ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
SAINGAN


__ADS_3

Kening Tika berkerut, tatapan Shin juga langsung tajam melihat Tika yang tidak berkedip sama sekali.


"Orang yang membunuh keluarga Om tua, memiliki lambang itu." Tangan Tika menunjuk ke arah hotel.


Genta langsung masuk ke dalam mobil, meminta Tika memakai sabuk pengaman begitupun dengan Shin yang terlihat marah.


"Ada apa Shin?" Genta meminta Tika dan Shin berhenti bertengkar.


"Kenapa bisa dia memakai lambang yang sama Tik?" kedua tangan Shin menggenggam erat.


Pundak Tika terangkat, tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi. Dokter Li beberapa kali terlihat memakai gelang yang ada lambang. Bahkan Isel pernah menginginkannya, Li menolak memberikan.


"Om, antar Tika ke apartemen Citra."


Genta kebingungan melihat Tika dan Shin yang membicarakan sesuatu tanpa menyebutkan detailnya, pertanyaan Genta juga tidak mendapatkan jawaban sama sekali.


"Ada apa sebenarnya?" Genta menolak menjalankan mobil jika tidak ada yang menjawab.


"Kak, sedekat apa hubungan Kak Gen dan Dokter Liana?"


"Memangnya kenapa?"


"Jawab saja, jangan bertanya balik." Atika memukul punggung Genta yang kaget mendengar nama Liana.


Suara Genta meringis terdengar, Shin memukul tangan Tika yang menyakiti Kakaknya sampai meringis kesakitan.


"Salah satu duduk di depan,"


Tika dan Shin saling pandang, langsung rebutan duduk di depan membuat Genta garuk-garuk kepala. Tidak ada yang ingin mengalah sampai jambak-menjambak.


"Astaghfirullah Al azim," Genta menarik Tika agar berhenti.


Suara pukulan terdengar kuat, Shin menendang Tika sampai duduk dipangkuan Genta. Pinggang Tika sudah dipeluk, Genta meminta Tika berhenti.


"Shin, kamu duduk di belakang sekarang." Genta menahan kedua tangan Tika agar tidak bergerak lagi.


Bibir Shin monyong, pindah tempat duduk barulah Tika duduk di samping Genta. Tatapan mata dua wanita masih saling menyimpan dendam, bertengkar melalui padangan.


"Aku dan Liana berteman sejak kecil,"


Tika dan Shin fokus kepada Genta yang sudah menjalankan mobilnya, hubungan Genta dan Li sebatas teman masa kecil. Ayah Li sudah meninggal sejak Li kecil dan dia hanya besar bersama Maminya yang berprofesi sebagai seorang Dokter.


Dia Dokter kepercayaan keluarga Leondra sejak generasi sebelum Kakek Ken karena Ayah Li sejak muda sudah bekerja dengan Ayah dari Kakek Ken.

__ADS_1


Hubungan keluarga Leondra dan keluarga Li sudah seperti saudara. Cerita yang Genta ketahui dari Kakek Ken jika Ayah Li, Ayah Genta dan Kakek Ken rekan kerja yang memiliki hubungan baik.


"Hubungan aku dan Li hanya kenal sejak kecil,"


"Maminya Li mengenal Mama Kak Gen?"


Kepala Genta mengangguk, Mama Genta dan Li bersahabat dan memiliki hubungan dekat. Mama dan Papa Genta menikah, setelahnya Mama Li juga menikah.


"Aku tidak tahu detail, intinya keluarga kita saling mengenal."


"Saat kecelakaan, Kak Gen usia berapa?" Shin menatap Genta membandingkan usia Shin dan Li.


"Aku hampir seumuran dengan Li, beda satu tahun. Kita saling menyapa setelah aku tinggal di rumah Kakek Ken."


Tika menatap Shin yang duduk di belakang, Shin semakin penasaran dengan keluarga Li. Apa mungkin ada sangkut pautnya dengan hilangnya Shin, dan penyebab kecelakaan orangtuanya.


"Aku rasa ada yang aneh, Li terlihat mendekati Ay Jun, tapi perhatiannya kepada Kak Gen. Jangan katakan Li mendekati Juna demi sebuah tujuan, tapi hatinya ada pada Kak Gen." Shin menatap Tika yang terlihat kesal.


"Apa yang dia inginkan dari Kak Juna?"


