ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
GARIS DUA


__ADS_3

Aliya memesan banyak makanan, melihat Diana dan Salsa makan dengan lahap. Anggun menatap Al yang hanya mengangkat kedua bahunya.


"Aliya, ayo kita pulang. Nanti mampir beli es krim." Di langsung melepaskan infusnya.


"Nanti pulangnya Di, periksa dulu. Makanan juga belum habis." Salsa masih mengunyah makanan.


"Diana tidak suka makanan seperti ini, kamu saja yang menghabiskan. Biar perutnya semakin besar, dan Kak Salsa terlihat rakus." Di langsung merinding mengejek Salsa.


Tatapan Salsa langsung sinis, bukan dirinya yang memesan banyak makanan. Diana mengatakan tidak suka setelah dia kenyang.


Al tersenyum langsung mengikuti Diana, niat periksa diundur karena meminta Gemal yang membawa Diana.


"Sayang, jalan lewat sana." Anggun merangkul Diana yang mengusap perutnya kekenyangan.


"Diana ingin melihat anaknya Yandi."


Al dan Anggun langsung terkejut, Diana memanggil Yandi padahal usia terpaut jauh. Aliya hanya mengikuti saja, jalan yang Di pilih tembus ke parkiran.


"Katanya ingin melihat bayi?"


"Nanti saja, beli es krim lebih penting." Di tersenyum melihat Aliya yang hanya menganggukkan kepalanya.


Mobil Aliya meninggalkan rumah sakit, menuju mini market terdekat agar Diana berhenti mengoceh soal es krim.


Al menemani Diana membeli es krim, sedangkan Anggun pergi ke apotek untuk membeli tes pack.


Melihat isi keranjang sudah penuh es krim, Aliya khawatir Diana bisa terkena flu jika banyak makan es krim.


"Astaghfirullah Al azim, banyak sekali." Wajah Anggun terkejut melihat isi keranjang.


Tatapan Diana langsung sinis, dirinya hanya mengambil sedikit, belum semuanya. Melihat banyak es krim, hati Diana bahagia.


"Kamu bahagia kak Di, kita khawatir." Al mengusap wajahnya.


Mobil Aliya langsung melaju untuk pulang, bahaya jika lama-lama di luar. Diana tingkahnya memang luar biasa anehnya.


Terkadang bisa bicara serius layaknya wanita dewasa, tapi jika lapar tingkahnya seperti anak kecil yang meminta perhatian.


Sampai di rumah Diana lupa dengan es krimnya, langsung berjalan masuk melihat Ria dan Dean sudah main tonjok-menonjok rebutan mobil-mobilan.


"Al, sembunyikan saja es krimnya. Kak Anggun akan meminta Diana tes langsung." Senyuman Anggun terlihat, menatap Aliya yang membawa es krim ke rumahnya.

__ADS_1


Suara Anggun teriak-teriak terdengar, meletakkan tes pack di atas meja. Mencari Diana yang sudah sibuk di dapur ingin memasak untuk suaminya.


"Di, Mommy rasa kamu sedang hamil?"


"Jangan bicara sembarangan Mommy, nanti Gemal tahu, menuduh Diana selingkuh. Baru saja menikah, langsung hamil." Di langsung cemberut.


Tawa Anggun langsung terdengar, memeluk Putrinya yang berpikir berlebihan. Gemal dan keluarganya orang berpendidikan, dan bisa berpikir hal yang menggunakan logika.


Anggun meyakinkan Diana untuk tes saja, karena perubahan sikap Diana sangat terlihat, lebih baik tahu lebih awal sehingga bisa berhati-hati, daripada terlambat tahu.


"Diana aneh sekali Mommy."


"Tidak sayang, hanya saja Di melakukan sesuatu yang tidak kamu sukai. Membeli es sudah lama Di tinggalkan, demi menjaga tubuh yang ideal, tapi sekarang Diana memakan apapun." Ciuman Anggun lembut di kening Putrinya.


Kepala Diana mengangguk, tidak tahu harus bahagia atau takut dengan hasil tes. Mendengar ucapan Mommynya ada benarnya, sebaiknya Di tahu sejak awal.


Diana sangat menyadari perubahan sikapnya, terutama porsi makan yang berlebihan. Di sangat menjaga makanan sehat, tapi sekarang apapun dia lahap.


