
sepuluh jam berada di dalam ruangan, tiga dokter hebat sekaligus yang menangani Isel. Tim yang membantu juga dokter pilihan yang Papa Calvin kirim untuk cucu kesayangannya.
Pintu ruangan terbuka, tangisan Diana langsung pecah. Kakinya terkulai lemas sampai terduduk, teriakan juga tangisan menggema.
Gemal yang melihat istrinya menangis sangat hancur, mengingatkan kembali saat Diana memohon agar diberikan izin mempertahankan kandungannya, memberikan kesempatan melahirkan anak-anaknya.
Kaki Gemal berat untuk melangkah melihat istrinya terluka hatinya, teriakan dua anak laki-laki terdengar berlari kencang memeluk Diana yang juga memeluk erat kedua anaknya.
"Mama mama, adiknya Gion mana? Ma, lihat mata Kakak, jangan menangis. Adik perempuan Gion mana? Mama ... Ma, jawab Gion." Tangisan Gion terdengar memegang wajah Mamanya.
"Mama, dada Abang sesak. Mama jangan menangis, Abang juga sedih. Adik Isel mana? kenapo Mama sedih? Isel sudah janji tidak nakal selama satu minggu, Mama marah ya? maafkan adik Isel Ma, jangan nangis." Kedua tangan Ian mengusap air mata Diana yang tersenyum sambil menangis.
Gemal melangkah memeluk kedua Putranya dan juga Putrinya, terlalu fokus kepada Isel tanpa disadari Gemal dan Diana melupakan kedua putranya yang bisa merasakan jika kembarannya terluka.
"Sayang, bagaimana kondisi Isel?" Gemal berusaha menahan air matanya menatap mata Istrinya.
"Kak, Isel masih tidur. Dia kesakitan, sakit hati Diana melihatnya tidak bersuara selama sepuluh jam. Diana menyesal meminta tidak nakal, Di sangat menyesalinya." Diana memeluk kedua Putranya, meyakinkan jika adiknya baik-baik saja.
Diana berdiri, melangkah mendekati Shin yang masih berdiri sambil tertunduk. Diana memeluk erat Shin, tidak ingin melepaskan sama sekali.
Tangisan Diana kembali terdengar, mengucapkan terima kasih kepada Shin yang sudah meyelamatkan putrinya. Diana bertahun-tahun menjadi dokter tidak mengetahui jika Putrinya menangis dan mengamuk karena kesakitan, sedangkan Shin langsung tahu.
Tanpa rasa ragu Shin mengobati Isel pertama kali dengan resiko yang besar, dia tidak menunggu prediksi lagi langsung bertindak dengan caranya.
"Terima kasih Shin, suntikkan yang kamu berikan kepada Isel menyelamatkan hidupnya. Kak Diana memiliki hutang nyawa kepada kamu." Di menakup wajah Shin yang juga menangis sesenggukan.
"Tidak Kak, bukan Shin. Kak Diana Ibu yang hebat bisa mengendalikan diri saat keadaan sedang kacau. Sepuluh jam coba mengeluarkan racun berbahaya agar tidak merusak organ tubuh. Kak Diana sangat kuat mampu melihatnya." Shin memeluk Diana, mengusap punggung.
Shin tidak merasa jika ada namanya hutang nyawa, Isel juga segalanya bagi Shin. Siapa yang rela kehilangan si kecil, jika Shin bisa menukar nyawanya dia siap memberikan kepada Isel.
"Wah, doa Shin dikabulkan. Kawan selamat, sekarang waktunya mencari pelaku." Rindi tersenyum sinis.
__ADS_1
Senyuman Diana terlihat, memeluk Rindi lembut. Mengusap kepala Rindi yang juga gerak cepat untuk Isel, bahkan sebelum Shin menyuntikan obat, Rindi yang membuat Isel muntah dengan menarik tubuhnya.
"Terima kasih Rindi, kawan kamu sedang beristirahat. Tidak sia-sia Isel berteman dengan wanita gila." Diana tertawa menatap Rindi yang memalingkan wajahnya.
Secara tiba-tiba Shin langsung jatuh pingsan, Diana langsung menarik tangan Shin memangku kepalanya.
"Kenapa kamu Shin?"
"Sebelum menyuntik Isel, Shin melakukan uji coba obat keras ke dalam tubuhnya. Itu ada bekas suntikan di pergelangan tangannya yang sudah membiru." Rindi menunjuk tangan Shin yang sudah biru sampai ke telapak tangannya.
