ISTRI MUDA PAK POLISI

ISTRI MUDA PAK POLISI
TIDAK RELA MELEPASKAN


__ADS_3

Mendekati pernikahan Diana semakin panik, banyak pikiran yang masuk ke dalam kepalanya menentang hatinya.


Tatapan Diana melihat ke arah tangannya yang sudah di lukis Henna, mempercantik tangannya yang putih bersih.



Saat matahari hari terbit, Diana akan mengganti statusnya menjadi seorang istri. Hanya hitungan jam, rasa takut dan kepanikan semakin terasa.


Panggilan di ponsel Diana masuk, Gemal menghubunginya untuk keluar balkon. Di langsung cepat membuka pintu balkon.


Tiga hari tidak bertemu membuat Diana rindu, Gemal manusia paling jahil yang memberikan kejutan lampion.


Melalui panggilan video, Gemal bisa melihat senyuman dari calon istrinya yang semakin cantik.


"Sayang, I love you." Suara teriakan Gemal terdengar menggema.


Diana langsung tertawa, rasanya memiliki pacar lima langkah sangat memalukan. Di menutup wajahnya, langsung bersembunyi tidak ingin ada yang melihat mereka karena suara Gemal.


Suara Gemal teriak kesakitan terdengar, Diana semakin tertawa saat melihat anak-anak ada di rumah Gemal sedang berkumpul.


Teriakkan Gemal menganggu mereka yang ingin tidur, karena hari sudah larut malam.


"Kak Di, I love you." Suara Dean juga terdengar memberikan bentuk hati.


"Kak Di pasti malu, masih ada waktu kak untuk cari calon suami baru." Tika berteriak menggunakan speaker.


Gemal langsung mencubit pipi Tika pelan, mengusap kepalanya karena menghibur Diana yang saat ini sedang sendirian.


Mereka bukan tidak ingin menemani Diana, tapi terlihat dari ekspresi Di yang memiliki banyak pikiran, antara bahagia dan takut mengecewakan.


"Diana, jangan berpikir untuk melarikan diri. Aku mempercayai kamu, dan begitupun sebaliknya. Percaya sama aku Di." Gemal memberikan ciuman jarak jauh.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Di berbicara melalui panggilan video.


"Kita mendengarkan cerita kak Gem saat pertama ketemu kak Di, kak Gem juga berencana untuk memecahkan rekor jika di dalam keluarganya bisa memiliki anak lebih dari satu." Juan menatap Gemal yang meletakkan jarinya di bibir.


Juan memukul Gemal, dia tidak suka berbohong. Karena Diana bertanya, tugas Juan menjawab dengan kebenaran.


"Juan pulang saja, kak Gemal tadi melihat foto cewek seksi." Hentakan kaki Juan terdengar langsung ingin pulang.


Gemal sudah tertawa lepas, suara Diana teriak marah-marah terdengar. Anak-anak langsung melangkah keluar ingin pulang saja, karena Diana sudah mengamuk.

__ADS_1


Perut Gemal sakit sampai duduk di lantai, ucapan Juan merusak suasana. Benar kata Tika, jangan berbohong di depan Juan, pasti dia marah dan membocorkan semuanya.


"Sepuluh jam lagi kita bertemu sebagai suami istri." Gemal menatap wajah Diana dari layar ponselnya.


"Di mana Ria?"


"Tidur di kamar, dia lelah mencari foto perempuan cantik untuk besok." Gemal tersenyum mengusap layar ponselnya.


Senyuman Diana terus terlihat, malam terakhir dirinya menjadi seorang gadis dan rasanya tidak sabar lagi untuk berganti menjadi istri Gemal Leondra.


"Sayang, kamu tidur sekarang. Besok akan melelahkan. I love you Di."


"I love you Gem." Diana langsung mematikan ponselnya, menutup wajahnya yang merah merona.


Senyuman Dimas terlihat, melihat Diana yang sangat berbeda. Saat melihat Daddy-nya, Di langsung teriak kaget.


Dimas langsung memeluk pelan, mengusap kepala putrinya yang sebentar lagi menikah.


"Kenapa kamu harus jatuh cinta kepada lelaki seperti Gemal?"


"Kenapa tidak Daddy? dia lelaki kesekian kalinya yang Diana cintai." Di tersenyum menatap ke arah lampion.


"Benarkan, tapi sekarang dia menjadi lelaki nomor satu dalam hidup kamu. Pria sialan yang beraninya mengambil putriku." Dimas mengusap matanya.


