ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SAMPAI


__ADS_3

Pesawat mendarat darurat, dan keberangkatan tertunda. Calvin sekeluarga menghubungi pesawat pribadi agar menjemput mereka.


Mam Jes menatap Juna yang duduk diam sambil membaca buku, Jessi berjalan mendekati, mengambil buku Juna.


"Kamu sudah menguasai materi, hanya membutuhkan praktek. Berapa IQ kamu Jun?" Mam Jes penasaran dengan kepintaran Arjuna.


Arjuna terdiam, tidak memiliki keberanian untuk memberikan jawaban. Calvin yang secara spontan menjawab jika IQ Arjuna sudah mencapai 200, dia masih remaja tetapi tingkat pembelajaran sangat tinggi.


Alasan Altha melepaskan Arjuna, karena kemampuannya sudah di luar kendali. Dia tidak bisa mengimbangi lagi teman seusianya.


Saat anak usia 10 tahun aktif bermain, sedangkan Arjuna sudah bisa menciptakan obat anti virus ciptaan dirinya sendiri.


"Juna, rahasiakan IQ kamu. Orang jenius tidak mengumbar siapa dirinya." Usapan tangan Calvin berada di punggung Juna.


Gemal akhirnya meyelesaikan wanita yang selamat setelah pendarahan, dan bayi yang dikandungnya juga baik-baik saja.


Tatapan Calvin tajam melihat putranya yang telat tahu.


"IQ kamu berapa Gemal?"


"Tinggi Pa, sampai Gemal juga tidak sanggup menggapai." Suara tawa Gemal terdengar, merangkul Juna untuk pindah pesawat.


Senyuman Calvin terlihat, tidak mengerti dengan sikap putranya sendiri yang memiliki IQ tinggi, tapi lebih terlihat bodoh.


Mam Jes melihat Hendrik berlari, saat berada di dalam pesawat terjadi perdebatan antara Diana, Calvin dan Hendrik.


Sampai akhirnya Diana diminta mundur, dan Hendrik yang dibantu oleh Calvin untuk menghentikan pendarahan.


"Kamu baik-baik saja sayang?" Mam Jes melihat tangan Hendrik terluka.


"Baik Tante, Mama."


Tangan Calvin mengusap kepala Hendrik, memuji keberaniannya dalam mengambil tindakan. Bahkan Diana yang terkenal jenius memiliki keraguan, tapi Hendrik yang sudah berbulan-bulan tidak melakukan operasi berani ambil resiko.


Tatapan Hendrik melihat Arjuna, keberanian Hendrik datang dari Juna. Karena apa yang Juna lihat bukan hanya kondisi ibu, tapi gerakan bayi yang secara tiba-tiba muncul.


Tidak mungkin mengeluarkannya, padahal dia masih bergerak dengan aktif. Dan sebagai seorang dokter, harus memberikan peluang hidup sekecil apapun.


"Ayo, kita lanjutkan perjalanan." Mam Jes menggenggam tangan Hendrik, sedangkan putranya Gemal sudah berjalan lebih dulu merangkul Diana dan Juna.


Pesawat pribadi keluarga Leondra terbang, Diana melanjutkan tidurnya yang tertunda. Arjuna tidak bisa .tidur lagi, masih membaca bukunya dengan sangat hening.


Berada di dalam pesawat berjam-jam membuat Gemal bosan, apalagi semua orang memilih untuk tidur.

__ADS_1


Melihat hendrik lebih memilih menonton, bekali-kali Gemal menarik baju masih saja diabaikan.


"Kak Hendrik, ayo kita main."


Hendrik langsung melihat ke arah Gemal, hal konyol yang Gemal ucapakan membuatnya terkejut.


Sudah menikah dan berumur, masih saja pikirannya soal main. Melihat tatapan adiknya akhirnya hendrik menurut saja, permainan apa yang Gemal inginkan.


Keduanya mengeluarkan ponsel, hampir dua jam keduanya bermain game ponsel, tapi belum ada yang kalah.


Hendrik melepaskan ponselnya, Gemal langsung menjentikkan jarinya di kening Hendrik sebanyak sepuluh kali.


Suara tawa Gemal terdengar, Calvin yang sudah bangun melihat tingkah laku Gemal yang sengaja membuly kakaknya.


"Gem, kamu masih menyimpan dendam?"


"Sedikit, ingin lanjut lagi tidak?"


"Tidak mau, lelah main berjam-jam." Hendrik mengusap keningnya.


Tawa Gemal tidak berkesudahan, baru main game beberapa jam saja sudah lelah, tidak tahu saja proses membuat anak lebih lama.


