ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
HUBUNGAN TERBONGKAR


__ADS_3

Sepanjang acara pesta Tika dan Shin tidak banyak terlihat, hanya sesekali saja. Biasanya menjadi biang masalah, mendadak tenang.


Sampai acara selesai tidak banyak masalah yang terjadi, saat makan malam bersama Tika dan Shin juga tidak terlihat batang hidungnya.


"Di mana dua wanita ini? dari tadi Aliya perhatikan mereka sibuk sendiri." Al menatap ponselnya menghubungi Tika.


"Biarkan saja sayang, daripada membuat masalah." Altha menatap istrinya yang membatalkan niatnya untuk melakukan panggilan.


"Diamnya mereka, tanda-tanda adanya bencana." Di menyahuti sangat paham dengan tingkat laku keduanya.


"Mama, Ma ... Mama." Gion menarik lengan Diana untuk menatapnya.


"Kenapa anakku?"


"Boleh tidak Gion punya kartu ATM, boleh ya Ma." Wajah memelas terlihat merayu Diana.


"Untuk apa Gion?" Gemal menatap Putranya yang tidak biasanya meminta selain makanan.


"Laki-laki harus punya ATM, Gion ingin punya pacar." Senyuman terlihat membuat Gemal batuk hampir mengeluarkan makanannya.


Mata Diana langsung tajam menatap Putra pertamanya, meksipun ada darah Gemal yang suka mencari perhatian banyak wanita bukan berarti Gion mengikuti jejak Papanya.


"Gemal Diana, Kak Dimas boleh minta bantuan." Altha menunjukan ponselnya.


Gemal mengangguk langsung beranjak pergi, Diana menyentuh kening Gion. Dia tidak akan pernah memiliki ATM sebelum berusia tujuh belas. Gion menghitung sampai ke kakinya jika masih membutuhkan kurang lebih hampir sepuluh tahun baru bisa memiliki pacar.


"Awas ya jika berani meminta ATM kepada Papa, Mama blok semua." Di beranjak pergi mengikuti Gemal dan Altha.


Juna dan Genta juga beranjak pergi menemani Hendrik yang masih mengobrol bersama beberapa orang penting.


Papa Calvin juga tidak terlihat, hanya tersisa para wanita juga anak-anak yang menikmati makanan masing-masing.


Suara Isel mengoceh terdengar, mengejek Ria yang make up-nya heboh. Mengejeknya mirip Joker.


"Kamu tahu wajahnya Joker?"


"Tahu?" Isel menunjukkan wajah Joker yang membuat Ria memukul meja.



Suara tawa semua orang terdengar, Al meminta Ria duduk tenang menghabiskan makanannya. Suara Ria sangat menganggu.

__ADS_1


"Kamu tahu acara Halloween? wajah kamu mirip mereka yang menyeramkan." Mata Ria sinis melihat Isel.


"Isel tidak tahu acara itu,"


"Ini wajah kamu, jelek sekali." Tawa Ria terdengar menunjukkan foto membuat Isel ngambek.



Puas mengejek akhirnya Ria diam, melihat sekeliling yang tidak menunjukkan keberadaan Kakaknya Tika yang memang tidak bisa diam.


"Isel punya rahasia tahu,"


"Rahasia apa?" Gion ikutan penasaran.


Isel tersenyum meminta semua orang mendengarkan cerita, kejadian yang sudah cukup lama dan Isel baru mengingatnya.


Mendengar keseriusan Isel, semuanya fokus ke arah Isel. Diana yang baru kembali juga melihat ke arah anaknya yang mulai dengan pembukaan menyebut nama Papa dan Mamanya.


"Waktu malam-malam, sudah larut malam. Isel mendengar Mama dan Papa bercerita soal Kak Tika dan pacarnya Uncle Genta." Senyuman Isel terlihat menatap Gemal, Hendrik, Rindi, dan Kakeknya Dimas yang bergabung.


"Siapa pacaran dengan siapa?" Dimas melihat Gemal yang tersentak kaget.


"Mustahil, tidak mungkin pacarnya Genta itu Atika? mungkin salah." Mam Jes menatap wajah Gemal dan Diana yang sudah terdiam.


Jantung Diana berdegup kencang, ingin sekali meremas mulut Putrinya yang akhirnya membocorkan rahasia yang disembunyikan oleh Genta dan Tika.


"Benar Nenek, Isel tidak pernah bohong." Wajah cemberut terlihat karena dikatakan dirinya mengarang cerita.