"Kalian ada di perut Mimi ya? dasar rakus." Di mengusap perutnya pelan.


Anggun teriak kaget, tes pack yang baru Anggun beli sudah menempel di dinding, bahkan menjadi bingkai gambar Dean yang dihias oleh Ria.


"Bukan Dean Mommy, Ria yang mengatakan stik." Dean langsung melangkah pergi ke rumah Juan.


Senyuman Diana terlihat, menatap Ria yang memainkan tes pack mengingatkan Diana kepada Atika.


"Kak Tika di mana Ria?"


"Masih les, pulangnya malam. Soalnya baru saja pergi." Ria tersenyum menunjukkan bingkai gambarnya.


"Anak cantik, Mommy minta untuk tes kak Di."


"Biarkan saja Mommy, Diana menggunakan satu saja. Mommy juga membeli banyak sekali." Diana langsung melangkah ke kamar mandi.


Di dalam kamar mandi Di berfoto terlebih dahulu, bersamaan dengan Gemal yang melakukan panggilan video.


Gemal baru saja menghidupkan ponselnya, melihat pesan Di jatuh pingsan dan sangat khawatir.


Melihat istrinya tersenyum Gemal merasa lega, dirinya hampir langsung pulang. Diana menceritakan penyebab pingsan, karena kelaparan.


[Kak Gem, pulang nanti belikan Diana makanan banyak-banyak.]

__ADS_1


[Siap bos, kamu jangan lupa makan. Kak Gem pulang sekitar dua jam lagi, jangan membuat khawatir. Apa yang kamu lakukan di kamar mandi sayang?] Gemal mengerutkan keningnya saat Diana menunjukkan tes pack.


Jantung Gemal langsung berdegup kencang, takut Diana kecewa dengan hasilnya. Gemal juga tidak terpikirkan sampai sejauh yang Di harapkan.


[Diana takut. Kak Gem sudah siap menjadi Ayah belum?] Di tarik nafas buang nafas.


Melihat wajah khawatir Diana, Gemal meminta Di menunggu dirinya pulang, baru melakukan tes agar tidak takut.


Siapapun yang menikah pasti berharap segera menjadi orang tua, Gemal akan menjadi orang yang paling bahagia jika sampai positif.


Di meminta Gemal menunggu sebentar, langsung melakukan tata cara di tes pack. Di menunggu sesaat, tangannya sampai dingin menunggu hasilnya.


Dari balik panggilan, Gemal merasakan cemas. Langsung bersiap untuk pulang, apalagi melihat wajah Diana yang menunggu hasil tes.


Bibir bawah Diana digigit pelan, air matanya langsung menetes merasakan khawatir menunggu hasilnya, hati Diana merasa sedih, dan bercampur bahagia.


[Kak Gem, lihat ini.] Diana menunjukkan hasil tes pack, tidak bisa menahan air matanya langsung menangis.


Pintu kamar mandi terbuka, Anggun dan Aliya sudah menunggu dengan cemas. Mendengar Diana menangis langsung memaksa masuk, melihat Di menunjukkan hasil tes kepada suaminya.


Al langsung mengambil hasil garis dua yang terlihat sangat jelas. Air mata Aliya juga menetes, tidak tahu harus berekspresi seperti apa intinya dirinya bahagia, bahkan lebih bahagia, saat tahu dirinya yang hamil.


"Kenapa menangis? ini Ria kembalikan." Tangan Ria menyerahkan tes pack lainnya yang belum terpakai.


Suara teriakan bahagia Anggun terdengar, langsung memeluk lembut Diana yang sudah menangis sesenggukan.


Gemal yang mengetahui hasil tes garis dua, langsung cepat untuk pulang. Air mata Gemal juga sampai menetes.


"Ada apa Gemal?" Dimas melihat menantunya mengusap air mata.


"Ayo, kita pulang Daddy."


"Yandi sudah menjadi Ayah, kamu ingin menemui dia." Dimas binggung tidak biasanya melihat Gemal buru-buru.


Kepala Gemal menggeleng, dirinya ingin pulang dan menyambut bahagia karena dirinya juga akan menjadi Ayah.


Dimas mendapatkan pesan dari istrinya, mengatakan jika mereka akan menjadi Kakek dan Nenek. Senyuman Dimas juga terlihat, langsung memeluk Gemal erat, merasa terharu dan sangat bahagia.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


__ADS_2