarga, juga bisa melihat Alina hidup bahagia dan menjadi orang baik.


"Kak Alin, Aliya sayang kakak. Ayo menua bersama." Al berteriak sangat besar.


"Tidak mau, kamu saja yang tua." Di langsung masuk dan menutup pintu sangat kuat merasa kesal.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2