Kedua bahu Shin terangkat, tidak ada satu orangpun yang bisa mendekati Juna kecuali keluarga. Juna bukan hanya seorang Dokter bedah, dia juga memiliki gelar yang bisa membantu Li untuk mendapatkan posisi bagus jika mampu mendapatkan kepercayaan Juna.


"Shin, jangan fitnah. Tidak baik. Li wanita baik,"


"Tatapan mata dia saat melihat Kak Gen sama seperti Rindi, penuh harapan. Aku yakin dia menyukai Kak Genta."


"Perempuan sialan, beraninya dia."


"Kenapa menyamakan Li dan Rindi manusia psikopat?"


"Diam! Kak Gen diam. Jangan pernah melindungi Li, ingat misi kita." Atika menarik kerah baju Genta.


"Misi apa? tidak ada yang memberitahu Shin?"


"Kamu jangan cemburu, ini hanya sebatas misi. Kita pura-pura pacaran." Tika tersenyum menatap Shin, menekankan kata pura-pura.


Shin mengulum bibirnya, menahan tawa melihat ekspresi Tika yang tidak tahu Hubungannya dengan Genta yang sebenarnya. Tidak mungkin Shin cemburu melihat sahabatnya menyukai Kakaknya.


"Yakin hanya pura-pura? jangan-jangan kalian pacaran di belakang Shin, tanpa angin apalagi hujan langsung menikah." Shin menatap kesal membuat Genta salah tingkah.


"Jangan bicara sembarang Shin, ini hanya misi. Tidak mungkin aku menyukai Om tua, dia bukan level aku." Tika meyakinkan Shin jika hanya sebatas misi.


Kepala Shin mengangguk, memaklumi hubungan keduanya karena Shin tahu Tika menyukai seseorang dan berencana menikahinya.

__ADS_1


"Tika punya pacar?"


"Belum Kak, tapi mereka mungkin akan langsung menikah. Pria itu bahkan menemui Papi Alt." Tawa Shin terdengar saat Tika menendang perutnya.


"Bohong, jangan percaya Kak."


Shin memeluk Genta dari belakang, jika misi pacaran dengan Tika selesai, Shin ingin diakui sebagai wanita paling spesial di hati Genta. Satu-satunya wanita yang tidak bisa tergantikan.


Genta tersenyum mengusap kepala Shin, tanpa diminta pasti akan Genta lakukan. Shin sangat berarti bagi Genta, bahkan nyawanya saja tidak penting. Satu-satunya wanita yang ada di hati Genta melebihi Mamanya yang juga abadi di hati Genta.


"I love you Kak Gen." Shin mencium pipi Genta.


Tika terduduk lemas, menatap kesal Shin yang tidak menghargai kehadirannya sama sekali. Tika menyaksikan keromantisan keduanya dengan hati yang terluka.


"Kalian berdua pacaran?"


"Iya, kita pacaran. Kamu pacar pura-pura, aku pacar nyata. Kita mirip tidak?" Shin tersenyum manis.


"Mirip, sangat mirip monyet." Tika memalingkan wajahnya, Shin langsung kembali duduk merasa puas mengerjai Tika.


Mobil tiba di apartemen Juna yang ditinggali oleh Citra, Tika melangkah keluar diikuti oleh Shin. Sedangkan Genta langsung pamit pulang.


"Tik, ayo kita taruhan. Ini sesuatu yang belum pernah kita lakukan." Shin menghentikan langkah Tika.


"Apa? aku lagi malas bercanda."


Shin tersenyum, menunjuk ke arah mobil Genta. Siapapun yang bisa mendapatkan hati Genta dia punya hak sepenuhnya. Mereka hanya perlu menjadi wanita nomor satu di hati Genta.


Saingan bukan hanya satu, tapi ada Rindi dan Liana juga yang akan memperebutkannya tanpa Genta ketahui.


"Aku tidak tertarik memperebutkan lelaki?"


"Kamu mengalah sebelum berperang, cukup buat Kak Gen jatuh cinta. Maka sisanya urusan belakang."


"Bagaimana jika aku jatuh cinta?"


"Misi sukses," Shin tertawa melihat Tika yang masih ragu.


Bagi Tika mengalahkan Rindi dan Liana bukan hal yang sulit, masalahnya hanya ada pada Shin. Tika tidak mungkin menyaingi sahabatnya.


"Kamu sudah kalah dari awal Shin, jauhi Genta jika tidak kamu kehilangan suami." Tika memegang kartu as Shin yang masih memiliki suami halu.


***

__ADS_1


follow Ig Vhiaazaira


__ADS_2