ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
LAHIRAN


__ADS_3

Diana meringis menahan sakit perutnya, wajahnya juga mendadak pucat. Mual-mual sampai muntah.


Di mengambil ponselnya menghubungi Papa mertuanya untuk datang ke ruangannya, beberapa kali panggilan Diana tidak mendapatkan jawaban.


"Haduh, kenapa kalian mengamuk di perut Mama?" Di langsung berbaring, menarik nafas menenangkan anaknya.


"Diana, buka pintunya." Suara Calvin terdengar, langsung menekan sandi tanggal pernikahan Di dan Gemal.


Pintu langsung terbuka, Calvin tersenyum melihat kepintarannya yang bisa langsung tahu. Calvin langsung kaget melihat Diana keringat dingin.


"Astaghfirullah Al azim, kamu kenapa Diana?"


"Papa dari mana? Diana sudah memanggil bekali-kali."


Calvin mengecek ponselnya, dan tidak menyadari ada panggilan. Meminta maaf karena dirinya mulai tuli, sehingga tidak bisa mendengar suara dering.


Kedatangan Calvin karena merasa cemas, saat beberapa dokter membicarakan Diana selesai operasi wajahnya pucat.


"Salsa sudah ada di ruangan persalinan, dia datang ke rumah sakit sendirian tanpa suaminya, karena Dika masih di kantor." Calvin baru mendapatkan kabar soal Salsa.


Perut Diana yang sakit langsung hilang, Diana merasa tubuhnya langsung pulih. Cepat Diana keluar bersama Calvin, meminta Papa mertuanya menghubungi Mamanya jika Salsa ingin lahiran.


"Diana jangan lari, ingat perut besar kamu." Teriakan Calvin tidak dipedulikan, Diana tetap melangkah cepat.


Setelah menemukan ruangan Salsa, Diana langsung meminta izin untuk masuk. Dokter yang menangani langsung memberikan izin.


Perasaan Di sangat khawatir, tetapi Salsa masih sempat bermain game sambil menunggu bukaan.


"Woy, fokus dulu, jangan main handphone. Apa tidak sakit?" Di menyita ponsel Salsa.


"Santai saja Diana, setiap melahirkan pastinya sakit." Senyuman Salsa terlihat, langsung meringis menarik nafas buang nafas dengan pelan, mengusap perutnya lembut.


Mimik wajah Diana ketakutan, dirinya sangat mengkhawatirkan baby boy. Meksipun Salsa terlihat santai, ekspresi wajahnya menahan sakit yang luar biasa.


"Bagaimana kondisi kehamilan kamu Di?"


"Jangan tanya aku, pikirkan saja dulu nasib kamu."


Sesaat Salsa hening, meminta asisten pribadinya untuk segera bersiap, anaknya sudah ada di ujung memaksa untuk keluar.


"Air ketuban sudah pecah." Salsa meremas pinggir ranjang, merasakan sakitnya melahirkan.


Tiga dokter langsung membantu, Diana hanya berdiri memperhatikan lahiran Salsa yang terbilang sangat tenang.


Salsa juga tidak berteriak, hanya mengucap istighfar berkali-kali. Setelah pernikahan mendapatkan aba-aba untuk mendorong, barulah suara Salsa terdengar.

__ADS_1


Diana sudah mandi keringat dingin, rasanya perutnya juga merasa sakit yang Salsa rasakan. Anaknya juga rasanya memaksa untuk keluar.


Suara tangisan bayi terdengar, Diana langsung lompat kesenangan melihat bayi kecil yang sudah lahir dalam keadaan bersih tanpa darah.


Senyuman Diana lebar, gemes sekali ingin menyentuh bayi laki-laki yang tangisannya sangat besar.


"Welcome baby boy, kesayangan. Anak tampan, anak baik tidak menyusahkan Bundanya." Di langsung meneteskan air matanya menyentuh tangan kecil anaknya Dika.


Senyum kebahagiaan terlihat di wajah Diana, dia orang pertama yang melihat kehadiran putra pertama Salsa dan Dika. Wajahnya sangat tampan, matanya sipit mirip Salsa, meskipun keseluruhan wajah mirip Ayahnya.


Salsa tersenyum melihat Diana yang terlihat bahagia, berbicara dengan Putranya yang sudah tidak menangis lagi.


"Kamu nanti akan merasakannya juga Di."


Kepala Diana langsung menoleh ke arah Salsa, membiarkan asisten dokter memandikan bayi kecil.


"Selamat menjadi Ibu kak Salsa." Di menggenggam tangan Salsa erat.