"Daddy cinta pertama Diana, sampai kapanpun Di akan sujud di bawah kaki Daddy." Di menangis dalam pelukan Daddy-nya.


"Sudah jangan menangis, aku menyelamatkan hidup kamu untuk bahagia Diana. Terima kasih karena bertahan dan kembali dalam pelukan Daddy." Dimas mengusap kepala Di langsung melangkah pergi.


Diana langsung menangis, menggenggam baju Dimas.


"Daddy, Diana bermimpi melihat Daddy saat kecil. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Di mengusap air matanya.


Kepala Dimas mengangguk, dia orang yang menyelamatkan Diana saat kecelakaan setelah pembantai keluarganya.


Saat sadar Alina kecil pergi, Dimas sudah berusaha mencarinya. Tetapi Diana menghilang di telan bumi, belasan tahun kemudian Dimas bertemu Aliya.


"Awalnya Daddy pikir gadis kecil itu Aliya, sehingga aku mengaggap Al putriku. Terima kasih sudah kembali Di, maafkan Daddy hari itu terlambat menjemput kamu." Dimas mencium kening Diana yang menganggukkan kepalanya.


"Daddy tidak pernah mengatakannya, Di sudah berjanji akan mengembalikan darah kepada kakak yang menyelamatkan Di."


"Diana, apa yang terjadi biarlah berlalu. Kita sudah ditakdirkan bertemu dan memiliki ikatan. Daddy menyayangi kamu, sama seperti Dean. Besok hari bahagia kamu, lepas sudah tugas Daddy mengantarkan kamu kepada lelaki paling baik menurut Di, keluarga kita insyaallah membimbing kamu ke jalan kebaikan." Dimas menutup pintu, meminta Diana tidur.

__ADS_1


Langka kaki Dimas terhenti dihadapan istrinya, Anggun tersenyum mencium pipi suaminya. Sekarang Anggun mengerti alasan Dimas sangat menyayangi Aliya.


Tidak ada wanita yang bisa mendekati Dimas kecuali Al, wanita yang memiliki masalah, tapi sangat Dimas sayangi.


"Daddy, dulu Mommy pikir seorang Dimas mencintai Aliya?"


"Gila kamu, aku berpikir Aliya gadis kecil yang pernah aku temukan." Dimas mengusap kepala istrinya.


"Maafkan Anggun, andai Anggun tahu jika Daddy pernah menolong Diana kecil."


"Saat pertama melihat Di, aku ingin melarikan diri karena takut melihat dia mandi darah. Satu kata yang keluar dari mulutnya yang membuat aku tersentuh." Dimas menatap Anggun yang penasaran.


"Daddy ... selamatkan aku."


Anggun meneteskan air matanya, Alina kecil tidak meminta pertolongan tapi keselamatan. Dimas melihat ketakutan dari mata indahnya yang berderai air mata.


Tatapan Dimas dan Anggun melihat foto Diana yang tergantung di dinding, hati Dimas masih berat melepaskan putrinya.


"Rasanya baru saja kita bersama, sekarang harus terpisah lagi. Tidak rela aku memberikan putriku pada lelaki lain." Dimas menepuk dadanya.


"Beginilah jika nasib memiliki satu putri." Alt tersenyum menyerahkan hadiah untuk Diana.


"Kamu akan merasakannya Alt saat Tika ataupun Ria menikah. Aku pastikan kamu menangis histeris, kehilangan putra tidak sebanding kehilangan seorang putri." Dimas mengusap matanya, melihat sesuatu yang Altha berikan.


Aliya langsung memeluk Dimas, menangis sesenggukan. Mengucapkan terima kasih untuk cinta Dimas kepada kakaknya.


"Jangan menangis, seandainya dulu kamu mendengarkan aku, tidak menikahi Altha mungkin hidup kamu lebih bahagia." Dimas mengusap air mata Al.


"Pertama kalinya kak Dimas marah saat Al menikah, bahkan memukul Altha. Sekarang Aliya bahagia, dan besok lebih bahagia lagi." Al memeluk suaminya.


Anggun tersenyum melihat tatapan tajam suaminya, langsung memeluk dari belakang untuk berhenti marah-marah.


"Awas ... Dean mau masuk. Besok Dean juga ingin menikah." Langka kaki Dean mirip raksasa.


"Jika bisa ditukar, lebih baik kamu saja yang menikah Dean." Dimas tertawa melihat putranya yang bicara selalu sembarang.


"Dean!" Anggun berteriak melihat jejak kaki penuh lumpur.


***


follow Ig Vhiaazaira

__ADS_1


vote hadiahnya


__ADS_2