
Tawa Alina terdengar, menatap orang kepercayaan Aliya yang ada di sisinya. Sungguh kasihan membayangkan perasaan adiknya sekarang, dia pasti sedang menangis histeris saat orang kepercayaan berkhianat.
"Altha, laki-laki satu-satunya yang Aliya percaya. Alin, aku mohon lepaskan Aliya sebagai balasan aku menyelematkan kamu." Tatapan dingin terlihat, menatap gadis psikopat yang membenci orang lain bahagia.
Senyuman sinis Alin terlihat, jika Aliya menemukan orang kepercayaan maka Alina ingin menjadi Aliya, untuk menjadi istri Altha.
Rencana Alin berubah haluan, dia tidak ingin hidup sendirian dan ingin memiliki pasangan. Orang yang paling tepat, dialah Altha.
"Altha tidak bodoh, dia bisa mengenali kamu."
"Aku tidak perduli, bagaimanapun caranya aku harus mengantikan Aliya."
Apapun akan dilakukan agar Alin bisa bersama Altha, tapi dengan syarat harus melepaskan Aliya dan membawanya pergi jauh dari hidup Altha.
Alina bisa menjadi Aliya, begitupun sebaliknya. Mereka berdua akan bertukar posisi untuk selamanya.
Seseorang yang sudah bersama Aliya sejak kecil, pria satu-satunya yang ada disisi Aliya saat tersulit baginya akhirnya berkhianat.
"Maafkan aku Aliya, terima kasih sudah menjadi sahabatku. Dan aku harus membayar hutang kepada Alina demi kamu."
"Sudahlah Vito berada di sisi Alina jauh lebih menguntungkan, aku akan membiarkan Aliya hidup bebas." Suara tawa Alina terdengar.
Kepala Vito menggeleng, dia tidak bisa mempercayai psikopat gila seperti Alina. Pikiran Alin tidak normal lagi, dan dia bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.
Membunuh bagi Alin seperti menginjak semut, memukul nyamuk, tidak ada yang berarti baginya.
Selesai membersikan sisa darah, Alin langsung bersiap untuk menemui kedua anak Altha yang sudah menunggu kepulangannya.
Tatapan mata Alin langsung gelap saat mendapatkan kabar jika Altha berhasil menemukan markas, bukan hanya markas tapi seluruh area bisnis mereka sudah ditahan.
Alt tidak main-main kepada orang yang menyadapnya, bahkan bawahan Alina meledakkan markas dalam aksi bunuh diri sebagai perjanjian mereka jika tidak ada yang boleh hidup jika sampai ketahuan.
Foto Altha langsung dilempar dengan belati, Alin terpesona dengan ketampanan Altha juga kecerdasan yang bisa mengalahkannya.
Aliya saja tidak bisa menemukan dirinya, tapi Altha dalam hitungan hari bisa menemukan markasnya.
"Tidak heran Citra dan Aliya jatuh cinta kepada kamu, pesona kamu sangat luar biasa Altha." Sentuhan lembut di foto Altha membuat Alin mengkhayal liar.
__ADS_1
Selesai mempersiapkan senjatanya Alin pergi sendiri tanpa Vito yang menggenggam tangan Alin untuk membiarkan Aliya hidup.
Mata indah Alin menutup pelan sambil tersenyum manis, langsung melangkah pergi menggunakan mobil yang berbeda.
"Mami Alin akan segera datang anak-anak, kita akan melihat jasad Citra bersama-sama." langkah anggun bagaikan model terlihat.
Sesampainya di rumah Altha banyak mobil polisi, Alin sudah mengetahui jika Altha melakukan penjagaan ketat, tapi bukan hal yang sulit bagi Alina untuk menembusnya.
Pintu diketuk, Elen membuka jendela melihat Al yang menundukkan kepalanya. Elen menolak membuka pintu melihat wanita yang memang asing baginya.
Juna langsung membuka pintu, melarang Al masuk hanya akan membuat keadaan semakin buruk.
Langkah kaki wanita cantik dan seksi masuk, Juna menatap tajam. Elen langsung menggendong Tika menatap tajam wanita yang mirip Aliya.
"Jun sayang, Mami rindu kamu."
"Jun, siapa Jun? Mami biasanya memanggil aku kakak." Senyuman Juna terlihat sinis.
Tidak ada rasa takut sedikitpun Juna tunjukkan, Juna percaya Maminya akan datang dan menyelamatkannya dari wanita jahat yang menyerupai maminya.