Hendrik meminta Gemal diam, dia ingin beristirahat sebentar saja dan berhenti menjahilinya.


"Cepat sekali Pa, bukannya sekitar satu jam lagi." Gemal melihat jam tangannya.


Senyuman Calvin terlihat, pesawat akan berhenti di atas istana keluarga Leondra. Diana dan Juna terbangun melihat di kaca banyak orang berlarian.


"Siapa mereka?" Di menatap Juna yang menggeleng.


"Orang-orangan sawah, sayang." Gemal mentertawakan Diana yang duduk di depannya.


Pintu pesawat terbuka, Calvin langsung turun, menggenggam tangan istrinya. Diikuti oleh Kakek Ken bersama Nenek.


Hendrik juga turun, Gemal berteriak meminta Hendrik memegang tangannya. Calvin langsung melempar Gemal menggunakan sepatu.


"Lompat Gemal, ini anak jahilnya tidak ada obat."


Mam Jes langsung mengulurkan tangannya, menyambut putranya yang memang sangat jahil. Dia suka menggoda orang sekitarnya.


Para maid menundukkan kepala menahan tawa, tuan muda mereka sangat unik dan ramah terhadap siapapun.


Gemal mengulurkan tangannya, menyambut istrinya yang masih mengantuk. Semua mata melihat ke arah Diana yang terlihat sangat dekat dengan Gemal.

__ADS_1


"Perkenalkan, dia Diana. Istri Gemal." Mam Jes tersenyum memperkenalkan menantu pertamanya.


Terlihat sekali wajah kaget dan merasa tidak nyaman, karena kembalinya Gemal yang kedua kalinya membawa istrinya.


Calvin juga memperkenalkan Hendrik, dan juga Arjuna sebagai tuan muda baru yang memiliki hak sama seperti Gemal.


Semua orang harus menghormati Hendrik, dan juga Arjuna. Melayani mereka sama saja melayani keluarga Leondra.


"Juna sayang, ayo kita turun." Mam Jes merangkul Juna, turun melalui lift.


Juna tidak menyangka rumah keluarga Leondra luar biasa mewahnya, bahkan memiliki area pesawat terbang pribadi.


Di dalam rumah, memiliki hampir tiga ratus asisten rumah tangga yang tinggal di paviliun keluarga.


"Ini kamar Arjuna." Mam Jes membuka pintu, mempersilahkan masuk.


Saat mengetahui Juna akan pindah, dan kuliah dunia kedokteran. Calvin sangat bersemangat, menyediakan lab pribadi, dan segala keperluan Juna langsung dipenuhi.


"Keluarga Leondra semuanya dokter, dari generasi pertama sampai kepada Calvin. Kamu tidak perlu heran jika banyak hal medis di sini." Mam Jes tersenyum melihat Juna yang menyukai rumah barunya.


"Mama, jika keluarga Papa Calvin dokter, lalu sebelumnya Mama bekerja sebagai apa?"


Jessi tersenyum, dirinya Putri semata wayang keluarga terpandang, dan seorang desainer terkenal dengan brand sendiri.


Sejak awal Jessi memang sudah mempunyai kemewahan, juga hidup mandiri. Sama seperti Juna yang meninggalkan keluarga, demi mengejar mimpi.


Diana berjalan bersama Nenek, beberapa hal nenek jelaskan membuat beberapa maid menatap sinis.


Di sangat mengerti dengan pandangan tidak suka, pasti sebagai orang berharap bisa memiliki Gemal dan mengubah keturunannya.


"Kenapa kamu sayang?"


"Rumah ini banyak wanita, dan mereka juga pengemar Gemal. Tidak suka dengan kehadiran Diana." Di menatap sinis, melihat wajah-wajah yang meremehkannya.


"Jangan khawatir Di, lelaki yang setia dia yang digoda seribu wanita, tapi istrinya tetap yang istimewa. Jika berhasil melewati ujian wanita, dia layak dikatakan pria setia, jika tidak berhasil, campakkan." Calvin secara pribadi akan mendepak Gemal dari keluarga Leondra.


Di tersenyum, ucapan Papa mertuanya tidak pernah main-main. Apa yang Calvin katakan sudah menjadi peraturan.


"Baru juga pulang Pa, sudah siap diusir saja." Gemal memeluk Diana dari belakang dan memintanya untuk ikut ke kamar.


Di menurut saja dengan suaminya, berjalan ke kamar Gemal untuk beristirahat. Diana dan Gemal kaget melihat kamar mereka, Di bahkan melangkah mundur.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2