Isel masih ingat jelas, jika Mamanya memergoki Atika dan Genta sedang bertengkar karena foto yang dikirim oleh Gion. Tika merasa cemburu melihat kekasihnya berdekatan dengan wanita lain, sehingga membalas dengan menghabiskan waktu dengan pria lain.


Genta sangat marah sampai terjadi perdebatan, keputusan keduanya merahasiakan hubungan tidak Genta setujui, namun Tika tetap memaksa.


"Isel mendengarnya dari Mama dan Papa, bukan mendengar langsung." Isel tersenyum melihat Mamanya.


"Sayang, cerita karangan kamu bagus sekali. Tidak di skip sedikitpun." Gemal tertawa mengusap punggung istrinya.


"Ini bukan karangan, tapi fakta. Papa tidak boleh bohong, ingat dosa." Isel tertawa, mengejek Papa dan Mamanya.


Diana memukul wajah sendiri, kesalahan dirinya yang meminta Isel menyembunyikan apa yang dia dengar dan lihat dari keributan Genta dan Tika. Putrinya menyimak apa yang dia ceritakan kepada Gemal.


"Apa benar Diana? kamu melihat langsung jika keduanya memiliki hubungan?" Mam Jes masih merasa ragu.

__ADS_1


"Maaf Ma, Diana tidak punya hak untuk mengatakannya. Di sudah memperingati keduanya." Wajah Diana memelas melihat suaminya yang sudah menutup wajah, mengucapkan banyak istighfar melihat tingkah Putrinya.


Ria tersenyum lebar, bertepuk tangan pelan menyukai permainan Kakaknya Tika yang tahu Pria tampan dan kaya ada di dekatnya. Ria berpikir, Genta pria yang sempurna untuk dijadikan calon suami, ternyata Kakaknya main duluan sebelum Ria yang menjodohkan keduanya.


"Jadi mereka pacaran?" Al menatap Diana tajam.


"Iya, tapi bisa kalian berikan waktu ...." Di memejamkan matanya kaget mendengar pukulan meja sangat kuat.


Aliya terlihat marah, melangkah pergi begitu saja. Diana dan Anggun berdiri mengejar Aliya yang mungkin mencari Tika.


"Kenapa Aliya terlihat marah?" Altha langsung duduk bersama Genta, dan Papa Calvin.


"Ada apa Ma?" Calvin menatap istrinya yang geleng-geleng kepala.


Isel dan Rindi baru saja ingin menjawab, namun mulutnya ditutup oleh Gemal dan Hendrik. Kondisi akan semakin panas jika keduanya memberitahu Altha.


Suara tawa Tika dan Shin terdengar, keduanya tidak mengetahui apapun yang terjadi. Juna juga datang untuk bergabung.


"Sekarang juga kita pulang, Mami banyak perkejaan yang menumpuk." Al menatap Tika tajam.


"Kenapa dadakan sayang? kita pulang dua hari lagi."


"Al katakan pulang sekarang, maka sekarang."


"Mami kenapa?"


"Kamu boleh menunda pulang Juna, karena ada Citra." Al menarik napas panjang.


Diana menarik lengan Al untuk menjauh, caranya tidak menyetujui hubungan Tika dan Genta terlalu menyakitkan bagi keduanya.


"Aku sudah menduga ini, tapi Altha sudah menegaskan jika dia ingin Tika fokus karir. Setelah aku pikirkan, membiarkan Tika dan Genta akan merusak hubungan keluarga." Al tidak ingin ada perselisihan karena keduanya berpacaran.


"Mami sudah tahu, bagus lah. Bagi Tika restu Mami keputusan mutlak yang tidak bisa Tika lawan. Haruskah Tika meninggalkan pria yang Tika cintai, jika Iya. Akan Tika lakukan, restu Mami segalanya bagi Tika." Kepala Tika menunduk, menggenggam tangan Shin.


Aliya memalingkan wajahnya, menghentakkan kakinya mendengar Tika memilih mengakhiri hubungannya. Mengizinkan Maminya mengatur hidupnya, apapun pilihan Aliya menjadi pilihan Tika.


"Kenapa seperti ini? kenapa percintaan anak orang tua harus ikut campur? biarkan mereka memilih." Di meneteskan air matanya yang dikhawatirkan terjadi jika Genta dan Tika harus berpisah.


"Kenapa kamu tidak pernah menentang Mami satu kali pun?"


"Tika takut, hati Tika belum siap dan tidak akan pernah siap jika kehilangan sosok Ibu kedua kalinya. Maafkan Tika Mami, memilih mencintai pria yang hati Tika pilih." Air mata Tika menetes di pipinya.

__ADS_1


__ADS_2