Kepala Alin mengangguk, melangkah mendekati Atika yang memeluk Elen. Tatapan tajam mata Elen membuat Alin tertawa kuat.
***
Aliya yang sudah ganti baju dan membersihkan darah di tubuhnya, langsung bersiap untuk menemui anak-anaknya.
Rumah Altha sudah di kelilingi puluhan polisi, Al langsung tersenyum melihatnya karena Altha sudah memberikan perlindungan kepada anaknya.
Al benafas lega, karena Altha baik-baik saja. Dia hanya belum bisa memberikan kabar kepada Al dan anak-anak.
"Cepat pulang Ayang, Al membutuhkan Ayang untuk berdiri." Al langsung melangkah masuk saat pintu terbuka.
Dika menahan tangan Aliya, ada mobil yang terlihat asing. Al tidak bisa masuk dengan mudah, mungkin sudah ada Aliya lain di dalam rumah.
Demi keamanan dan tidak membuat keributan, Dika langsung mengalihkan perhatian. Al masuk secara diam-diam, dan harus menghentikan manusia ular di dalam rumah.
Al menarik nafas dalam-dalam, mengembuskan perlahan. Langsung melangkah masuk dari pintu rahasia yang hanya dirinya dan Altha yang tahu.
__ADS_1
"Jangan sentuh putriku, jika tidak aku akan membunuhmu!" Al melangkah dengan senyuman liciknya, menatap Alina yang ingin mengusap kepala Atika.
"Mami." Tika langsung turun dari gendongan Elen berlari ke arah Aliya yang sudah berjongkok menyambutnya.
Al memeluk erat, mengecek tubuh Atika sampai berputar-putar takut jika Putrinya terluka. Al mencium seluruh wajah Atika memintanya untuk tenang dan tidak takut dengan apapun.
Juna juga mendekat langsung memeluk Maminya, bersyukur Maminya cepat kembali.
"Mami terluka?"
"Iya sayang, Mami sangat terluka. Juna masih ingat pesan Mami." Al menatap putranya yang menganggukkan kepalanya.
Tawa Alina terdengar, duduk santai menatap kisah mengharukan Aliya dan anak-anak yang seharusnya disingkirkan, karena mereka keturunan orang yang sudah membuat keluarga mereka hancur.
"Bagaimana keadaan Citra? apa dia sudah ma ...." Tatapan Alina tajam langsung berdiri mendengar Aliya berteriak.
Elen langsung menarik tangan Juna dan Tika untuk keluar bersama Dika dan Elen, jangan sampai Tika dan Juna mengetahui soal kondisi Citra dan adik mereka.
Emosi Alin langsung naik, dia tidak suka ada yang meneriakinya. Tubuh Aliya didorong kuat sampai jatuh terguling.
"Aku akan melenyapkan kamu jika sedikit saja kamu menaikkan nada bicara. Puluhan orang saja bisa aku singkirkan, apalagi kamu." Alina mencekik kuat Aliya yang juga menahan tangannya.
"Kematian keluarga kita bukan salah Mamanya Citra apalagi anak dan cucunya, kamu! kamu yang menghancurkan keluarga kita, kamu membunuh keluarga kita! dan mencari kesalahan orang lain." Aliya langsung menendang Alina sampai terpental.
Keduanya sama-sama mengarahkan senjata, Aliya melihat tangannya kembali berdarah dan melihat hidung Alina juga berdarah.
Alin menarik keputusan untuk membebaskan Aliya, dia ingin Al mati menyusul orang tua mereka.
"Aku akan membunuh kamu."
"Lakukanlah kak, jika memang dengan kematian Aliya bisa membuat amarah kamu terhenti. Lakukanlah." Al meneteskan air matanya, setelah sekian lama tidak menangis Al merasakan kembali sakitnya.
Al tidak mempunyai alasan untuk balas dendam, dia hanya ingin melindungi anak-anaknya dan akan menghentikan Alina.
"Aku ingin memiliki Altha, dia harus menjadi milikku." Alina tertawa mengarahkan senjata ke foto Aliya.
Kepala Aliya menggeleng, meskipun wajah mereka sama, sekuat apapun Alin berjuang mendapatkan Altha tidak akan bisa memilikinya semudah membalikkan telapak tangan.
__ADS_1
***
follow Ig Vhiaazara