"Juna, Kak Hendrik tolong Shin." Diana berteriak kuat memanggil yang ada di dalam ruangan Isel.
Juna yang masih mejelaskan kondisi Isel kepada Gemal langsung terhenti, mendengar teriakan Diana yang panik.
Hendrik berlari lebih dulu, khawatir jika istrinya membuat masalah. Juna dan Gemal juga bergegas keluar untuk melihat.
Betapa kagetnya Juna melihat Shin pingsan, tubuh Shin langsung digendong oleh Juna ke arah ruangan rawat.
"Apa yang terjadi kepada Shin?"
"Dia memasukkan suntikan obat keras ke dalam tubuhnya untuk mengetahui takaran dosis Isel." Juna memasangkan infus, memberikan obat agar tubuh Shin stabil kembali.
"Bahaya tidak Juna?"
"Tentu bahaya, Shin mencari mati." Rindi menakuti Gemal yang langsung panik melihat adik perempuan juga dalam bahaya.
"Biarkan Shin beristirahat," senyuman Diana terlihat mengangumi Shin yang menyelamatkan anaknya.
Racun yang masuk ke dalam tubuh Isel sama dengan racun berbisa, seperti ular yang memiliki bisa mematikan. Jika masuk ke dalam tubuh manusia menyebabkan kematian, dapat melumpuhkan saraf, menyerang jantung, juga merusak sel.
"Jika Shin menjadi dokter pasti bisa menciptakan obat berteknologi yang luar biasa, dunia medis memiliki banyak rahasia yang sulit dipecahkan oleh manusia jenius sekalipun." Di tersenyum mencium kening Shin.
__ADS_1
"Kenapa Shin memilih menjadi seorang koki?" Gemal menatap istrinya yang mengenal Shin sejak awal.
"Itu bukan pilihan Kak, dia tidak memiliki hobi. masak hanya cara dia menghilangkan rasa lapar, Shin menutupi semua bakatnya, memilih menjadi seseorang yang tidak berguna." Diana menggenggam erat tangan Shin.
Hendrik meminta Juna mengawasi Shin, sedangkan dirinya mengawasi Isel. Mereka kehabisan tenaga setelah berjam-jam berada di ruangan Isel.
"Ay Juna ingin makan apa? Rindi masakan ... belikan makanan, soalnya Rindi tidak bisa masak." Senyuman lebar Rindi terlihat menatap Juna yang menatapnya sinis.
"Pertanyaan dulu suami kamu, Juna masih muda dan kuat. Aku yang sudah tua, lebih membutuhkan tenaga." Hendrik melangkah keluar diikuti oleh istrinya yang sudah cekikikan tertawa.
Gemal menatap ponselnya, keluarga yang ada di hotel menyelesaikan acara sesuai jadwal. Tanpa menunjukkan kesedihan, hanya berdoa di dalam hati berharap Isel memberikan kabar baik
"Bagaimana kondisi di hotel Kak?"
"Hampir selesai Jun, aku harus kembali. Kondisi di sana ada Genta dan Aliya yang terlihat emosi, Atika juga sudah bergerak melakukan pelacakan penyebab Isel terluka. Aku khawatir jika Altha tidak bisa menghentikan dua wanita mengerikan." Gemal memeluk Diana meminta menjaga Putri mereka.
Gemal menyempatkan menemui Isel kembali, meninggalkan putri tercintanya untuk mengetahui pelaku yang menyebabkan masalah.
Diana masih berdiri diam, menatap Shin yang masih pingsan. Hati ini sakit sekali, dia ingin membunuh orang yang mencelakai Putrinya.
"Juna, Kak Di titip Isel. Aku ingin melihat orang yang terlibat dalam kecelakaan Isel. Aku ingin menatapnya langsung, memberikan racun yang sama agar dia tahu sakitnya Putriku." Diana melangkah keluar, tanpa bisa Juna hentikan.
Shin juga terbangun, menatap infus di tangannya. Shin juga melihat Juna yang melihat ke arah pintu.
"Ay, Shin harus ke hotel sekarang. Aku ingin menemukan pelakunya, kenapa dia berani sekali mencelakai Isel?"
"Apa? kamu ingin pergi. Lihat tangan ini, aku tidak mengizinkan." Juna meminta Shin tidur kembali.
"Siapapun dia, bersiaplah untuk celaka." Shin menatap sinis ke arah luar jendela.
***
__ADS_1
follow Ig Vhiaazaira