Kepala Salsa mengangguk, menyemangati Diana agar bisa bertahan sampai lahiran. Salsa meminta Diana sementara mengurangi perkejaan, agar tidak terlalu kelelahan.


"Fokus saja kesembuhan kamu, jangan memikirkan aku." Di mengusap tangan.


"Aunty Di, gendong aku." Dokter menyerahkan baby boy ke arah Diana.


Kepala Salsa mengangguk, melihat Diana yang mengendong bayi sambil tertawa. Mendengar suara Dika dan Anggun datang hampir bersamaan.


Salsa mengizinkan Dika masuk, melihat suaminya yang sudah menangis karena sangat khawatir mendengar kabar istrinya bermobil sendiri ke rumah sakit.


Selama satu minggu di rumah anaknya tidak lahir, tapi saat Dika baru saja pergi langsung lahiran.


"Kenapa menangis?" Salsa tertawa mengusap wajah suaminya.


Dika mencium tangan istrinya, merasa bersalah karena tidak bisa menemani istrinya melahirkan.


"Maafkan aku sayang."


"Jangan bicara seperti itu sayang, anak kita sudah lahir." Salsa melihat Diana yang menggendong anaknya.


"Ayah bodoh sudah datang, aku sudah lahir lebih dulu." Di menyerahkan baby boy ke arah Dika yang menatap Diana tidak suka.


Suara Dika mengadzani anaknya terdengar merdu, Salsa dan Diana tersenyum melihat Dika yang mencium putra pertamanya.


"Siapa namanya kak Dika?"


"Devano Dirgantara." Dika mencium Dev kecil.

__ADS_1


Satu-persatu keluarga masuk melihat Dev, Anggun kagum melihat ketampanan Dev, wajahnya hampir mirip dengan Dean saat lahir.


Salsa membenarkan ucapan Anggun, wajah Dev sama dengan Dean, karena mereka mengikuti wajah Ayahnya.


"Gantengnya Dev, kesayangan Aunty." Anggun menggendong penuh kebahagiaan.


Aliya datang langsung masuk ruangan Salsa yang sudah dipindah, Al teriak histeris melihat Dev kecil yang sudah lahir dan wajahnya mirip Dika.


"Kenapa selalu mirip bapak, padahal Mama yang susah." Al menggendong Dev kecil.


Suara Ria, Juan dan Dean datang juga terdengar, langsung meminta Aliya menurunkan Dev, mereka ingin melihatnya langsung.


Ria menyentuh hidung Dev yang kecil, lalu menyentuh hidung miliknya yang ukuran berbeda jauh. Dean menyentuh mata, membuka mata Dev yang masih tidur.


"Kenapa Dean tidak punya adik?"


"Ria juga tidak punya, kita namanya anak bungsu." Ria mencari kaki Dev yang sudah dibedong.


Juan hanya menatap saja, tidak berani menyentuh karena Dev sangat kecil, tubuhnya juga lembut.


"Dia makan apa Aunty Salsa?" Juan melihat mulut kecil Dev.


"Masih menyusu sayang." Salsa sudah bisa berjalan membuat Dika berteriak panik.


Dika langsung menggendong istrinya ke kamar mandi, Diana kagum melihatnya. Meksipun Dika pria yang suka becanda, tapi terkadang suka emosian, tapi jika sudah jatuh cinta sangat bucin.


Keluarga lain juga berdatangan, kagum melihat Dev yang tidur dengan tenang meksipun mendengar banyak suara.


Diana hanya duduk diam, merasakan perutnya yang selalu datang sakit secara tiba-tiba. Perlahan Di mendekati Salsa yang masih tiduran sambil diinfus.


"Ada apa?" Salsa berbisik pelan.


"Sebenarnya perut aku dari tadi sakit, terkadang hilang dan sakit lagi." Di mengusap perutnya.


Salsa meminta asistennya untuk mengambil sesuatu di ruangannya, Salsa menyentuh perut Diana, merasakan pergerakan janin.


Keduanya bicara sangat pelan, agar tidak ada yang mendengarkan pembicaraan keduanya. Salsa merasa ada yang tidak beres, kandungan Diana sudah turun.


"Naik tidak berat badan kamu Di?"


"Naik hampir sepuluh kilo, sekarang tidak tahu lagi." Di mengusap perutnya.


Salsa mengambil ponselnya, menghubungi seseorang. Pembicaraan Salsa menggunakan bahasa asing yang hanya Diana, Salsa dan Calvin yang mengerti.


***

__ADS_1


__ADS_2